SUAMI LUGU SAYA TERNYATA PUNYA KEMBARAN DAN RAHASIA BESAR! SAYA MENJEBAK MEREKA BERDUA UNTUK UNGKAP KEBENARAN DENGAN BUKTI BUNGKUSAN KUE TRADISIONAL!

Senyum tipis di wajahku sore itu bukan senyum seorang istri yang bahagia melihat suaminya berubah rajin. Itu senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa selama dua tahun dirinya dianggap terlalu bodoh untuk mengetahui kebenaran.

Aku meletakkan tas belanja di atas meja dan memandang Arya yang masih memegang sapu lidi.

“Kamu rajin sekali hari ini.”

Arya tersentak kecil. “Memangnya biasanya aku tidak rajin?”

Aku hampir tertawa.

Pertanyaan itu justru membuktikan bahwa Bima tidak pernah menceritakan kehidupan kami secara lengkap kepada saudara kembarnya.

“Biasanya kamu paling malas kalau disuruh membersihkan kandang ayam.”

Wajah Arya langsung berubah.

“Oh… iya. Aku cuma kepikiran membantu.”

Aku mengangguk seolah tidak curiga.

Malam itu aku sengaja memasak makanan kesukaan Bima, ayam kecap dan tumis kangkung. Arya makan dengan hati-hati. Sesekali ia memperhatikanku seperti sedang menghafalkan kebiasaan seorang perempuan yang bahkan tidak dikenalnya.

Aku mulai menguji dia.

“Mas masih ingat lemper yang kubawa waktu kita pertama kali bertemu?”

Sendok di tangannya berhenti.

“Lemper?”

Aku menatap matanya.

Arya buru-buru tersenyum. “Tentu ingat.”

“Isinya apa?”

“Abon?”

Aku menahan napas.

Bima pasti tahu jawabannya. Lemper pertama yang kuberikan kepadanya berisi ayam suwir pedas. Itu salah satu kenangan yang berkali-kali kuceritakan selama pernikahan kami.

Aku tersenyum.

“Benar.”

Arya terlihat lega.

Sejak malam itu aku mulai mencatat perbedaan mereka.

Bima memiliki bekas luka kecil di dekat pergelangan tangan kanan. Arya tidak.

Bima tidak suka kopi pahit. Arya diam-diam meminumnya tanpa gula.

Bima selalu meninggalkan piring kotor begitu saja. Arya mencucinya sendiri ketika mengira aku tidak melihat.

Semakin lama aku mengamati Arya, semakin aneh perasaanku.

Seharusnya aku membencinya.

Dia ikut dalam kebohongan ini.

Namun semakin lama ia tinggal bersamaku, semakin jelas bahwa Arya bukan dalang sebenarnya.

Pada malam ketiga, aku pura-pura tertidur lebih awal.

Sekitar pukul sebelas, terdengar suara pintu belakang terbuka.

Aku mengintip dari celah jendela.

Arya berdiri di halaman sambil menelepon seseorang.

“Mas, sampai kapan?”

Aku mengenali suara Bima dari pengeras suara telepon.

“Beberapa hari lagi.”

“Aku tidak nyaman.”

“Kenapa?”

Arya terdiam.

“Karena Tari baik.”

Dadaku seperti ditusuk.

Bima justru tertawa kecil.

“Makanya gampang dibohongi.”

Tangan Arya mengepal.

“Dia istrimu.”

“Hanya di atas kertas.”

Aku menutup mulut agar isakanku tidak terdengar.

Lalu Bima mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.

“Begitu Laras setuju menikah denganku, aku akan kembali. Setelah itu kita buat Tari yang meminta cerai sendiri.”

Telepon ditutup.

Arya berdiri lama di halaman.

Aku kembali ke tempat tidur sebelum ia masuk.

Malam itu aku tidak menangis.

Aku justru menyusun rencana.

Keesokan paginya aku pergi ke pasar seperti biasa. Tetapi bukannya langsung pulang, aku mendatangi Bu Ratih, pemilik usaha katering tempatku menitipkan lemper.

“Aku mau pesan lemper dalam jumlah banyak.”

“Untuk acara apa, Tari?”

“Acara keluarga.”

Aku meminta dua jenis bungkus.

Lemper ayam dibungkus daun pisang dengan tali merah.

Lemper abon dibungkus tali kuning.

Bu Ratih tertawa. “Kenapa dibedakan?”

“Supaya aku tahu siapa yang mengambilnya.”

Sore itu aku membawa dua bungkusan pulang.

Aku meletakkan yang bertali merah di meja makan dan menyimpan yang bertali kuning di pondok belakang.

Kemudian aku berkata kepada Arya, “Besok ada acara kecil. Tolong jangan makan lemper yang bertali merah. Itu khusus untuk seseorang.”

Arya mengangguk.

Malamnya aku sengaja meninggalkan rumah dan mengatakan akan menginap di rumah sepupuku.

Padahal aku hanya pergi ke rumah Bu Ratih yang berjarak dua gang.

Sebelum pergi, aku meninggalkan pesan di atas meja.

Mas, kalau kamu lapar, makan lemper bertali kuning di pondok belakang. Yang merah jangan disentuh karena itu pesanan Laras.

Nama itu sengaja kutulis.

Aku tahu umpan itu akan bekerja.

Benar saja.

Sekitar pukul sembilan malam, ponsel murah yang kusembunyikan di pondok belakang mulai merekam suara.

Arya menemukan catatanku.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, dia menelepon Bima.

“Mas, Tari tahu Laras?”

“Apa?”

“Ada tulisan nama Laras di rumah.”

Bima panik.

Satu jam kemudian, sepeda motor berhenti di depan rumah.

Bima datang.

Aku mengintip dari rumah Bu Ratih melalui kamera sederhana yang sebelumnya kupasang menghadap ruang tengah.

Dua pria dengan wajah identik berdiri berhadapan.

“Dia tahu sesuatu,” kata Arya.

Bima membaca catatanku.

Kemudian matanya tertuju pada lemper bertali merah.

“Ini pasti dari Laras.”

“Jangan disentuh,” kata Arya.

Namun Bima justru mengambil bungkusannya.

Saat itulah lampu rumah menyala terang.

Aku masuk melalui pintu depan.

Keduanya menoleh bersamaan.

Untuk pertama kalinya aku melihat dua wajah suamiku berdiri dalam satu ruangan.

Aku meletakkan tas di kursi.

“Silakan lanjutkan.”

Bima pucat.

“Tari?”

“Yang mana yang sedang memanggilku? Suamiku atau saudara kembarnya?”

Arya menunduk.

Bima mencoba mendekat.

“Tari, dengarkan aku.”

“Jangan.”

Aku menunjuk lemper di tangannya.

“Kamu tahu kenapa aku membuat dua jenis bungkus?”

Bima terdiam.

“Karena aku membutuhkan bukti sederhana bahwa kalian benar-benar bertukar tempat.”

Aku mengambil ponsel dari saku.

Rekaman suara mereka dari pondok belakang kuputar.

Suara Bima terdengar jelas mengakui bahwa ia berpura-pura kehilangan ingatan dan meminta Arya menggantikannya.

Wajah Bima berubah.

“Kamu merekam kami?”

“Ya.”

“Kamu menjebak kami?”

Aku tersenyum pahit.

“Kalian menipuku dua tahun. Aku menjebak kalian satu malam saja sudah marah?”

Arya menatap lantai.

Bima tiba-tiba berubah dingin.

“Kalau begitu mau apa?”

Aku tidak menyangka ia berhenti berpura-pura secepat itu.

Wajah lugu yang kukenal selama dua tahun hilang.

Di hadapanku berdiri seorang laki-laki asing.

“Aku mau kebenaran.”

Bima tertawa pendek.

“Kebenaran apa lagi?”

“Kenapa memilih rumahku?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bima tidak menjawab.

Justru Arya yang akhirnya berkata, “Karena rumah ini dulunya milik Pak Wiryo.”

Aku menoleh.

Pak Wiryo adalah almarhum ayahku.

“Apa hubungannya dengan Ayah?”

Bima menatap Arya tajam.

“Diam.”

Tetapi Arya sudah tidak mau berhenti.

“Mas Bima tidak datang ke desa ini secara kebetulan.”

Dadaku berdebar.

Arya melanjutkan.

“Dulu ayah kami dan ayahmu pernah menjalankan usaha pengolahan hasil kebun bersama. Setelah usaha itu bangkrut, ada sebidang tanah di pinggir jalan kabupaten yang status kepemilikannya tidak jelas.”

Aku langsung teringat tanah kosong warisan Ayah yang selama bertahun-tahun tidak pernah kami urus.

“Itu sebabnya?”

Arya mengangguk.

“Nilainya sekarang sangat tinggi karena akan dibangun kawasan pergudangan.”

Aku menatap Bima.

“Jadi sejak awal kamu mendekatiku karena tanah?”

Bima tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Air mataku akhirnya jatuh.

Ternyata bahkan pertemuan kami di tepi hutan pun direncanakan.

Laki-laki yang kukira kutolong karena kehilangan ingatan sebenarnya datang membawa tujuan.

“Berapa nilainya?”

Arya menjawab pelan.

“Lebih dari empat miliar rupiah.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

Dua tahun aku bangun pukul tiga pagi untuk membuat jajanan pasar.

Dua tahun aku menghemat uang agar Bima bisa makan lebih baik.

Sementara laki-laki itu menunggu kesempatan mengambil tanah miliaran rupiah dariku.

Bima akhirnya bicara.

“Aku memang datang karena tanah. Tapi semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu bagaimana?”

“Aku awalnya hanya perlu membuatmu percaya padaku. Setelah menikah, aku pikir akan mudah meminta tanda tanganmu.”

“Kenapa tidak dilakukan?”

Bima terdiam.

Arya memandang kakaknya.

Aku melihat sesuatu di mata Bima yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Penyesalan.

Namun sudah terlambat.

“Karena surat tanah itu tidak ada,” katanya.

Aku membeku.

“Ayahmu menyembunyikannya.”

Tiba-tiba aku teringat sebuah kalimat yang sering diucapkan Ayah sebelum meninggal.

Kalau suatu hari ada orang datang karena tanah, jangan percaya wajahnya. Percaya pada sesuatu yang dia pilih ketika tidak ada keuntungan baginya.

Dulu aku tidak mengerti.

Sekarang aku mulai memahami.

Aku berjalan menuju lemari tua peninggalan Ayah.

Di dalamnya ada sebuah kotak kayu kecil yang selama bertahun-tahun tidak pernah bisa kubuka karena kuncinya hilang.

Namun beberapa bulan lalu aku menemukan kunci kecil terselip di bawah meja.

Aku mengambil kotak itu.

Bima langsung berdiri.

“Tari.”

Aku membukanya.

Di dalamnya bukan sertifikat tanah.

Hanya sebuah surat dan foto lama.

Dalam foto itu, Ayah berdiri bersama seorang pria.

Di samping mereka ada dua anak laki-laki kembar berusia sekitar tujuh tahun.

Bima dan Arya.

Tanganku gemetar.

Aku membaca surat Ayah.

Ternyata tanah itu memang pernah menjadi sengketa antara keluarga kami.

Tetapi Ayah telah membeli seluruh bagian milik ayah Bima secara sah bertahun-tahun lalu. Bukti transaksi dan sertifikat baru disimpan di bank atas namaku.

Lebih mengejutkan lagi, Ayah sudah mengetahui kemungkinan keluarga Bima akan datang menuntut kembali tanah tersebut.

Bima merebut surat itu.

Wajahnya semakin pucat ketika membaca bagian terakhir.

Arya mendekat.

“Apa?”

Bima tidak menjawab.

Aku mengambil surat itu kembali.

Di bagian terakhir Ayah menulis bahwa jika salah satu anak keluarga tersebut datang dengan niat baik, aku boleh mempertimbangkan membantunya. Tetapi jika mereka datang dengan kebohongan, aku tidak berutang apa pun kepada mereka.

Arya duduk lemas.

Bima justru tertawa getir.

“Jadi selama ini sia-sia.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Dia menoleh.

“Dua tahun ini tidak sia-sia. Aku belajar sesuatu.”

“Apa?”

“Orang lugu bukan berarti bodoh.”

Bima menunduk.

Aku kemudian mengambil map dari tas.

Di dalamnya sudah ada salinan rekaman, dokumen pernikahan, dan bukti komunikasi yang berhasil kukumpulkan.

“Aku sudah bicara dengan bantuan hukum di kecamatan. Besok aku akan mulai mengurus semuanya.”

Bima terlihat panik.

“Tari, tunggu.”

“Aku sudah menunggu dua tahun.”

Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Aku meminta Bima meninggalkan rumah malam itu.

Yang mengejutkanku, Arya ikut berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar ia berhenti.

“Tari.”

Aku menatapnya.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tidak ada alasan.

Tidak ada pembelaan.

Dan justru karena itu aku percaya permintaan maafnya lebih tulus daripada semua kata cinta yang pernah Bima ucapkan.

Enam bulan kemudian, hidupku berubah.

Aku resmi berpisah dari Bima setelah seluruh kebohongannya terbongkar. Laras pun ternyata tidak pernah berniat menikah dengannya. Bima hanya membangun khayalan bahwa perempuan dari masa lalunya masih menunggunya.

Tanah warisan Ayah akhirnya kusewakan kepada sebuah perusahaan logistik, bukan kujual.

Uang sewanya kugunakan untuk memperbesar usaha jajanan pasar milik Bu Ratih dan membuka dapur produksi kecil.

Suatu sore, ketika aku sedang memeriksa pesanan, seorang kurir datang membawa sebuah kotak.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat lemper yang dibungkus daun pisang dengan tali kuning.

Aku langsung tahu siapa pengirimnya.

Ada secarik kertas kecil.

Tari, dulu aku datang ke rumahmu untuk memainkan peran sebagai orang lain. Anehnya, justru di rumah itu aku pertama kali belajar menjadi diriku sendiri. Aku tidak meminta dimaafkan. Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang dulu menjadi awal kebohongan kita.

Di bawah surat itu ada sebuah flashdisk.

Aku membukanya di laptop.

Isinya rekaman percakapan Bima dengan seorang perantara tanah sejak sebelum pernikahan kami.

Bukti terakhir bahwa seluruh rencana memang telah disusun sejak awal.

Arya rupanya menyimpannya diam-diam.

Bukti itu kemudian sangat membantu menyelesaikan persoalan hukum yang masih tersisa.

Aku memandang lemper di meja.

Untuk pertama kalinya sejak malam ketika mendengar percakapan dua saudara kembar itu, aku mengambil satu dan memakannya.

Rasanya gurih.

Tidak pahit lagi.

Aku tidak pernah tahu apakah Arya akan kembali.

Dan aku tidak menunggunya.

Karena akhirnya aku memahami pesan Ayah.

Kebenaran seseorang bukan terlihat dari wajahnya, bukan pula dari kata-kata yang diucapkannya ketika sedang membutuhkan kita.

Kebenaran terlihat dari pilihan yang ia buat ketika tidak ada lagi keuntungan yang bisa diperoleh.

Bima memiliki wajah yang sama dengan Arya.

Namun malam itu aku akhirnya mengerti.

Dua manusia bisa memiliki wajah yang benar-benar identik, tetapi hati mereka tidak pernah bisa menyamar selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang