Lima menit setelah perceraian kami resmi, Kak Rendra menyerahkan kunci mobil kepadaku dan berkata dengan suara yang tidak memberi ruang untuk membantah.
“Kalau kamu masih percaya sama Kakak, jangan pernah kembali ke rumah itu.”
Aku menatapnya lama.
“Itu rumahku, Kak.”
“Justru karena itu rumahmu, kamu harus bertindak sekarang.”

Sepuluh tahun pernikahanku dengan Arga berakhir hanya dengan beberapa lembar dokumen dan satu tanda tangan. Rasanya aneh. Sepuluh tahun hidup bersama, ribuan makan malam, perjalanan, pertengkaran, ulang tahun, dan janji, ternyata bisa ditutup dalam waktu kurang dari satu jam.
Yang lebih menyakitkan adalah Arga keluar dari gedung pengadilan sambil menggandeng Vanessa.
Perempuan yang selama hampir setahun selalu dia sebut hanya teman kerja.
Vanessa mengenakan gaun putih dan tersenyum seperti baru memenangkan sesuatu. Ketika melewatiku, dia sengaja merapatkan tubuhnya ke Arga.
Arga berhenti.
“Terima kasih, Nara.”
Aku mengernyit.
“Untuk apa?”
“Kalau kamu terus mempersulit perceraian, aku dan Vanessa tidak mungkin memulai hidup baru secepat ini.”
Vanessa tertawa kecil.
Aku tidak menjawab.
Mereka masuk ke mobil dan pergi.
Kak Rendra mengambil ponselku.
“Akses administrator rumah masih di tanganmu?”
Aku mengangguk.
Rumah dua lantai di kawasan Jakarta Selatan itu kubeli tiga tahun sebelum menikah dengan Arga, dari hasil menjual sebagian saham perusahaan teknologi yang kurintis bersama Kak Rendra.
Semua sistem rumah terdaftar atas namaku.
Smart gate, CCTV, alarm, pengenalan wajah, sampai akses garasi.
Setelah menikah, aku memberikan akses penuh kepada Arga karena saat itu aku percaya pernikahan berarti tidak ada lagi milikku dan milikmu.
Ternyata aku salah.
“Cabut semuanya,” kata Kak Rendra.
Tanganku sempat gemetar.
Lalu aku menekan tombol pertama.
Akses wajah Arga dihapus.
Kunci digital dinonaktifkan.
Kode darurat dibatalkan.
Hak administrator sekundernya dicabut.
Aku bahkan menghapus akses kendaraan yang selama ini dia gunakan.
Begitu selesai, sebuah pesan masuk.
Dari Arga.
Besok suruh orang mengambil semua barangmu.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tertawa kecil.
Dia benar-benar mengira rumah itu miliknya.
Malam harinya, sahabatku, Dinda, mengirim tautan livestream.
“Nar, kamu harus lihat ini.”
Aku membukanya.
Dadaku langsung terasa sesak.
Rumahku dipenuhi dekorasi.
Balon putih dan emas memenuhi taman. Lampu-lampu kecil digantung di pepohonan. Ada meja katering, musik, dan puluhan tamu.
Arga berdiri di depan gerbang sambil mengangkat gelas.
“Mulai malam ini, ini rumah kami berdua.”
Tepuk tangan terdengar.
Vanessa tersenyum lebar.
“Aku yang pertama masuk sebagai nyonya rumah sebenarnya.”
Dia berdiri di depan pemindai.
Bunyi pendek terdengar.
Lampu merah menyala.
Face Not Recognized.
Beberapa tamu tertawa kecil karena mengira itu sekadar gangguan teknis.
Arga maju.
“Geser. Sistemnya memang kadang sensitif.”
Dia menghadapkan wajahnya.
Bunyi yang sama terdengar.
Access Revoked.
Senyumnya hilang.
Arga mencoba kunci digitalnya.
Tidak berhasil.
Sekali lagi.
Tetap tidak berhasil.
Para tamu mulai berbisik.
Vanessa menarik lengannya.
“Hubungi maintenance.”
Arga menelepon layanan teknis.
Karena sambungan terhubung ke speaker gerbang, suara petugas terdengar jelas.
“Mohon maaf, Pak. Seluruh akses Anda terhadap properti tersebut telah dicabut oleh pemilik sah pada pukul 15.47 sore ini.”
Wajah Arga berubah.
“Pemilik sah?”
“Iya, Pak.”
“Nama saya Arga Pratama. Saya tinggal di sini sepuluh tahun.”
“Mohon maaf. Nama pemilik yang terdaftar bukan Arga Pratama.”
Beberapa tamu berhenti tersenyum.
Vanessa menatap Arga.
“Bukannya kamu bilang rumah ini atas nama kamu?”
Arga tidak menjawab.
Saat itulah sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun membawa map tebal.
Begitu melihatnya, wajah Arga semakin pucat.
Aku mengenalnya.
Pak Surya.
Notaris keluarga kami.
“Selamat malam, Pak Arga,” katanya.
“Apa yang Bapak lakukan di sini?”
Pak Surya membuka map.
“Saya datang atas permintaan pemilik properti untuk menyampaikan pemberitahuan resmi.”
Vanessa maju.
“Pemilik properti? Maksud Bapak siapa?”
Pak Surya memandangnya tenang.
“Ibu Nara Adiningrum.”
Suasana seketika sunyi.
Vanessa menoleh tajam kepada Arga.
“Kamu bilang rumah ini dibeli setelah kalian menikah.”
Arga merendahkan suara.
“Vanessa, nanti aku jelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Pak Surya mengeluarkan salinan sertifikat.
“Properti ini dibeli Ibu Nara tiga tahun sebelum pernikahan. Tidak pernah dialihkan, dijual, ataupun dijadikan harta bersama.”
Arga mengepalkan tangan.
“Dia istri saya selama sepuluh tahun. Saya punya hak.”
“Secara hukum, perceraian Anda sudah diputus hari ini. Mengenai kepemilikan rumah, dokumennya sangat jelas.”
Seorang tamu mulai mematikan livestream.
Namun terlambat.
Ribuan orang sudah menontonnya.
Aku melihat semuanya dari layar ponsel di apartemen Kak Rendra.
Anehnya, aku tidak merasa puas.
Aku hanya merasa lelah.
Kemudian Pak Surya mengatakan sesuatu yang bahkan membuatku duduk tegak.
“Selain itu, saya perlu menyampaikan bahwa kendaraan yang Anda gunakan selama ini harus dikembalikan paling lambat besok pukul dua belas siang.”
Arga membelalak.
“Mobil juga?”
“Terdaftar atas nama perusahaan milik Ibu Nara.”
Vanessa perlahan melepaskan tangannya dari Arga.
Arga mengambil ponselnya dan meneleponku.
Aku tidak mengangkat.
Dia menelepon lagi.
Lima kali.
Sepuluh kali.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
Nara, jangan kekanak-kanakan. Buka gerbangnya. Banyak orang di sini.
Aku membalas satu kalimat.
Bukankah kamu bilang besok aku harus menyuruh orang mengambil barangku?
Tiga titik muncul cukup lama.
Kemudian hilang.
Aku melanjutkan.
Aku sudah melakukannya sore tadi. Semua barang pribadiku sudah dipindahkan. Barangmu sudah dikemas dan bisa diambil melalui pengacara.
Teleponku langsung berdering.
Kali ini kuangkat.
“Kamu sengaja mempermalukanku?” bentaknya.
Aku menjauhkan ponsel dari telinga.
“Tidak.”
“Lalu ini apa?”
“Kamu yang mengadakan pesta di rumah orang lain tanpa izin.”
“Rumah orang lain?”
Suaranya meninggi.
“Sepuluh tahun aku tinggal di sana!”
“Dan sepuluh tahun aku tidak pernah menagih sewa.”
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, Kak Rendra tertawa.
Arga mendengarnya.
“Kakakmu yang menghasutmu, kan?”
Aku menatap jendela.
Dulu setiap kali Arga marah, aku selalu buru-buru menjelaskan. Aku takut dia salah paham. Aku takut dia pergi.
Malam itu aku tidak takut lagi.
“Tidak, Ga. Kakakku cuma mengingatkanku pada sesuatu yang sudah lama kulupakan.”
“Apa?”
“Bahwa baik hati tidak sama dengan membiarkan orang mengambil semuanya.”
Aku menutup telepon.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Keesokan paginya, Pak Surya datang membawa dokumen lain.
Dia meletakkan sebuah folder di meja.
“Kamu harus lihat ini.”
Di dalamnya terdapat laporan transaksi rekening perusahaan.
Aku membaca beberapa halaman.
Kemudian berhenti.
Ada transfer rutin ke sebuah perusahaan bernama VNS Creative.
Nominalnya tidak kecil.
Total hampir satu miliar rupiah selama delapan belas bulan.
“Apa ini?”
Kak Rendra menjawab.
“Perusahaan Vanessa.”
Aku menatapnya.
“Arga bilang pembayaran itu untuk konsultan pemasaran.”
“Tidak ada pekerjaan yang pernah dilakukan.”
Ternyata beberapa bulan sebelumnya Kak Rendra sudah curiga. Dia tidak mengatakan apa pun kepadaku karena ingin mengumpulkan bukti terlebih dahulu.
Arga bukan hanya berselingkuh.
Dia menggunakan akses yang kuberikan kepadanya sebagai direktur operasional untuk mengalihkan uang perusahaan kepada Vanessa melalui kontrak fiktif.
Aku merasa mual.
Jadi ketika dia sibuk meyakinkanku bahwa aku terlalu curiga, terlalu sibuk bekerja, dan gagal menjadi istri yang menyenangkan, dia sebenarnya sedang menggunakan kepercayaanku untuk membiayai kehidupan dengan perempuan lain.
“Kita bisa menempuh jalur hukum,” kata Pak Surya.
Aku menutup folder.
“Lakukan.”
Siang itu Arga datang ke kantor Kak Rendra.
Tidak ada lagi kemeja mahal atau senyum percaya diri.
Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman.
“Nara, kita perlu bicara.”
Aku memintanya duduk.
Dia melihat folder di meja.
Wajahnya berubah.
“Kamu sudah tahu?”
“Seharusnya aku yang bertanya.”
Dia mengusap wajah.
“Nara, dengarkan dulu. Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Vanessa membutuhkan modal. Aku cuma meminjamkan dana sementara.”
“Dari rekening perusahaan tanpa persetujuan?”
“Aku akan mengembalikannya.”
“Kapan?”
Dia diam.
Aku mendorong salinan laporan transaksi ke arahnya.
“Setelah perceraian? Setelah kamu mengambil rumahku juga?”
Arga menatapku.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kemarahan di wajahnya.
Hanya ketakutan.
“Jangan laporkan aku.”
Aku hampir tidak percaya.
Sepuluh tahun aku menunggu lelaki itu meminta maaf.
Sekarang ketika akhirnya dia merendahkan suaranya, bukan karena telah menghancurkan pernikahan kami.
Dia takut kehilangan dirinya sendiri.
“Kenapa?”
“Nara, kita pernah menjadi keluarga.”
Aku tersenyum pahit.
“Kalimat itu seharusnya kamu ingat sebelum semuanya terjadi.”
Tiba-tiba pintu terbuka.
Vanessa masuk.
Wajahnya sembap.
Dia melempar sebuah amplop ke meja.
“Aku tidak mau ikut terseret.”
Arga berdiri.
“Kamu ngapain ke sini?”
Vanessa mengabaikannya.
Dia menatapku.
“Semua ada di sana. Chat, kontrak, transfer, semuanya.”
Arga langsung pucat.
“Vanessa!”
“Aku pikir rumah itu milikmu. Mobil itu milikmu. Perusahaan itu juga milikmu.”
Vanessa tertawa getir.
“Ternyata selama ini kamu hidup dari milik istrimu.”
“Jangan pura-pura suci. Kamu menikmati semuanya!”
“Iya. Dan itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”
Dia menatapku sebentar.
“Aku tidak minta kamu memaafkanku.”
Aku tidak menjawab.
Vanessa pergi.
Arga berdiri membeku.
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa yang berat.
Proses hukum berjalan. Sejumlah aset Arga disita untuk mengganti dana perusahaan. Dia kehilangan jabatannya. Kasus itu tidak langsung menghancurkan hidupnya, tetapi untuk pertama kalinya dia harus bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang selama bertahun-tahun selalu dia lemparkan kepada orang lain.
Aku menjual rumah itu.
Banyak orang mengira aku akan mempertahankannya karena rumah tersebut adalah simbol kemenangan.
Tetapi bagiku, rumah itu sudah terlalu penuh kenangan.
Aku membeli rumah yang lebih kecil di pinggir Jakarta.
Tidak ada kolam renang.
Tidak ada taman luas.
Namun jendelanya menghadap pepohonan dan setiap pagi cahaya matahari masuk ke ruang makan.
Enam bulan kemudian, Kak Rendra datang membawa sebuah kotak kecil.
“Hadiah rumah baru.”
Aku membukanya.
Sebuah smart lock.
Aku tertawa.
“Serius?”
“Teknologi terbaik.”
“Setelah semua yang terjadi?”
Dia ikut tertawa.
“Justru karena itu.”
Malam itu aku memasang akses wajah untuk pertama kalinya.
Sistem meminta nama pemilik utama.
Aku mengetik namaku sendiri.
Nara Adiningrum.
Lalu muncul pilihan.
Tambahkan pengguna lain?
Jariku berhenti beberapa detik.
Dulu aku mungkin akan langsung menambahkan seseorang yang kucintai, memberinya semua akses, semua kata sandi, bahkan seluruh kendali atas hidupku.
Kali ini aku memilih Tidak.
Bukan karena aku tidak akan pernah mempercayai siapa pun lagi.
Aku hanya akhirnya memahami bahwa mencintai seseorang tidak mengharuskan kita menyerahkan seluruh kunci kehidupan kepadanya.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari nomor yang sudah berbulan-bulan tidak menghubungiku.
Arga.
Aku tidak membukanya.
Aku berdiri di depan pintu rumah baruku.
Pemindai mengenali wajahku.
Lampu hijau menyala.
Access Granted.
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak membutuhkan izin siapa pun untuk pulang.
Karena akhirnya aku tahu rumah bukanlah tempat seseorang berjanji akan tinggal bersamamu selamanya.
Rumah adalah tempat di mana kau tidak perlu kehilangan dirimu sendiri agar seseorang memilih untuk tetap tinggal.
