Putrinya datang ke rumah dalam keadaan babak belur pukul 01.00 dini hari; suaminya yang miliarder lupa bahwa ibu mertuanya adalah mantan detektif pembunuhan

Tepat pukul satu dini hari, bel rumah Salmah Idris berbunyi berkali-kali, begitu keras hingga suara itu menembus hujan dan membangunkannya sebelum ia sempat melihat jam.

Selama hampir tiga puluh tahun bekerja sebagai penyidik kasus pembunuhan di Jakarta, Salmah belajar satu hal yang tidak pernah tertulis di buku pelatihan mana pun. Kepanikan memiliki suara sendiri.

Dan suara dari balik pintu malam itu adalah suara seseorang yang merasa waktunya hampir habis.

Salmah membuka pintu.

Darahnya terasa berhenti mengalir.

Putrinya, Nadira, berdiri tanpa alas kaki di bawah hujan. Hoodie abu-abunya robek di bahu. Bibirnya pecah, pipinya membengkak, dan satu matanya nyaris tertutup.

“Bu…”

Suara Nadira patah.

“Jangan biarkan dia membawaku pulang.”

Salmah menarik putrinya masuk.

Namun sebelum pintu tertutup, cahaya lampu sebuah SUV hitam membelah halaman.

Raka Wijaya turun dari mobil.

Menantu Salmah itu dikenal publik sebagai salah satu pengusaha properti muda paling sukses di Indonesia. Wajahnya sering muncul di majalah bisnis. Perusahaannya membangun apartemen, mal, hotel, dan kawasan industri di berbagai kota.

Di depan kamera, Raka selalu tersenyum.

Malam itu, tidak.

“Masuk ke mobil, Nadira.”

Nadira langsung bersembunyi di belakang ibunya.

“Kamu sedang kambuh lagi,” lanjut Raka dengan suara tenang. “Kita pulang. Dokter sudah menunggu.”

Salmah berdiri di ambang pintu.

“Jangan mendekat.”

Raka menghela napas.

“Ibu tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga kami.”

“Saya punya mata.”

Raka terdiam.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Ibu sudah pensiun. Jangan mencoba menjadi polisi lagi.”

Salmah mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera.

“Sebutkan sekali lagi ancamanmu.”

Wajah Raka berubah.

Ia mundur.

Namun sebelum kembali ke mobil, ia berkata pelan, “Saya akan datang lagi.”

SUV itu menghilang.

Beberapa menit kemudian, ketika Salmah sedang memeriksa keadaan Nadira, putrinya mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari jahitan tersembunyi pada pakaian olahraganya.

“Aku mengambil ini dari brankas Raka.”

Salmah menatap benda itu.

“Apa isinya?”

“Perusahaan fiktif. Suap. Rekening luar negeri. Dana proyek pemerintah. Bahkan uang dari yayasan yang katanya membantu perempuan korban kekerasan.”

Salmah belum sempat menjawab ketika lampu rumah berkedip dua kali.

Kemudian mati.

Rumah tenggelam dalam kegelapan.

Dari celah tirai, Salmah melihat dua orang berdiri di belakang pagar.

Saat itulah ia tahu bahwa Raka tidak sedang mencoba mendapatkan istrinya kembali.

Ia sedang mencoba mendapatkan flashdisk itu.

Salmah mematikan ponsel Nadira.

“Mulai sekarang, jangan telepon siapa pun.”

“Polisi?”

“Belum.”

Nadira menatap ibunya seolah tidak percaya.

“Ibu sendiri dulu polisi.”

“Itulah sebabnya Ibu tahu kita tidak boleh gegabah.”

Salmah berjalan menuju lemari tua di kamar kerjanya. Dari balik tumpukan dokumen, ia mengambil sebuah ponsel sederhana yang sudah lama tidak digunakan.

Nadira menatapnya.

“Ibu masih menyimpan itu?”

“Nomornya hanya diketahui tiga orang.”

Salmah menghubungi seseorang.

“Pak Dimas.”

Suara laki-laki tua menjawab dari seberang.

“Salmah?”

“Saya butuh bantuan.”

Hening sesaat.

“Seberapa buruk?”

Salmah melihat wajah putrinya.

“Seperti kasus yang dulu membuat kita belajar untuk tidak percaya pada seragam.”

Dimas langsung memahami.

Dua puluh menit kemudian sebuah mobil tua berhenti di gang belakang.

Dimas Pranoto pernah menjadi jaksa yang bekerja bersama Salmah dalam beberapa kasus korupsi dan pembunuhan. Setelah pensiun, ia mengajar hukum di sebuah universitas swasta di Depok.

Ia masuk melalui pintu dapur.

Begitu melihat Nadira, wajahnya mengeras.

“Siapa yang melakukan ini?”

Nadira tidak menjawab.

Dimas menatap Salmah.

“Raka Wijaya?”

Salmah mengangguk.

Mereka menyalakan laptop tanpa koneksi internet.

Flashdisk itu ternyata terenkripsi.

Namun Nadira mengetahui kata sandinya.

Tanggal lahir ayah Raka.

Ketika folder pertama terbuka, ketiganya terdiam.

Ada ratusan dokumen.

Transfer bank.

Kontrak proyek.

Rekaman percakapan.

Daftar nama pejabat.

Foto.

Salinan percakapan pribadi.

Namun satu folder menarik perhatian Salmah.

Namanya hanya satu kata.

Mawar.

“Buka.”

Nadira mengkliknya.

Di dalamnya terdapat daftar tujuh nama perempuan.

Sebagian dilengkapi foto.

Sebagian memiliki laporan medis.

Dan dua nama memiliki satu catatan singkat.

Meninggal akibat kecelakaan.

Nadira menutup mulutnya.

“Apa ini?”

Salmah tidak menjawab.

Ia mengenali salah satu nama.

Ayu Maharani.

Lima tahun sebelumnya, Ayu ditemukan meninggal setelah mobilnya jatuh ke sebuah jurang di kawasan Puncak. Polisi menyimpulkan kecelakaan akibat hujan dan jalan licin.

Saat itu Salmah sudah pensiun.

Namun nama Ayu pernah muncul di berita karena ia bekerja di bagian keuangan salah satu perusahaan milik keluarga Wijaya.

Salmah membuka dokumen berikutnya.

Ada rekaman suara.

Suara Raka terdengar samar.

“Kalau dia bicara, semua orang akan ikut tenggelam.”

Kemudian suara laki-laki lain berkata, “Seperti Ayu?”

Rekaman berakhir.

Nadira menatap ibunya dengan wajah pucat.

“Bu…”

Salmah merasa dingin menjalar di punggungnya.

Ini sudah bukan sekadar kasus kekerasan rumah tangga.

Mereka mungkin sedang berhadapan dengan jaringan yang pernah menyingkirkan orang.

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah dari bagian belakang rumah.

Dimas berdiri.

Salmah mengambil flashdisk.

“Nadira, ikut Pak Dimas lewat garasi.”

“Ibu?”

“Ibu menyusul.”

“Tidak.”

“Nadira.”

“Aku tidak akan meninggalkan Ibu.”

Suara pintu belakang digedor.

Salmah memandang putrinya.

Tiga puluh tahun lalu, ia pernah menyelamatkan orang asing dari orang-orang berbahaya tanpa ragu.

Malam ini ia harus menyelamatkan anaknya sendiri.

“Pergi.”

Dimas menarik Nadira menuju garasi.

Salmah memasukkan flashdisk asli ke dalam saku Dimas.

Kemudian mengambil flashdisk kosong dari meja dan menggenggamnya.

Pintu belakang terbuka.

Dua pria masuk.

Salah satu dari mereka memakai masker.

“Berikan barangnya, Bu.”

Salmah mengangkat flashdisk.

“Ini?”

Pria itu maju.

Salmah melemparkannya ke lantai.

Mereka segera mengambilnya.

Saat perhatian kedua pria itu teralihkan, Salmah menekan tombol kecil pada jam tangan digitalnya.

Sebuah alarm keras berbunyi dari halaman depan.

Lampu darurat rumah menyala.

Kedua pria panik dan kabur.

Namun salah satu tidak menyadari bahwa kamera tersembunyi di ruang tamu telah merekam wajahnya ketika maskernya bergeser.

Salmah tersenyum kecil.

Kebiasaan lama memang sulit hilang.

Pagi harinya, Raka tampil di televisi.

Dengan wajah serius, ia mengumumkan bahwa istrinya sedang mengalami gangguan mental dan telah meninggalkan rumah dalam kondisi tidak stabil.

“Saya sangat mencintai istri saya,” katanya di depan wartawan. “Saya hanya ingin dia mendapatkan pertolongan.”

Salmah menyaksikan dari apartemen aman milik Dimas.

Nadira gemetar melihatnya.

“Semua orang akan percaya dia.”

Salmah mematikan televisi.

“Orang percaya cerita pertama yang mereka dengar. Tapi mereka mengingat bukti terakhir yang mereka lihat.”

Dimas telah menghubungi seorang mantan penyidik lembaga antikorupsi bernama Ardi yang sekarang bekerja sebagai konsultan investigasi.

Selama dua hari, mereka menyalin dan memverifikasi data.

Semakin dalam mereka melihat, semakin besar masalahnya.

Belasan proyek pemerintah ternyata dialihkan melalui perusahaan cangkang.

Yayasan sosial Raka digunakan untuk memindahkan dana.

Beberapa pejabat menerima transfer dalam jumlah besar.

Namun kejutan terbesar muncul ketika Ardi menemukan sebuah rekaman CCTV.

Rekaman itu berasal dari parkiran kantor Raka tiga tahun lalu.

Seorang perempuan terlihat menyerahkan amplop kepada seseorang.

Perempuan itu adalah Ayu Maharani.

Dan orang yang menerimanya adalah Komisaris Besar Haris Santoso.

Nama itu membuat Salmah terdiam.

Haris dulu anak buahnya.

Bahkan Salmah pernah membela Haris ketika ia dituduh menerima suap dalam sebuah kasus.

“Ibu kenal dia?” tanya Nadira.

Salmah mengangguk pelan.

“Dulu Ibu percaya dia seperti adik sendiri.”

Ternyata Haris masih aktif dan sekarang memiliki jabatan penting.

Semuanya mulai masuk akal.

Raka memang benar ketika berkata bahwa ia punya orang di kepolisian.

Sore itu, telepon Salmah berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia menjawab.

“Bu Salmah.”

Suara Haris terdengar.

“Sudah lama sekali.”

Salmah tidak berkata apa-apa.

“Saya sarankan Ibu menyerahkan flashdisk itu. Demi keselamatan Nadira.”

“Ancaman?”

“Nasihat.”

Salmah tersenyum dingin.

“Kamu dulu lebih pintar memilih kata.”

Haris terdiam.

“Jangan paksa kami melakukan sesuatu yang tidak ingin kami lakukan.”

Salmah memutus sambungan.

Nadira melihat wajah ibunya.

“Sekarang bagaimana?”

“Kita buat mereka percaya bahwa kita takut.”

Keesokan harinya, melalui pengacaranya, Nadira menghubungi Raka.

Ia menawarkan pertukaran.

Flashdisk dikembalikan.

Sebagai gantinya, Raka menandatangani perceraian dan tidak pernah menghubunginya lagi.

Raka setuju.

Lokasi pertemuan ditentukan di ballroom sebuah hotel milik keluarga Wijaya.

Namun Raka tidak tahu bahwa beberapa jam sebelum pertemuan, salinan seluruh data telah dikirim kepada tiga media nasional, dua lembaga penegak hukum, dan seorang jurnalis investigasi internasional dengan sistem pengiriman otomatis.

Jika Salmah tidak memasukkan kode setiap tiga puluh menit, semua file akan tersebar.

Malam itu, Raka datang ditemani Haris dan beberapa pengacara.

Raka duduk di seberang Nadira.

Wajahnya tenang.

“Akhirnya kamu sadar.”

Nadira menatapnya.

“Aku sadar sejak malam aku menemukan foto Ayu.”

Senyum Raka menghilang.

Haris bergerak gelisah.

Salmah meletakkan sebuah flashdisk di meja.

“Ini yang kalian cari.”

Raka mengulurkan tangan.

Namun Salmah menariknya kembali.

“Tanda tangan dulu.”

Dokumen perceraian diletakkan.

Raka menandatanganinya.

Kemudian ia berkata pelan, “Setelah ini kalian akan menyesal.”

Salmah tersenyum.

“Sudah terlambat.”

Pintu ballroom tiba-tiba terbuka.

Beberapa penyidik masuk.

Wajah Haris langsung berubah.

Raka berdiri.

“Apa-apaan ini?”

Salah satu penyidik menunjukkan surat perintah.

Raka menatap Salmah.

“Kamu menjebakku.”

“Tidak.”

Salmah berdiri.

“Kamu membangun perangkapmu sendiri. Saya hanya menyalakan lampunya.”

Haris mencoba keluar melalui pintu samping, tetapi dua petugas sudah menunggu.

Beberapa menit kemudian, ponsel Raka terus berdering.

Berita pertama muncul.

Dokumen Rahasia Konglomerat Wijaya Diduga Ungkap Korupsi Proyek dan Penyalahgunaan Dana Yayasan.

Berita kedua muncul beberapa menit kemudian.

Polisi Buka Kembali Kasus Kematian Mantan Pegawai Wijaya Group.

Raka menatap Nadira.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Nadira tidak menundukkan kepala.

“Aku pernah berpikir aku lemah,” katanya.

Raka tidak menjawab.

“Ternyata aku hanya terlalu lama dibuat percaya bahwa aku sendirian.”

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan berkembang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Sejumlah pejabat ditetapkan sebagai tersangka.

Haris diberhentikan dan diproses hukum.

Kasus kematian Ayu dibuka kembali setelah ditemukan bukti bahwa kecelakaannya sengaja direkayasa.

Raka menghadapi berbagai dakwaan terkait kekerasan, pencucian uang, korupsi, dan upaya menghilangkan barang bukti.

Namun kejutan terakhir baru muncul ketika Salmah sedang membersihkan rumahnya.

Di balik lemari kamar kerja, ia menemukan amplop kecil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan dari mendiang suaminya.

Salmah membacanya perlahan.

Jika suatu hari aku sudah tidak ada dan Nadira datang kepadamu dalam keadaan takut, jangan ajari dia untuk bertahan. Ajari dia bahwa pulang bukan berarti kalah.

Salmah menutup mulutnya.

Air matanya akhirnya jatuh.

Selama bertahun-tahun sebagai penyidik, ia terbiasa datang setelah kejahatan terjadi.

Mengumpulkan bukti.

Mencari pelaku.

Mengejar keadilan.

Namun malam ketika Nadira mengetuk pintunya pukul satu dini hari, Salmah menyadari bahwa tugas terpenting dalam hidupnya bukan menangkap siapa pun.

Tugasnya hanya satu.

Membuka pintu.

Setahun kemudian, Nadira mendirikan sebuah pusat bantuan hukum untuk perempuan yang ingin keluar dari hubungan penuh kekerasan tetapi takut menghadapi orang yang memiliki uang dan kekuasaan.

Ia menamai tempat itu Rumah Pukul Satu.

Di dinding ruang tunggu terdapat sebuah kalimat sederhana.

Jika seseorang mengetuk pintumu karena takut, jangan tanyakan mengapa ia baru datang sekarang.

Bukakan pintu.

Karena terkadang satu pintu yang terbuka cukup untuk mengubah seluruh hidup seseorang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang