Tante Mira berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang dan membentur dinding dengan suara gemuruh yang keras. Muka Paman Jaya membiru, lehernya menegang menahan amarah yang meledak-ledak. Sepupu-sepupuku saling pandang dengan tatapan tak percaya yang dengan cepat berubah menjadi rasa benci yang telanjang.
“Ini gila! Ini tidak sah!” teriak Paman Jaya sambil mengebrak meja kaca di tengah ruangan hingga berkilat-kilat dihantam cahaya lampu. “Laras cuma anak dari adik kami yang kawin lari dengan sopir! Dia tidak punya hak atas uang keluarga Wiratama! Pak Notaris, Anda pasti sudah disuap oleh anak ini!”
Notaris itu, seorang pria setengah baya berwajah tenang bernama Pak Lukman, tidak bergeming. Ia merapikan kacamata minusnya, lalu menatap Paman Jaya dengan dingin. “Surat wasiat ini dibuat dalam keadaan almarhum sadar sepenuhnya, disaksikan oleh dua saksi independen, dan disahkan oleh hukum negara. Jika Bapak ragu, silakan tempuh jalur hukum.”

“Laras!” Tante Mira melangkah maju, jemarinya yang berhias cincin permata menunjuk tepat di depan hidungku. Suaranya melengking menembus kesunyian. “Kamu licik! Kamu merawat Kakek cuma untuk ini, kan? Kamu meracuni pikirannya setiap hari saat kami sibuk bekerja! Kamu cuci otaknya!”
Aku masih terduduk kaku di sudut ruangan. Tanganku gemetar hebat di atas paha. Tatapan belasan pasang mata itu seolah-olah meremas jantungku hingga sesak. Rasanya ingin sekali aku mengembalikan seluruh harta itu saat itu juga, berlari keluar dari ruangan berAC dingin yang mendadak terasa mencekik, dan kembali ke kamar indekos sempitku yang berbau lembap.
“Aku… aku tidak pernah minta apa-apa dari Kakek,” bisikku pelan, hampir tak terdengar.
“Halah! Jangan berakting lugu!” celoteh sepupuku, Rian, dengan nada jijik. “Lihat bajunya! Sandal putus! Itu cuma topeng supaya Kakek kasihan!”
Pak Lukman terbatuk kecil untuk menghentikan kegaduhan. “Mohon tenang. Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan. Wasiat ini memiliki satu klausul khusus. Seluruh kepemilikan aset baru akan dialihkan secara legal atas nama Laras Puspita setelah ia membuka sebuah kotak besi yang disimpan di dalam brankas rumah induk. Kunci dan kombinasinya hanya diketahui oleh Laras sendiri melalui petunjuk yang ditinggalkan almarhum.”
Suasana mendadak menghening kembali. Paman Jaya melirik Tante Mira dengan sorot mata penuh intrik. Rumah induk keluarga Wiratama adalah bangunan tua bergaya kolonial di kawasan Menteng yang bernilai puluhan miliar rupiah.
“Kalau begitu, kita ke rumah induk sekarang,” potong Paman Jaya tegas, suaranya berubah menuntut. “Kami berhak melihat apa isi kotak itu.”
Satu jam kemudian, konvoi mobil mewah keluarga Wiratama membelah kemacetan Jakarta menuju rumah tua Kakek. Aku duduk di jok belakang mobil Paman Jaya, dijepit di antara dua sepupuku yang sepanjang jalan membisu sambil melempar pandangan menghina. Aku merasa seperti seorang terdakwa yang sedang diarak menuju tiang gantungan.
Rumah besar itu terasa dingin dan lengang tanpa kehadiran Kakek. Bau minyak kayu putih dan bubur hangat yang biasanya menyeruak di lorong kini berganti bau debu dan keheningan yang menyiksa. Kami semua berkumpul di kamar utama Kakek. Di balik lemari kayu jati yang berat, terdapat sebuah brankas baja tua.
Pak Lukman berdiri di sampingku. “Mbah Darma berpesan, petunjuknya ada pada hal yang paling sering kamu bawakan untuknya.”
Aku memejamkan mata sejenak. Ingatanku melayang pada sore-sore yang sunyi, ketika aku duduk di samping ranjang Kakek. Bubur ayam tanpa cakwe. Kakek selalu tertawa dan berkata bahwa angka favoritnya adalah harga bubur langganan kami dan tanggal lahir ibuku, orang yang paling diasingkan oleh keluarga ini sebelum aku.
Dengan jari-jari yang gemetar, aku memutar angka kombinasi pada brankas tersebut. Enam digit. Klik. Suara engsel berat berputar terdengar jernih. Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya hanya ada sebuah kotak besi hitam berukuran sedang. Paman Jaya menyenggol bahuku, mencoba merebut kotak itu, tetapi Pak Lukman dengan sigap menghalanginya. Aku mengambil kotak itu dan memutar kuncinya—sebuah kunci kecil yang selama ini tergantung di kalung perak peninggalan ibuku, yang kikiranya hanyalah mainan biasa.
Klak. Kotak itu terbuka.
Tidak ada batangan emas. Tidak ada sertifikat tanah berkilau. Di dalam kotak itu hanya ada satu berkas tebal berlogo lembaga audit keuangan independen dan sebuah kaset pita tua bersama alat pemutarnya.
“Apa-apaan ini?” bentak Paman Jaya. “Mana dokumen kepemilikan sahamnya?”
Pak Lukman menekan tombol putar pada kaset tersebut. Suara Kakek yang serak dan terbatuk-batuk memenuhi kamar tua yang sunyi itu.
“Untuk anak-anakku… Jaya, Mira, dan kalian semua yang mungkin saat ini sedang mengutuk Laras…” suara Kakek terdengar tenang, namun mengandung kepedihan yang mendalam. “Kalian merawatku dengan kalkulator di tangan. Kalian datang hanya untuk memastikan kapan aku mati agar perusahaan Wiratama Group bisa kalian bagi-bagi.”
Tante Mira bersedekap, wajahnya bersungut-sungut. “Bicara omong kosong…”
“Tapi kalian tidak tahu,” lanjut suara Kakek di kaset, “bahwa perusahaan yang kalian banggakan itu sebenarnya sudah bangkrut sejak tiga tahun lalu akibat korupsi dan ketidakmampuan kalian sendiri mengelolanya. Perusahaan itu memiliki utang sebesar seratus lima puluh miliar rupiah kepada bank dan tengkulak.”
Wajah Paman Jaya seketika pucat pasi, warna darah seolah surut sama sekali dari kulitnya. “Apa?”
“Aku menyembunyikan kenyataan ini agar kalian tidak panik,” suara Kakek melanjutkan. “Seluruh aset utama—rumah ini, tanah, dan rekening yang tersisa—sebenarnya telah dijaminkan. Siapa pun yang menerima warisan utamaku, otomatis akan menanggung seluruh utang pribadi dan utang perusahaan atas nama pemilik tunggal Wiratama Group.”
Keheningan yang terjadi kali ini begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman meriam.
“Tapi,” suara Kakek melemah, terdengar helaan napas panjang dari kaset, “aku tidak sejahat itu pada cucu yang paling tulus mencintaiku. Laras, anakku… di bawah berkas utang itu, ada sebuah tabungan atas nama ibumu yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun. Itu adalah uang hasil penjualan tanah warisan nenekmu di desa, lengkap dengan hak milik atas rumah kecil kita di Jogja. Uang itu bersih, tidak tersentuh hukum, dan cukup untuk kamu hidup layak, kuliah, dan membuka usahamu sendiri. Itu milikmu. Hanya milikmu.”
Kakek terbatuk pelan sebelum membisikkan kata-kata terakhirnya. “Dan mengenai seluruh utang dan kepemilikan Wiratama Group… dalam surat wasiat ini tertulis, jika Laras menolak warisan utama tersebut, maka sesuai hukum waris, seluruh aset beserta utang seratus lima puluh miliar rupiah itu akan jatuh secara merata kepada anak-anak kandungku: Jaya dan Mira.”
Suara pita kaset berakhir dengan desis panjang.
Paman Jaya terduduk lemas di lantai, kemeja mahalnya tak lagi terlihat gagah. Tante Mira menjerit histeris, menutupi mukanya dengan kedua tangan saat menyadari jurang kehancuran yang kini membendung di depan mata mereka. Mereka yang tadinya memandangku seperti pencuri, kini menatapku dengan mata memohon yang penuh dengan ketakutan luar biasa.
Aku menatap berkas utang di dalam kotak, lalu beralih menatap paman dan tanteku yang kini gemetar di hadapanku. Tidak ada rasa dendam di hatiku, hanya ada rasa iba yang mendalam atas ketamakan yang akhirnya menelan mereka sendiri.
Aku memeluk kotak besi itu erat-erat di dadaku, menatap Pak Lukman, dan mengangguk pelan.
“Saya menolak warisan utama Kakek, Pak,” ucapku dengan suara mantap dan jernih. “Saya hanya mengambil apa yang dititipkan untuk ibu saya.”
Aku melangkah keluar dari kamar tua itu, melewati kerabat-kerabatku yang terdiam membatu dalam kehancuran yang mereka ciptakan sendiri. Saat kakiku melangkah keluar dari pintu depan rumah induk, angin sore Jakarta berembus lembut menyapu wajahku. Sandal putusku mungkin masih menyentuh tanah yang sama, tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berjalan dengan kepala tegak, meninggalkan masa lalu menuju kebebasan yang hakiki.
