Hendra tidak langsung menjawab.
Wajahnya yang tadi ceria mendadak kaku. Siska menunduk, sementara Maya berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat. Bahkan kedua cucu saya yang biasanya berlarian di ruang tengah ikut diam, seolah mengerti ada sesuatu yang tidak beres.
Saya menatap mereka satu per satu.
“Kenapa diam?”
Maya akhirnya mendekat.

“Bu, sebenarnya kami mau menjelaskan, cuma bukan sekarang.”
Saya hampir tertawa mendengarnya.
“Bukan sekarang? Kalian sudah tahu berapa lama?”
Maya menggigit bibir.
Hendra buru-buru menyela.
“Ibu jangan langsung berpikir macam-macam. Bapak memang punya hubungan dengan Bu Ratna sejak dulu, tapi keadaan mereka rumit.”
“Hubungan?”
Saya menatap Hendra tajam.
“Adikmu sendiri menulis bahwa mereka menikah secara resmi.”
Hendra mengembuskan napas kasar.
“Bu, tolong jangan bikin masalah ini lebih besar.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada foto tersebut.
Saya tidak berteriak. Tidak menangis.
Saya hanya bertanya pelan, “Sejak kapan kamu tahu?”
Hendra tidak menjawab.
Saya menoleh kepada Maya.
“Kamu?”
Mata Maya mulai berkaca-kaca.
“Sejak tiga tahun lalu.”
Saya tersenyum getir.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun, anak perempuan yang saya lahirkan dan besarkan mengetahui bahwa ayahnya mempunyai kehidupan lain, tetapi tidak pernah mengatakan apa pun kepada saya.
“Kenapa?”
Maya menangis.
“Bapak melarang kami.”
“Dan kalian menurut?”
“Bu, Bapak bilang kalau Ibu tahu, keluarga kita akan hancur.”
Saya mengangguk perlahan.
“Keluarga kita ternyata sudah hancur. Hanya Ibu yang tidak diberi tahu.”
Tiba-tiba suara mobil terdengar berhenti di halaman.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Surya masuk.
Dia mengenakan kemeja putih yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Rambutnya disisir rapi. Di pergelangan tangannya terpasang jam mahal yang saya yakin bukan pemberian saya.
Begitu melihat kami berdiri di ruang tengah, langkahnya terhenti.
Tatapannya jatuh pada ponsel di tangan saya.
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu sudah tahu?”
Tidak ada keterkejutan dalam pertanyaannya.
Hanya ketidaknyamanan karena rahasianya akhirnya terbongkar.
Saya mendekatinya.
“Jadi benar?”
Surya meletakkan kunci mobil di meja.
“Lebih baik kita bicara berdua.”
“Kenapa? Anak-anak sudah tahu semuanya. Justru saya satu-satunya orang bodoh di rumah ini.”
Surya mengusap wajahnya.
“Ratna dan saya memang punya sejarah sebelum saya mengenalmu.”
“Sejarah sampai lima puluh tahun?”
Dia terdiam.
Saya menunjukkan unggahan Maya.
“Katanya kalian menikah secara resmi.”
Surya akhirnya duduk.
Kemudian kalimat yang menghancurkan sisa hidup saya keluar begitu saja dari mulutnya.
“Saya dan Ratna menikah tahun 1975.”
Setahun sebelum dia menikahi saya.
Kaki saya hampir kehilangan tenaga.
“Kenapa kamu menikahi saya?”
Surya menatap lantai.
“Orang tua Ratna tidak merestui kami. Ayahnya membawa dia ke luar kota. Saya pikir hubungan kami sudah selesai. Lalu saya bertemu kamu.”
“Tapi kalian sudah menikah.”
“Secara administratif, iya.”
Saya menatap laki-laki yang selama setengah abad saya panggil suami.
“Jadi saya ini apa?”
Surya mengangkat wajah.
“Kamu ibu dari anak-anak saya.”
Jawaban itu membuat hati saya seperti berhenti.
Bukan istri.
Bukan pasangan.
Hanya ibu dari anak-anaknya.
Surya melanjutkan, “Setelah beberapa tahun, saya bertemu Ratna lagi. Tapi saat itu Hendra sudah lahir. Saya tidak mungkin meninggalkan kamu begitu saja.”
Saya tersenyum pahit.
“Kamu mau saya berterima kasih karena tidak dibuang?”
“Tidak begitu maksud saya.”
“Lalu bagaimana?”
Suara saya akhirnya meninggi.
“Lima puluh tahun saya memasak untukmu. Saat usahamu bangkrut, siapa yang menjual gelang pemberian ibunya supaya kamu punya modal? Saat kamu sakit dan tidak bisa berjalan selama empat bulan, siapa yang membersihkan tubuhmu? Saat Hendra kuliah dan kita tidak punya uang, siapa yang bangun jam tiga pagi membuat ratusan kue untuk dititipkan ke warung?”
Surya diam.
Saya menunjuk foto Ratna.
“Dan sekarang perempuan itu yang merayakan lima puluh tahun pernikahan denganmu?”
Maya mendekat sambil menangis.
“Bu, maaf.”
Saya menatapnya.
“Kenapa kamu mengunggah foto itu?”
Maya tidak mampu menjawab.
Surya justru berkata, “Saya yang meminta.”
Saya menoleh.
“Kenapa?”
“Ratna sakit.”
Ruangan mendadak sunyi.
Surya menarik napas.
“Kondisinya sudah tidak baik. Dia ingin sebelum terlambat, setidaknya sekali dalam hidupnya orang-orang tahu bahwa dia pernah menjadi istri saya.”
Saya memejamkan mata.
Anehnya, saya tidak marah kepada Ratna.
Saya bahkan mulai menyadari bahwa mungkin perempuan itu juga menghabiskan hidupnya menunggu laki-laki yang tidak pernah berani memilih.
Namun itu tidak menghapus kebohongan mereka kepada saya.
Saya mengambil tas kain yang tadi saya siapkan.
Surya berdiri.
“Mau ke mana?”
“Pergi.”
Hendra langsung berkata, “Ibu jangan kekanak-kanakan. Mau tinggal di mana umur segini?”
Saya menatap anak laki-laki saya.
“Ada satu hal yang kalian semua lupa.”
Saya masuk ke kamar, membuka lemari, lalu mengambil sebuah map cokelat tua.
Saya meletakkannya di meja.
Surya melihatnya dan wajahnya langsung berubah.
Rumah ini berdiri di atas tanah warisan orang tua saya.
Dulu rumah kecil kami dibangun dari hasil penjualan kebun milik almarhum ayah saya. Ketika usaha Surya berkembang, rumah itu direnovasi menjadi besar.
Namun sertifikat tanah tidak pernah berpindah nama.
Tetap atas nama saya.
Hendra membuka map itu.
Matanya membesar.
“Ibu mau apa?”
“Saya sudah cukup lama hidup untuk kalian.”
Surya mendekat.
“Jangan bertindak karena emosi.”
“Saya justru baru pertama kali berpikir dengan kepala jernih.”
Saya mengambil ponsel.
Dua hari sebelumnya, cucu saya mengajari cara menggunakan aplikasi pesan. Pagi tadi setelah menemukan foto itu, saya menghubungi Pak Damar, notaris lama yang pernah membantu mengurus warisan orang tua saya.
Untuk pertama kalinya, ponsel yang selama ini saya takut gunakan menjadi alat yang membuka pintu hidup baru.
Saya pergi sore itu.
Bukan ke rumah saudara.
Bukan pula ke panti jompo seperti dugaan Hendra.
Saya menyewa sebuah rumah kecil di daerah Bogor dengan halaman belakang yang dipenuhi tanaman.
Tiga hari pertama terasa aneh.
Saya bangun pukul empat pagi seperti biasa, lalu refleks ingin membuat kopi untuk Surya.
Namun kemudian saya sadar tidak ada siapa-siapa yang harus saya layani.
Saya membuat secangkir teh untuk diri sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, saya duduk menikmati pagi tanpa memikirkan sarapan orang lain.
Seminggu kemudian, Maya datang.
Dia menangis sejak memasuki halaman.
“Ibu, pulanglah.”
“Saya sudah pulang.”
Maya terdiam.
Saya menunjuk rumah kecil itu.
“Ini rumah Ibu sekarang.”
Maya duduk di samping saya.
Kemudian dia mengaku sesuatu yang lebih mengejutkan.
“Bapak sebenarnya ingin menjual rumah lama.”
Saya menatapnya.
“Untuk apa?”
Maya menunduk.
“Biaya pengobatan Bu Ratna dan membeli rumah untuk tinggal bersamanya.”
Ternyata beberapa bulan sebelumnya Surya sudah meminta Hendra dan Maya membujuk saya menandatangani sejumlah dokumen.
Saya teringat Hendra pernah mengatakan dokumen tersebut hanya diperlukan untuk memperbarui data pajak.
Untung saya belum menandatanganinya.
“Jadi kalian mau mengambil rumah Ibu?”
Maya langsung menangis.
“Saya salah, Bu. Awalnya saya pikir rumah itu milik Bapak. Hendra bilang Ibu juga pasti setuju kalau tahu kondisi Bu Ratna.”
Saya memandang putri saya lama.
“Kalian selalu tahu apa yang Ibu inginkan tanpa pernah bertanya kepada Ibu.”
Maya menutup wajahnya.
Sebulan kemudian, Surya datang.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
Dia duduk di teras tanpa berani menatap saya.
“Ratna meninggal tadi malam.”
Saya terdiam.
Tidak ada rasa puas.
Hanya kesedihan aneh untuk seorang perempuan yang bahkan hampir tidak saya kenal.
“Turut berduka.”
Surya menangis.
Untuk pertama kalinya dalam lima puluh tahun, saya melihatnya menangis seperti anak kecil.
“Saya kehilangan dia dua kali.”
Saya menatap halaman.
“Lalu kamu datang ke sini karena sekarang hanya saya yang tersisa?”
Surya membeku.
Saya menoleh kepadanya.
“Jangan jadikan saya pilihan kedua lagi.”
Surya menunduk.
“Saya salah.”
“Iya.”
“Saya ingin pulang.”
Saya menggeleng.
“Rumah itu bukan rumahmu lagi.”
Dua minggu sebelumnya, saya sudah mengambil keputusan.
Rumah besar itu akan dijual.
Sebagian uangnya saya gunakan untuk membeli rumah kecil yang saya tempati sekarang. Sebagian lagi saya simpan untuk kebutuhan hari tua.
Sisanya saya bagi kepada Hendra dan Maya.
Tidak sebanyak yang mereka harapkan, tetapi cukup sebagai pemberian terakhir seorang ibu.
Saya juga membuat surat wasiat.
Tidak ada lagi harta yang bisa mereka perebutkan setelah saya meninggal.
Surya menatap saya seolah baru pertama kali mengenal perempuan yang hidup bersamanya selama lima puluh tahun.
“Kamu berubah.”
Saya tersenyum.
“Bukan. Saya baru saja kembali menjadi diri saya sendiri.”
Beberapa bulan berlalu.
Saya belajar menggunakan ponsel semakin lancar.
Saya bergabung dengan kelompok lansia di lingkungan baru. Saya belajar membuat video sederhana tentang resep kue yang dulu saya jual keliling.
Cucu perempuan saya membantu membuatkan akun.
Video pertama hanya ditonton tiga puluh orang.
Video kesepuluh ditonton puluhan ribu.
Orang-orang mulai memesan kue.
Di usia tujuh puluh tahun, ketika keluarga saya mengira hidup saya sudah selesai, saya justru kembali mendapatkan penghasilan dari tangan saya sendiri.
Suatu sore, Maya datang membawa sebuah kotak tua.
“Kami menemukan ini ketika mengosongkan lemari Bapak.”
Di dalamnya terdapat surat-surat lama.
Sebagian ditulis Ratna untuk Surya.
Saya tidak ingin membacanya.
Namun Maya mengambil satu amplop berbeda.
Di bagian depan tertulis nama saya.
Surat itu ditulis Ratna enam bulan sebelum meninggal.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Ratna menulis bahwa selama bertahun-tahun dia mengetahui keberadaan saya.
Dia mengaku bersalah.
Namun ada satu kalimat yang membuat saya terdiam lama.
Surya tidak pernah memberi tahu Ratna bahwa pernikahannya dengan saya tidak tercatat.
Selama hampir lima puluh tahun, Ratna mengira saya adalah istri sah Surya dan dirinya hanyalah masa lalu yang diam-diam masih dicintai.
Perayaan pernikahan emas itu ternyata bukan gagasan Ratna.
Itu permintaan Surya.
Ratna bahkan sempat menolaknya karena tidak ingin menyakiti saya.
Di akhir surat, dia menulis bahwa satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas luka dua perempuan adalah laki-laki yang terlalu pengecut untuk mengatakan kebenaran kepada keduanya.
Saya melipat surat itu perlahan.
Selama ini saya menganggap Ratna telah mencuri suami saya.
Ternyata kami berdua sama-sama korban dari kebohongan orang yang sama.
Setahun kemudian, tepat pada ulang tahun saya yang ke-71, Surya datang lagi.
Dia berdiri di depan pagar membawa bunga.
“Izinkan saya memperbaiki semuanya.”
Saya tersenyum.
“Lima puluh tahun lalu mungkin saya akan menunggu kalimat itu.”
Saya menutup pagar perlahan.
“Tapi sekarang saya sudah tahu bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir hanya karena tidak ada laki-laki di sampingnya.”
Saya masuk ke rumah.
Ponsel saya berbunyi.
Sebuah notifikasi muncul.
Video terbaru saya tentang resep kue sudah ditonton lebih dari satu juta kali.
Saya tertawa kecil.
Ironis sekali.
Pada usia tujuh puluh tahun, sebuah ponsel pintar menghancurkan kehidupan yang saya percaya selama lima puluh tahun.
Namun ponsel yang sama juga menunjukkan bahwa masih ada kehidupan lain yang menunggu saya.
Saya pernah kehilangan status sebagai istri yang ternyata sejak awal tidak pernah benar-benar saya miliki.
Saya pernah merasa lima puluh tahun hidup saya sia-sia.
Sekarang saya mengerti bahwa tidak semuanya sia-sia.
Saya membesarkan anak-anak. Saya bekerja. Saya bertahan. Saya mencintai dengan tulus.
Kesalahan saya hanya satu.
Saya terlalu lama mengira mencintai keluarga berarti harus melupakan diri sendiri.
Sore itu saya duduk di teras, menikmati kue buatan saya sendiri bersama secangkir teh.
Tidak ada Surya yang mengeluh gulanya kurang.
Tidak ada Hendra yang berteriak meminta makanan.
Tidak ada siapa pun yang harus saya layani.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh puluh satu tahun hidup di dunia ini, saya tidak menjadi istri seseorang, ibu seseorang, atau nenek seseorang.
Saya hanya menjadi diri saya sendiri.
Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.
