Seorang Pria Miskin Membawa Cincin Tembaga Rongsokan untuk Dijual Demi Membiayai Pengobatan Istrinya. Pemilik Toko Perhiasan Berpura-pura Memeriksanya dengan Kaca Pembesar, Lalu Berkata, “Ini Cincin Langka, Saya Beli Seharga Rp15 Juta”…

Pak Darto membuka mata dengan susah payah. Lehernya pegal karena sejak tadi tertidur sambil duduk di kursi plastik. Lampu kamar rawat sudah diredupkan. Dari lorong hanya terdengar roda troli perawat sesekali melintas.

Bu Sari menatapnya dari atas ranjang.

“Pak, besok kita kembali ke toko itu.”

Pak Darto mengerutkan kening.

“Buat apa?”

“Kita tanyakan lagi soal cincin itu.”

“Sudah dibeli.”

“Justru karena sudah dibeli.”

Bu Sari menarik napas perlahan.

“Kalau ternyata orang itu salah menilai, kita harus mengembalikan sisanya.”

Pak Darto menunduk. Ia tahu istrinya serius.

Mereka sudah hidup bersama hampir tiga puluh tahun. Selama itu, kemiskinan pernah membuat mereka makan nasi dengan garam, menunggak kontrakan, bahkan berjalan kaki beberapa kilometer karena tidak punya ongkos. Tetapi satu hal yang tidak pernah berhasil diambil kemiskinan dari Bu Sari adalah kejujurannya.

“Uangnya sudah dipakai untuk rumah sakit.”

“Yang sudah dipakai nanti kita cicil.”

“Dari mana?”

Bu Sari tersenyum lemah.

“Dari tangan kita sendiri. Seperti biasanya.”

Kalimat itu membuat Pak Darto tidak mampu menjawab.

Pagi berikutnya, kondisi Bu Sari belum memungkinkan untuk keluar. Pak Darto akhirnya berjanji akan mendatangi toko perhiasan sendirian.

Namun ia baru bisa pergi dua hari kemudian.

Saat itu kondisi Bu Sari mulai membaik. Demamnya turun, napasnya lebih lega, dan dokter mengatakan jika perkembangan terus positif, dua atau tiga hari lagi ia boleh pulang.

Pak Darto naik angkot menuju toko Pak Hendra.

Sepanjang perjalanan, amplop berisi sisa uang Rp8,7 juta berada di dalam tas pinggangnya.

Begitu tiba, langkahnya mendadak berhenti.

Di balik kaca etalase, cincin tembaga itu masih ada.

Bukan disimpan di gudang.

Bukan dilempar ke kotak barang bekas.

Cincin tersebut justru ditempatkan sendirian di atas bantalan beludru.

Pak Darto masuk.

Pak Hendra yang sedang menulis sesuatu langsung mengenalinya.

“Pak Darto?”

Pak Darto meletakkan amplop di atas meja.

“Saya mau mengembalikan uang.”

Senyum Pak Hendra perlahan menghilang.

“Kenapa?”

“Bapak salah beli.”

Pak Hendra terdiam.

“Istri saya bilang tidak mungkin cincin tembaga seperti itu harganya lima belas juta.”

“Bukankah kemarin sudah saya jelaskan?”

“Itu yang membuat saya datang.”

Pak Darto menatap langsung ke mata pemilik toko itu.

“Saya memang miskin, Pak. Tapi saya tidak mau hidup dari kesalahan orang lain.”

Pak Hendra menatap amplop tersebut cukup lama.

Kemudian ia bertanya pelan, “Istri Bapak bagaimana?”

“Masih dirawat.”

“Uangnya sudah terpakai?”

“Enam juta lebih.”

“Lalu yang di amplop?”

“Sisanya.”

Pak Darto mendorong amplop itu.

“Yang sudah dipakai akan saya bayar sedikit-sedikit.”

Pak Hendra justru mendorong amplop tersebut kembali.

“Tidak ada kesalahan.”

Pak Darto mulai kesal.

“Pak, saya mungkin tidak sekolah tinggi. Tapi saya tahu tembaga tidak semahal itu.”

“Saya juga tahu.”

Pak Darto membeku.

Beberapa detik keduanya saling menatap.

Akhirnya Pak Hendra membuka lemari kaca dan mengambil cincin tersebut.

“Duduk dulu.”

Pak Darto tidak bergerak.

“Bapak menipu saya?”

“Kalau saya berniat menipu, biasanya orang yang rugi bukan saya.”

Pak Darto masih berdiri.

Pak Hendra kemudian menceritakan semuanya.

Tentang bagaimana ia tahu sejak awal cincin itu hampir tidak memiliki nilai material. Tentang tangannya yang gemetar ketika Pak Darto mengatakan istrinya membutuhkan pengobatan. Tentang keputusannya menyebut cincin tersebut langka agar Pak Darto bersedia menerima uang tanpa merasa sedang meminta belas kasihan.

Wajah Pak Darto perlahan memerah.

Bukan karena marah.

Karena malu.

“Jadi Bapak kasihan kepada saya.”

“Tidak.”

“Itu sama saja.”

“Tidak sama.”

Pak Hendra menunjuk kursi di hadapannya.

“Kemarin Bapak datang untuk menjual barang. Bukan mengemis. Saya hanya memilih membeli dengan harga yang saya tentukan sendiri.”

“Tapi lima belas juta…”

“Apakah ada aturan pemilik toko dilarang membeli barang terlalu mahal?”

Pak Darto kehilangan kata-kata.

Pak Hendra tersenyum.

“Bawa kembali uang itu. Sembuhkan istri Bapak.”

Pak Darto mengepalkan tangan.

“Saya tidak bisa.”

Pak Hendra menatapnya lama.

Kemudian ia berkata, “Kalau begitu kita buat perjanjian.”

“Perjanjian apa?”

“Bapak tidak perlu mengembalikan uangnya kepada saya.”

Pak Darto langsung hendak menolak, tetapi Pak Hendra mengangkat tangan.

“Dengarkan dulu. Kalau suatu hari Bapak bertemu orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, dan Bapak mampu membantunya, gunakan uang itu untuk membantu dia.”

Pak Darto terdiam.

“Tidak harus lima belas juta,” lanjut Pak Hendra. “Tidak harus uang. Mungkin cuma sepiring nasi. Mungkin ongkos pulang. Mungkin tenaga. Anggap saja utangnya dibayar kepada orang lain.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, mata Pak Darto berkaca-kaca.

Ia mengambil amplop itu kembali.

Namun sebelum pergi, ia berdiri di depan lemari kaca.

“Kenapa cincin saya dipajang?”

Pak Hendra tersenyum.

“Supaya saya ingat bahwa barang paling murah di toko ini pernah menjadi barang paling berharga.”

Pak Darto pulang ke rumah sakit dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bu Sari menangis ketika mendengar cerita sebenarnya.

Bukan karena tersinggung.

Justru karena selama bertahun-tahun hidup dalam kekurangan, ia hampir lupa bahwa masih ada orang asing yang bisa peduli tanpa meminta apa pun sebagai balasan.

Lima hari kemudian Bu Sari diperbolehkan pulang.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan pembengkakan pada kakinya bisa ditangani dengan obat, pola makan yang lebih baik, dan kontrol rutin. Tidak ada penyakit mematikan seperti yang sempat mereka takutkan.

Sisa uang dari Pak Hendra digunakan dengan sangat hati-hati.

Sebagian untuk obat.

Sebagian untuk makanan bergizi.

Sebagian disimpan untuk kontrol.

Setelah kondisi Bu Sari pulih, Pak Darto kembali bekerja sebagai tukang angkut di pasar.

Hidup mereka kembali seperti sebelumnya.

Setidaknya begitulah yang mereka pikirkan.

Sekitar tiga bulan kemudian, seorang perempuan datang ke toko Pak Hendra.

Usianya sekitar empat puluh tahun. Pakaiannya rapi dan ia membawa tas mahal. Begitu masuk, pandangannya langsung jatuh pada cincin tembaga di dalam lemari kaca.

Wajahnya berubah.

“Pak,” katanya kepada pegawai toko, “boleh saya lihat cincin itu?”

Pak Hendra keluar dari ruang belakang.

“Maaf, cincin itu tidak dijual.”

Perempuan tersebut mendekat.

“Dari mana Bapak mendapatkannya?”

“Dari seseorang.”

“Siapa?”

Pak Hendra mulai merasa aneh.

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto lama, lalu memperlihatkannya.

Foto tersebut menampilkan seorang pria tua memakai cincin yang bentuknya hampir sama.

Pak Hendra mengambil kaca pembesar.

Selama ini ia memang sudah memeriksa cincin itu, tetapi hanya sekilas. Ia tahu bahannya tembaga dan menganggap ukiran kecil di sisi dalam hanyalah bekas produksi.

Kali ini ia mengamatinya lebih teliti.

Ada tiga huruf yang hampir hilang.

S.W.D.

Perempuan itu menutup mulut.

“Ini milik kakek saya.”

Pak Hendra mengangkat kepala.

Perempuan tersebut memperkenalkan diri sebagai Ratna Wibisono.

Kakeknya, Surya Wibisono, dahulu memiliki sebuah bengkel kecil di Semarang sebelum usahanya berkembang menjadi perusahaan manufaktur. Cincin itu bukan perhiasan mahal. Surya membuatnya sendiri dari potongan tembaga ketika masih menjadi buruh bengkel.

Setelah sukses, ia tetap mengenakannya sebagai pengingat masa sulit.

Belasan tahun lalu cincin itu hilang ketika gudang lama keluarga mereka dibongkar dan barang-barangnya berpindah tangan.

“Nilai logamnya memang tidak ada,” kata Ratna. “Tapi bagi keluarga kami, ini peninggalan terakhir Kakek.”

Pak Hendra terdiam.

Ironi itu begitu aneh hingga hampir membuatnya tertawa.

Ia membeli cincin tak berharga dengan harga Rp15 juta karena berbohong bahwa benda itu langka.

Dan ternyata cincin tersebut benar-benar langka bagi seseorang.

Ratna menawarkan Rp50 juta.

Pak Hendra menolak.

Seratus juta.

Tetap ditolak.

“Kalau begitu sebutkan harganya.”

Pak Hendra menggeleng.

“Cincin ini bukan milik saya sepenuhnya.”

Ratna tidak memahami maksudnya.

Dua hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan kontrakan Pak Darto.

Pak Hendra turun bersama Ratna.

Pak Darto yang sedang memperbaiki roda gerobak sampai berdiri kebingungan.

Ketika mendengar cerita mengenai cincin itu, reaksinya justru di luar dugaan.

“Kalau memang milik keluarga Ibu, ambil saja.”

Ratna tertegun.

“Saya akan membayarnya.”

“Tidak perlu.”

“Tapi cincin itu sangat berarti bagi keluarga saya.”

Pak Darto tersenyum.

“Bagi saya juga sudah sangat berarti. Karena cincin itu menyelamatkan istri saya.”

Ratna menatap rumah kontrakan sempit di belakangnya.

Atap sengnya berkarat. Dinding bagian bawah lembap. Gerobak tua terparkir di samping pintu.

“Pak Darto, saya tidak bisa menerimanya gratis.”

Pak Darto memandang Pak Hendra.

Kemudian ia teringat perjanjian mereka.

Utang kebaikan harus dibayar kepada orang lain.

Akhirnya ia berkata, “Kalau Ibu benar-benar ingin membayar, jangan bayar kepada saya.”

Ratna mengernyit.

Pak Darto menunjuk ke ujung gang.

“Di sana ada klinik kecil. Banyak orang seperti saya menunda berobat karena takut biaya. Kalau Ibu punya uang lebih, bantu mereka.”

Ratna tidak langsung menjawab.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Satu bulan kemudian, klinik di ujung gang mendapatkan dana untuk program pemeriksaan gratis bagi warga kurang mampu.

Ratna tidak menggunakan nama keluarganya.

Ia menamai program itu Program Cincin Tembaga.

Pak Darto tertawa terbahak-bahak ketika pertama kali membaca spanduknya.

Pak Hendra juga.

Namun kisah itu belum berhenti.

Beberapa tahun berlalu.

Suatu sore, Pak Hendra sedang bersiap menutup toko ketika seorang anak laki-laki berseragam SMA masuk tergesa-gesa.

Anak itu mengeluarkan sebuah jam tangan murah dengan kaca retak.

“Pak, ini bisa dijual?”

Pak Hendra memeriksanya.

Jam itu mungkin hanya bernilai seratus ribu rupiah dalam kondisi baru. Dalam keadaan seperti itu, nyaris tidak ada harganya.

“Kenapa mau dijual?”

Anak tersebut menunduk.

“Ibu saya perlu beli obat.”

Pak Hendra membeku.

Untuk sesaat ia merasa waktu berputar mundur.

Tangan yang menggenggam jam itu gemetar.

Tangan seseorang yang datang bukan untuk meminta.

Tangan seseorang yang masih berusaha.

Pak Hendra mengambil kaca pembesar.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, terdengar suara dari pintu.

“Coba saya lihat jamnya.”

Pak Hendra menoleh.

Seorang pria tua berdiri di sana membawa beberapa kardus kecil.

Rambutnya sudah memutih.

Tubuhnya lebih kurus dibandingkan bertahun-tahun lalu.

Tetapi Pak Hendra langsung mengenalinya.

Pak Darto.

Ia sekarang bekerja mengantar barang untuk beberapa toko di sekitar pasar.

Pak Darto mengambil jam tersebut, membolak-baliknya dengan wajah sangat serius, persis seperti Pak Hendra dulu memeriksa cincin tembaga.

Kemudian ia mengangguk.

“Wah, ini langka.”

Anak itu mengangkat kepala.

“Benarkah, Pak?”

Pak Darto melirik Pak Hendra.

Keduanya saling memandang.

Tidak ada yang perlu dijelaskan.

Pak Hendra hanya tersenyum.

Pak Darto mengeluarkan dompetnya.

“Kalau kamu setuju, saya beli.”

“Berapa?”

Pak Darto menghitung uang hasil kerjanya hari itu.

Jumlahnya tidak banyak.

Tidak mendekati lima belas juta.

Tetapi cukup untuk membeli obat.

Ia meletakkan semuanya di atas meja.

Anak itu menatap uang tersebut dengan mata membesar.

“Sebanyak ini?”

Pak Darto mengangguk mantap.

“Barang langka memang mahal.”

Anak itu pulang sambil memeluk uang tersebut.

Setelah pintu tertutup, Pak Hendra menatap Pak Darto.

“Bapak tahu jam itu rusak, kan?”

Pak Darto tertawa.

“Tahu.”

“Lalu kenapa dibeli mahal?”

Pak Darto memasukkan jam retak itu ke saku bajunya.

Kemudian ia menjawab dengan kalimat yang bertahun-tahun lalu pernah mengubah hidupnya.

“Karena ada orang yang miskin, Pak Hendra, tapi masih menjaga harga dirinya lebih kuat daripada menjaga perutnya sendiri.”

Pak Hendra tidak berkata apa-apa.

Di luar toko, matahari mulai tenggelam di antara deretan bangunan.

Cincin tembaga itu sudah lama kembali kepada keluarga pemiliknya.

Uang lima belas juta juga sudah lama habis.

Namun sesuatu yang dibeli Pak Hendra hari itu ternyata tidak pernah habis.

Kebaikan memang aneh.

Ketika diberikan dengan cara yang tepat, ia tidak membuat penerimanya merasa lebih kecil.

Ia justru membuat seseorang berdiri lebih tegak.

Lalu suatu hari, ketika kesempatan datang, orang yang pernah ditolong itu akan mengulurkan tangannya kepada orang lain.

Dan mungkin itulah alasan sebuah cincin tembaga yang bahkan tidak bernilai lima puluh ribu rupiah akhirnya menjadi benda paling mahal yang pernah masuk ke toko Pak Hendra.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang