Arga menatap album foto dan surat kematian di tangan Sari dengan napas tertahan. Rasa terkejut yang beberapa detik sebelumnya memenuhi wajahnya perlahan berubah menjadi kebingungan.
Sari duduk di tepi tempat tidur. Kedua tangannya gemetar saat membuka halaman pertama album itu.
Di sana terdapat foto seorang perempuan muda yang wajahnya sangat mirip dengannya.
“Namanya Rina,” ujar Sari lirih. “Dia kakak saya.”
Arga mengambil album tersebut.
Dalam foto berikutnya, Rina berdiri sambil menggendong seorang bayi laki-laki. Di halaman lain ada foto dua anak kecil yang tersenyum di depan sebuah rumah sederhana.
“Lalu Juno, Bimo, dan Kiki?”
Air mata mulai mengalir di pipi Sari.
“Mereka bukan anak saya, Mas. Mereka anak Kak Rina.”

Arga terdiam.
Sari kemudian menyerahkan surat kematian yang sejak tadi digenggamnya.
Empat tahun sebelumnya, Rina meninggal setelah mengalami komplikasi penyakit yang terlambat ditangani. Suaminya telah pergi jauh sebelum itu dan tidak pernah kembali. Ketiga anaknya praktis tidak memiliki siapa pun.
“Sebelum meninggal, Kak Rina memegang tangan saya,” lanjut Sari. “Dia bilang, apa pun yang terjadi, jangan biarkan anak-anaknya terpisah.”
Saat itu usia Sari baru dua puluh satu tahun.
Ia baru diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Namun setelah kematian kakaknya, Sari memilih berhenti kuliah dan bekerja.
Ia membawa ketiga keponakannya tinggal bersama ibunya di sebuah desa di Jawa Tengah. Untuk membayar sekolah, makanan, dan kebutuhan sehari-hari mereka, Sari merantau ke Jakarta.
“Lalu kenapa semua orang mengatakan mereka anakmu?” tanya Arga.
Sari tersenyum pahit.
“Karena saya membiarkannya.”
“Kenapa?”
Sari menatap lantai.
“Waktu pertama kali bekerja di Jakarta, ada orang yang bertanya kenapa saya mengirim hampir seluruh gaji untuk tiga anak. Saya tidak mau menceritakan masalah keluarga kepada orang lain. Saya cuma bilang, untuk Juno, Bimo, dan Kiki.”
Gosip kemudian berkembang sendiri.
Ada yang mengatakan Sari menikah muda. Ada yang mengatakan ketiga anak itu memiliki ayah berbeda. Bahkan ada yang menuduhnya meninggalkan anak-anaknya demi bekerja di Jakarta.
Sari mendengar semuanya.
Namun ia tidak pernah membantah.
“Kalau saya menjelaskan, orang yang sudah ingin merendahkan saya tetap akan mencari alasan lain,” katanya. “Jadi saya memilih diam.”
Arga menutup album itu perlahan.
“Tapi kepadaku pun kamu tidak menjelaskan.”
Untuk pertama kalinya, suara Arga terdengar kecewa.
Sari mengusap air matanya.
“Saya takut.”
“Takut apa?”
“Takut setelah tahu mereka bukan anak saya, Mas justru merasa tidak punya kewajiban menerima mereka.”
Kalimat itu membuat Arga membeku.
Sari menatapnya.
“Saya tidak ingin menikah dengan seseorang yang hanya menerima saya. Saya membutuhkan seseorang yang juga menerima tiga anak itu sebagai bagian dari hidup saya.”
Arga tidak langsung menjawab.
Barulah ia memahami alasan Sari berkali-kali menanyakan apakah dirinya benar-benar siap menjadi ayah.
Perempuan itu ternyata sedang menguji satu hal yang jauh lebih penting daripada status atau kekayaan.
Ketulusan.
Arga duduk di sampingnya.
“Kamu pikir aku menerima mereka karena darah?”
Sari terdiam.
“Aku sudah berjanji di depan penghulu bahwa aku akan menyayangi mereka. Mau mereka anakmu, keponakanmu, atau bahkan anak yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah denganmu, janjiku tetap sama.”
Sari menutup wajahnya dan menangis.
Namun kejutan malam itu ternyata belum selesai.
Sari membuka bagian terakhir album tersebut.
Di sana terdapat foto Juno, anak tertua, sedang memegang sebuah medali lomba matematika.
Di belakang foto tertulis sebuah kalimat.
Untuk Tante Sari. Kalau aku besar nanti, aku akan membuat Tante tidak perlu bekerja lagi.
Arga tersenyum.
“Berapa usia mereka sekarang?”
“Juno sebelas tahun. Bimo sembilan tahun. Kiki tujuh tahun.”
“Besok kita jemput mereka.”
Sari langsung mengangkat kepala.
“Mas?”
“Mereka tidak perlu tinggal jauh darimu lagi.”
Sari menggeleng cepat.
“Jangan. Ibu pasti semakin membenci saya.”
Arga memahami kekhawatiran itu.
Nyonya Ratna bahkan tidak menghadiri makan malam setelah akad karena masih tidak bisa menerima pernikahan mereka.
Namun keesokan paginya, Arga melakukan sesuatu yang tidak diduga Sari.
Ia meminta sopir menyiapkan mobil.
“Kita pergi ke rumah Ibu.”
Ketika mereka tiba, Ratna sedang minum teh di ruang keluarga.
Begitu melihat Sari, wajahnya langsung berubah dingin.
“Untuk apa datang?”
Arga meletakkan album foto di meja.
“Ibu harus melihat sesuatu.”
Ratna awalnya menolak.
Namun ketika membaca surat kematian Rina dan mendengar kisah sebenarnya, ekspresinya perlahan berubah.
Meski begitu, ia masih berusaha mempertahankan gengsinya.
“Kalaupun mereka keponakannya, tetap saja Arga sekarang harus menanggung tiga anak yang bukan keluarganya.”
Sari menunduk.
Tetapi Arga justru berkata tenang, “Mereka keluarga saya sejak saya menikahi Sari.”
Ratna menatap putranya lama.
Lalu sesuatu yang tidak pernah diketahui Arga terjadi.
Tangannya gemetar ketika melihat foto Kiki.
“Siapa nama lengkap kakakmu?” tanyanya kepada Sari.
“Rina Kusumawati.”
Cangkir teh di tangan Ratna hampir terlepas.
Ia berdiri dan berjalan menuju lemari tua di ruang kerjanya. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa sebuah map.
Di dalamnya terdapat dokumen lama dari sebuah yayasan pendidikan.
Ratna menunjukkan nama penerima beasiswa di sana.
Rina Kusumawati.
Sari terpaku.
Dua puluh tahun sebelumnya, Ratna pernah mendirikan program beasiswa kecil bersama mendiang suaminya. Salah satu penerimanya adalah Rina, siswi berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Namun yayasan itu kemudian berhenti beroperasi ketika keluarga Arga mengalami krisis bisnis.
Ratna masih mengingat sebuah surat dari Rina.
Dalam surat tersebut, Rina berjanji suatu hari akan membalas kebaikan keluarga mereka.
“Jadi Kak Rina mengenal Ibu?”
Ratna mengangguk perlahan.
Namun bagian paling mengejutkan terdapat pada dokumen terakhir.
Beberapa tahun lalu, ketika perusahaan keluarga Arga hampir bangkrut, seorang investor anonim memberikan modal yang menyelamatkan perusahaan.
Investor tersebut adalah pemilik perusahaan teknologi kecil bernama JK Solutions.
Pendiri JK Solutions tercatat bernama Juno Kusumawardana.
Arga mengernyit.
“Juno?”
Sari segera menggeleng.
“Bukan Juno keponakan saya.”
Ratna menjelaskan bahwa pendiri perusahaan itu adalah ayah kandung ketiga anak tersebut.
Pria yang selama ini dianggap telah meninggalkan keluarganya ternyata meninggal dalam kecelakaan saat berada di luar negeri. Karena dokumen administrasi yang bermasalah, kabar kematiannya tidak pernah sampai kepada Rina.
Sebelum meninggal, ia telah menyiapkan sebuah dana pendidikan atas nama ketiga anaknya.
Nilainya mencapai miliaran rupiah.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Sari terduduk.
Selama bertahun-tahun ia bekerja dari pagi hingga malam demi mengirim beberapa juta rupiah setiap bulan, tanpa mengetahui bahwa masa depan ketiga anak tersebut sebenarnya telah dijamin oleh ayah mereka.
Ratna memandang Sari dengan mata berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama ini selalu menjaga gengsinya itu berkata pelan, “Maafkan Ibu.”
Sari terkejut.
Ratna menggenggam tangannya.
“Ibu menilaimu dari pekerjaanmu, dari pakaianmu, dan dari gosip orang lain. Padahal kamu melakukan sesuatu yang mungkin tidak sanggup Ibu lakukan.”
Beberapa hari kemudian, Arga dan Sari pergi menjemput Juno, Bimo, dan Kiki.
Begitu mobil berhenti di depan rumah sederhana itu, tiga anak berlari keluar.
“Tante!”
Kiki langsung memeluk Sari.
Sari menangis sambil memeluk ketiganya.
Arga berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Juno menatapnya dengan waspada.
“Om siapa?”
Arga berjongkok agar sejajar dengannya.
“Namaku Arga.”
Anak itu menatap cincin di tangan Arga, lalu melihat cincin Sari.
“Kalian sudah menikah?”
Arga tersenyum.
“Iya.”
Juno kemudian bertanya dengan sangat serius, “Om baik sama Tante Sari?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Arga terdiam beberapa detik.
“Aku akan berusaha membuat Tante Sari bahagia.”
Juno mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu, Om boleh ikut keluarga kami.”
Semua orang tertawa di tengah air mata.
Setahun kemudian, Sari kembali melanjutkan kuliahnya.
Dana warisan ketiga anak itu tetap disimpan untuk pendidikan mereka. Arga tidak pernah menyentuh satu rupiah pun.
Dan Nyonya Ratna?
Perempuan yang dahulu mengatakan rumahnya bukan panti asuhan justru menjadi orang yang paling sering menjemput Kiki dari sekolah.
Suatu sore, Arga menemukan ibunya tertidur di sofa dengan tiga anak itu di sekelilingnya.
Ia tersenyum.
Barulah Arga memahami bahwa malam pernikahannya dulu bukanlah malam ketika ia menemukan rahasia tubuh istrinya.
Itulah malam ketika ia menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh darah.
Kadang-kadang keluarga lahir ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal, tetap menjaga, dan tetap mencintai ketika sebenarnya ia memiliki seribu alasan untuk pergi.
