CEO MUDA INI MEMBAWA PULANG PENGEMIS YANG DIPERMALUKAN DI DEPAN MAL—MALAM ITU, SATU KARTU HITAM MEMBUKA RAHASIA BESAR TENTANG SIAPA DIA SEBENARNYA

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa rumahku sendiri bukan lagi tempat yang kukenal.

Dari balik jendela ruang makan, kulihat tiga sedan hitam berhenti berurutan di depan gerbang. Beberapa pria berjas turun. Tidak ada yang tergesa-gesa, tetapi cara mereka bergerak menunjukkan bahwa kedatangan mereka bukan urusan biasa.

Aku menoleh kepada Raka.

Beberapa jam lalu, pria itu duduk di trotoar dengan kemeja kusam dan wadah plastik berisi recehan.

Sekarang orang-orang dari Mahendra Global datang mencarinya.

“Siapa sebenarnya kamu?”

Raka menatap kartu hitam yang masih berada di tanganku.

“Nama saya memang Raka Mahendra.”

“Itu belum menjawab pertanyaanku.”

Ia tersenyum tipis.

“Mahendra Global didirikan kakek saya.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

Lalu ketika maknanya masuk ke kepalaku, aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Kamu keluarga Mahendra?”

Raka mengangguk.

“Saya cucu tunggal pendirinya.”

Aku menatap pakaiannya, tas kainnya, lalu wajahnya.

“Dan kamu mengemis?”

“Saya tidak pernah bilang saya pengemis.”

Aku terdiam.

Benar.

Selvi yang menyebutnya pengemis.

Aku sendiri hanya melihat seorang pria menerima uang di trotoar.

“Jadi semua itu sandiwara?”

“Tidak.”

Jawabannya membuatku semakin bingung.

Bel rumah berbunyi.

Tak lama kemudian Pak Darto masuk bersama seorang pria sekitar enam puluh tahun berjas abu-abu.

Begitu melihat Raka, pria itu berhenti.

“Pak Raka.”

Nada suaranya terdengar lega.

Raka berdiri.

“Pak Surya.”

“Kami mencari Bapak sejak kemarin.”

“Saya tahu.”

Pak Surya melirikku, lalu membungkuk sopan.

“Saya Surya Atmadja, sekretaris keluarga Mahendra.”

Aku masih belum mampu menyusun semuanya.

“Kenapa dia berada di jalan?”

Pak Surya hendak menjawab, tetapi Raka mengangkat tangan.

“Biar saya jelaskan.”

Ia kemudian meminta semua orang menunggu di luar.

Setelah ruang makan kembali sepi, Raka duduk di hadapanku.

“Dua tahun lalu ayah saya meninggal.”

Aku diam mendengarkan.

“Setelah itu, keluarga mulai membicarakan siapa yang akan mengambil kendali Mahendra Global. Kakek saya masih hidup, tetapi kesehatannya memburuk. Semua orang mendadak baik kepada saya.”

Ia tertawa hambar.

“Paman, sepupu, direktur, bahkan teman lama. Mereka mengirim hadiah, mengajak makan, menawarkan kerja sama.”

“Lalu?”

“Saya ingin tahu siapa yang masih mengenali saya ketika nama Mahendra tidak membawa keuntungan.”

Aku langsung teringat Selvi.

“Apa itu sebabnya kamu menemui orang-orang dari masa lalu?”

“Sebagian.”

Raka menjelaskan bahwa selama tiga minggu terakhir ia meninggalkan apartemen, kartu kredit, mobil, dan pengawalnya. Hanya Pak Surya yang mengetahui keberadaannya.

Ia hidup dengan uang tunai terbatas dan bekerja serabutan.

Beberapa hari terakhir, dompetnya dicuri ketika tidur di sebuah musala.

Sejak itu, keadaannya benar-benar seperti yang kulihat.

“Lalu uang di wadah plastik?”

“Saya membantu seorang bapak tunanetra berjualan tisu di dekat mal. Dia pergi salat dan menitipkan wadahnya. Ketika dia belum kembali, beberapa orang memberi uang kepada saya karena mengira saya mengemis.”

Aku hampir tertawa karena ironi itu.

“Jadi Selvi salah paham.”

“Dia melihat apa yang ingin dia lihat.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa sunyi.

Kemudian Raka menunjuk dokumen Vantara Capital.

“Tapi sekarang masalah yang lebih penting adalah perusahaanmu.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa kamu peduli?”

“Karena Vantara bukan perusahaan investasi biasa.”

Ia mengambil ponsel dari Pak Surya yang baru masuk membawa barang-barangnya.

Beberapa detik kemudian, sebuah dokumen muncul di layar.

Nama perusahaan.

Struktur kepemilikan.

Daftar direktur.

Kemudian satu nama membuat napasku tercekat.

Bima Prasetyo.

Direktur operasionalku.

“Bima?”

“Dia memiliki kepentingan tidak langsung melalui perusahaan cangkang.”

Aku merebut ponsel itu hampir tanpa sadar.

“Mustahil.”

“Periksa sendiri.”

Aku membaca berulang kali.

Vantara Capital akan memberikan pendanaan darurat kepada perusahaanku, tetapi klausul konversi memungkinkan mereka mengambil saham besar jika target tertentu tidak tercapai.

Dan orang yang mendorongku menerima kesepakatan itu adalah Bima.

“Kenapa dia melakukan ini?”

“Karena perusahaanmu sebenarnya lebih berharga daripada yang kamu kira.”

Raka membuka laporan lain.

Perusahaanku mengembangkan sistem logistik berbasis kecerdasan buatan untuk distribusi barang antarpulau. Kami memang sedang kesulitan kas akibat ekspansi terlalu cepat.

Tetapi teknologi kami memiliki sesuatu yang tidak dimiliki pesaing.

Data rute selama enam tahun.

“Vantara tidak ingin menyelamatkan perusahaanmu,” kata Raka. “Mereka ingin mengambilnya saat kamu lemah.”

Tanganku dingin.

Aku langsung menelepon kepala tim legal.

Tidak diangkat.

Kemudian kepala keuangan.

Tidak diangkat juga.

Raka menatap jam.

“Mereka mungkin sudah bergerak.”

“Apa maksudmu?”

Belum sempat ia menjawab, ponselku berdering.

Bima.

Aku mengangkatnya.

“Nadira, besok pagi rapat dimajukan pukul delapan.”

“Aku tidak akan tanda tangan.”

Hening.

“Nadira, jangan emosional.”

“Aku tahu hubunganmu dengan Vantara.”

Hening lagi.

Kali ini lebih lama.

Lalu Bima tertawa kecil.

“Siapa yang memberitahumu?”

Aku menatap Raka.

“Bukan urusanmu.”

“Nadira, dengarkan aku. Kalau kesepakatan itu batal, perusahaanmu tidak punya cukup uang untuk membayar vendor minggu depan.”

“Perusahaan kita.”

“Tidak.”

Nada Bima berubah dingin.

“Perusahaanmu.”

Telepon terputus.

Aku berdiri membeku.

Dua tahun.

Aku mempercayainya selama dua tahun.

Ia hadir ketika ayahku meninggal. Ia membantu perusahaan melewati krisis. Ia bahkan menjadi orang pertama yang berkata bahwa aku pantas menjadi CEO meski banyak pemegang saham meragukanku karena usiaku.

Ternyata mungkin semua itu hanya persiapan untuk menjatuhkanku.

“Aku tidak punya pilihan,” kataku.

Raka menatapku.

“Kamu selalu punya pilihan.”

“Besok kami membutuhkan sedikitnya tiga puluh miliar rupiah.”

“Berapa?”

Aku menatapnya.

“Tiga puluh miliar.”

Raka mengambil kartu hitam dari tanganku.

Lalu ia menyerahkannya kepada Pak Surya.

“Hubungi kantor.”

Aku langsung menggeleng.

“Jangan.”

Raka menatapku.

“Aku tidak menerima uang karena kasihan.”

“Siapa bilang saya mau memberimu uang?”

Aku terdiam.

“Saya ingin berinvestasi.”

“Kamu bahkan belum melakukan due diligence.”

“Saya sudah membaca laporan perusahaanmu.”

“Kapan?”

“Tiga bulan lalu.”

Aku membeku lagi.

Raka kemudian mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Mahendra Ventures sudah mengincar perusahaanmu sebelum Vantara masuk.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi pertemuan kita hari ini juga direncanakan?”

“Tidak.”

“Bagaimana aku bisa percaya?”

Raka diam cukup lama.

Kemudian ia mengambil tas kainnya dan berdiri.

“Jangan percaya saya.”

Ia berjalan menuju pintu.

“Periksa semuanya sendiri. Besok kalau kamu tetap ingin menandatangani kontrak Vantara, saya tidak akan menghalangi.”

“Raka.”

Ia berhenti.

“Kenapa membantu aku?”

Raka menoleh.

“Karena ketika semua orang mengira saya tidak punya apa-apa, kamu satu-satunya yang tidak bertanya siapa saya sebelum memberi saya makan.”

Lalu ia pergi.

Malam itu aku tidak tidur.

Timku bekerja sampai pagi memeriksa seluruh struktur Vantara.

Pukul lima lewat dua belas menit, kepala legal menelepon.

Suaranya gemetar.

“Bu Nadira, Pak Raka benar.”

Kami menemukan jejak transaksi.

Bima bukan sekadar memiliki hubungan dengan Vantara.

Ia telah membocorkan data keuangan internal selama delapan bulan.

Pukul delapan pagi aku masuk ke ruang rapat.

Bima sudah duduk bersama tiga perwakilan Vantara.

Kontrak berada di atas meja.

“Nadira.”

Ia tersenyum.

“Kita mulai saja.”

Aku duduk.

Membuka kontrak.

Mengambil pulpen.

Bima terlihat lega.

Lalu aku menutup pulpen itu kembali.

“Sebelum tanda tangan, ada satu orang yang ingin bertemu kalian.”

Pintu terbuka.

Raka masuk.

Kali ini aku hampir tidak mengenalinya.

Setelan gelap yang pas di tubuhnya. Rambut rapi. Jam sederhana di pergelangan tangan.

Tidak berlebihan.

Tetapi ketika perwakilan Vantara melihatnya, wajah mereka langsung berubah.

Salah seorang berdiri.

“Pak Raka?”

Bima menoleh cepat.

“Kalian kenal dia?”

Raka menarik kursi dan duduk di sebelahku.

“Selamat pagi.”

Wajah Bima memucat.

Raka meletakkan sebuah map di meja.

“Mahendra Ventures menawarkan pendanaan lima puluh miliar rupiah.”

Semua orang terdiam.

“Tanpa hak mengambil kendali perusahaan,” lanjutnya. “Tanpa manipulasi target audit. Dan valuasinya tiga kali lebih tinggi daripada tawaran Vantara.”

Bima berdiri.

“Ini tidak masuk akal.”

Raka menatapnya tenang.

“Yang lebih tidak masuk akal adalah seorang direktur membocorkan informasi perusahaan kepada pihak yang akan mengambil alih tempatnya bekerja.”

Raka mendorong map lain.

“Bukti transaksi, komunikasi, dan struktur beneficial ownership sudah dikirim kepada tim hukum.”

Wajah Bima kehilangan warna.

Ia menatapku.

“Nadira, aku bisa jelaskan.”

Aku berdiri.

“Jelaskan kepada pengacara.”

Bima mencoba mendekat.

Dua petugas keamanan langsung masuk.

Ketika ia dibawa keluar, aku tidak merasa puas.

Hanya kosong.

Pengkhianatan ternyata tidak selalu datang dari orang yang kita benci.

Kadang justru dari orang yang memegang payung ketika kita kehujanan, agar kita tidak sadar bahwa dialah yang sedang merusak atap rumah kita.

Tiga bulan kemudian, perusahaan kami kembali stabil.

Aku menerima investasi Mahendra Ventures, tetapi dengan satu syarat.

Raka tidak boleh mendapat kursi khusus hanya karena namanya.

Ia tertawa ketika membaca syarat itu.

“Galak juga.”

“Katanya jangan percaya kamu.”

“Bagus. Berarti kamu mendengarkan.”

Hubunganku dengan Raka berubah menjadi persahabatan yang aneh.

Kami sering berdiskusi.

Kadang berdebat.

Ia ternyata jauh lebih menyebalkan daripada saat duduk diam di trotoar.

Sementara Selvi menjadi cerita lain.

Video yang direkamnya malam itu ternyata sempat dikirim ke grup alumni.

Seseorang menyebarkannya.

Beberapa hari kemudian, ketika identitas Raka diketahui publik setelah ia menghadiri rapat pemegang saham Mahendra Global, video tersebut kembali viral.

Selvi langsung menghapus akun media sosialnya sementara.

Namun yang mengejutkanku adalah tindakan Raka.

Ia meminta tim hukumnya tidak melakukan apa pun.

“Kenapa?”

Kami sedang minum kopi ketika aku bertanya.

Raka mengangkat bahu.

“Dia sudah menerima akibat dari perbuatannya.”

“Kamu tidak marah?”

“Marah.”

“Lalu?”

“Kalau setiap orang yang mempermalukan kita harus dihancurkan, apa bedanya kita dengan mereka?”

Aku tidak menjawab.

Enam bulan kemudian, Raka resmi ditunjuk memimpin divisi investasi Mahendra Global.

Pada hari pengumumannya, ia mengundangku ke sebuah acara kecil.

Aku datang terlambat.

Ketika memasuki ruangan, aku melihat seseorang yang kukenal berdiri dekat pintu.

Selvi.

Ia terlihat jauh berbeda.

Tidak ada teman-temannya.

Tidak ada kamera.

Ia mendekati Raka setelah acara selesai.

“Aku minta maaf.”

Raka menatapnya.

Selvi menunduk.

“Bukan karena sekarang aku tahu siapa kamu. Aku minta maaf karena waktu itu aku merasa berhak merendahkanmu.”

Raka diam beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“Semoga kamu benar-benar mengerti perbedaannya.”

Selvi pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Aku berdiri di samping Raka.

“Kamu memaafkannya?”

“Saya menerima permintaan maafnya. Memaafkan itu proses lain.”

Aku tersenyum.

“Jawaban khas orang kaya.”

“Jawaban khas mantan pengemis.”

Aku tertawa.

Kemudian ia mengeluarkan kartu hitam yang pertama kali kulihat malam itu.

“Masih ingat?”

“Tentu.”

Ia menyerahkannya kepadaku.

Aku membalik kartu itu.

Untuk pertama kalinya aku melihat tulisan kecil di bagian belakang.

Bukan nomor rekening.

Bukan jabatan.

Hanya sebuah kalimat.

Nilai seseorang terlihat paling jelas ketika ia berhadapan dengan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Kakekmu?”

Raka mengangguk.

“Dia memberikan kartu ini ketika saya berusia tujuh belas tahun.”

Aku menatap orang-orang di ruangan itu.

Pengusaha.

Direktur.

Investor.

Orang-orang yang mungkin akan berdiri ketika Raka masuk karena mereka mengetahui nama belakangnya.

Tiba-tiba aku teringat pria dengan kemeja kusam di bawah hujan.

Tidak ada mobil.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada Mahendra Global.

Hanya seseorang yang meminta makanan ketika ditawari uang.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Malam ketika aku membawa pulang seorang pria yang dianggap pengemis, aku mengira akulah yang sedang menolongnya.

Ternyata justru dia yang menyelamatkan perusahaanku.

Namun bukan itu bagian yang paling mengubah hidupku.

Raka membuatku menyadari bahwa manusia sering menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencari tahu siapa seseorang setelah melihat kartu nama, rekening bank, jabatan, pakaian, atau mobilnya.

Padahal karakter seseorang justru paling mudah terlihat sebelum semua identitas itu diketahui.

Aku mengembalikan kartu hitam tersebut.

Raka memasukkannya ke saku.

“Kamu tahu hal paling lucu dari malam itu?” tanyanya.

“Apa?”

“Saya sebenarnya sudah menemukan dompet saya sebelum kamu datang.”

Aku menatapnya tajam.

“Jadi kamu bisa membeli makanan sendiri?”

“Bisa.”

“Raka!”

Ia tertawa dan mundur ketika aku hendak memukul lengannya.

“Tapi saya tidak berbohong. Saya memang belum makan.”

“Dasar penipu.”

“Bukan.”

Ia tersenyum.

“Saya hanya ingin tahu siapa yang akan berhenti.”

Aku hendak membalas, tetapi kalimat itu membuatku diam.

Di Jakarta, ribuan orang melewati satu sama lain setiap hari.

Kita melihat wajah, pakaian, kendaraan, jabatan.

Kemudian dalam beberapa detik, kita memutuskan siapa yang pantas dihormati dan siapa yang boleh diabaikan.

Malam itu ratusan orang melewati Raka.

Selvi berhenti untuk menertawakannya.

Aku berhenti karena hujan.

Dan mungkin pada akhirnya, perbedaan terbesar dalam hidup seseorang memang sesederhana itu.

Bukan siapa yang kita temui.

Melainkan apa yang kita lakukan sebelum mengetahui siapa mereka sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang