“Suatu hari nanti, kalau saya butuh bantuan yang nggak bisa minta ke siapa-siapa lagi, kamu harus bantu saya. Janji?” “Janji, Om…” “Bagus. Sekarang pegang leher saya.”
Ia menggendongku keluar tepat sebelum mesin bus itu meledak. Ia dirawat tiga minggu di rumah sakit karena luka bakar di lengan kirinya. Setelah itu, ia menghilang. Ayahku pernah mencarinya untuk memberi uang ucapan terima kasih, tapi Pak Harun seperti ditelan bumi. Yang tersisa hanya nama dan satu janji kekanak-kanakan di tengah kepulan asap.
Dan sekarang, dua puluh tahun kemudian, pria itu berdiri di teras rumah kontrakan mungilku di pinggiran Jakarta, di bawah lampu bohlam lima watt yang berkedip-kedip.
“Kamu masih memegang janji itu?” tanyanya pelan.
Suaranya parau, seperti bergesekan dengan pasir.

Aku tertegun sejenak, tenggorokanku terasa kering. “Pak… masuk dulu. Silakan duduk.”
Pak Harun melangkah masuk dengan ragu. Langkah kakinya agak diseret. Ia membawa sebuah tas kain hitam yang tampak sangat berat, dipegangnya erat-erat seolah benda itu adalah nyawanya. Ketika ia duduk di sofa kainku yang sudah menipis busanya, aku baru menyadari betapa gemetarnya jemari pria tua itu. Napasnya memburu, matanya terus-menerus melirik ke arah pintu luar.
Aku menyodorkan segelas air hangat. Ia meminumnya sampai habis dalam satu tegukan besar, lalu meletakkan gelas itu di meja dengan tangan yang masih berguncang.
“Pak Harun dari mana? Kenapa bisa tahu rumah Rani?” tanyaku hati-hati, berlutut di dekat mejanya.
Pak Harun menatapku dalam-dalam. Di balik kerutan di sekitar matanya, ada rasa takut yang begitu pekat. “Dua puluh tahun saya menyimpan rahasia ini, Rani. Dan malam ini, rahasia itu akhirnya mengejar saya.”
Ia meletakkan tas kain hitam itu di atas meja kayu. Zipper-nya dibuka perlahan. Aku mengira akan melihat tumpukan uang, dokumen lama, atau mungkin perhiasan. Namun, di dalam tas itu hanya ada sebuah kotak besi kecil berkarat dengan gembok kuno, serta sebuah buku harian bersampul kulit yang sudah terkelupas.
“Waktu bus sekolahmu terguling,” kata Pak Harun, suaranya nyaris berbisik, “saya bukan cuma sopir truk yang kebetulan lewat.”
Jantungku berdegup lebih kencang. “Maksud Pak Harun?”
“Hari itu, saya dibayar untuk mengikuti bus kalian.” Pak Harun menunduk, tak berani menatap mataku. “Seorang pria kaya… dia ingin putri angkatnya mati dalam kecelakaan tanpa jejak. Pria itu menyabotase rem bus kalian.”
Darahku terasa membeku. Rumah kontrakan yang sepi tiba-tiba terasa begitu menakutkan. Kenangan kecelakaan mengerikan itu berputar kembali di kepalaku. Supir yang hilang kendali, jeritan teman-teman, ledakan api.
“Saya mengikuti bus itu dari belakang untuk memastikan tugas itu selesai,” lanjut Pak Harun dengan suara bergetar penuh penyesalan. “Tapi waktu saya lihat bus itu terguling dan mendengar anak-anak menjerit… hati saya hancur, Rani. Saya tidak sanggup. Saya lari ke dalam api. Saya keluarkan semua anak yang bisa saya selamatkan. Termasuk kamu.”
“Siapa… siapa anak perempuan yang mau dibunuh itu?” tanyaku, suaraku menipis.
Pak Harun mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Anak itu kamu, Rani. Orang tua yang membesarkanmu selama sepuluh tahun pertama hidupmu… ayah angkatmu… dialah yang membayar saya.”
Duniaku serasa runtuh dalam sekejap. Ayahku? Pria yang selalu memanjakanku, yang menangis histeris di rumah sakit saat memelukku setelah kecelakaan itu?
“Kenapa?” bisikku, air mata mulai menetes tanpa bisa ditahan.
“Karena kamu adalah anak kandung dari kakak laki-lakinya yang meninggal misterius. Seluruh harta warisan keluarga besar kalian jatuh ke atas namamu saat kamu berusia tiga puluh tahun. Dia ingin menyingkirkanmu sebelum hari itu tiba,” jelas Pak Harun. Ia mengambil kotak besi dari dalam tas. “Saya mencuri bukti-bukti ini dari brankas ayah angkatmu sebelum kecelakaan terjadi. Surat kelahiranku yang asli, dokumen hak waris, dan rekaman percakapan rencana pembunuhan itu. Semuanya ada di kotak ini.”
Pak Harun mendorong kotak besi itu ke arahku. “Tadi pagi, ayah angkatmu meninggal di rumah sakit. Tapi anak kandungnya, sepupumu, menemukan catatan lama dan tahu kalau saya masih menyimpan bukti ini. Orang-orangnya mengejar saya seharian ini. Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Rani. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya alasan saya bertahan hidup selama dua puluh tahun ini adalah untuk menyerahkan kotak ini kepadamu di hari ulang tahunmu yang ketiga puluh.”
Aku terpaku. Hari ini memang hari ulang tahunku yang ketiga puluh. Semua puzzle rumit dalam hidupku yang terasa penuh kejanggalan kini terpasang rapi, membentuk gambaran mengerikan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.
Tiba-tiba, suara derum mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan rumahku. Cahaya lampu tembak menyorot masuk melalui celah gorden jendela, menerangi ruang tamu yang remang-remang. Suara pintu mobil ditutup dengan keras terdengar bersahut-sahutan di luar.
Pak Harun langsung berdiri dengan panik. “Mereka sudah sampai…”
Langkah-langkah kaki berat mendekati pintu depanku. Bel rumah yang rusak itu berbunyi lagi, melengking nyaring dan menyakitkan telinga.
“Malam ini kamu harus janji satu hal lagi padaku, Rani,” bulir air mata jatuh melintasi pipi Pak Harun yang keriput. Ia menggenggam kedua tanganku erat-erat.
“Pak Harun, kita harus lari lewat pintu belakang—”
“Tidak ada waktu,” potongnya tegas. Ia mengambil buku harian dari meja lalu menyelipkan kotak besi itu ke bawah sofa, menutupinya dengan kain lusuh. “Mereka mencari saya dan kotak itu. Kamu pura-pura tidak tahu apa-apa. Biar saya yang keluar.”
“Jangan, Pak! Mereka bisa membunuh Bapak!” jeritku pelan.
Pak Harun tersenyum. Kali ini, itu adalah senyum paling tulus yang pernah kulihat. Senyum penuh kelegaan dari seorang pria yang telah membawa beban dosa selama dua puluh tahun dan akhirnya bisa meletakkannya.
“Dua puluh tahun lalu, saya menyelamatkan tubuhmu dari api,” bisik Pak Harun seraya mengusap rambutku lembut. “Malam ini, biarkan saya menyelamatkan masa depanmu. Dengan begini, janji kita selesai.”
Pintu depan didobrak dari luar hingga engselnya terlepas. Dua pria bertubuh kekar bersetelan hitam menerobos masuk. Sebelum mereka sempat menatapku, Pak Harun mendorong salah satu dari mereka dengan seluruh tenaganya dan menerobos keluar ke halaman malam yang dingin, memancing mereka untuk mengejarnya.
“Tangkap tua bangkai itu! Kotaknya ada padanya!” teriak salah satu pria sebelum mereka berdua berlari mengejar Pak Harun yang menghilang di kegelapan gang sempit.
Aku berdiri mematung di tengah ruang tamu yang berantakan, menggenggam erat kunci kecil yang sempat diselipkan Pak Harun ke telapak tanganku tepat sebelum ia berlari. Di luar, suara langkah kaki perlahan menjauh, menyisakan suara deru angin malam dan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.
Aku berlutut di dekat sofa, merengkuh kotak besi berkarat itu ke dalam pelukanku. Di balik rasa takut yang luar biasa, aku menyadari satu hal yang menggetarkan jiwa. Orang yang pernah berniat menghancurkan hidupku ternyata adalah orang yang akhirnya mengorbankan segalanya demi memberiku kebenaran. Kehidupan yang kujalani hari ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan sebuah warisan dari penyesalan dan keberanian seorang pria biasa yang memilih menjadi pahlawan di akhir hidupnya.
