Air mata Ibu Corazon jatuh satu per satu membasahi kotak kayu kecil yang masih ia peluk erat.
Di dalam kotak itu tidak ada perhiasan mahal atau cek bernilai fantastis. Hanya sebuah jam tangan tua milik mendiang ayah Gabriel dan sepucuk surat yang ditulis dengan tangan gemetar.
Hadiah sederhana yang ia simpan selama bertahun-tahun.
Di dalam ballroom, musik kembali dimainkan. Para tamu melupakan kejadian tadi dan melanjutkan obrolan mereka.
Tak seorang pun menyadari bahwa seseorang telah melihat semuanya.

Seseorang yang berdiri diam di dekat pintu samping.
Gabriel.
Wajah pria itu pucat pasi. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sejak kecil, ia tahu persis apa arti kapalan di tangan ibunya.
Ia tahu bagaimana ibunya bekerja di sawah sejak subuh, mencuci pakaian tetangga hingga larut malam, bahkan menjual satu-satunya cincin pernikahannya agar Gabriel bisa kuliah arsitektur.
Selama bertahun-tahun, Ibu Corazon tidak pernah membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri.
Semua demi masa depan putranya.
Dan hari ini, di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia, wanita yang telah mengorbankan segalanya untuknya dipermalukan di depan ratusan orang.
Gabriel menarik napas panjang.
Lalu berjalan menuju altar.
Upacara dimulai.
Isabella tersenyum manis di hadapan para tamu, seolah tidak terjadi apa-apa.
Pendeta mengucapkan kata-kata sakral tentang cinta, penghormatan, dan keluarga.
Namun tepat saat cincin akan disematkan ke jari Isabella, Gabriel tiba-tiba mundur selangkah.
Ruangan mendadak sunyi.
“Ada apa, Sayang?” bisik Isabella sambil tersenyum kaku.
Gabriel memandang wanita itu lama.
Lalu memandang Nyonya Miranda.
Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke seluruh tamu.
Dengan suara berat dan tegas, ia berkata,
“Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
Suara napas terkejut terdengar dari seluruh penjuru ballroom.
Wajah Isabella seketika pucat.
“Apa maksudmu?” tanyanya terbata-bata.
Gabriel mengangkat cincin di tangannya.
“Saya bisa menerima perbedaan status sosial. Saya bisa menerima perbedaan gaya hidup. Tapi saya tidak akan pernah menerima seseorang yang menghina ibu saya.”
Isabella tertawa kecil, berusaha menenangkan keadaan.
“Gabriel, jangan berlebihan. Itu hanya masalah kecil.”
“Masalah kecil?”
Suara Gabriel meninggi.
“Wanita yang kalian sebut pengemis itu bekerja selama tiga puluh tahun agar saya bisa berdiri di sini hari ini!”
Ia menatap ibunya calon mertua dengan penuh kekecewaan.
“Ketika ayah saya meninggal, ibu saya tidak makan daging selama bertahun-tahun agar saya bisa membeli buku kuliah.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dan kalian mengusirnya hanya karena pakaiannya robek?”
Tanpa ragu, Gabriel melemparkan cincin itu ke atas meja dekorasi.
Cincin berlian bernilai jutaan peso itu memantul dan jatuh ke lantai.
“Saya membatalkan pernikahan ini.”
Ballroom mendadak kacau.
Isabella berteriak histeris.
Nyonya Miranda melangkah maju sambil menunjuk Gabriel.
“Kau membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu! Keluarga kami sudah menghabiskan jutaan peso untuk acara ini!”
Gabriel menatapnya dingin.
“Kalau harus memilih antara kekayaan dan ibu saya, saya akan memilih ibu saya setiap saat.”
Ia berbalik dan berlari keluar.
Di sudut belakang hotel, ia menemukan Ibu Corazon yang masih duduk sambil menangis.
“Ibu…”
Wanita tua itu mengangkat kepala.
“G-Gabriel? Kenapa kamu di sini? Upacaranya bagaimana?”
Gabriel berlutut di depan ibunya.
Air mata jatuh di pipinya.
“Maafkan Gabriel, Bu. Gabriel terlambat melindungi Ibu.”
Ibu Corazon menggeleng cepat.
“Jangan lakukan hal bodoh karena Ibu.”
Namun Gabriel memeluknya erat.
“Tidak ada pernikahan yang layak dipertahankan jika dibangun di atas penghinaan kepada orang tua.”
Beberapa tamu diam-diam mengikuti mereka keluar.
Salah satunya adalah seorang pria tua berjas abu-abu yang sejak tadi memperhatikan semuanya.
Ia mendekati Ibu Corazon dengan hormat.
“Nyonya Corazon, saya sudah menunggu Anda.”
Nyonya Miranda yang ikut keluar mendengus sinis.
“Siapa lagi ini? Teman sesama peminta-mintamu?”
Pria tua itu menatapnya datar.
“Saya Antonio Reyes, pengacara keluarga De la Cruz.”
Senyum sinis di wajah Nyonya Miranda perlahan memudar.
Nama itu sangat dikenal di kalangan pebisnis.
Antonio membuka map kulit yang dibawanya.
“Saya datang untuk menyerahkan dokumen pembelian.”
Semua orang saling berpandangan bingung.
Antonio melanjutkan,
“Tiga minggu lalu, Nyonya Corazon membeli mansion keluarga Miranda di Forbes Park secara tunai.”
Suasana langsung hening.
Wajah Isabella membeku.
Nyonya Miranda tertawa gugup.
“Mustahil! Mansion kami bernilai ratusan juta peso!”
Antonio mengeluarkan salinan kontrak.
“Tuan Ernesto Miranda menjual properti tersebut untuk menutupi utang investasinya yang gagal.”
Wajah Nyonya Miranda mendadak pucat.
Informasi itu selama ini mereka sembunyikan dari semua orang.
“Kami sudah beberapa kali menghubungi keluarga Anda terkait proses pengosongan rumah, tetapi tidak mendapat respons.”
Antonio menoleh pada Ibu Corazon.
“Karena itulah, hari ini saya meminta persetujuan akhir dari pemilik baru.”
Seluruh tamu terperangah.
Ibu Corazon menunduk malu.
“Saya sebenarnya tidak ingin semua orang tahu.”
Gabriel memandang ibunya dengan bingung.
“Ibu… bagaimana mungkin?”
Wanita tua itu tersenyum lembut.
“Beberapa tahun lalu, seorang investor menawarkan untuk membeli tanah pertanian peninggalan ayahmu. Ibu menolak berkali-kali.”
“Ibu juga punya sebagian saham kecil di perusahaan energi yang dibeli almarhum ayahmu puluhan tahun lalu. Nilainya naik sangat tinggi.”
“Tapi Ibu tidak pernah memberitahumu karena Ibu tidak ingin kamu sukses karena harta.”
Gabriel terdiam.
Selama ini, ibunya memilih hidup sederhana meski memiliki kekayaan yang cukup.
Antonio mengangguk.
“Setelah mengetahui keluarga Miranda mengalami kesulitan keuangan, Nyonya Corazon membeli mansion itu melalui perusahaan perwalian.”
Nyonya Miranda gemetar.
“Jadi… kami akan diusir?”
Ibu Corazon menatap wanita yang tadi menghina dan mendorongnya.
Namun tidak ada kebencian di matanya.
Hanya kesedihan.
“Saya tahu rasanya dipandang rendah.”
Ia menarik napas pelan.
“Karena itu, saya tidak akan melakukan hal yang sama.”
Semua orang terdiam.
“Saya memberi kalian waktu enam bulan untuk pindah dengan tenang.”
Air mata mulai mengalir di pipi Isabella.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa kekayaan sejati bukanlah mansion, gaun mahal, atau pesta mewah.
Melainkan hati yang tetap rendah meski memiliki segalanya.
Ibu Corazon berdiri perlahan.
Ia merapikan gaun lusuhnya.
Gaun yang tadi dihina habis-habisan.
Namun kini, tak seorang pun berani menertawakannya.
Karena semua orang akhirnya mengerti satu hal:
Pakaian yang robek tidak pernah membuat seseorang menjadi hina.
Kesombonganlah yang melakukannya.
