Layar LED besar itu berkedip beberapa kali.
Gambar statis perlahan menghilang, lalu muncul sebuah ruangan putih dengan cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan.
Seorang pria terlihat berbaring di atas ranjang.
Wajahnya pucat. Kepalanya dibalut perban, sementara tangan kirinya terpasang infus.
Beberapa tamu berdiri dari kursi.
Alya yang mendengar suara gaduh segera keluar dari ruang tunggu. Gaun pengantinnya yang panjang terseret di lantai, tetapi ia tidak memedulikannya.
Begitu melihat layar, langkahnya berhenti.

“Arga…”
Pria di layar itu memang Arga.
Pengantin pria yang sejak dua jam lalu dianggap melarikan diri dari pernikahannya.
Arga membuka mata perlahan. Di samping ranjang berdiri seorang dokter dan seorang perawat. Kamera tampaknya berasal dari ponsel seseorang yang sedang melakukan panggilan video.
“Alya…” suara Arga terdengar lemah melalui pengeras suara.
Alya menutup mulut dengan kedua tangan.
Air matanya kembali jatuh.
“Aku minta maaf.”
Suasana taman berubah total.
Tak ada lagi bisikan.
Tak ada lagi suara kursi bergeser.
Semua orang menatap layar.
“Aku tahu kalian semua menungguku,” lanjut Arga. “Aku tahu mungkin sekarang banyak orang mengira aku pengecut yang kabur dari pernikahanku.”
Ia mencoba tersenyum, tetapi wajahnya langsung menahan sakit.
“Aku memang terlambat. Tapi bukan karena aku berubah pikiran.”
Alya berjalan perlahan mendekati panggung.
“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar.
Arga belum sempat menjawab ketika seorang pria berseragam polisi muncul di sisi layar.
“Saya yang akan menjelaskan.”
Polisi itu memperkenalkan dirinya sebagai Inspektur Rendra.
Pagi tadi, sekitar pukul sebelas, Arga sedang dalam perjalanan menuju lokasi pernikahan dari rumah orang tuanya di Jakarta Selatan.
Di sebuah persimpangan, ia melihat sebuah sepeda motor terjatuh setelah tersenggol mobil.
Seorang perempuan tergeletak di pinggir jalan bersama seorang anak kecil.
Mobil yang menyenggol mereka tidak berhenti.
Arga meminta sopirnya mengejar mobil tersebut, sementara ia turun untuk membantu korban.
Namun beberapa menit kemudian, sebuah kendaraan lain kehilangan kendali ketika menghindari kerumunan.
Arga mendorong anak kecil itu menjauh.
Ia sendiri tidak sempat menghindar.
Tubuhnya terpental dan kepalanya membentur aspal.
Para tamu mulai saling memandang.
Beberapa orang yang sebelumnya paling keras menyebut Arga sebagai pengantin pria yang melarikan diri kini menundukkan kepala.
“Ponsel Pak Arga rusak dalam kecelakaan,” lanjut Rendra. “Identitasnya juga sempat sulit ditemukan karena dompet dan tas berisi barang-barangnya tertinggal di mobil yang mengejar pelaku tabrak lari.”
Alya menangis semakin keras.
“Tapi kenapa tidak ada yang menghubungiku?”
“Kami baru mengetahui identitas beliau sekitar tiga puluh menit lalu,” jawab Rendra.
Arga mengangkat tangannya perlahan.
“Tapi ada satu hal lagi.”
Tatapannya berubah serius.
“Alya, aku minta mereka menayangkan panggilan ini di layar karena ada sesuatu yang harus diketahui semua orang.”
Alya mengerutkan kening.
“Apa?”
Arga menoleh kepada seseorang di luar kamera.
Seorang perawat kemudian menggeser posisi ponsel.
Di ranjang sebelah tampak seorang perempuan sekitar lima puluh tahun dengan luka ringan di wajah.
Alya langsung membeku.
“Ibu?”
Teriakan itu membuat seluruh keluarga Alya berdiri.
Perempuan yang ditolong Arga ternyata adalah Ratih, ibu kandung Alya.
Ratih seharusnya datang ke pernikahan bersama adik Alya. Namun karena mobil keluarga mengalami masalah, ia memutuskan naik taksi daring dan kemudian berpindah menggunakan sepeda motor agar tidak terlambat.
Anak kecil yang bersamanya adalah keponakan Alya.
Ratih menangis di layar.
“Alya… Arga menyelamatkan kami.”
Alya seolah kehilangan kekuatan pada kedua kakinya.
Ia duduk di tepi panggung.
“Ibu…”
“Kalau Arga tidak mendorong Dimas tadi…” Ratih tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Dokter segera menenangkan Ratih.
Arga menatap Alya dari layar.
“Aku berjanji akan datang menemuimu hari ini. Ternyata aku malah bertemu ibumu lebih dulu.”
Beberapa tamu mulai menangis.
Namun Arga belum selesai.
“Alya, dengarkan aku.”
Alya mengangkat wajah.
“Aku tidak tahu kapan dokter mengizinkanku keluar. Jadi aku tidak ingin kamu menungguku di taman itu.”
Wajah Alya berubah.
Arga menarik napas.
“Pulanglah.”
Semua orang terdiam.
Namun Alya justru berdiri.
Ia melepas sepatu hak tingginya.
“Tidak.”
“Alya…”
“Kamu diam saja.”
Untuk pertama kalinya sejak layar menyala, terdengar tawa kecil di antara tangisan para tamu.
Alya mengambil mikrofon.
“Sepuluh tahun aku menunggumu melamarku. Dua jam menunggumu hari ini bukan apa-apa.”
Arga tersenyum.
“Aku serius. Aku tidak ingin pernikahan impianmu berubah menjadi seperti ini.”
“Pernikahan impianku bukan taman ini.”
Alya memandang dekorasi mahal di sekelilingnya.
“Bukan bunga-bunga ini. Bukan lampu kristal. Bukan gaun ini.”
Ia kembali menatap layar.
“Pernikahan impianku adalah menikah denganmu.”
Arga tidak mampu berkata-kata.
Alya kemudian menoleh kepada penghulu yang sejak tadi berdiri di dekat panggung.
“Pak, apakah akad harus dilakukan di sini?”
Penghulu tampak terkejut.
“Tidak. Selama syaratnya terpenuhi.”
Alya mengangguk.
“Kalau begitu kita pindah.”
Dua puluh menit kemudian, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan para tamu terjadi.
Bus yang sebelumnya disiapkan untuk mengantar keluarga ke hotel justru membawa keluarga inti menuju rumah sakit.
Sebagian tamu mengikuti menggunakan kendaraan masing-masing.
Alya masih mengenakan gaun pengantin, tetapi tanpa sepatu.
Ketika ia berjalan melewati lorong rumah sakit, pasien, dokter, dan perawat menoleh ke arahnya.
Pintu kamar Arga terbuka.
Alya masuk.
Untuk pertama kalinya hari itu, mereka benar-benar saling bertatap muka.
Arga menahan air mata.
“Kamu benar-benar datang.”
Alya mendekati ranjang.
“Bukankah seharusnya pengantin pria yang datang menemui pengantin wanita?”
“Seharusnya.”
“Karena kamu gagal, kali ini aku yang datang.”
Alya menggenggam tangannya.
Akad akhirnya dilakukan di sebuah ruang pertemuan kecil rumah sakit.
Tidak ada panggung megah.
Tidak ada lampu kristal.
Dekorasinya hanya beberapa bunga yang dibawa terburu-buru dari lokasi pernikahan.
Ratih menyaksikan dari kursi roda.
Ketika Arga mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas, ruangan langsung dipenuhi ucapan syukur.
Alya menangis.
Namun kali ini bukan karena ditinggalkan.
Setelah semuanya selesai, Inspektur Rendra kembali datang.
Ia membawa kabar bahwa pengemudi yang melakukan tabrak lari telah ditangkap.
Sopir Arga berhasil mencatat nomor polisi kendaraan itu.
Tetapi Rendra membawa sesuatu yang lain.
Sebuah kotak kecil berwarna biru tua.
“Kami menemukan ini di dalam mobil Pak Arga.”
Ia menyerahkannya kepada Alya.
Arga langsung terlihat gugup.
“Pak Rendra… itu sebenarnya rahasia.”
Alya membuka kotak tersebut.
Di dalamnya bukan cincin.
Melainkan sebuah kunci rumah dan sepucuk surat.
Alya membaca tulisan di atasnya.
Rumah Kita.
Arga akhirnya menjelaskan bahwa selama setahun terakhir ia diam-diam membeli dan merenovasi rumah kecil yang dulu sering mereka lihat ketika masih kuliah.
Rumah itu bukan rumah mewah.
Namun di halaman belakang terdapat pohon mangga besar.
Dulu, ketika mereka masih berpacaran dan hanya mampu makan nasi goreng di warung pinggir jalan, Alya pernah menunjuk rumah tersebut.
“Kalau suatu hari kita menikah, aku ingin rumah seperti itu. Tidak perlu besar. Yang penting ada halaman supaya anak-anak kita nanti bisa berlari.”
Arga mengingat kalimat itu selama bertahun-tahun.
Ia berencana menyerahkan kunci tersebut setelah akad.
Alya menatap suaminya lama.
“Kamu masih ingat?”
“Aku ingat hampir semua hal tentangmu.”
Alya tertawa sambil menangis.
Beberapa minggu kemudian, foto pernikahan mereka tersebar di media sosial.
Bukan foto di taman mewah.
Melainkan foto seorang pengantin perempuan menggenggam tangan suaminya yang masih mengenakan pakaian pasien.
Banyak orang membagikannya dengan berbagai cerita.
Ada yang menyebut Arga pahlawan.
Ada yang menyebut Alya perempuan paling setia.
Namun Alya tidak menyukai kedua sebutan itu.
Baginya, mereka hanyalah dua orang biasa yang memilih untuk tidak meninggalkan satu sama lain ketika keadaan berubah.
Enam bulan kemudian, mereka mengadakan makan malam kecil di halaman rumah baru mereka.
Ratih sudah pulih sepenuhnya.
Dimas berlari mengelilingi pohon mangga sambil tertawa.
Saat para tamu mulai pulang, Alya duduk bersama Arga di teras.
“Aku baru sadar sesuatu,” katanya.
“Apa?”
“Pada hari pernikahan kita, semua orang mengira kamu meninggalkanku.”
Arga tersenyum.
“Padahal sebenarnya?”
Alya menyandarkan kepala di bahunya.
“Padahal kamu sedang mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkan keluargaku.”
Arga menggenggam tangannya.
“Kalau waktu bisa diputar kembali, aku tetap akan melakukan hal yang sama.”
Alya menatapnya.
“Dan aku tetap akan datang ke rumah sakit untuk menikahimu.”
Mereka tersenyum.
Karena pada akhirnya, hari yang hampir menjadi penghinaan terbesar dalam hidup Alya justru mengajarkannya sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh pesta pernikahan semahal apa pun.
Cinta seseorang tidak selalu terlihat dari apakah ia datang tepat waktu ketika semuanya berjalan sempurna.
Kadang cinta justru terlihat dari alasan mengapa ia terlambat, dari keputusan yang ia ambil ketika tidak ada yang melihat, dan dari siapa yang tetap ia pilih untuk lindungi ketika hidup memaksanya memilih dalam hitungan detik.
