Aku menggeleng perlahan, mencoba meraba ingatan yang terasa seperti kabut tebal. Tidak ada bayangan. Tidak ada suara. Hanya ada kekosongan yang hampa di dalam kepalaku.
“Saya tidak ingat apa-apa,” bisikku suara hampir serak. “Terakhir yang saya ingat, saya minum segelas air di dapur, lalu berbaring.”
Komisaris Aditya menatapku intens. Matanya yang tajam seolah sedang menguliti setiap lapisan kebohongan yang mungkin kusembunyikan. Namun, ekspresi bingung dan ketakutanku jelas bukan buatan. Seorang pengusaha dingin yang biasa mengendalikan rapat pemegang saham triliunan rupiah kini gemetar hanya karena bayangannya sendiri di layar monitor.
Tiba-tiba, pintu penthouse terbuka. Seorang petugas forensik masuk dengan wajah pucat. Ia membawa sebuah papan jalan berisi berkas laporan dan langsung berbisik di telinga Komisaris Aditya.
Aku memperhatikan perubahan raut wajah Aditya. Alisnya bertaut rapat. Tangannya menggenggam erat pulpen di saku kemejanya.

“Pak Daniel,” suara Aditya terdengar makin berat, hampir menekan. “Tim forensik telah menguji sampel darah di ranjang Anda.”
“Darah siapa?” tanyaku cepat. “Bukan darah saya, kan?”
“Bukan,” jawab Aditya singkat. “Tetapi DNA darah itu tercatat di basis data nasional. Darah itu milik seorang wanita bernama Maya Sastro.”
Jantungku seperti berhenti berdetak saat mendengar nama itu. Maya Sastro. Rekan bisnis pertamaku sepuluh tahun lalu. Wanita yang berjuang bersamaku membangun fondasi perusahaan ini dari nol, sebelum akhirnya ia menghilang tanpa jejak lima tahun lalu setelah tuduhan penggelapan dana yang diarahkan kepadanya. Publisitas saat itu sangat buruk, dan polisi akhirnya menutup kasusnya karena menganggap Maya kabur ke luar negeri membawa uang perusahaan.
“Itu… tidak mungkin,” kataku terbata. “Maya sudah hilang bertahun-tahun. Dan darah itu… darah itu masih basah tadi pagi!”
“Itulah yang membuat kami bingung,” kata Aditya, mendekat ke arahku. “Darah di kamar Anda adalah darah segar. Diambil tidak lebih dari enam jam yang lalu. Dan tidak ada tanda-tanda pemaksaan masuk ke tempat ini. Semua pintu terkunci dari dalam dengan sistem biometrik Anda.”
Kepalaku mulai terasa dihantam palu godam. Rasa pusing yang luar biasa menyerang. Dalam denyut nyeri di pelipisku, kilasan bayangan mulai bermunculan seperti slide foto yang rusak.
Sofa hitam. Cahaya samar dari lampu sudut. Sesosok bayangan duduk di hadapanku.
Dua jam penuh.
Aku berbicara dengan siapa?
“Putar ulang rekamannya,” pintaku pada petugas CCTV. “Perbesar bagian suara. Gunakan penguat audio.”
Petugas itu menatap Aditya, yang mengangguk pelan memberi izin. Rekaman video diputar kembali dari detik pertama aku duduk di sofa pada pukul 22.17.
Pada layar, tubuhku terlihat condong ke depan. Wajahku tampak sangat emosional. Awalnya, audio hanya menangkap suara dengungan pendingin udara dan detak jam dinding. Namun ketika frekuensi diperbesar dan kebisingan latar dihilangkan, suaraku mulai terdengar jelas.
“Kenapa kau kembali sekarang?” ucap diriku di video dengan nada gemetar.
Lalu ada jeda panjang. Di video, aku tampak mendengarkan seseorang berbicara, padahal kursi di depanku benar-benar kosong.
“Aku sudah memberikan semuanya padamu. Uang, reputasi, semuanya milikmu!” teriak diriku di video, air mata menetes di pipiku.
Jeda lagi. Lalu suaraku berubah pelan, dingin, dan penuh penyesalan.
“Aku tahu apa yang aku lakukan lima tahun lalu itu salah. Tapi aku harus menyelamatkan perusahaan ini. Jika kau tidak dikorbankan, kita berdua akan masuk penjara.”
Seluruh petugas di ruangan itu menatapku. Komisaris Aditya melangkah mundur, menaruh tangannya secara refleks di atas sarung pistol di pinggangnya.
“Pak Daniel,” katanya tegas. “Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu pada Maya Sastro?”
Napas ku terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Ingatan yang selama ini kukunci rapat di sudut tergelap otakku tiba-tiba mendobrak keluar.
Lima tahun lalu. Maya tidak kabur. Maya menemukan bukti bahwa aku yang sebenarnya memanipulasi laporan keuangan. Kami bertengkar hebat di lantai bawah gedung ini—sebuah ruang rahasia di balik dinding perpustakaan pribadi yang sengaja kubangun tanpa terdaftar di cetak biru penthouse. Dalam kepanikan dan amarah, aku mendorongnya. Kepalanya menghantam sudut meja besi.
Ia tewas seketika.
Malam itu, aku menyembunyikan jasadnya di dalam kompartemen kedap udara di balik dinding tebal ruang rahasia tersebut. Aku memalsukan dokumen, menyuap pihak tertentu, dan menyebarkan rumor bahwa ia melarikan diri ke luar negeri membawa uang perusahaan. Selama lima tahun, aku hidup tenang di atas makam rahasia mitraku sendiri.
Namun, bagaimana dengan darah segar tadi pagi? Bagaimana dengan pembicaraan dua jam semalam?
“Saya… saya tidak membunuhnya semalam,” kataku lirih, menyadari bahwa pengakuanku secara tidak langsung sudah terucap melalui rekaman itu. “Tapi jasadnya… jasadnya ada di sini. Di balik dinding perpustakaan.”
Aditya segera memerintahkan timnya untuk memeriksa perpustakaan. Mereka membongkar rak buku kayu mahoni yang megah dan menemukan pintu besi tersembunyi dengan kunci kombinasi.
Dengan tangan gemetar, aku memasukkan kode angka yang tidak pernah kulupakan: tanggal lahir Maya.
Pintu besi berdecit terbuka. Bau udara pengap dan zat pengawet menyeruak keluar. Tim forensik melangkah masuk membawa lampu sorot. Aku ikut melangkah dengan tubuh lemas, didampingi dua polisi.
Di dalam ruangan sempit itu, terdapat sebuah tabung pendingin kaca yang biasa digunakan untuk spesimen medis. Di dalamnya, jasad Maya terbaring utuh, diawetkan oleh sistem pendingin otomatis yang kubeli secara gelap bertahun-tahun lalu.
Namun, ketika lampu sorot diarahkan ke jasad itu, semua orang terperanjat.
Tabung kaca itu terbuka. Sebuah selang jarum donor darah masih menancap di lengan jasad Maya, terhubung ke sebuah kantong penampung dan pompa otomatis yang mengalirkan darah keluar dari sistem sirkulasi terawetkan menuju sebuah wadah plastik.
Di sebelah tabung itu, terdapat sebuah meja kecil. Di atasnya terletak sebuah spuit suntik bekas, botol obat penenang dosis tinggi, dan sebuah catatan medis dari psikiater pribadiku yang bertanggal dua hari lalu.
Komisaris Aditya mengambil catatan itu dan membacanya keras-keras.
“Pasien mengalami Somnambulisme berat yang dipicu oleh rasa bersalah ekstrem dan Gejala Disosiatif Lanjut. Pasien kerap berjalan dalam tidur dan melakukan tindakan kompleks tanpa kesadaran penuh.”
Aditya menatapku dengan tatapan campuran antara horor dan rasa kasihan.
Setiap malam, selama bertahun-tahun, rasa bersalah yang terkubur dalam alam bawah sadarku menguasai tubuhku saat aku tertidur. Tanpa sadar, aku berjalan dalam tidur menuju ruang rahasia ini. Aku menyuntikkan obat pemicu rembesan jaringan darah ke jasad Maya, menyedot darahnya sendiri, lalu membawanya ke kamarku dan menyebarkannya di atas ranjangku sendiri—sebagai bentuk hukuman yang diciptakan oleh otakku yang telah hancur oleh rasa dosa.
Dan pembicaraan dua jam semalam di ruang tamu? Itu adalah momen ketika jiwa bawah sadarku menginterogasi diriku sendiri, mencoba memaksa kesadaranku untuk akhirnya menyerahkan diri kepada hukum.
Aku menatap tanganku yang masih menyisakan bekas amis darah Maya. Tidak ada hantu. Tidak ada pembunuh misterius. Musuh terbesarku, hakim terkejamku, dan algojo yang menyeretku ke balik jeruji besi ternyata adalah diriku sendiri.
Saat borgol besi yang dingin melingkari kedua pergelangan tanganku, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, dada ku terasa sedikit lebih ringan. Hukuman yang sesungguhnya bukanlah penjara, melainkan tidur di atas kebohongan setiap malam.
