Aku mengira malam itu hanya akan menghancurkan harga diriku. Saat fajar menyingsing, yang lenyap bukan aku… melainkan seluruh rekaman rumah sakit yang membuktikan apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Namaku Nadia. Aku bekerja sebagai staf administrasi malam di Rumah Sakit Graha Medika. Tugasku sederhana: memeriksa data pasien, mencetak gelang identitas, dan memastikan setiap nama masuk ke sistem sebelum dokter bertindak.
Malam itu, seorang pria bernama Adrian Mahendra datang membawa perempuan muda yang hampir pingsan. Adrian dikenal sebagai donatur besar rumah sakit, membuat semua orang langsung bergerak cepat tanpa bertanya. Perempuan itu bernama Livia. Wajahnya pucat, tangannya dingin, dan napasnya pendek.

Saat aku memasukkan datanya, sistem menolak. Nomor identitasnya sudah terdaftar atas nama pasien lain. Aku mengerutkan kening dan memberitahu Adrian bahwa data tersebut bermasalah. Namun, Adrian hanya menatapku tajam dan menyuruhku memasukkannya begitu saja. Ketika aku menolak karena risiko kesalahan medis, ia mendekat dan bertanya apakah aku tahu siapa dirinya. Aku mengangguk pelan, tetapi tetap bertahan bahwa sistem harus berjalan dengan benar. Ia hanya tersenyum dingin dan berbisik bahwa aku terlalu kecil untuk menghalangi orang besar.
Aku memutuskan memanggil supervisor. Namun sebelum beliau datang, listrik di lantai administrasi mendadak padam beberapa detik. Saat menyala kembali, data Livia di layar monitor sudah berubah secara otomatis. Namanya berganti menjadi namaku: Nadia Prameswari.
Aku membeku. Adrian berdiri tepat di belakangku, berbisik bahwa sekarang semuanya sudah benar. Saat aku membantah, ia memberi peringatan bahwa jika aku membuat masalah, besok tidak akan ada satu orang pun yang percaya aku pernah bekerja di tempat ini.
Malam itu berubah menjadi mimpi buruk yang kacau. Livia dibawa ke ruang tindakan memakai gelang identitas yang mencantumkan namaku. Aku mencoba mengejar dokter untuk menghentikan kegilaan ini, tetapi dua satpam berbadan tegap menghadang dan menyeretku menuju sebuah ruang kecil di dekat gudang arsip.
Di sana, direktur rumah sakit sudah menunggu bersama Adrian. Direktur memintaku pulang dengan alasan aku terlalu lelah, namun aku menolak tegas karena ada pasien yang bertaruh nyawa menggunakan identitasku. Adrian kemudian melempar sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja sebagai uang tutup mulut. Aku menatap amplop itu lalu mendorongnya kembali tanpa ragu. Aku menegaskan bahwa diriku tidak bisa dibeli.
Wajah Adrian mengeras. Direktur menghela napas berat dan menyebutku tidak memahami situasi.
“Dan kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?” suara Adrian terdengar tenang namun sarat ancaman. Ia merapikan jasnya, memandangku dari atas ke bawah seolah aku hanya seekor serangga. “Di luar ruangan ini, tidak ada satu pun bukti bahwa perempuan di ruang operasi itu bukan kamu. Jika terjadi sesuatu padanya, namamu yang tercatat. Jika ia selamat, namamu pula yang menanggung seluruh tagihan dan risikonya.”
Napasku tertahan. Tatapanku beralih ke arah direktur rumah sakit yang hanya menunduk, menghindari kontak mata. Di saat itulah aku menyadari betapa dalamnya busuk yang telah menggerogoti tempat ini. Livia bukanlah pasien biasa. Luka-luka terselubung di tubuhnya dan kepanikan Adrian mengisyaratkan sebuah kejahatan besar yang sedang berusaha ditutupi, sebuah tindak kekerasan atau malapraktik tingkat tinggi yang membutuhkan ‘kambing hitam’ jika sesuatu memburuk.
“Keluarlah, Nadia. Ambil liburmu,” ucap direktur dengan suara bergetar. “Jangan buat kami melakukan hal yang tidak kita inginkan.”
Malam itu, aku dipaksa keluar dari area rumah sakit oleh satpam. Aku berdiri di trotoar yang basah oleh embun dini hari, gemetar antara amarah dan ketakutan. Namun aku tidak bisa tinggal diam. Kebenaran harus ditegakkan, dan nama baikku tidak boleh dicemarkan begitu saja.
Aku memutuskan menunggu di kedai kopi seberang jalan hingga pergantian shift pagi. Ketika fajar menyingsing dan sinar matahari mulai menerangi fasad megah Rumah Sakit Graha Medika, aku melangkah kembali masuk. Aku bermaksud menemui rekan kerja shift pagi dan mengambil salinan log data manual dari server pusat yang biasanya tersimpan di komputer administrasi utama.
Namun, suasana di lobi rumah sakit terasa berbeda. Bebeapa polisi tampak berdiri di dekat meja informasi. Jantungku berdegup kencang. Apakah terjadi sesuatu pada Livia?
Aku berjalan cepat menuju meja administrasi tempatku bekerja semalam. Rekan kerjaku, Siska, sedang berdiri di sana dengan wajah sembap dan mata sembab.
“Siska,” panggilku pelan.
Siska menoleh. Begitu melihatku, wajahnya tidak menunjukkan ketenangan atau kebingungan, melainkan rasa syok yang sangat mendalam. Ia mundur satu langkah, menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan menjerit kecil.
“Nadia? Bagaiamana bisa… kamu?” bisiknya dengan suara gemetar hebat.
“Siska, ada apa? Apa yang terjadi semalam? Di mana pasien bernama Livia?” tanyaku bertubi-tubi.
Siska menggelengkan kepala, air matanya menetes. Ia menunjuk ke arah papan pengumuman digital di dinding lobi dan sebuah berkas resmi yang baru saja ditandatangani oleh pihak kepolisian.
“Nadia… semalam ada kecelakaan medis berat di ruang operasi. Pasien yang masuk atas nama Nadia Prameswari mengalami kegagalan organ akut dan dinyatakan meninggal dunia pukul tiga pagi.”
Bumi seolah berhenti berputar di bawah kakiku. “Apa maksudmu? Aku di sini! Aku masih hidup! Itu bukan aku, itu perempuan lain yang menggunakan identitasku!”
Siska semakin menangis. “Nadia, tidak ada pasien bernama Livia dalam sistem. Kami sudah memeriksa seluruh rekaman medis semalam. Tidak pernah ada pasien bernama Livia. Seluruh kartu identitas, riwayat medis, dan dokumen rumah sakit mencatat bahwa yang masuk dan meninggal semalam adalah kamu.”
Aku meraba dadaku, mencengkeram kemejaku sendiri untuk memastikan jantungku masih berdetak. Aku melangkah mundur, lalu berlari menuju ruangan direktur. Namun, pintu ruangan itu terkunci rapat. Ketika aku berusaha mengakses komputer administrasi menggunakan kartu pengenalku, mesin pemindai menolaknya dengan bunyi nyaring. Aksesku ditolak. Nama akun pegawaiku telah dihapus dari sistem rumah sakit.
Tiba-tiba, sebuah suara familiar terdengar dari arah koridor. Adrian Mahendra berjalan berdampingan dengan seorang pria paruh baya berseragam polisi. Adrian tampak mengenakan pita hitam di dadanya, memasang wajah duka yang dibuat-buat.
Aku menghadangnya dengan penuh amarah. “Adrian! Apa yang kamu lakukan?! Katakan pada mereka bahwa perempuan yang meninggal itu Livia! Bukan aku!”
Pria polisi di sebelah Adrian memandangku dengan dahi berkerut, lalu menatap Adrian. “Siapa perempuan ini, Pak Adrian?”
Adrian menatapku dengan tatapan dingin yang sama seperti semalam, namun kali ini ada senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya. Ia menggelengkan kepala dengan mimik wajah prihatin.
“Saya tidak kenal, Pak Polisi. Mungkin dia salah satu kerabat almarhumah Nadia yang terguncang karena berita duka ini,” ucap Adrian dengan suara penuh kepalsuan.
“Kamu pembohong!” teriakku histeris. Aku berpaling ke arah polisi. “Pak, periksa CCTV semalam! Periksa rekaman kamera keamanan!”
Polisi itu menarik napas panjang. “Mbak, tidak ada yang perlu diperiksa lagi. Kebakaran kecil terjadi di ruang server pukul empat pagi tadi akibat korsleting listrik. Seluruh rekaman CCTV semalam telah hangus terbakar. Pihak rumah sakit dan keluarga sudah mengonfirmasi jenazah almarhumah Nadia Prameswari berdasarkan gelang identitas dan rekaman medis yang ada.”
Duniaku runtuh seketika. Rencana mereka begitu rapi dan tanpa celah. Adrian tidak hanya mencuri identitasku untuk menutupi kematian Livia—seorang wanita yang mungkin menjadi korban kejahatannya—tetapi ia juga telah menghapus seluruh keberadaanku dari dunia nyata.
Dalam catatan hukum dan medis negara ini, Nadia Prameswari telah meninggal dunia di atas meja operasi pada pukul tiga pagi. Rekaman pekerjaanku dihilangkan, identitasku dimatikan, dan tubuh Livia yang tak bernyawa dimakamkan atas namaku.
Aku berdiri di tengah lobi rumah sakit yang ramai, dikelilingi oleh lalu lalang manusia yang memandangku seolah aku adalah seorang yang asing dan gila. Aku masih bernapas, darahku masih mengalir, dan jantungku masih berdetak kencang. Namun di mata hukum, sejarah, dan sistem dunia modern, aku telah menjadi sesosok hantu yang tidak pernah ada.
