Selama sepuluh tahun, anakku mengirimkan satu miliar rupiah setiap Lebaran… tetapi dia tidak pernah pulang. Saat aku nekat mendatangi rumahnya di Jakarta, pintu terbuka dan aku menemukan kenyataan paling mengerikan di balik tumpukan uang haram itu!
Sepuluh tahun. Selama itulah waktu berlalu sejak Aditya memutuskan merantau ke Jakarta dan meninggalkanku seorang diri di kampung halaman, Yogyakarta. Tidak sekali pun ia pulang menengokku. Namun setiap Hari Raya Idulfitri, rekeningku selalu menerima kiriman dengan jumlah yang sama: satu miliar rupiah.

Tetangga-tetangga di kampung selalu memujiku. Mereka mengatakan aku adalah ibu paling beruntung di dunia.
Namun entah mengapa, hatiku tidak pernah benar-benar merasa tenang.
Namaku Siti. Usia enam puluh tiga tahun. Aku membesarkan Aditya seorang diri setelah suamiku berpulang ke rahmatullah ketika Aditya masih balita. Aditya tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, berbakti, dan berwajah tampan.
Namun hidupku berubah total ketika usianya menginjak dua puluh satu tahun.
Ia bersikeras menikahi Kartika, seorang wanita kaya raya berusia lima puluh tahun asal Jakarta.
Aku menentang keras keputusan itu, tetapi tekad Aditya sudah bulat.
Setelah pernikahan tertutup mereka, ia langsung pindah ke Jakarta. Kami berdua menangis tersedu-sedu saat berpisah di bandara Yogyakarta. Saat itu aku masih percaya suatu hari nanti ia akan kembali dan memelukku.
Kenyataannya, ia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah kami.
Meski begitu, aliran uang darinya tidak pernah terputus.
Jumlahnya selalu tepat satu miliar rupiah.
Dan setiap kiriman selalu disertai pesan singkat yang sama persis.
“Ibu, jaga kesehatan di kampung. Aku baik-baik saja.”
Namun ada tiga kata yang terus menghantuiku siang dan malam.
“Aku baik-baik saja.”
Entah mengapa, kalimat itu selalu terasa janggal.
Dalam panggilan video WhatsApp, aku sering melihat matanya sayu. Tubuhnya semakin kurus, sementara sorot matanya seperti menyembunyikan ketakutan yang tidak berani ia ungkapkan.
Setiap kali aku mendesaknya pulang, jawabannya selalu kaku dan dingin.
“Aku sibuk dengan pekerjaan di perusahaan, Bu.”
Lama-kelamaan aku lelah bertanya dan memilih memendam kegelisahanku sendiri.
Tahun demi tahun berlalu.
Rambutku semakin memutih dimakan usia. Rumah tua di kampung direnovasi menjadi rumah megah berkat uang kirimannya. Namun kemewahan itu terasa hampa tanpa kehadiran anak kandungku.
Setiap malam takbiran, aku selalu menyiapkan satu piring tambahan di meja makan.
Aku terus berharap suatu hari sebuah keajaiban akan membawanya pulang.
Sampai akhirnya kesabaranku habis.
Tanpa memberitahunya sepatah kata pun, aku membeli tiket kereta menuju Jakarta.
Perjalanan panjang itu menguras tenaga tubuhku yang sudah renta. Setibanya di Jakarta, aku memesan taksi online menuju alamat perumahan elite yang pernah dikirimkan Aditya kepadaku.
Kompleks perumahan itu begitu sepi, dikelilingi pagar-pagar tinggi.
Sebuah rumah modern dua lantai berdiri megah di hadapanku.
Aku menekan bel berkali-kali.
Hening.
Tidak ada jawaban.
Pintu gerbang ternyata tidak terkunci rapat. Aku mendorongnya perlahan, kemudian melangkah memasuki halaman.
Taman rumah itu tertata begitu sempurna.
Namun kesunyian yang aneh justru membuat dadaku sesak.
Ketika membuka pintu utama, kemewahan langsung menyambutku. Namun rumah itu terasa asing. Tempat tersebut lebih mirip rumah contoh di sebuah pameran properti daripada rumah yang benar-benar ditinggali manusia.
Bersih.
Mengilap.
Sempurna.
Namun sama sekali tidak bernyawa.
Tidak ada jaket yang tergantung di dinding.
Tidak ada sepatu pria di dekat pintu.
Tidak ada aroma masakan dari dapur.
“Aditya?”
Aku memanggil dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan menuju dapur dan membuka kulkas besar.
Kosong.
Hanya ada sebotol air mineral.
Jantungku mulai berdetak semakin cepat.
Dengan kaki gemetar, aku menaiki tangga menuju lantai dua.
Ada tiga pintu kamar berjajar di sepanjang koridor.
Kamar pertama kubuka perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah ranjang besar. Lemari pakaiannya penuh dengan jas dan kemeja pria yang langsung kukenali sebagai milik Aditya.
Namun tidak ada satu pun pakaian wanita.
Aku beralih menuju kamar kedua.
Kosong.
Hanya ada lapisan debu tipis di lantainya.
Tidak ada foto keluarga.
Tidak ada barang pribadi.
Tidak ada satu pun tanda bahwa seorang wanita bernama Kartika pernah tinggal di rumah itu.
Kini hanya tersisa kamar ketiga.
Dengan tangan gemetar, aku menggenggam kenop pintunya.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Lalu membukanya.
Napas seketika tertahan di tenggorokanku.
Kakiku seperti terpaku di lantai kayu.
Ruangan itu dipenuhi puluhan peti kayu terbuka.
Dan di dalam peti-peti tersebut…
terdapat tumpukan uang pecahan rupiah dalam jumlah yang tidak pernah bisa kubayangkan sebelumnya.
Uang itu tersusun rapi memenuhi hampir seluruh ruangan.
Jumlahnya pasti mencapai puluhan, bahkan mungkin ratusan miliar rupiah.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Dari mana semua uang ini berasal?
Mengapa Aditya menyembunyikannya di sini?
Dan mengapa selama sepuluh tahun ia selalu mengirim tepat satu miliar rupiah kepadaku setiap Lebaran?
Tiba-tiba terdengar suara pintu utama terbuka dari lantai bawah.
Aku tersentak.
Kemudian terdengar langkah kaki.
Berat.
Lambat.
Satu demi satu menaiki anak tangga.
Aku berdiri membeku di tengah ruangan penuh uang itu.
Lalu sebuah suara asing terdengar dari bawah.
“Bu Siti…”
Darahku seakan berhenti mengalir.
Orang itu mengetahui namaku.
Langkah kaki tersebut semakin dekat.
“Jauh-jauh dari Yogyakarta datang ke Jakarta…”
Suara itu berhenti sesaat.
Kemudian terdengar tawa kecil yang membuat bulu kudukku berdiri.
“…ternyata Ibu akhirnya menemukan juga rahasia anak Ibu.”
Tubuhku bergetar hebat saat suara berat itu memanggil namaku dengan nada mengejek.
