Ibu tiriku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak yang dibuang orang tuaku sendiri. Dua puluh tahun kemudian, justru dia yang berlutut di depanku sambil memohon agar aku tidak membuka amplop itu.
Aku masih ingat kalimat yang paling sering kudengar waktu kecil.
“Kamu harus tahu diri.”
Bukan karena aku nakal.
Bukan karena aku malas.
Tapi karena, menurut ibu tiriku, aku hanyalah “anak sisa” yang ditinggalkan ibuku sejak bayi.
Namaku Alya.

Ayahku menikah lagi ketika aku berusia enam tahun. Sejak hari pertama Siska masuk ke rumah kami, ia tidak pernah memukulku di depan ayah. Tidak pernah berteriak saat ada orang lain.
Dia jauh lebih pintar.
Di depan ayah, dia memanggilku sayang.
Di belakang ayah, dia selalu berbisik,
“Ibumu saja membuangmu. Jadi jangan berharap ada orang yang benar-benar mencintaimu.”
Aku mempercayainya.
Anak kecil selalu percaya pada orang dewasa.
Setiap kali aku bertanya tentang ibuku, ayah hanya menjawab singkat,
“Ibumu sudah pergi.”
Lalu pembicaraan selesai.
Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa aku memang tidak pernah diinginkan.
Saat lulus SMA, aku langsung bekerja di toko roti. Aku tidak kuliah karena ayah sakit, sementara ibu tiriku selalu berkata uang keluarga lebih baik dipakai untuk adik tiriku, Nino.
“Alya perempuan. Nanti juga menikah.”
Aku diam.
Sudah terlalu terbiasa diam.
Beberapa tahun kemudian ayah meninggal karena stroke.
Di pemakaman, Siska bahkan sempat berkata pelan di telingaku,
“Sekarang kamu benar-benar tidak punya siapa-siapa.”
Aku pergi dari rumah dua minggu setelahnya.
Aku menyewa kamar kecil, bekerja siang malam, lalu perlahan membuka usaha katering rumahan. Tidak mudah. Berkali-kali rugi. Berkali-kali ditipu.
Tapi lima belas tahun berlalu begitu saja.
Usahaku berkembang.
Aku punya dapur sendiri.
Aku mempekerjakan belasan orang.
Dan yang paling penting, aku tidak lagi bergantung pada siapa pun.
Selama dua puluh tahun itu, aku tidak pernah kembali ke rumah lama.
Hingga suatu siang di pertengahan bulan Juli, ketenanganku terusik. Seorang pemuda berjaket lusuh berdiri gugu di depan pintu kantor kateringku. Wajahnya asing, namun garis rahangnya mengingatkanku pada seseorang yang sudah lama ingin kulupakan.
Nino. Adik tiriku.
Dia datang bukan untuk menyapa atau menanyakan kabar. Dengan nada gemetar dan mata yang terus menghindari tatapanku, Nino menceritakan bahwa rumah lama kami akan disita bank. Siska jatuh sakit, dan hutang perjudian serta gaya hidup bebas Nino telah menumpuk hingga ratusan juta rupiah.
Aku hanya mendengarkan tanpa ekspresi. Tidak ada gejolak amarah, tidak ada pula rasa kasihan. Luka lama telah membeku menjadi benteng yang sangat kokoh.
Sore harinya, aku memutuskan datang ke rumah lama itu. Lain halnya dengan masa lalu, kali ini aku melangkah bukan sebagai anak kecil yang ketakutan, melainkan sebagai wanita dewasa yang telah berdamai dengan takdirnya. Aku hanya ingin menyelesaikan segala bentuk ikatan masa lalu agar namaku tidak terseret masalah hukum mereka.
Rumah itu tampak kumuh dan terabaikan. Bau lembap menusuk hidung saat aku melangkah masuk. Di sudut kamar utama, Siska duduk berbaring di atas tempat tidur tipis. Wajahnya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan kini tirus, keriput, dan pucat pasi.
Saat melihatku berdiri di ambang pintu dengan pakaian rapi dan gestur tenang, matanya membelalak. Ada kombinasi rasa malu, takut, dan keputusasaan di sana.
Alya, bisiknya dengan suara serak. Bantu kami. Ibu mohon. Kamu satu-satunya harapan kami sekarang.
Aku menatapnya dingin. Ibu? Kata itu terasa amat asing dan menggelikan.
Di mana uang peninggalan ayah? Di mana rumah yang dulu selalu Ibu banggakan sebagai milik Nino? tanyaku pelan.
Siska menunduk, tak sanggup menjawab. Nino yang berdiri di sampingnya kemudian menyela dengan terburu-buru. Katanya, sewaktu membongkar lemari tua untuk mencari sertifikat rumah, dia menemukan sebuah kotak besi terkunci di bawah lantai lemari. Di dalam kotak itu, ada sebuah amplop cokelat tebal bertuliskan namaku.
Nino menyerahkan amplop cokelat kusam itu kepadaku. Di bagian depannya, tertulis dengan tinta hitam yang mulai memudar: Untuk Anakku, Alya.
Seketika itu juga, reaksi Siska berubah drastis.
Matanya membelalak penuh horor. Tanpa memedulikan tubuhnya yang lemah, Siska mendadak merosot turun dari tempat tidur. Tubuhnya terjatuh keras ke lantai semen yang dingin. Dia merangkak mendekatiku, lalu menggenggam ujung celanaku dengan jemarinya yang gemetar.
Jangan, Alya! Jangan dibuka! Dia berteriak histeris, air mata bercucuran membasahi pipinya yang kempot. Ibu mohon! Kembalikan amplop itu! Ambil rumah ini, ambil seluruh sisa uang yang ada, tapi jangan pernah buka amplop itu! Ibu mohon padamu, berlutut di depanmu!
Aku tertegun sejenak melihat pemandangan itu. Wanita yang selama puluhan tahun menanamkan racun di jiwaku, wanita yang meremukkan rasa percaya diriku sejak kecil, kini berlutut bersimbah air mata hanya demi sebuah amplop cokelat.
Rasa ingin tahu yang luar biasa membakar dadaku. Jemariku yang bergetar perlahan merobek segel amplop tersebut, mengabaikan raungan dan tangisan histeris Siska yang berusaha menggapai tanganku namun ditahan oleh Nino yang bingung melihat kelakuan ibunya.
Di dalam amplop itu, terdapat tumpukan surat berpenanggalan berturut-turut dari tahun ke tahun, lengkap dengan lembaran bukti transfer bank bulanan atas nama ibu kandungku, serta sebuah dokumen perjanjian hukum berbahasa resmi.
Aku membuka lembaran surat teratas. Tulisan tangan yang indah dan rapi menyapa mataku.
Alya sayang, selamat ulang tahun yang ketujuh. Ibu sangat merindukanmu. Maafkan Ibu karena tidak bisa memelukmu langsung. Ibu terpaksa pergi karena ditipu dan diancam oleh wanita itu. Tapi Ibu janji, setiap bulan Ibu akan terus mengirimkan uang untuk biaya hidup dan sekolahmu. Jangan pernah merasa sendiri, Nak. Ibu mencintaimu lebih dari hidup Ibu sendiri.
Aku terpaku. Tanganku berguncang hebat. Aku membuka lembar demi lembar surat berikutnya. Ada puluhan surat ulang tahun dari usia tujuh hingga delapan belas tahun. Setiap surat disertai resi transfer sejumlah uang yang sangat besar ke rekening pribadi ayah dan Siska.
Dan di lembar paling bawah, terdapat surat pernyataan resmi yang ditandatangani ayahku sebelum meninggal.
Dalam surat itu, ayah mengaku dengan jujur bahwa Siska telah menjebak ibu kandungku hingga bangkrut dan diusir dari rumah. Ayah yang lemah mengikuti skenario Siska demi menutupi rasa malu. Selama belasan tahun, uang yang dikirimkan oleh ibu kandungku setiap bulan dialihkan oleh Siska untuk membiayai hidup mewahnya dan memanjakan Nino, sementara aku dibiarkan hidup dalam siksaan mental, dianggap sebagai anak sisa yang tak berguna.
Bahkan, usaha katering yang kubangun dengan berdarah-darah itu rupanya dibiayai oleh modal awal yang diam-diam ditinggalkan ibu kandungku atas namaku di sebuah bank swasta, yang berhasil kucairkan tanpa menyadari asal-usulnya bertahun-tahun lalu.
Ibu kandungku tidak pernah membuangku. Dia berjuang untukku sepanjang hidupnya hingga akhir hayatnya lima tahun lalu karena sakit keras.
Tangisku pecah seketika. Bukan tangis kesedihan karena ditipu, melainkan tangis keharuan luar biasa. Beban berat dan rasa tak berharga yang kupikul selama puluhan tahun hancur berkeping-keping dalam sekejap. Beban ketakutan bahwa aku adalah manusia yang tidak layak dicintai kini menguap tanpa bekas.
Aku menatap Siska yang masih terisak di lantai, menatapku dengan wajah pucat bagai mayat. Dia takut aku akan membalas dendam, menyerahkannya ke polisi, atau membiarkannya membusuk di jalanan.
Aku merapikan kembali surat-surat ibuku, memasukkannya ke dalam dekapan dadaku dengan erat. Aku merasakan kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Kamu tahu, Siska? kataku dengan suara tenang meski pipiku basah oleh air mata. Selama dua puluh tahun, Kamu berusaha membuatku percaya bahwa aku adalah anak yang dibuang dan tidak dicintai. Tapi hari ini, Kamu justru memberikanku hadiah terbesar dalam hidupku.
Aku berdiri tegap, menatapnya dari atas tanpa ada lagi rasa benci maupun dendam.
Aku tahu sekarang bahwa aku sangat dicintai. Dan kebenaran itu jauh lebih berharga daripada rumah ini atau seluruh uang yang pernah Kamu curi dariku.
Aku berbalik arah dan melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Di belakangku, suara tangisan Siska terdengar kian menyesakkan, meratapi kehancuran jiwanya sendiri. Namun bagiku, langkahku kini terasa begitu ringan. Aku tidak lagi berjalan sebagai anak yang dibuang, melainkan sebagai seorang putri yang dicintai dengan sepenuh jiwa.
