Saya menatap wadah bedak di tangan Nadya sambil berusaha keras agar wajah saya tidak menunjukkan ketakutan.
“Iya, sebentar. Saya mau ganti baju dulu. Gerah banget.”
Saya meletakkan tas di kasur. Jari-jari saya gemetar ketika membuka resletingnya. Untunglah wadah pemberian Tari memiliki bentuk hampir sama dengan bedak Nadya.
Saya berpura-pura mencari sesuatu, lalu menukar kedua wadah itu tanpa sepengetahuan Nadya.

Setelah itu saya duduk di depan cermin dan menepuk-nepukkan bedak penangkal ke wajah.
“Nah, sudah,” kata saya sambil tersenyum.
Nadya berdiri di belakang saya.
Melalui cermin, saya melihat senyumnya kembali muncul.
“Bagus. Jangan pernah bolong sehari pun, ya.”
“Mengapa kamu begitu peduli?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Nadya terdiam.
Beberapa detik kemudian dia tertawa kecil.
“Karena kamu cocok jadi model produk kakak saya.”
Malam itu saya tidur membelakangi Nadya.
Atau setidaknya berpura-pura tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, saya mendengar suara ranjangnya berderit.
Langkah kaki mendekati tempat tidur saya.
Saya menahan napas.
Nadya berdiri sangat lama di belakang saya.
Kemudian saya merasakan sesuatu menyentuh rambut.
“Nisa…” bisiknya pelan.
Saya tidak bergerak.
“Tinggal tiga puluh empat hari lagi.”
Dada saya seakan dihantam sesuatu.
Nadya kembali ke ranjang.
Saya tidak tidur sampai azan Subuh terdengar.
Pagi berikutnya Tari sudah berada dalam perjalanan menuju kampung neneknya di daerah Cirebon. Dia hanya mengirim satu pesan singkat.
Jangan sendirian dengan Nadya terlalu lama. Dan cari tahu kenapa dia memilihmu.
Saya mulai memperhatikan Nadya.
Selama hampir setahun tinggal sekamar, saya selalu menganggap kehidupannya sempurna. Tas mahal, mobil keluarga, pakaian bermerek, dan uang yang seolah tidak pernah habis.
Namun setelah saya memperhatikannya lebih teliti, ada banyak hal aneh yang sebelumnya luput.
Nadya tidak pernah mengganti pakaian di depan saya.
Dia selalu mengunci kamar mandi.
Setiap beberapa jam, dia mengoleskan foundation tebal sampai ke leher.
Dan ketika tidur, dia selalu mengenakan kaus kaki panjang meski kamar kami menggunakan AC.
Sore itu Nadya pergi.
Saya tahu tindakan saya salah, tetapi rasa takut mengalahkan rasa bersalah.
Saya membuka laci meja riasnya.
Kosmetik memenuhi dua laci pertama.
Di laci paling bawah terdapat kotak kayu kecil yang dikunci.
Saya menemukan kuncinya di balik bingkai foto keluarga Nadya.
Begitu kotak terbuka, tangan saya langsung dingin.
Di dalamnya ada puluhan foto perempuan.
Semua tampak sebaya dengan kami.
Di belakang setiap foto tertulis nama, tanggal lahir, dan jam kelahiran.
Beberapa nama dicoret.
Ada foto saya paling atas.
NISA PRAMESTI.
17 APRIL 2002.
03.40.
Di bawahnya tertulis angka 49.
Saya membalik foto tersebut.
Cocok sempurna.
Kalimat itu membuat tengkuk saya merinding.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Saya buru-buru memasukkan semuanya kembali.
“Nisa?”
Suara Nadya terdengar dari luar.
Saya menutup laci dan berpura-pura mengambil charger.
“Kamu ngapain?”
“Cari charger. Punya saya hilang.”
Nadya menatap saya cukup lama.
Kemudian dia tersenyum.
“Ada di samping bantalmu.”
Benar.
Charger saya memang ada di sana.
Malam itu Nadya tidak banyak bicara.
Namun sekitar pukul sebelas, tubuh saya mendadak demam.
Wajah terasa panas.
Saya berlari ke kamar mandi.
Saat melihat cermin, saya hampir berteriak.
Wajah saya berubah.
Bukan seperti perubahan kecil sebelumnya.
Selama beberapa detik, wajah yang terpantul di cermin bukan wajah saya.
Itu wajah Nadya.
Saya mundur sampai membentur pintu.
Kemudian bayangan itu kembali normal.
Ponsel saya bergetar.
Tari menelepon.
“Nisa, dengar. Nenek bilang ritualnya belum berhenti.”
“Tapi saya sudah tidak memakai bedaknya!”
“Bukan cuma bedak. Bedak itu hanya pembuka.”
Saya merasa lutut melemas.
“Setelah hari ketujuh, hubungan ritual sudah terbentuk. Selama benda utama masih berada dekat kamu, prosesnya akan terus berjalan.”
“Benda utama apa?”
“Nenek belum tahu. Bisa rambut, darah, kuku, atau benda pribadi.”
Saya langsung teringat kotak kayu Nadya.
“Tari, saya menemukan foto saya.”
“Apa?”
Saya menceritakan semuanya.
Tari terdiam beberapa saat.
“Kirim lokasi kosmu. Saya pulang besok pagi bersama Nenek.”
Telepon terputus.
Ketika saya keluar dari kamar mandi, Nadya sedang berdiri di tengah kamar.
“Nenek siapa?”
Saya membeku.
“Tadi kamu bilang Nenek.”
Dia mendekat.
Saya berusaha tertawa.
“Nenek Tari sakit.”
Nadya memandang saya lama, kemudian mengangguk.
“Oh.”
Malam berikutnya menjadi malam terpanjang dalam hidup saya.
Sekitar pukul tiga, saya terbangun karena mendengar Nadya menangis.
Dia duduk di lantai dekat jendela.
Untuk pertama kalinya saya melihatnya tanpa makeup.
Saya tercekat.
Kulit di sisi kiri wajahnya dipenuhi bercak gelap seperti luka lama. Tangannya gemetar. Ketika celana panjangnya sedikit tersingkap, bercak serupa terlihat sampai ke pergelangan kaki.
“Nadya?”
Dia buru-buru menutupi wajah.
“Jangan lihat!”
Saya duduk beberapa meter darinya.
“Kamu sakit?”
Dia tidak menjawab.
“Nadya, apa yang sebenarnya terjadi?”
Tangisnya semakin keras.
“Aku tidak mau mati.”
Kalimat itu menghancurkan semua gambaran saya tentang dirinya sebagai perempuan jahat tanpa perasaan.
Nadya akhirnya bercerita.
Dua tahun sebelumnya, tubuhnya mulai mengalami penyakit kulit aneh yang tidak pernah berhasil didiagnosis dengan jelas. Berbagai pengobatan hanya memperlambat penyebarannya.
Ayahnya kemudian membawa Nadya menemui seseorang yang menawarkan ritual pemindahan.
Syaratnya mengerikan.
Harus ada orang dengan tanggal lahir sama, jam lahir sama, jenis kelamin sama, dan usia tidak berbeda lebih dari satu tahun.
“Aku mencari hampir setahun,” bisiknya.
“Lalu kamu menemukan saya.”
Nadya mengangguk sambil menangis.
“Awalnya aku cuma mau berteman. Sungguh.”
“Jangan bohong!”
“Saya tidak bohong!”
Dia menatap saya.
“Saya pindah ke kos ini karena kamu. Tapi setelah kenal kamu, saya berkali-kali bilang ke Papa kalau saya tidak mau melanjutkannya.”
“Lalu kenapa kamu tetap kasih bedak itu?”
Nadya menunduk.
“Karena saya pengecut.”
Saya tidak mampu berkata apa-apa.
“Saya takut mati, Nisa.”
“Jadi supaya kamu hidup, saya harus kehilangan tubuh saya?”
Nadya menangis semakin keras.
“Saya pikir cuma penyakitnya yang pindah. Papa tidak pernah bilang jiwa kita juga akan tertukar.”
“Lalu ucapanmu tadi malam? Tiga puluh empat hari lagi?”
Wajah Nadya mendadak pucat.
“Kamu dengar?”
Saya mengangguk.
Nadya memegang kepalanya.
“Itu bukan saya.”
Saya menatapnya bingung.
“Sejak ritual dimulai, kadang saya terbangun di tempat berbeda. Ada bagian waktu yang tidak saya ingat.”
Belum sempat saya bertanya, lampu kamar mati.
Seseorang mengetuk pintu.
Tiga kali.
Nadya langsung berdiri.
Wajahnya berubah ketakutan.
“Jangan buka.”
“Siapa?”
Nadya menempelkan telunjuk ke bibir.
Ketukan terdengar lagi.
Kemudian suara laki-laki dari luar.
“Nadya, buka. Papa datang.”
Saya menatap Nadya.
Dia menggeleng keras.
“Jangan.”
Namun pintu tiba-tiba terbuka menggunakan kunci cadangan.
Seorang pria sekitar lima puluh tahun masuk bersama seorang perempuan tua berpakaian sederhana.
Saya mengenali pria itu dari foto keluarga Nadya.
Ayahnya.
Perempuan tua di sampingnya membawa tas hitam.
“Nadya,” kata ayahnya dingin, “kenapa kamu berhenti mengawasi dia?”
Nadya berdiri di depan saya.
“Papa bilang cuma penyakit yang pindah.”
Ayahnya mendesah.
“Kalau Papa menjelaskan semuanya, kamu pasti menolak.”
“Dia teman saya!”
“Dia korban yang kita butuhkan!”
Nadya menangis.
Saya mundur ke sudut kamar.
Perempuan tua itu mengeluarkan sebuah botol kecil.
Di dalamnya terdapat gulungan rambut.
Saya langsung mengenalinya.
Rambut saya.
Saya teringat beberapa minggu lalu Nadya pernah menawarkan memotong ujung rambut saya yang bercabang.
Itulah benda utamanya.
Ayah Nadya mengambil botol tersebut.
“Prosesnya tidak boleh berhenti.”
Tiba-tiba seseorang muncul dari lorong.
“Kalau diteruskan, justru anakmu yang akan mati.”
Itu Tari.
Di sampingnya berdiri seorang nenek bertubuh kecil.
Nenek Tari.
Ayah Nadya terkejut.
Perempuan tua yang datang bersamanya langsung mundur.
Nenek Tari hanya menatap botol itu.
“Kalian salah memahami ritual ini.”
“Apa maksudnya?” tanya saya.
Nenek Tari menatap ayah Nadya.
“Ritual pertukaran tidak memindahkan penyakit. Ia menukar wadah.”
Kemudian dia menunjuk Nadya.
“Dan penyakit gadis itu bukan berasal dari tubuhnya.”
Semua terdiam.
Nenek Tari meminta Nadya mendekat.
Dia memeriksa telapak tangannya.
“Ini bukan penyakit. Ini akibat ritual sebelumnya.”
Ayah Nadya membeku.
Tari menatapnya.
“Ritual sebelumnya?”
Nadya perlahan menoleh kepada ayahnya.
“Papa?”
Pria itu tidak menjawab.
Nenek Tari akhirnya mengungkap kenyataan yang jauh lebih mengerikan.
Bertahun-tahun lalu, ketika bisnis keluarga Nadya hampir bangkrut, ayahnya menjalankan ritual pesugihan dengan bantuan perempuan tua yang kini berdiri di kamar kami.
Sebagai gantinya, keluarga itu memperoleh kekayaan.
Namun setelah beberapa tahun, utangnya harus dibayar melalui keturunan pertama.
Nadya.
Bercak di tubuhnya bukan penyakit.
Itu tanda bahwa waktunya hampir habis.
Ritual pertukaran tubuh hanyalah cara untuk mengalihkan pembayaran kepada orang lain.
Kepada saya.
Nadya menatap ayahnya seperti melihat orang asing.
“Jadi semua ini karena Papa?”
Ayahnya akhirnya menangis.
“Papa cuma ingin menyelamatkan keluarga.”
“Keluarga?”
Nadya tertawa getir.
“Papa menghancurkan hidup saya, lalu mau menghancurkan hidup Nisa supaya kesalahan Papa tidak perlu dibayar?”
Perempuan tua itu tiba-tiba merebut botol rambut saya dan berusaha melarikan diri.
Namun Nadya lebih cepat.
Dia mengambil botol itu dan membantingnya ke lantai.
Botol pecah.
Nenek Tari segera membakar gulungan rambut saya menggunakan api kecil dari lilin yang dibawanya.
Udara kamar mendadak terasa sangat dingin.
Nadya menjerit dan jatuh.
Saya pun merasakan sakit tajam di wajah.
Cermin di meja rias retak dengan sendirinya.
Beberapa detik kemudian semuanya berhenti.
Saya berlari ke cermin.
Wajah saya perlahan kembali seperti dulu.
Mata tidak lagi setajam Nadya.
Dagu saya kembali seperti semula.
Namun ketika saya menoleh, bercak hitam di tubuh Nadya justru mulai memudar.
Nenek Tari tersenyum tipis.
“Karena orang yang dijadikan korban menolak, dan orang yang seharusnya menerima keuntungan menghancurkan pengikatnya sendiri, perjanjian itu putus.”
Ayah Nadya terduduk.
Keesokan harinya, dia menyerahkan diri kepada polisi setelah Nadya memaksanya mengakui beberapa tindak penipuan dan praktik ilegal yang selama bertahun-tahun ditutupi melalui bisnis keluarga mereka.
Perempuan tua itu menghilang sebelum polisi datang.
Kami tidak pernah melihatnya lagi.
Tiga bulan kemudian, Nadya pindah dari kos.
Sebelum pergi, dia memberikan sebuah kotak kepada saya.
Bukan kosmetik.
Isinya semua foto perempuan yang pernah dicari keluarganya sebagai calon korban.
“Saya mau cari mereka satu per satu,” katanya. “Setidaknya untuk memastikan tidak ada yang pernah menerima produk dari keluarga saya.”
Saya menatapnya.
“Kalau saya tidak memaafkan kamu?”
Nadya tersenyum sedih.
“Kamu tidak punya kewajiban memaafkan saya.”
Jawaban itu justru membuat kemarahan saya perlahan runtuh.
Kami tidak pernah kembali menjadi teman seperti dulu.
Ada luka yang tidak bisa dihapus hanya dengan permintaan maaf.
Namun saya belajar bahwa penyesalan yang sungguh-sungguh bukan tentang meminta orang lain melupakan kesalahan kita, melainkan berani memperbaiki akibatnya meskipun tidak pernah dimaafkan.
Enam bulan kemudian, Tari mengajak saya bertemu di kafe yang sama.
Wajah saya sudah sepenuhnya kembali normal.
Kami tertawa ketika mengingat betapa bangganya saya dulu karena mengira bedak Nadya membuat wajah saya semakin cantik.
Sebelum pulang, seorang pelayan perempuan menghampiri meja.
“Mbak Nisa?”
“Iya?”
“Ada titipan.”
Dia memberikan sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.
Saya membukanya.
Di dalamnya terdapat wadah bedak tabur berwarna putih.
Senyum Tari langsung menghilang.
Di bawah wadah itu ada secarik kertas.
Tulisan tangannya tidak saya kenal.
Saya membacanya perlahan.
Korban pertama gagal.
Masih ada empat puluh delapan.
Tangan saya gemetar.
Tari mengambil wadah itu tanpa menyentuh isinya.
Kemudian dia membalik bagian bawah kemasan.
Ada sebuah foto kecil yang ditempel di sana.
Foto seorang perempuan.
Bukan saya.
Bukan Nadya.
Tari menatap saya.
“Nisa…”
“Apa?”
Wajah Tari berubah pucat.
Dia menunjuk perempuan dalam foto itu.
“Itu saya.”
