Dulu aku punya segalanya, sekarang aku harus menelan harga diri saat bos cewek galak mengancam akan memecatku sebelum gajian pertama. Aku tahan semuanya demi ibu dan adikku… tapi malam itu, saat lembur… Sesuatu terjadi…

“Ma!” suara Zayendra pecah. “Andin kenapa?!”

Veni menatap putranya dengan mata sembap. Bibirnya bergetar beberapa kali sebelum akhirnya mampu menjawab.

“Andin pingsan di kampus. Temannya bilang sejak pagi dia belum makan. Katanya beberapa hari ini dia juga sering mengeluh pusing, tapi dia gak pernah cerita sama Mama.”

Zayendra seperti kehilangan tenaga di kedua kakinya.

“Cuma pingsan, kan?”

Veni menggeleng pelan.

“Dokter bilang tekanan darahnya turun sekali. Mereka masih periksa penyebabnya.”

Zayendra memejamkan mata sesaat. Dadanya yang sejak tadi sesak karena pertemuan dengan Hendra kini terasa semakin berat.

Andin adalah satu-satunya adiknya.

Sejak ayah mereka ditahan dan seluruh keadaan keluarga berubah, gadis itu selalu menjadi orang yang paling jarang mengeluh. Bahkan ketika uang kuliahnya terlambat dibayar, Andin hanya tersenyum dan berkata semuanya masih bisa diatur.

Sekarang Zayendra baru sadar, mungkin selama ini adiknya terlalu banyak menyembunyikan sesuatu.

Tirai IGD akhirnya terbuka.

Seorang dokter keluar sambil melepas sarung tangan.

“Keluarga Saudari Andin?”

“Saya kakaknya, Dok.”

Dokter memandang Zayendra dan Veni bergantian.

“Kondisinya sudah stabil. Tadi gula darahnya cukup rendah dan dia mengalami kelelahan berat. Kami juga menemukan tanda anemia. Untuk memastikan penyebabnya, kami perlu pemeriksaan darah lanjutan.”

Zayendra menghela napas sedikit lega.

“Dia sadar?”

“Sudah. Tapi masih sangat lemas.”

“Boleh saya masuk?”

“Sebentar saja.”

Zayendra langsung melangkah masuk.

Andin terbaring dengan wajah pucat. Infus terpasang di tangannya. Begitu melihat kakaknya, gadis itu memaksakan senyum.

“Mas…”

Zayendra berdiri di samping ranjang.

“Kamu kenapa gak pernah bilang kalau kamu sakit?”

Andin menunduk.

“Cuma capek.”

“Capek sampai masuk IGD itu bukan cuma capek.”

Andin diam.

Zayendra menarik kursi lalu duduk di sampingnya.

“Kamu makan terakhir kapan?”

Andin masih tidak menjawab.

“Andin.”

“Tadi malam.”

Zayendra langsung menatap tajam.

“Dari tadi malam kamu belum makan?”

“Aku gak sempat.”

“Gak sempat atau gak punya uang?”

Pertanyaan itu membuat wajah Andin berubah.

Zayendra langsung tahu jawabannya.

“Andin…”

“Aku masih punya uang.”

“Berapa?”

Andin menelan ludah.

“Dua puluh ribu.”

Zayendra menunduk.

Tangannya perlahan mengepal.

Dua puluh ribu rupiah.

Adiknya pergi kuliah dengan uang dua puluh ribu rupiah, sementara dirinya setiap hari berusaha terlihat seolah semuanya baik-baik saja.

“Aku pikir uang beasiswa semester ini cair minggu depan,” kata Andin pelan. “Jadi aku tahan dulu.”

“Kamu bisa bilang sama Mas.”

“Mas juga lagi susah.”

Kalimat sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan Hendra sore tadi.

Andin menatapnya.

“Aku tahu Mas kerja dari pagi sampai malam. Kadang masih narik juga. Mama juga masih harus beli obat. Aku gak mau bikin Mas tambah pusing.”

Zayendra menunduk semakin dalam.

Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahannya bukan ditujukan kepada Hendra.

Melainkan kepada dirinya sendiri.

Dia pernah menjadi seorang direktur muda. Pernah menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk satu kali makan malam.

Sekarang adiknya harus menahan lapar agar tidak menjadi beban.

“Mulai sekarang jangan pernah lakukan itu lagi.”

Andin tersenyum kecil.

“Iya.”

“Janji.”

“Iya, Mas.”

Di luar tirai, Sera berdiri diam.

Dia sebenarnya tidak berniat menguping.

Namun semua percakapan itu terdengar jelas.

Untuk pertama kalinya dia memahami mengapa Zayendra menerima semua omelannya tanpa pernah benar-benar pergi.

Mengapa pria itu selalu datang paling pagi.

Mengapa beberapa kali dia melihat Zayendra diam-diam mengganti kemeja kantor di toilet setelah turun dari motor ojek online.

Dan mengapa dia terus bertahan meski berkali-kali Sera mengatakan bahwa jika hasil kerjanya tidak sempurna, dia bisa dipecat sebelum menerima gaji pertamanya.

Beberapa menit kemudian Zayendra keluar.

Wajahnya terlihat lebih tenang, meskipun matanya memerah.

Dia baru menyadari Sera masih di sana.

“Ibu belum pulang?”

Sera menatapnya datar.

“Hape saya masih mati.”

Dalam keadaan seperti itu pun Zayendra hampir tertawa.

Dia mengusap wajah.

“Saya cari charger deh.”

“Gak usah.”

Sera mengeluarkan sebuah power bank kecil dari tasnya.

Zayendra menatap benda itu.

Lalu menatap Sera.

“Tadi katanya charger ketinggalan.”

“Power bank beda dengan charger.”

Zayendra menyipitkan mata.

“Ibu dari tadi punya power bank?”

Sera langsung membuang muka.

“Baru ingat.”

Zayendra menatapnya lama.

Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Veni keluar menghampiri mereka.

“Zayen, dokter bilang Andin harus rawat inap satu malam.”

“Iya, Ma.”

Wajah Veni terlihat khawatir.

“Tapi…”

Zayendra tahu apa yang dipikirkan ibunya.

Biaya.

“Tenang, Ma. Aku urus.”

Padahal dia sendiri tidak tahu harus mendapat uang dari mana.

Gajinya belum cair.

Tabungannya nyaris habis untuk kebutuhan rumah.

Penghasilan ojek online hanya cukup untuk makan dan transportasi harian.

Zayendra menjauh beberapa langkah lalu membuka aplikasi perbankan.

Saldo di rekeningnya membuat napasnya terhenti.

Tiga ratus delapan puluh tujuh ribu rupiah.

Dia membuka beberapa kontak di ponsel.

Satu per satu nama lama muncul.

Orang-orang yang dulu berebut ingin makan siang bersamanya.

Orang-orang yang dulu memanggilnya “Pak Zayendra” dengan penuh hormat.

Kini hampir semuanya menghilang sejak perusahaan keluarganya runtuh.

Zayendra hampir menekan salah satu nama ketika suara Sera terdengar.

“Administrasinya sudah selesai.”

Zayendra menoleh.

“Apa?”

Sera berdiri beberapa meter darinya.

“Andin sudah dipindahkan ke kamar.”

“Siapa yang bayar?”

“Saya.”

Zayendra langsung mengernyit.

“Ibu ngapain bayar?”

“Karena kalau nunggu kamu menelepon semua orang di kontakmu satu per satu, adikmu keburu dipindahkan besok pagi.”

Zayendra menatapnya tajam.

“Berapa?”

“Gak perlu tahu.”

“Saya akan ganti.”

“Potong gaji.”

“Bu Sera.”

“Apa?”

“Saya serius.”

“Saya juga.”

Zayendra terdiam.

Sera berjalan melewatinya.

“Besok tetap masuk.”

Zayendra hampir tidak percaya.

“Adik saya masih dirawat.”

“Saya tahu.”

“Terus?”

“Masuk siang.”

Lalu Sera terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Zayendra menatap punggung perempuan itu dengan ekspresi aneh.

Bosnya memang galak.

Sangat galak.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya Zayendra mulai berpikir bahwa mungkin ada alasan di balik sikap dingin perempuan itu.

Keesokan harinya, tepat pukul satu siang, Zayendra tiba di kantor.

Andin sudah diperbolehkan pulang setelah hasil pemeriksaan menunjukkan kondisinya tidak berbahaya. Dokter hanya meminta pola makan dan istirahatnya benar-benar diperhatikan.

Begitu sampai di meja kerjanya, Zayendra melihat setumpuk dokumen.

Di atasnya ada secarik kertas.

Ruang saya. Sekarang.

Zayendra mendengus.

“Belum juga duduk.”

Dia mengetuk pintu ruangan Sera.

“Masuk.”

Sera sedang berdiri menghadap jendela.

Tanpa melihatnya, perempuan itu berkata,

“Kemarin kamu ketemu Hendra Wijaya.”

Tubuh Zayendra langsung menegang.

“Jadi Ibu lihat?”

“Iya.”

“Kalau Ibu mau tanya tentang masa lalu saya, saya gak akan jawab.”

“Saya gak tertarik masa lalu kamu.”

Zayendra tertawa kecil.

“Bagus.”

“Tapi saya tertarik Hendra.”

Zayendra menatapnya.

Sera berbalik.

“Dia Direktur Utama Arunika Media sekarang.”

“Iya.”

“Dulu dia Direktur Marketing perusahaan ayahmu.”

“Iya.”

“Dan setelah perusahaan ayahmu diperiksa, dia keluar lalu beberapa bulan kemudian mendirikan Arunika bersama beberapa investor.”

Zayendra terdiam.

“Apa sebenarnya yang Ibu mau?”

Sera berjalan ke mejanya dan mengambil sebuah map biru.

Dia melemparkannya di depan Zayendra.

“Baca.”

Zayendra membuka map itu.

Baru halaman pertama, wajahnya langsung berubah.

Ada deretan transaksi perusahaan.

Nama-nama vendor.

Nomor rekening.

Tanggal pembayaran.

Dan satu nama yang terlalu dia kenal.

Hendra Wijaya.

Zayendra membalik halaman berikutnya dengan cepat.

“Dari mana Ibu dapat ini?”

“Tim audit internal.”

“Audit perusahaan Ibu?”

Sera mengangguk.

“Arunika mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Nilai kontraknya hampir dua ratus miliar.”

Zayendra menatapnya.

“Sebelum kontrak ditandatangani, saya cek semua.”

Jantung Zayendra berdegup lebih cepat.

Dia menunjuk salah satu transaksi.

“Ini perusahaan lama Ayah.”

“Saya tahu.”

“Pembayaran ini…”

“Masuk ke vendor fiktif.”

Zayendra langsung membeku.

Selama hampir satu tahun, ayahnya dituduh melakukan korupsi perusahaan dan manipulasi pembayaran vendor.

Kasus itu menghancurkan seluruh keluarga mereka.

Namun di depan matanya sekarang, ada aliran dana yang menunjukkan transaksi itu disetujui melalui departemen marketing.

Departemen yang saat itu dipimpin Hendra.

“Ini belum cukup,” kata Zayendra.

Sera mengangguk.

“Benar.”

“Kalau ini dibawa ke penyidik sekarang, pengacara Hendra bisa bilang Ayah yang memerintahkan.”

“Makanya saya belum selesai.”

Sera membuka laptop.

Sebuah rekaman muncul di layar.

“Ini rekaman server lama perusahaanmu.”

Zayendra menatapnya tajam.

“Server lama?”

“Perusahaan teknologi yang mengelola backup data perusahaan ayahmu sekarang menjadi vendor kita.”

Sera memutar rekaman.

Suara seorang laki-laki terdengar.

Suara Hendra.

“Pakai otorisasi Pak Darma saja. Beliau sedang di luar negeri, gak akan cek minggu ini.”

Lalu suara laki-laki lain.

“Kalau nanti ketahuan?”

Hendra tertawa.

“Kalau ketahuan, yang tanda tangannya ada di sistem siapa?”

Zayendra tidak bergerak.

Wajahnya kehilangan warna.

Sera menghentikan rekaman.

Ruangan menjadi sunyi.

“Ini…”

Suara Zayendra bergetar.

“Ini bisa membuktikan Ayah gak tahu?”

“Belum tentu langsung membebaskan ayahmu.”

Sera menjawab tenang.

“Tapi cukup untuk membuka penyelidikan baru.”

Zayendra duduk perlahan di kursi.

Tangannya gemetar.

Selama berbulan-bulan dia melihat ibunya menangis.

Melihat adiknya berhenti membeli hampir semua kebutuhan pribadi.

Melihat ayahnya dibawa petugas.

Melihat rumah mereka disita.

Dan selama itu pula Hendra hidup sebagai seorang direktur utama.

Zayendra mendongak.

“Kenapa Ibu melakukan semua ini?”

Sera tidak menjawab.

“Kenapa bantu keluarga saya?”

Perempuan itu diam cukup lama.

Lalu dia membuka laci meja.

Mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto seorang laki-laki berusia sekitar lima puluhan berdiri bersama ayah Zayendra.

Zayendra mengambil foto itu.

Dia mengenal ayahnya.

Namun laki-laki di sebelahnya tidak dia kenal.

“Siapa?”

“Ayah saya.”

Zayendra tertegun.

“Sepuluh tahun lalu perusahaan ayahmu hampir bangkrut,” kata Sera.

“Ayahmu memberikan kontrak pertama kepada perusahaan kecil milik ayah saya. Tanpa kontrak itu, usaha keluarga saya mungkin sudah tutup.”

Zayendra menatapnya tanpa berkedip.

Sera tersenyum tipis.

“Darma Pratama mungkin keras kepala. Tapi ayah saya selalu bilang satu hal.”

“Apa?”

“Dia bukan pencuri.”

Zayendra menunduk.

Matanya mulai terasa panas.

Namun Sera segera kembali pada wajah dinginnya.

“Jangan salah paham. Saya gak melakukan ini karena kasihan sama kamu.”

Zayendra tertawa kecil sambil mengusap matanya.

“Iya, Bu.”

“Dan mulai besok kamu gak boleh narik ojek sampai tengah malam.”

Zayendra langsung mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Karena kerjaanmu berantakan kalau kurang tidur.”

“Kerjaan saya gak pernah berantakan.”

“Presentasi kamu kemarin salah satu titik.”

“Cuma satu.”

“Satu tetap salah.”

Zayendra hampir membalas ketika pintu terbuka.

Sekretaris Sera masuk dengan wajah tegang.

“Bu, Pak Hendra sudah datang.”

Zayendra dan Sera saling menatap.

“Hendra?”

Sekretaris itu mengangguk.

“Katanya mau membahas penandatanganan kontrak Arunika.”

Sera menutup laptop.

Lalu menatap Zayendra.

“Bagus.”

Zayendra perlahan berdiri.

Sera mengambil map biru tadi dan menyerahkannya kepadanya.

“Kamu ikut saya.”

Beberapa menit kemudian pintu ruang rapat terbuka.

Hendra yang sedang duduk sambil tersenyum langsung membeku.

Zayendra masuk bersama Sera.

Wajah Hendra berubah.

“Kamu?”

Zayendra tidak mengatakan apa pun.

Sera duduk di kursi utama.

“Pak Hendra, sebelum kita bicara soal kontrak dua ratus miliar, ada satu hal yang mau saya tunjukkan.”

Laptop diputar menghadap Hendra.

Rekaman mulai dimainkan.

Dalam beberapa detik, senyum Hendra menghilang.

Tangannya perlahan mencengkeram ujung meja.

“Ini fitnah.”

Zayendra menatapnya tenang.

Kemarin, di depan rumah sakit, dia hanya bisa diam saat dihina.

Hari ini keadaan berubah.

Namun anehnya, dia tidak merasa ingin membalas penghinaan itu.

Dia hanya berkata,

“Pak Hendra.”

Hendra menoleh.

Zayendra tersenyum tipis.

“Bapak benar kemarin.”

“Apa?”

“Hidup memang berputar.”

Ruangan sunyi.

“Tapi ternyata yang paling penting bukan kapan kita ada di atas atau di bawah.”

Zayendra memandang pria itu lurus-lurus.

“Yang penting adalah apa yang kita lakukan saat kita punya kekuasaan.”

Wajah Hendra memucat.

Sera mematikan layar.

“Tim hukum kami sudah mengirim data ini kepada kuasa hukum keluarga Zayendra.”

Hendra langsung berdiri.

“Bu Sera, kita bisa bicara.”

“Tidak.”

“Saya bisa jelaskan.”

“Jelaskan pada penyidik.”

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan kasus Darma Pratama resmi dibuka kembali setelah ditemukan bukti baru terkait manipulasi sistem otorisasi perusahaan.

Hendra tidak langsung dinyatakan bersalah, tetapi statusnya berubah menjadi pihak yang diperiksa dalam rangkaian transaksi yang sebelumnya dibebankan kepada Darma.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keluarga Zayendra memiliki harapan.

Andin kembali kuliah.

Veni mulai tersenyum lebih sering.

Dan Zayendra?

Dia masih bekerja di bawah Sera.

Masih dimarahi hampir setiap hari.

“Zayendra!”

Suara Sera terdengar dari ruangannya.

Zayendra yang sedang minum kopi langsung menghela napas.

“Apa lagi…”

Dia masuk.

Sera mengangkat sebuah dokumen.

“Kamu salah tulis angka.”

Zayendra melihatnya.

“Itu cuma kurang satu nol.”

Sera menatapnya tajam.

“Satu nol bisa berarti sepuluh miliar.”

Zayendra mengambil dokumen.

“Iya, Bos Galak.”

“Apa kamu bilang?”

“Bos paling baik sedunia.”

Sera memicingkan mata.

Zayendra tersenyum lalu berbalik hendak keluar.

“Zayen.”

Dia berhenti.

“Apa?”

Sera tidak menatapnya.

“Gaji kamu sudah masuk.”

Zayendra tersenyum kecil.

Gaji pertama.

Dulu angka sebesar itu mungkin tidak berarti apa-apa baginya.

Sekarang rasanya berbeda.

Karena untuk pertama kalinya dia tahu persis berapa banyak tenaga, harga diri, kesabaran, dan tanggung jawab yang harus dibayar untuk mendapatkan setiap rupiahnya.

Malam itu dia tidak membeli jam mahal.

Tidak pergi ke restoran mewah.

Dia pulang membawa dua kantong makanan.

Ketika pintu rumah dibuka, Andin langsung tersenyum.

“Mas bawa apa?”

“Makanan.”

Veni keluar dari dapur.

“Banyak sekali.”

Zayendra meletakkannya di meja.

“Malam ini kita makan yang enak.”

Andin tertawa.

“Gajian pertama?”

Zayendra mengangguk.

Lalu dia memandang ibu dan adiknya.

Dulu dia mengira kehilangan perusahaan berarti kehilangan segalanya.

Ternyata dia salah.

Dia memang kehilangan kekayaan.

Kehilangan jabatan.

Kehilangan orang-orang yang hanya datang ketika hidupnya mudah.

Namun justru ketika jatuh sampai ke titik paling rendah, dia menemukan sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar dia pahami.

Siapa yang tetap tinggal.

Siapa yang diam-diam menolong.

Dan siapa dirinya ketika tidak lagi punya nama besar untuk berlindung.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Sera.

Besok datang lebih pagi. Ada rapat jam tujuh.

Zayendra menghela napas panjang.

Andin tertawa melihat wajah kakaknya.

“Bos galak?”

Zayendra memasukkan ponselnya ke saku.

“Banget.”

Namun beberapa detik kemudian dia tersenyum.

Karena sekarang dia tahu, terkadang orang yang terdengar paling keras bukanlah orang yang ingin menjatuhkan kita.

Bisa jadi justru dialah yang diam-diam memastikan kita tidak benar-benar jatuh.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang