Aku tahu jawabannya bahkan sebelum dia membuka mulut. Kertas itu bersih, rapi, dan nama pengacara yang tertera di bagian bawah dicetak dengan tinta tebal. Ini bukan rencana kemarin sore. Ini disusun saat aku mengetuk pintu rumah tetangga satu per satu untuk meminjam uang. Ini disiapkan saat aku berlutut di depan pembeli toko kelontong peninggalan almarhum Ayah, meminta agar harganya ditransfer hari itu juga, peduli setan dipotong sepuluh persen karena aku butuh uang muka operasi tulang belakangnya.
“Sita,” ucap Bayu pelan. Nama itu keluar dari bibirnya seperti sebuah bisikan yang sudah lama dia tahan di bawah lidah. “Dia yang mengurus pengacaranya. Dia yang mendampingiku sebelum aku bertemu kamu lagi.”
Duniaku seperti mati rasa seketika. Sita adalah rekan kerjanya yang selalu dia sebut sebagai ‘teman biasa’. Perempuan dengan tutur kata halus yang pernah membawakan buah ke rumah sakit sekali, lalu menghilang begitu saja. Ternyata dia tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya menunggu di balik layar, memastikan aku menyelesaikan tugas kotor dan berat ini dulu—membayar biaya rumah sakit hingga ratusan juta rupiah.

“Dia yang membiayai pengacara ini,” lanjut Bayu tanpa dosa, seolah itu adalah kabar baik yang harus kuapresiasi. “Rina, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Tokomu sudah dijual. Rumah kita ngontrak. Kita cuma saling membebani kalau terus begini. Sita punya usaha, dia mau menampungku dan membantuku pulih total.”
Aku menatap laki-laki di depanku. Laki-laki yang sepuluh hari lalu kuusap dahinya sambil menangis saat detak jantungnya melemah di ruang ICU. Ternyata, yang dibayarkan oleh toko peninggalan Ayahku bukan hanya nyawanya, tetapi juga tiket masuknya ke kehidupan baru bersama perempuan lain.
“Kamu memanfaatkan aku,” kataku datar. Tidak ada air mata. Rasa sakitnya begitu pekat hingga berubah menjadi sesuatu yang dingin dan tajam.
“Aku cuma realistis, Rina,” kilahnya sambil memalingkan muka. “Buktinya kamu bisa bertahan kan? Kamu kuat. Sita… dia butuh aku. Dan aku mencintainya.”
Aku tidak menjawab lagi. Aku meremas map cokelat itu, berbalik, dan berjalan keluar dari kamar rawat tanpa membawa satu pun barangku. Langkahku gontai menelusuri lorong rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik menyengat di hidungku, bercampur dengan bau kekalahan yang paling pahit.
Seminggu kemudian, perceraian diproses dengan sangat cepat. Sita memang memiliki relasi dan uang yang cukup untuk melincinkan semuanya. Aku tidak menuntut apa-apa. Lagipula, apa lagi yang bisa dituntut dari seorang pria yang harta terbesarnya adalah utang nyawa padaku? Aku memilih menghilang, menyewa kamar kos sempit di pinggiran Jakarta, dan bekerja belasan jam sehari sebagai kasir supermarket demi menyambung hidup.
Enam bulan berlalu. Kehidupan berputar tanpa belas kasihan. Aku mulai terbiasa dengan sepi. Bekas luka infus di lenganku memudar, begitu pula bayangan Bayu dalam ingatan harianku. Hingga suatu sore, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan kosanku yang sempit.
Seorang wanita turun dengan wajah pucat dan mata sembap. Sita.
Aku menatapnya dingin dari teras kos. Dia berjalan mendekat dengan langkah gemetar, sangat berbeda dari sosok anggun yang pernah kukenal sepintas.
“Rina… tolong,” bisiknya suara bergetar.
“Untuk apa kamu ke sini?” tanyaku datar.
Sita menggenggam tangannya sendiri yang gemetar hebat. “Bayu… kondisi Bayu memburuk. Dokternya bilang ada komplikasi langka dari operasinya enam bulan lalu. Saraf punggungnya meradang parah. Dia… dia butuh donor sumsum tulang belakang atau cangkok jaringan khusus yang sangat langka. Kamu pernah tes darah waktu operasi dulu, kan? Dokter bilang kecocokan jaringanmu dengannya sangat tinggi, hampir sempurna bagaikan saudara kandung.”
Aku tertawa, sebuah tawa kecil yang terdengar asing di telingaku sendiri. “Lalu? Kenapa tidak kamu saja yang menolongnya? Kamu punya uang, punya relasi, punya segalanya.”
“Uangku tidak bisa membeli jaringan yang cocok, Rina!” jerit Sita menangis sesenggukan. “Dia tidak bisa bergerak lagi dari leher ke bawah. Dia menangis tiap malam memanggil namamu. Dia menyesal… dia mohon kamu datang.”
Sita menyodorkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai dan kunci sebuah apartemen. “Aku kembalikan semua harta yang hilang dari hidupmu. Aku kembalikan nilai tokomu sepuluh kali lipat. Tolong selamatkan dia sekali lagi.”
Aku menatap amplop itu, lalu menatap wanita di depanku. Ada kepuasan aneh yang menjalar di dadaku, tapi bersamanya datang pula kenyataan yang ironis.
Hari berikutnya, aku datang ke rumah sakit tempat Bayu dirawat. Bukan di kamar kelas tiga seperti dulu, melainkan kamar suite VIP yang megah. Di atas ranjang besar itu, Bayu terbaring lemah. Tubuhnya menyusut drastis. Saat melihatku masuk, matanya berkaca-kaca.
“Rina…” suaranya serak dan nyaris tak terdengar. “Kamu… kamu datang…”
Aku berjalan mendekat, berdiri di samping ranjangnya. Bau antiseptik rumah sakit menyapu indra penciumanku, membawa ingatan malam-malam panjang saat aku mengusap punggungnya.
“Sita bilang kamu mau menolongku lagi…” Bayu mencoba menggerakkan jarinya, tapi gagal. Air matanya menetes di pelipis. “Maafkan aku, Rina. Aku buta. Aku salah. Kalau aku sembuh nanti, aku janji… aku akan tebus semuanya. Aku akan tinggalkan Sita dan kembali padamu.”
Aku menatap wajahnya lama. Laki-laki ini benar-benar tidak berubah. Dia selalu menganggap perempuan dalam hidupnya sebagai barang penolong yang bisa dipakai, dibuang, lalu diambil kembali sesuai kebutuhannya.
Aku merogoh tas kecilkubag dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi dari laboratorium rumah sakit yang baru kukumpulkan tadi pagi. Aku meletakkannya di atas dada Bayu.
“Apa ini?” tanya Bayu bingung.
“Hasil tes laboratoriumku,” jawabku pelan, namun tegas. “Dokter memang memanggilku kemarin. Jaringanku memang cocok sempurna untuk menyelamatkanmu.”
Mata Bayu berbinar lega. “Terima kasih, Rina… terima kasih—”
“Tapi aku menolaknya,” potongku dingin.
Kalimat itu menggantung di udara bagai petir di siang bolong. Wajah Bayu membeku. Sita yang berdiri di sudut ruangan langsung maju dengan wajah syok.
“Apa maksudmu, Rina?!” teriak Sita. “Kamu tega membiarkannya mati?!”
Aku menatap mereka berdua bergantian dengan tenang. “Enam bulan lalu, aku menjual seluruh peninggalan Ayahku dan mempertaruhkan sisa hidupku bukan hanya karena dia suamiku, tapi karena aku percaya dia manusia yang punya nurani. Tapi hari saat kamu menyerahkan surat cerai itu, Bayu… kamu sendiri yang membunuh rasa kemanusiaanku.”
Aku melangkah mundur satu tahap.
“Toko Ayahku mengajarkanku satu hal tentang transaksi,” lanjutku sambil menatap mata Bayu yang kini dipenuhi rasa takut yang luar biasa. “Setiap barang yang sudah dijual dan dibawa keluar dari toko, tidak bisa dikembalikan lagi. Kamu sudah memilih pembeli barumu. Sekarang, nikmatilah hasil transaksimu.”
Aku berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu. Di belakangku, suara histeris Sita dan panggila keputusasaan Bayu menggema memanggil namaku, tapi aku terus melangkah tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Saat melangkah keluar dari pintu utama rumah sakit, angin sore Jakarta menyapa wajahku. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, tanganku tidak lagi berbau obat, antiseptik, atau minyak kayu putih. Tanganku berbau kebebasan.
