PUKUL LIMA PAGI, ORANG TUAKU TIBA-TIBA MEMBAWA SEPUPUKU, KAREN, KE KAMAR KONTRAKANKUKAMAR ITU SUDAH KUBAYAR SENDIRI SELAMA ENAM TAHUN, LALU MEREKA BERKATA, “MULAI BULAN INI, KAMU JUGA HARUS MENANGGUNG SEMUA BIAYANYA.”

Angela tidak langsung merebut amplop itu dari tangan Karen.

Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap sepupunya dengan wajah tenang yang justru membuat Karen semakin gelisah.

“Dari mana kamu mendapatkan itu?”

Karen menelan ludah.

“Aku cuma menemukannya.”

“Di mana?”

“Di antara barang-barangmu.”

Angela tersenyum tipis.

“Lucu. Karena selama bertahun-tahun Mama bilang amplop itu sudah hilang.”

Wajah Karen berubah.

Tangannya yang memegang amplop kuning mulai gemetar.

Dari ponsel Angela, suara pria yang tadi menelepon masih terdengar.

“Nona Angela, apakah semuanya baik-baik saja?”

Angela tidak menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada Karen.

“Berikan amplop itu.”

Karen mundur satu langkah.

“Kak, sebenarnya ini bukan apa-apa.”

“Kalau bukan apa-apa, kenapa wajahmu pucat?”

“Aku cuma takut kamu salah paham.”

Angela mendekat.

“Yang membuatku salah paham adalah kenyataan bahwa barang yang katanya hilang justru ada di tanganmu.”

Karen menggigit bibir.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, senyum manis dan sikap santainya lenyap.

“Aku disuruh mengambilnya.”

Angela berhenti.

“Siapa?”

Karen tidak menjawab.

Angela menyalakan pengeras suara ponselnya.

“Pak, apakah Anda masih di sana?”

“Ya.”

“Bisa ulangi apa yang Anda katakan tadi?”

Pria itu menarik napas.

“Berdasarkan dokumen yang kami temukan, almarhumah nenek Anda meninggalkan sebuah aset atas nama Anda. Proses administrasinya tidak selesai karena surat pemberitahuan kepada ahli waris tidak pernah ditindaklanjuti.”

Karen menunduk.

Angela merasa darahnya mengalir semakin cepat.

“Aset apa?”

“Sebuah rumah lama di kawasan Bandung Utara dan deposito investasi yang nilainya bertambah selama bertahun-tahun.”

Angela hampir kehilangan keseimbangan.

Rumah?

Deposito?

Ia bahkan tidak pernah mendengar tentang itu.

“Berapa nilainya?”

Pria itu sempat diam.

“Perkiraan terakhir, nilai rumahnya sekitar enam miliar rupiah. Untuk deposito dan hasil investasinya, kami masih melakukan perhitungan. Kemungkinan lebih dari dua miliar.”

Karen tiba-tiba menjatuhkan amplop.

Angela tidak bergerak.

Delapan miliar.

Selama bertahun-tahun ia bekerja dari pagi hingga malam, mengambil pekerjaan sampingan, menunda liburan, menabung sedikit demi sedikit, sementara ada warisan bernilai miliaran rupiah yang sengaja disembunyikan darinya.

Dan orang-orang yang menyembunyikannya adalah keluarganya sendiri.

Angela mengambil amplop dari lantai.

Di bagian depannya tertulis namanya dengan tulisan tangan yang sudah memudar.

Angela Larasati.

Tulisan itu langsung ia kenali.

Tulisan neneknya.

Tangannya bergetar saat membuka amplop.

Di dalamnya terdapat tiga lembar kertas.

Satu surat.

Satu salinan sertifikat.

Dan satu dokumen berstempel notaris.

Angela membaca surat itu terlebih dahulu.

“Untuk Angela, cucu Nenek yang paling keras kepala dan paling jarang meminta apa pun.”

Matanya langsung panas.

Ia masih ingat neneknya.

Perempuan kecil berambut putih yang selalu menyelipkan uang lima puluh ribu ke dalam tasnya setiap kali Angela pulang.

Neneknya sering berkata bahwa orang yang terbiasa menahan diri paling mudah dimanfaatkan orang lain.

Saat itu Angela menganggapnya hanya nasihat biasa.

Sekarang ia memahami maksud sebenarnya.

Surat itu berlanjut.

“Nenek tahu setelah Nenek tidak ada, mungkin akan ada orang yang merasa lebih berhak menentukan hidupmu. Karena itu, rumah ini Nenek berikan hanya kepadamu. Jangan menjualnya hanya karena orang lain berkata mereka keluarga. Keluarga yang baik tidak akan membuatmu merasa bersalah hanya karena kamu ingin memiliki sesuatu untuk dirimu sendiri.”

Air mata Angela jatuh.

Karen berdiri membeku.

Angela menatapnya.

“Jadi kamu tahu tentang ini?”

Karen menggeleng cepat.

“Aku baru tahu beberapa bulan lalu.”

“Beberapa bulan?”

“Kak…”

“Jawab.”

Karen mulai menangis.

“Om dan Tante yang cerita.”

Angela tertawa pelan.

Bukan karena lucu.

Tetapi karena akhirnya semua kepingan itu tersusun.

Kedatangan Karen.

Dua koper besar.

Perintah untuk tinggal bersama.

Ancaman bahwa semua barang Angela adalah milik keluarga.

Semuanya bukan kebetulan.

“Kenapa kamu dipindahkan ke sini?”

Karen menangis semakin keras.

“Mereka bilang kalau aku tinggal bersamamu, aku bisa cari dokumen lama. Mereka pikir kamu menyimpannya.”

Angela memejamkan mata.

Ia merasa mual.

“Dan setelah menemukannya?”

Karen tidak menjawab.

Angela memandangnya tajam.

“Setelah menemukannya, apa rencananya?”

Karen akhirnya berbisik.

“Dibakar.”

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.

Angela bahkan bisa mendengar suara kipas angin kecil di sudut kamar.

“Siapa yang menyuruhmu?”

Karen tidak perlu menjawab.

Pada saat itu ponsel Angela berdering.

Mama.

Angela mengangkatnya.

“Ya?”

Suara ibunya terdengar tegang.

“Karen bilang kamu menemukan surat lama.”

Angela melirik Karen.

Cepat sekali.

“Mama tahu tentang surat itu?”

Hening.

“Angela, dengarkan Mama dulu.”

“Sejak kapan Mama tahu?”

“Bukan begitu masalahnya.”

“Sejak kapan?”

Ibunya menarik napas panjang.

“Sejak nenekmu meninggal.”

Angela menutup mata.

Lebih dari sembilan tahun.

Selama sembilan tahun, ibunya tahu.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena waktu itu kamu masih muda.”

“Aku dua puluh dua tahun.”

“Kamu belum mengerti mengelola uang.”

“Sekarang aku tiga puluh satu tahun.”

“Kami berniat memberitahumu.”

“Kapan? Setelah aku mati?”

Ibunya mulai meninggikan suara.

“Jangan bicara seperti itu kepada orang tua!”

Angela tiba-tiba merasa sesuatu dalam dirinya berubah.

Selama ini setiap kali ibunya meninggikan suara, Angela akan mengalah.

Setiap kali ayahnya berkata keluarga harus saling membantu, Angela akan membuka rekening.

Setiap kali Karen atau kerabat lain kesulitan, namanya selalu menjadi orang pertama yang dihubungi.

Tetapi malam itu, tidak ada lagi rasa takut.

Yang ada hanya kelelahan.

“Aku ingin bicara dengan Papa.”

Beberapa detik kemudian suara ayahnya muncul.

“Angela.”

“Papa tahu soal warisan Nenek?”

“Ayah tahu.”

“Dan Papa sengaja menyembunyikannya?”

“Kami melindungimu.”

Angela tertawa.

“Melindungi?”

“Kamu belum menikah. Kalau kamu punya aset sebanyak itu, nanti kamu bisa salah pilih pasangan, ditipu orang, atau membuang uang.”

“Jadi Papa menyimpannya?”

“Kami mengurusnya.”

Angela membuka salinan dokumen kedua.

Di bagian bawah terdapat beberapa catatan transaksi.

Ia membacanya pelan.

“Ada permohonan perubahan pengelola aset tujuh tahun lalu.”

Ayahnya diam.

“Nama pemohonnya Papa.”

Tidak ada jawaban.

Angela melanjutkan.

“Ada surat permohonan penjualan rumah lima tahun lalu.”

Sunyi.

“Papa juga.”

“Angela, kamu tidak paham masalahnya.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Ayahnya mendesah keras.

“Waktu itu bisnis keluarga sedang sulit. Kami berniat menjual rumah itu untuk menyelamatkan semuanya. Tapi notaris menolak karena aset tersebut secara hukum hanya milikmu.”

Angela merasa dadanya seperti ditusuk.

Jadi mereka bukan sekadar menyembunyikan warisan.

Mereka pernah mencoba menjualnya.

Tanpa sepengetahuannya.

“Kalian ingin mengambilnya.”

“Jangan memakai kata mengambil.”

“Lalu apa?”

“Itu tetap aset keluarga.”

“Tidak.”

Angela menatap surat neneknya.

“Itu milikku.”

Ayahnya langsung membentak.

“Kamu bisa punya hidup seperti sekarang karena siapa? Kami yang membesarkanmu!”

Angela terdiam beberapa detik.

Kalimat itu.

Kalimat yang selalu digunakan.

Kalimat yang membuatnya merasa bahwa kelahirannya adalah utang yang harus dibayar seumur hidup.

“Papa benar.”

Nada suara Angela membuat ayahnya berhenti.

“Kalian membesarkanku.”

“Bagus kalau kamu sadar.”

“Tapi aku tidak pernah meminta dilahirkan sebagai investasi.”

Telepon mendadak hening.

Angela melanjutkan.

“Enam tahun aku bayar kontrakan ini sendiri. Semua perabot aku beli sendiri. Tagihan listrik, makan, transportasi, semuanya sendiri. Bahkan ketika Papa minta uang, aku tetap bantu.”

“Karena kamu anak kami.”

“Aku anak kalian. Bukan rekening bank kalian.”

Ibunya terdengar menangis dari belakang.

“Angela, kenapa sekarang kamu jadi seperti ini?”

Kalimat itu justru membuat Angela semakin tenang.

“Aku tidak berubah, Ma. Aku cuma akhirnya berhenti takut mengecewakan kalian.”

Ia memutus sambungan telepon.

Karen duduk perlahan di tepi tempat tidur.

“Kak…”

Angela memandangnya.

“Besok pagi kamu pindah.”

Karen terkejut.

“Aku ke mana?”

“Itu bukan tanggung jawabku.”

“Tapi Om dan Tante bilang…”

“Kalau mereka yang menyuruhmu datang, mereka juga yang bisa menjemputmu.”

Karen mulai menangis lagi.

“Aku benar-benar sedang tidak punya uang.”

Angela diam.

“Aku kehilangan pekerjaan dua bulan lalu. Pacarku juga pergi. Aku malu pulang ke rumah karena semua orang tahu aku gagal.”

Untuk beberapa saat, Angela melihat sesuatu yang berbeda pada wajah Karen.

Bukan kelicikan.

Bukan kesombongan.

Hanya seorang perempuan yang juga takut dianggap tidak berguna.

Angela duduk di kursi yang tadi dipindahkan ke sudut.

“Kenapa kamu mau membantu mereka mencari dokumen?”

Karen menunduk.

“Karena mereka janji akan memberiku sebagian rumah itu.”

Angela mengangguk pelan.

Akhirnya jujur.

“Berapa?”

“Lima ratus juta.”

Angela hampir tertawa.

“Kamu mau menghancurkan surat warisan orang lain demi lima ratus juta?”

Karen menutupi wajah.

“Aku pikir kamu tidak akan pernah tahu.”

Kalimat itu menyakitkan lebih dalam daripada permintaan maaf apa pun.

Angela berdiri.

“Justru itu masalah keluarga ini.”

Karen menatapnya.

“Semua orang selalu berpikir aku tidak akan tahu. Tidak akan marah. Tidak akan menolak.”

Malam itu Angela tidak tidur.

Ia memotret semua dokumen, mengirim salinan kepada pengacara yang menghubunginya, lalu menyimpan dokumen asli di loker bank keesokan paginya.

Siangnya, Angela bertemu dengan notaris bernama Bapak Reza.

Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu meletakkan beberapa map tebal di atas meja.

“Ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui.”

Angela sudah merasa tidak ada lagi hal yang bisa mengejutkannya.

Ternyata ia salah.

“Rumah itu sekarang ditempati seseorang.”

“Siapa?”

Bapak Reza mendorong sebuah foto ke arahnya.

Angela membeku.

Rumah besar dua lantai itu berdiri di kawasan sejuk dengan halaman luas.

Di depan rumah tampak mobil ayahnya.

“Orang tua Anda.”

Angela tidak berkedip.

“Mereka tinggal di sana?”

“Sudah hampir tujuh tahun.”

“Tapi mereka bilang rumah mereka sendiri.”

“Secara hukum, rumah itu milik Anda.”

Angela mengingat semua uang yang selama ini dikirimnya.

Biaya perbaikan rumah Mama.

Biaya pajak rumah.

Biaya renovasi dapur.

Bahkan pembelian AC baru.

Ternyata ia selama ini membayar perawatan rumah yang sebenarnya miliknya sendiri.

Namun kejutan terbesar belum selesai.

Bapak Reza membuka dokumen terakhir.

“Nenek Anda juga meninggalkan catatan khusus.”

Angela membaca.

Jika dalam waktu sepuluh tahun setelah kematiannya Angela tidak diberi tahu tentang warisan ini karena kesengajaan anggota keluarga, maka seluruh biaya penggunaan aset harus dihitung sebagai utang kepada ahli waris.

Angela mengangkat wajah perlahan.

“Artinya?”

“Orang tua Anda tidak hanya harus menyerahkan rumah itu.”

Bapak Reza menatapnya.

“Mereka secara hukum bisa diminta membayar kompensasi atas penggunaan rumah selama hampir tujuh tahun.”

Angela tidak langsung menjawab.

Seminggu kemudian, seluruh keluarga berkumpul.

Bukan di kontrakan Angela.

Melainkan di rumah yang selama ini ditempati orang tuanya.

Rumah neneknya.

Ayahnya berdiri di ruang tamu dengan wajah merah.

Ibunya menangis.

Karen duduk di sofa sambil menunduk.

“Kamu benar-benar mau mengusir orang tuamu?”

Angela menatap sekeliling.

Di dinding tergantung foto keluarganya.

Ironisnya, tidak ada satu pun foto nenek.

“Aku tidak mengusir siapa pun.”

“Lalu surat pengacara ini apa?”

“Aku memberi waktu tiga bulan.”

“Ini rumah kami!”

Angela mengeluarkan sertifikat asli.

“Bukan.”

Ayahnya menunjuk wajah Angela dengan marah.

“Kamu akan menyesal.”

Dulu, ancaman itu pasti membuat Angela menangis.

Sekarang tidak lagi.

“Mungkin.”

Angela mengangguk.

“Tapi kalau aku menyesal, setidaknya itu keputusan yang aku buat sendiri.”

Ibunya memeluk lengannya.

“Angela, jangan lakukan ini. Kalau rumah ini diambil, Mama dan Papa tinggal di mana?”

Angela menatap ibunya.

Pertanyaan itu terdengar sangat familiar.

Persis seperti saat ia bertanya ke mana dirinya harus pergi jika kontrakannya direbut.

Angela menarik tangannya perlahan.

“Bukankah Mama bilang keluarga harus saling membantu?”

Ibunya membeku.

Angela menoleh kepada Karen.

“Karen sedang tinggal dengan kalian sekarang, kan?”

Tidak ada yang menjawab.

Angela tersenyum kecil.

“Kalian bisa berbagi tempat.”

Tiga bulan kemudian, Angela pindah ke rumah neneknya.

Bukan karena ingin hidup mewah.

Ia bahkan hanya memakai satu kamar di lantai bawah.

Sebagian rumah diubah menjadi ruang kerja dan perpustakaan kecil.

Ia menjual beberapa perabot lama, tetapi mempertahankan meja kayu nenek di dekat jendela.

Sementara deposito warisan itu tidak ia habiskan.

Angela menggunakan sebagian hasil investasinya untuk membuat dana bantuan pendidikan bagi perempuan muda yang bekerja sambil kuliah.

Saat Karen mengetahui hal itu, ia datang menemui Angela.

“Aku pikir kamu akan menggunakan semuanya untuk balas dendam.”

Angela sedang menyiram tanaman di halaman.

“Dulu aku juga berpikir begitu.”

“Lalu kenapa tidak?”

Angela tersenyum.

“Karena kalau aku menghabiskan hidup untuk membalas mereka, berarti mereka masih mengendalikan hidupku.”

Karen terdiam.

“Apa Kakak masih marah padaku?”

“Masih.”

Jawaban itu membuat Karen terkejut.

“Tapi aku juga tidak ingin membencimu selamanya.”

Karen menunduk.

“Aku dapat kerja.”

Angela menoleh.

“Bagus.”

“Gajinya tidak besar.”

“Tidak apa-apa.”

“Aku juga akan mengembalikan uang yang dulu pernah Kakak kasih.”

Angela tersenyum tipis.

“Pelan-pelan saja.”

Karen mengangguk.

Sebelum pergi, ia berhenti di pintu.

“Kak.”

“Ya?”

“Kalau waktu itu aku tidak membuka kotak dokumen…”

Angela menatap meja nenek di dalam rumah.

“Mungkin aku masih hidup seperti dulu.”

Karen terdiam.

Angela melanjutkan.

“Jadi anehnya, orang yang datang untuk mengambil rumahku justru membantu mengembalikan rumahku.”

Untuk pertama kalinya, Karen tersenyum tanpa kepura-puraan.

Setelah Karen pergi, Angela duduk di meja nenek.

Di laci paling bawah ia menemukan sebuah amplop kecil yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Di depan amplop itu hanya ada satu kalimat.

Untuk dibuka ketika Angela akhirnya berani berkata tidak.

Angela tertegun.

Dengan tangan gemetar, ia membuka surat tersebut.

Isinya hanya beberapa baris.

“Nenek tidak meninggalkan rumah ini supaya kamu menjadi kaya. Nenek meninggalkannya supaya suatu hari, kalau semua orang membuatmu merasa bahwa kamu tidak berhak memiliki hidupmu sendiri, kamu tetap punya satu pintu yang bisa kamu tutup dan berkata, ini rumahku.”

Angela membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu ia menangis.

Bukan karena kehilangan.

Bukan karena pengkhianatan.

Melainkan karena setelah bertahun-tahun, ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan keluarganya.

Membantu keluarga adalah kebaikan.

Mengorbankan diri tanpa batas bukan kewajiban.

Memaafkan adalah pilihan.

Tetapi menjaga harga diri adalah hak.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Angela menutup pintu rumahnya tanpa merasa bersalah kepada siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang