Tujuh tahun lalu, Ferdi pernah berdiri di depan makam ayah saya sambil menangis dan berjanji akan menjaga saya seumur hidup.
Pagi berikutnya, pria yang sama justru akan belajar bahwa ada janji yang boleh dikhianati, tetapi ada konsekuensi yang tidak bisa dihindari.
Malam itu, setelah Naufal tertidur, saya masuk ke ruang kerja dan membuka laci paling bawah.
Sebuah map hitam masih tersimpan di sana.

Saya mengeluarkan surat kuasa pengelolaan saham, dokumen kepemilikan, serta salinan perjanjian investasi yang ditandatangani tujuh tahun lalu.
PT Nusantara Farmasi memang dibangun Ferdi bersama dua rekannya. Namun ketika perusahaan nyaris bangkrut karena utang dan gagal mendapatkan investor, ayah saya, Hendra Wijaya, masuk membawa modal.
Ayah membeli tujuh puluh persen saham.
Ferdi memohon agar namanya tetap dipertahankan sebagai wajah perusahaan karena ia takut kehilangan kepercayaan pasar.
Ayah menyetujuinya.
Setelah ayah meninggal, hak pengelolaan saham itu diwariskan kepada saya.
Saya tidak pernah menggunakannya untuk mencampuri pekerjaan Ferdi.
Saya ingin suami saya merasa bahwa keberhasilannya adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
Ternyata diam saya membuatnya lupa siapa yang pernah menyelamatkannya.
Pukul tujuh pagi, saya sudah mengenakan blazer abu-abu dan celana hitam. Naufal saya titipkan kepada ibu saya.
Sebelum pergi, anak itu memegang tangan saya.
“Bunda jangan marah sama Ayah.”
Saya menatap wajah kecilnya.
Bekas merah di pipinya masih terlihat.
“Kenapa?”
Naufal menunduk.
“Naufal masih sayang Ayah.”
Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Ferdi.
Saya mencium keningnya.
“Bunda juga tidak akan mengajari Naufal membenci Ayah. Tapi orang yang berbuat salah harus belajar bertanggung jawab.”
Saya tiba di kantor PT Nusantara Farmasi pukul delapan lewat lima belas.
Begitu pintu lift lantai tiga puluh terbuka, puluhan mata langsung tertuju kepada saya.
Maya berdiri dekat meja resepsionis dengan blus krem dan rok hitam. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.
Ferdi keluar dari ruangannya beberapa detik kemudian.
“Kirana?”
Ia berjalan cepat menghampiri saya.
“Ngapain kamu ke sini?”
Saya mengangkat map hitam.
“Menyelesaikan masalah yang menurutmu sepele.”
Beberapa staf mulai saling melirik.
Ferdi merendahkan suaranya.
“Jangan bikin drama di kantor.”
Maya mendekat dan memasang ekspresi seolah dialah korban.
“Bu Kirana, kalau soal kemarin, saya sudah bilang saya tidak sengaja. Naufal tiba-tiba masuk dan saya kaget.”
Saya menatap tangannya.
“Tangan mana yang tidak sengaja?”
Wajah Maya berubah.
“Maaf?”
“Tangan kanan atau kiri?”
“Kirana!” bentak Ferdi.
Saya tidak menoleh.
Maya menarik napas.
“Kalau Ibu datang hanya untuk mempermalukan saya, saya tidak mau melayani.”
Ia berbalik.
Saya berkata pelan, “Berhenti.”
Entah karena nada suara saya atau suasana yang mendadak sunyi, Maya benar-benar berhenti.
Saya mengeluarkan ponsel.
“Semalam saya membawa Naufal ke dokter. Ada memar jaringan lunak di pipinya. Saya juga sudah menyimpan foto dan hasil pemeriksaan.”
Maya langsung pucat.
Ferdi mendekati saya.
“Kamu bawa Naufal ke dokter cuma gara-gara begitu?”
Saya akhirnya menatap suami saya.
“Anakmu pulang dengan wajah bengkak, Ferdi.”
“Dia baik-baik saja.”
“Karena yang ditampar bukan kamu.”
Ferdi terdiam.
Saya berjalan menuju ruang rapat utama.
“Jam sembilan ada rapat direksi, kan?”
Ferdi menegang.
“Kamu tahu dari mana?”
Saya tersenyum.
“Saya pemegang kuasa saham mayoritas. Masa jadwal rapat perusahaan sendiri tidak boleh tahu?”
Untuk pertama kalinya, ekspresi meremehkan di wajah Ferdi menghilang.
Tepat pukul sembilan, lima komisaris, direktur keuangan, direktur operasional, dan sekretaris perusahaan sudah duduk di ruang rapat.
Ferdi duduk di kursi paling ujung.
Maya berdiri di belakangnya.
Saya meletakkan map hitam di meja.
Pak Surya, komisaris senior yang mengenal ayah saya, menatap saya lama.
“Bu Kirana?”
Saya menyerahkan dokumen kepadanya.
“Pak Surya masih mengenali tanda tangan ayah saya?”
Ia membaca beberapa lembar.
Wajahnya berubah serius.
“Tentu.”
Ferdi berdiri.
“Dokumen lama itu tidak ada hubungannya dengan operasional sekarang.”
Pak Surya menatapnya.
“Justru sangat berhubungan, Pak Ferdi. Ini surat kuasa atas tujuh puluh persen saham milik keluarga almarhum Pak Hendra.”
Ruangan langsung sunyi.
Maya menatap Ferdi.
“Tujuh puluh persen?”
Ferdi mengepalkan tangan.
“Kirana tidak mengerti bisnis. Selama tujuh tahun saya yang membangun perusahaan ini!”
Saya menatapnya.
“Saya tidak pernah menyangkal kerja kerasmu.”
“Lalu apa maumu?”
“Saya mau tahu satu hal.”
Saya mendorong sebuah foto ke tengah meja.
Foto pipi Naufal.
“Apakah seorang Direktur Utama yang membiarkan asistennya menampar anak lima tahun lalu menutupi kejadian itu masih layak memimpin perusahaan yang menjual produk kesehatan untuk keluarga?”
Ferdi menghantam meja.
“Jangan campurkan urusan rumah tangga dengan perusahaan!”
“Saya juga berpikir begitu sampai tadi malam.”
Saya mengeluarkan beberapa lembar lain.
“Tapi ternyata urusannya memang sudah bercampur.”
Ferdi mendadak diam.
Saya meletakkan laporan transaksi di depan komisaris.
Selama semalam, pengacara keluarga saya bersama auditor yang dulu bekerja untuk ayah menelusuri beberapa dokumen yang selama ini dikirimkan perusahaan kepada pemegang saham.
Ada pembayaran rutin kepada sebuah perusahaan konsultasi bernama Mahardika Strategic Partners.
Nilainya mencapai miliaran rupiah dalam setahun.
Alamat kantornya ternyata sebuah ruko kosong.
Pemilik perusahaan itu adalah kakak kandung Maya.
Wajah Maya langsung kehilangan warna.
“Ini fitnah.”
Direktur keuangan, Pak Bimo, mengambil dokumen tersebut.
Tangannya gemetar.
“Pak Ferdi, saya pernah mempertanyakan pembayaran ini.”
Ferdi menatapnya tajam.
“Diam, Bimo.”
Pak Bimo justru berdiri.
“Tiga kali saya bertanya. Bapak bilang itu biaya konsultan pemasaran yang sudah disetujui komisaris.”
Pak Surya menggeleng.
“Saya tidak pernah menyetujui perusahaan ini.”
Ferdi mulai panik.
Maya mendekatinya.
“Pak, bukankah Bapak bilang semuanya aman?”
Semua orang menoleh.
Ferdi membentak, “Kamu diam!”
Saat itulah saya mengerti sesuatu.
Maya bukan sekadar wanita simpanan.
Ia terlibat jauh lebih dalam.
Saya meminta tim teknologi informasi membuka rekaman CCTV koridor lantai tiga puluh kemarin sore.
Rekaman itu tidak memperlihatkan bagian dalam ruang istirahat, tetapi cukup menunjukkan Naufal masuk sambil membawa gambar, lalu keluar kurang dari dua menit kemudian sambil menangis dan memegang pipinya.
Tidak ada satu pun orang dewasa yang mengejarnya.
Bahkan Ferdi.
Saya menatap layar tanpa berkata apa-apa.
Ferdi perlahan duduk.
Saya pikir hati saya akan hancur melihat pengkhianatannya.
Ternyata tidak.
Yang menghancurkan saya justru melihat anak kecil saya berlari sendirian di koridor panjang setelah disakiti orang dewasa yang seharusnya melindunginya.
Pak Surya menutup map.
“Sebagai wakil pemegang saham mayoritas, apa keputusan Ibu Kirana?”
Ferdi langsung menatap saya.
“Kirana.”
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi arogan.
“Kita bicara berdua.”
“Tidak perlu.”
“Aku suamimu.”
Saya menjawab, “Dan kemarin kamu ayah Naufal.”
Kalimat itu membuatnya bungkam.
Saya meminta dilakukan rapat luar biasa sesuai mekanisme perusahaan untuk menonaktifkan Ferdi sementara dari jabatan Direktur Utama sampai audit independen selesai.
Pak Surya menyetujuinya.
Ferdi berdiri dengan wajah merah.
“Kamu tidak bisa menghancurkan hidupku begini!”
“Saya tidak menghancurkan hidupmu.”
Saya menunjuk dokumen transaksi.
“Kamu sendiri yang melakukannya.”
Tiba-tiba Maya menangis.
Ia berjalan ke arah saya.
“Bu Kirana, saya minta maaf.”
Saya menatapnya.
Kemarin ia bahkan tidak mau mengakui telah menampar Naufal.
Sekarang setelah tahu Ferdi kehilangan kekuasaan, lututnya mulai lemas.
“Saya khilaf. Saya takut Naufal bicara.”
“Akhirnya kamu jujur.”
Maya menutup wajah.
“Saya benar-benar minta maaf.”
Saya menggeleng.
“Bukan kepada saya.”
Sore itu, saya meminta ibu membawa Naufal ke kantor ditemani pengasuh.
Begitu melihat gedung tersebut, Naufal sempat berhenti di depan lift.
Tangannya menggenggam tangan saya erat.
“Bunda ikut, kan?”
“Sampai selesai.”
Ketika kami masuk ruang rapat, Maya sudah menunggu.
Tidak ada puluhan karyawan seperti tuntutan awal saya. Setelah memikirkan semuanya, saya tidak ingin menjadikan luka Naufal sebagai tontonan.
Cukup orang-orang yang berkaitan dengan kejadian itu.
Maya berdiri di depan Naufal.
Air matanya jatuh.
“Naufal, Tante salah.”
Naufal bersembunyi sedikit di belakang kaki saya.
Maya berlutut.
“Tante tidak seharusnya memukul kamu. Apa pun alasannya.”
Naufal diam lama.
Kemudian ia bertanya, “Kenapa Tante marah waktu Naufal mau kasih gambar ke Ayah?”
Maya menangis semakin keras.
Ferdi yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya menundukkan kepala.
Naufal mengambil kertas dari tasnya.
Ternyata gambar yang ingin ia berikan kemarin masih ada.
Gambar sederhana dengan krayon.
Ada tiga orang bergandengan tangan.
Ayah, Bunda, dan Naufal.
Di atasnya tertulis dengan huruf anak-anak yang tidak rata.
Ayah hebat karena selalu menjaga keluarga.
Ferdi melihat tulisan itu.
Wajahnya langsung runtuh.
Ia berlutut di depan Naufal.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Ferdi menangis.
“Maafin Ayah.”
Naufal memandangnya.
“Kenapa Ayah kemarin diam?”
Ferdi membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Pertanyaan anak lima tahun ternyata lebih sulit dijawab daripada pertanyaan komisaris.
Akhirnya ia berkata, “Karena Ayah pengecut.”
Naufal menunduk.
“Ayah masih sayang Naufal?”
Ferdi memeluknya.
Namun Naufal tidak langsung membalas.
Saya membiarkan mereka.
Memaafkan adalah hak Naufal.
Bukan kewajiban saya untuk memaksanya.
Dua minggu kemudian, audit awal menemukan berbagai transaksi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ferdi akhirnya mengundurkan diri sebelum proses internal perusahaan selesai. Maya juga diberhentikan dan dimintai pertanggungjawaban atas keterlibatannya dalam sejumlah dokumen perusahaan.
Saya mengajukan gugatan cerai.
Ferdi tidak melawan.
Sebelum sidang pertama, ia datang ke rumah membawa sebuah kotak.
Saya mengira ia hendak mengembalikan barang.
Ternyata isinya puluhan surat lama dari ayah saya.
Salah satunya ditulis beberapa hari sebelum ayah meninggal.
Ferdi menyerahkannya kepada saya.
“Aku baru menemukan ini di brankas kantor.”
Saya membuka surat itu.
Tulisan tangan ayah masih sama.
Di bagian terakhir, ayah menulis bahwa ia memberikan kuasa saham kepada saya bukan karena meragukan Ferdi.
Ia melakukannya karena kekuasaan bisa mengubah siapa pun.
Dan jika suatu hari Ferdi kehilangan arah, ayah berharap saya cukup berani untuk tidak ikut tenggelam bersamanya.
Saya membaca kalimat itu berkali-kali.
Air mata yang saya tahan sejak hari Naufal pulang dengan pipi memar akhirnya jatuh.
Ferdi berdiri di depan pintu.
“Seandainya ayahmu masih hidup, mungkin dia menyesal pernah menolongku.”
Saya melipat surat itu.
“Tidak.”
Ferdi menatap saya.
“Ayah tidak pernah menyesal menolong orang.”
Saya berhenti sejenak.
“Yang ayah sesali mungkin kalau saya membiarkan kesalahannya terus terjadi hanya karena saya takut kehilangan suami.”
Ferdi menunduk dan pergi.
Enam bulan kemudian, PT Nusantara Farmasi memiliki Direktur Utama baru yang dipilih secara profesional.
Saya tidak mengambil jabatan itu.
Saya memilih duduk sebagai wakil pemegang saham dan membentuk sistem pengawasan yang jauh lebih ketat.
Suatu sore, ketika saya menjemput Naufal dari sekolah, ia berlari sambil membawa gambar baru.
“Bunda, lihat!”
Saya membuka kertasnya.
Kali ini hanya ada dua orang bergandengan tangan.
Saya dan Naufal.
Namun di sudut kanan, ada seorang pria berdiri agak jauh sambil melambaikan tangan.
“Itu siapa?”
“Ayah.”
Saya terdiam.
“Kenapa Ayah jauh?”
Naufal menjawab dengan kepolosan yang membuat dada saya sesak.
“Karena Ayah belum boleh tinggal sama kita. Tapi kata Bu Guru, orang yang salah masih bisa belajar jadi baik.”
Saya memeluknya erat.
Hari itu saya akhirnya memahami sesuatu yang tidak diajarkan oleh semua dokumen perusahaan di meja saya.
Tujuh puluh persen saham bisa membuat seorang Direktur Utama kehilangan kursinya.
Sebuah surat kuasa bisa membuat orang yang arogan berlutut.
Tetapi kekuasaan terbesar yang saya miliki bukanlah saham peninggalan ayah.
Melainkan keberanian untuk menunjukkan kepada anak saya bahwa cinta tidak berarti membiarkan seseorang menyakiti kita tanpa konsekuensi.
Dan memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya kembali tempat yang sama dalam hidup kita.
