Arga mengangkat kepalanya, wajahnya sepucat kertas.

Langkah kakiku menapak mantap di atas paving blok halaman Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Suara bising kendaraan dari arah Jalan Harsono RM seolah berlalu begitu saja di telinganya, kalah nyaring dengan kelegaan yang tiba-tiba membuncah di dalam dadaku. Tujuh tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk dihabiskan dalam sebuah sangkar emas yang ternyata dibangun di atas fondasi kebohongan berlapis. Selama ini, aku adalah Laila yang penurut, Laila yang selalu memaklumi kesibukan suaminya, dan Laila yang dianggap bodoh oleh Arga.

Namun hari ini, semua topeng itu telah luruh.

Aku berjalan menuju mobil SUV hitamku yang terparkir di bawah rindangnya pohon angsana. Saat jemariku meraba gagang pintu, sebuah suara teriakan tertahan memanggil namaku.

“Mbak Laila! Tunggu sebentar, Mbak!”

Aku menoleh. Maya berlari kecil menghampiriku, napasnya tersengal-sengal, riasan wajahnya sudah luntur oleh air mata dan keringat. Wanita muda yang tadinya tampak begitu percaya diri sebagai kekasih simpanan Arga itu kini terlihat begitu rapuh, menyedihkan, dan hancur berkeping-keping. Di belakangnya, Arga menyusul dengan langkah cepat, wajahnya memerah padam menahan malu sekaligus amarah yang siap meledak.

“Mau apa lagi, Maya?” tanyaku datar, menatap wanita itu tanpa secercah pun rasa benci, yang ada hanya kelelahan yang teramat sangat.

Maya berhenti tepat satu setengah meter dariku. Kedua tangannya gemetar hebat. Ia menatapku lekat-lekat, seolah mencari sisa-sisa kebohongan yang mungkin masih tersimpan di wajahku.

“Semua yang Mbak katakan di dalam tadi… apakah itu benar? Tentang rumah Pondok Indah? Tentang semua aset yang atas nama Mbak?” suaranya bergetar, nyaris berbisik karena menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

Sebelum aku sempat menjawab, Arga sudah menerobos maju. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan kasar, mencoba menariknya menjauh dariku. Tatapan mata Arga menyiratkan kepanikan yang luar biasa, ancaman terselubung yang biasa ia gunakan untuk menundukkan orang-orang di sekitarnya.

“Cukup, Maya! Jangan dengarkan dia! Dia hanya ingin memprovokasi kita! Ayo kita pergi dari sini sekarang!” bentak Arga, suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa orang pengacara dan klien lain yang masih berada di area parkir.

Maya dengan kasar mengibaskan tangan Arga dari pergelangan tangannya. Matanya mendelik tajam, menatap pria yang baru saja berjanji akan menikahinya itu dengan kebencian yang teramat sangat.

“Lepaskan aku, Arga! Lepas!” jerit Maya, membuat Arga terperanjat mundur selangkah. “Kamu masih berani menyentuhku setelah semua kebohongan ini? Kamu bilang istrimu mandul, tidak berguna, dan tidak tahu apa-apa soal bisnis! Kamu bilang kamu yang membeli rumah mewah itu dengan keringatmu sendiri di SCBD! Tapi kenyataannya apa? Kamu hanya seorang pengacara karbitan yang menumpang hidup pada kekayaan keluarganya!”

Bisik-bisik mulai terdengar dari orang-orang di sekitar kami. Arga menggertakkan giginya, rahangnya mengeras, wajahnya berubah pucat pasi karena kehilangan muka di tempat umum.

Aku melipat tangan di dada, menikmati pemandangan ironis di depannya. Hubungan yang dibangun di atas penderitaan orang lain, kini runtuh dengan cara yang paling memalukan.

“Kamu keliru, Maya,” kataku tenang, memecah ketegangan di antara mereka berdua. “Arga memang pintar merangkai kata. Dia lulusan universitas bergengsi, punya gelar master hukum, tapi mentalnya adalah seorang pencuri berkerah putih. Dia tidak pernah benar-benar mencintaimu, atau mencintaiku. Dia hanya mencintai kenyamanan dan status sosial yang bisa ia dapatkan dari wanita di sekitarnya.”

Arga menatapku tajam, matanya menyiratkan dendam kesumat. “Laila, jaga mulutmu! Jangan memperkeruh keadaan!” bisiknya penuh ancaman, mendekatiku dengan langkah mengintimidasi.

Namun, sebelum Arga sempat berbuat lebih jauh, sebuah suara bariton yang sangat ku kenal menghentikan langkahnya.

“Ada masalah apa di sini, Pak Arga? Mau main kasar di depan pengadilan?”

Kami bertiga menoleh secara bersamaan. Bayu, sahabat sekaligus rekan bisnis ayahku yang juga bertindak sebagai kuasa hukumku dalam proses perceraian ini, melangkah mendekat dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Di belakang Bayu berdiri dua orang petugas keamanan pengadilan yang tampaknya sengaja bersiaga melihat situasi yang memanas.

Arga langsung menghentikan langkahnya, menegakkan tubuhnya, dan merapikan jasnya yang kusut dengan canggung. Ia tahu betul siapa Bayu; seorang senior di dunia hukum korporat yang memiliki pengaruh besar dan bisa menghancurkan kariernya dalam sekejap jika laporan etik profesi dilayangkan.

“Tidak ada apa-apa, Pak Bayu. Kami hanya… sedang menyelesaikan urusan pribadi,” jawab Arga dengan suara yang dipaksakan tenang, meski keringat dingin tampak mengucur di pelipisnya.

“Urusan pribadi yang hampir berujung kekerasan fisik?” Bayu tersenyum sinis, lalu berdiri di sampingku, memberikan gestur perlindungan yang tegas. “Sebaiknya Anda urus saja wanita yang Anda tipu itu, atau siapkan diri Anda menghadapi gugatan perdata tambahan terkait penggelapan aset perusahaan keluarga Laila yang selama ini Anda kelola tanpa izin.”

Wajah Arga berubah semerah tomat. Ancaman itu nyata, dan Arga tahu betul bahwa bukti-bukti transaksi keuangan ilegal yang ia lakukan selama tiga tahun terakhir sudah berada di tangan tim auditor Bayu. Pria itu tidak punya ruang untuk bernapas lagi. Kehidupan mewah, mobil Eropa, apartemen eksklusif di bilangan Kuningan, jam tangan mewah berharga ratusan juta—semuanya kini tinggal hitungan jam untuk disita kembali.

Maya menatap Arga dengan tatapan kosong. Air mata kemarahannya kini telah kering, menyisakan kekecewaan yang teramat dalam. Wanita itu menyadari bahwa dirinya hanyalah pion dalam permainan ambisi dan keserakahan seorang Arga.

“Kamu… benar-benar bajingan, Arga,” bisik Maya pelan, namun terdengar sangat tajam menusuk. Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Maya langsung berbalik badan, berlari menuju gerbang keluar, meninggalkan Arga sendirian di tengah pelataran parkir yang terik.

Arga terpaku. Ia kehilangan segalanya dalam waktu kurang dari satu jam. Reputasi, harta rampasan, wanita simpanan, dan masa depan kariernya hancur berkeping-keping akibat keserakahannya sendiri. Ia menoleh kepadaku, mencoba mencari secercah belas kasihan di mata wanita yang selama tujuh tahun ini selalu memaafkan setiap kesalahan kecilnya.

“Laila… kumohon… kita bisa bicarakan ini baik-baik di rumah. Kita bisa mulai dari awal…” suara Arga berubah memelas, nyaris seperti orang memohon di ambang kematian.

Aku menatapnya lurus-lurus. Tidak ada lagi rasa cinta, tidak ada lagi rasa sakit hati, yang tersisa hanyalah kehampaan untuk pria di hadapanku ini. Hatiku sudah sepenuhnya tertutup untuk manusia penuh tipu daya seperti dirinya.

“Rumah itu bukan lagi rumahmu, Arga. Dan mulai detik ini, namaku bukan lagi urusanmu,” kataku tegas.

Aku membuka pintu mobil, masuk ke dalam kabin yang sejuk, dan menyalakan mesin. Bayu melambaikan tangan padaku sesaat sebelum aku menutup pintu mobil rapat-rapat. Aku memasukkan gigi transmisi, menginjak pedal gas secara perlahan, dan meninggalkan Arga yang berdiri terpaku bagaikan patung di tengah pelataran parkir pengadilan yang mulai sepi.

Di dalam perjalanan pulang, menyusuri jalanan ibu kota yang padat merayap, aku menyalakan radio kesukaannya. Alunan musik jazz yang lembut mengalun memenuhi kabin mobil. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kecemasan dan bayang-bayang kebohongan, aku merasa benar-benar bernapas dengan merdeka.

Namun, di balik kelegaan itu, sebuah pikiran melintas di benaknya. Ponsel di dalam tasnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal masuk ke layar ponsel saat mobil berhenti di lampu merah kawasan Senayan.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat singkat, namun membuat darahku mendadak membeku seketika.

“Dia tidak hanya menipumu soal harta dan wanita lain, Laila. Periksa brankas di ruang kerja suamimu sebelum malam ini berakhir, atau kamu akan tahu siapa sebenarnya pria yang tidur di sampingmu selama tujuh tahun terakhir.”

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Klakson mobil di belakangku berbunyi nyaring menuntut jalan. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponsel yang kembali padam, sementara jantungku mulai berdegup kencang melampaui batas kewajaran. Perjalanan menuju kebebasan ternyata baru saja membuka pintu labirin rahasia lain yang jauh lebih gelap dari yang pernah kubayangkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang