“Mas Aji…”
Yuni mundur setengah langkah.
Wajahnya yang tadi dipenuhi kesedihan kini berubah menjadi kebingungan. Matanya menatap tanganku yang sudah tidak gemetar, lalu perlahan naik ke wajahku.
“Mas… barusan ngomong apa?”
Aku tidak langsung menjawab.

Aku berdiri dari dipan bambu. Punggung yang sejak tadi kubungkukkan kini tegak. Tatapan kosong yang kupasang sejak turun dari mobil angkutan tadi lenyap tanpa sisa.
Yuni semakin pucat.
“Mas Aji?”
Aku menggenggam kedua tangannya.
“Maafkan aku, Yun.”
“Maaf?”
“Aku tidak gila.”
Yuni membeku.
Beberapa detik kemudian ia menarik tangannya.
“Jangan bercanda, Mas. Aku lagi nggak sanggup.”
“Aku serius.”
Aku mengambil ponsel kecil yang kusembunyikan di lapisan dalam koper lusuh. Setelah menyalakannya, puluhan pesan dan panggilan masuk memenuhi layar.
Yuni hanya menatap tanpa memahami.
Aku menghubungi satu nomor.
“Pak Damar, tesnya selesai. Besok pagi jalankan semuanya sesuai rencana.”
Suara dari seberang terdengar jelas.
“Baik, Pak Aji. Selamat datang kembali di Indonesia.”
Aku memutus sambungan.
Yuni menatapku dengan bibir bergetar.
“Tes?”
Aku menarik napas panjang.
Lima tahun lalu aku meninggalkan Indonesia bukan sebagai pengusaha. Aku hanya seorang programmer dengan tabungan pas-pasan dan mimpi yang sering ditertawakan orang. Di Jerman, aku bertemu dua rekan yang kemudian membangun perusahaan teknologi bersamaku.
Kami gagal berkali-kali.
Pernah selama tiga bulan aku hanya makan roti murah dan mi instan agar bisa membayar server. Namun tiga tahun kemudian, perusahaan kami mendapat investasi besar. Teknologi logistik yang kami kembangkan digunakan di beberapa negara Eropa.
Nilai sahamku kini lebih dari cukup untuk membuat keluargaku hidup tanpa bekerja seumur hidup.
Tapi semakin banyak uang yang kumiliki, semakin aneh perubahan orang-orang di sekelilingku.
Ibu mulai meminta rumah lebih besar.
Bagas meminta mobil.
Setiap kali aku menelepon, pertanyaan mereka hampir selalu sama.
“Kapan kirim uang?”
Hanya Yuni yang berbeda.
Dia tidak pernah meminta apa pun.
Bahkan ketika aku menawarkan membelikannya mobil, dia menjawab, “Motor yang sekarang masih jalan. Uangnya disimpan saja, Mas.”
Beberapa bulan sebelum pulang, kecurigaanku semakin kuat.
Aku sengaja memberi tahu keluarga bahwa bisnis yang kurintis sedang bermasalah. Setelah itu, telepon dari Ibu semakin jarang.
Bagas bahkan pernah mengirim pesan.
“Kalau memang bangkrut, jangan pulang dulu. Malu sama tetangga.”
Pesan itu tidak pernah kubalas.
Karena itulah aku membuat rencana gila ini.
Aku ingin mengetahui satu hal sederhana.
Kalau aku pulang tanpa uang, tanpa jabatan, bahkan tanpa kewarasan, siapa yang masih menganggapku keluarga?
Aku tidak menyangka jawabannya akan sesakit tadi.
Yuni mendengarkan sampai selesai.
Kemudian tangannya melayang.
Plak.
Tamparannya mendarat di pipiku.
Aku terdiam.
“Lima tahun aku menunggu kamu!”
Air matanya kembali mengalir.
“Setiap malam aku takut kamu kenapa-kenapa di negeri orang. Hari ini kamu pulang seperti itu, aku pikir hidupku hancur. Aku pikir suamiku sakit dan mungkin nggak akan mengenaliku lagi.”
“Aku tahu. Aku salah.”
“Nggak, Mas. Kamu nggak tahu.”
Yuni memukul dadaku pelan sambil menangis.
“Aku nggak peduli kamu kaya atau miskin. Tapi jangan pernah menguji cintaku dengan membuatku takut kehilangan kamu.”
Aku tidak membela diri.
Aku hanya memeluknya.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar menangis.
“Aku janji, Yun. Nggak akan pernah lagi.”
Keesokan paginya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah tua itu.
Pak Damar, kuasa hukum yang selama dua tahun terakhir mengurus asetku di Indonesia, turun membawa sebuah map.
Yuni yang sedang menyapu halaman sampai berhenti.
“Pak Aji.”
Damar membungkuk hormat.
Aku keluar mengenakan kaus sederhana dan celana panjang bersih.
“Semua sudah siap?”
“Sudah.”
Damar menyerahkan dokumen.
Rumah besar yang ditempati Ibu sebenarnya masih atas namaku. Mobil Bagas juga dibeli menggunakan perusahaan investasiku. Bahkan modal usaha bengkel yang selama ini dibanggakan Bagas berasal dari transfer yang kukirim tiga tahun lalu.
Namun aku tidak berniat mengambil semuanya.
Aku hanya ingin menghentikan satu hal.
Ketergantungan.
“Mulai hari ini, hentikan semua transfer rutin,” kataku.
“Termasuk biaya operasional usaha Bagas?”
“Termasuk.”
Yuni menatapku.
“Mas, jangan balas dendam.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak mengambil apa yang sudah kuberikan. Tapi aku juga tidak akan terus membeli kasih sayang mereka.”
Tiga hari kemudian, kabar kepulanganku mulai menyebar.
Versi yang beredar di desa masih sama.
Aji pulang dari luar negeri dalam keadaan gila.
Ibu bahkan mengatakan kepada beberapa tetangga bahwa aku gagal total di Jerman.
Sampai suatu pagi, tiga mobil berhenti di depan rumahnya.
Dari kendaraan pertama turun Pak Damar.
Dari kendaraan kedua turun beberapa pria berpakaian rapi.
Bagas keluar dari rumah.
“Mau cari siapa?”
“Kami hendak melakukan pemeriksaan aset atas permintaan pemilik.”
“Pemilik?”
Bagas tertawa.
“Ini rumah keluarga saya.”
Damar membuka map.
“Pemilik sah rumah ini adalah Bapak Aji Pratama.”
Wajah Bagas berubah.
Ibu berlari keluar.
“Nggak mungkin! Aji memberikan rumah ini kepada saya!”
“Pak Aji mengizinkan Ibu tinggal di sini. Tidak pernah ada proses hibah.”
Ibu merampas dokumen itu.
Tangannya gemetar.
“Tapi Aji gila!”
“Siapa bilang?”
Suara itu datang dari belakang.
Semua orang menoleh.
Aku turun dari mobil terakhir bersama Yuni.
Aku mengenakan kemeja putih sederhana. Tidak ada debu. Tidak ada rambut berantakan. Tidak ada tawa cekikikan.
Ibu menatapku seperti melihat orang mati bangkit kembali.
“A… Aji?”
Aku berjalan mendekat.
Bagas mundur.
“Mas nggak gila?”
“Tidak.”
Wajah Ibu berubah merah.
“Kamu menipu Ibu?”
“Aku hanya pulang tanpa membawa penampilan yang Ibu harapkan.”
Ibu terdiam.
Aku menatap rumah itu.
“Tenang. Aku tidak datang untuk mengusir Ibu.”
Wajah Ibu sedikit lega.
“Tapi mulai bulan depan, tidak ada lagi uang bulanan dariku.”
“Aji!”
“Rumah ini tetap boleh Ibu tempati. Tapi listrik, kebutuhan sehari-hari, dan biaya hidup harus Ibu dan Bagas tanggung sendiri.”
Bagas langsung maju.
“Mas tega sama keluarga sendiri?”
Aku menatapnya.
“Waktu aku duduk di halaman kemarin, kamu bilang nggak mau ketularan sial. Sekarang kenapa tiba-tiba kita keluarga?”
Bagas kehilangan kata-kata.
Ibu mulai menangis.
“Aji, Ibu cuma kaget waktu itu.”
“Kalau aku benar-benar sakit, apakah Ibu akan mencariku?”
Pertanyaan itu membuat suasana membeku.
Tidak ada jawaban.
Dan diamnya Ibu sudah menjawab semuanya.
Aku pergi tanpa kemarahan.
Kupikir masalah selesai.
Ternyata belum.
Dua minggu kemudian, Bagas datang ke rumah tua tempat kami tinggal.
Ia tidak membawa mobil.
Wajahnya kusut.
“Mas.”
Aku mempersilahkannya masuk.
“Aku butuh bantuan.”
“Tentang bengkel?”
Bagas terkejut.
Aku sudah tahu usahanya hampir bangkrut. Selama ini ia menutup kerugian menggunakan uang bulanan dariku.
“Mas, pinjamkan aku dua ratus juta. Aku janji bakal balikin.”
Aku mengambil segelas air.
“Aku tidak akan memberimu uang.”
Wajah Bagas mengeras.
“Tuh kan. Mentang-mentang kaya.”
“Tapi aku bisa memberimu pekerjaan.”
Ia terdiam.
“Di perusahaan logistik milikku di Semarang. Mulai dari posisi staf gudang.”
“Apa?”
“Gajinya sesuai standar. Kalau kinerjamu bagus, kamu naik.”
Bagas berdiri.
“Aku sarjana, Mas!”
“Aku juga pernah mencuci piring di restoran saat pertama kali tinggal di Jerman.”
Ia menatapku penuh amarah lalu pergi.
Namun seminggu kemudian, Bagas kembali.
Kali ini ia menerima tawaranku.
Enam bulan berlalu.
Perubahan tidak terjadi seperti di film.
Bagas beberapa kali mengeluh.
Pernah ia hampir mengundurkan diri.
Tetapi perlahan, anak yang dahulu menganggap uang kakaknya sebagai hak mulai memahami bagaimana rasanya bekerja dua belas jam ketika gudang sedang sibuk.
Sementara itu, aku dan Yuni pindah ke Jakarta.
Bukan ke istana seperti ucapanku malam itu.
Yuni justru menolak rumah yang terlalu besar.
“Rumah empat kamar saja, Mas. Kalau kebanyakan kamar, aku capek bersihinnya.”
Aku tertawa.
“Ada asisten rumah tangga.”
“Ya tetap saja mubazir.”
Akhirnya kami membeli rumah sederhana di kawasan yang tenang.
Aku juga menawarkan Yuni modal untuk membuka bisnis.
Namun pilihannya mengejutkanku.
“Aku mau bikin tempat pelatihan kerja untuk perempuan dari desa. Menjahit, memasak, administrasi dasar. Banyak perempuan sebenarnya mau mandiri, tapi nggak tahu mulai dari mana.”
Aku langsung menyetujuinya.
Setahun kemudian, tempat itu mempekerjakan puluhan orang.
Pada hari pembukaan cabang kedua, seseorang datang tanpa memberi kabar.
Ibu.
Rambutnya terlihat lebih putih.
Tidak ada perhiasan mencolok seperti biasanya.
Yuni segera menghampirinya.
“Ibu.”
Ibu memegang tangan Yuni.
“Maafkan Ibu.”
Yuni terdiam.
Kemudian Ibu melihatku.
“Aji.”
Aku mendekat.
“Ibu sudah menjual beberapa perhiasan untuk hidup,” katanya pelan. “Bagas sekarang yang mengirim sedikit uang setiap bulan. Katanya uang itu hasil kerjanya sendiri.”
Ada kebanggaan kecil dalam suaranya.
Aku tersenyum.
“Bagus.”
Ibu menunduk.
“Ibu datang bukan untuk minta uang.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada sertifikat rumah.
“Apa ini?”
“Rumah yang kamu beli untuk Ibu. Ibu ingin mengembalikannya.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
Air mata memenuhi matanya.
“Karena selama ini Ibu tinggal di rumah yang dibangun dari keringat anak yang pernah Ibu usir dari halamannya sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak kepulanganku, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajah Ibu.
Penyesalan.
Aku mengembalikan amplop itu.
“Rumah itu tetap untuk Ibu.”
“Aji…”
“Tapi ada satu syarat.”
Ibu menatapku.
“Jangan pernah lagi mengukur harga seseorang dari uang yang dia bawa pulang.”
Ibu menangis.
Ia memelukku.
Pelukannya tidak langsung menghapus luka. Ada kalimat yang membutuhkan waktu lama untuk dimaafkan.
Namun hari itu aku memilih memulai.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima laporan dari kantor.
Bagas dipromosikan menjadi supervisor.
Yang membuatku tersenyum bukan jabatan itu.
Melainkan satu catatan dari manajernya.
Bagas menolak ketika seseorang mengetahui bahwa ia adik pemilik perusahaan dan mencoba memberinya perlakuan khusus.
Katanya, “Saya kerja di sini sebagai Bagas. Bukan sebagai adiknya Pak Aji.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Yuni yang duduk di sampingku tersenyum.
“Berarti tesmu berhasil?”
Aku menggeleng.
“Tesku sebenarnya gagal.”
“Kenapa?”
“Karena aku pulang untuk mengetahui siapa yang pantas menerima kekayaanku. Ternyata yang perlu aku pelajari justru siapa yang pantas menerima kesempatan kedua.”
Yuni menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku memandang halaman rumah kami.
Dulu aku berpikir kekayaan terbesar yang kubawa pulang dari luar negeri adalah saham perusahaan, rekening bank, dan aset bernilai miliaran.
Aku salah.
Kepulanganku justru mengajariku sesuatu yang tidak pernah diajarkan dunia bisnis.
Uang mampu membuat rumah menjadi megah, tetapi tidak mampu membuat penghuninya menjadi keluarga.
Uang mampu membeli kenyamanan, tetapi tidak bisa membeli seseorang yang bersedia membersihkan wajahmu ketika seluruh dunia menganggapmu sampah.
Dan di antara semua yang kumiliki, ternyata harta paling mahal adalah perempuan yang pernah duduk di sebuah gubuk reyot, memeluk seorang lelaki yang dianggap gila, lalu berkata tanpa ragu bahwa ia akan bekerja sebagai buruh cuci asal suaminya tidak kelaparan.
Aku menggenggam tangan Yuni.
Dia menoleh.
“Kenapa, Mas?”
Aku tersenyum.
“Nggak apa-apa. Cuma baru sadar satu hal.”
“Apa?”
Aku menatap perempuan yang tetap memilihku ketika ia mengira aku sudah kehilangan segalanya.
“Ternyata aku pulang dari Jerman bukan untuk menguji siapa yang mencintaiku.”
Yuni mengernyit.
“Terus?”
“Untuk akhirnya tahu siapa rumahku sebenarnya.”
Yuni tersenyum dan menggenggam tanganku lebih erat.
Dan saat itu aku tahu, rumah bukanlah bangunan megah yang pernah membuatku terusir dari halamannya sendiri.
Rumah adalah seseorang yang tetap membuka pintu ketika kita datang tanpa membawa apa-apa.
