Selama lebih dari sepuluh tahun mengemudikan bus sekolah nomor 27B, Pak Damar merasa sudah mengenal hampir semua jenis tangisan anak-anak.
Tangisan karena lupa membawa bekal. Tangisan karena bertengkar dengan teman. Tangisan karena takut ulangan. Bahkan tangisan karena orang tua terlambat menjemput.
Namun tangisan Alya berbeda.

Gadis tujuh tahun itu tidak pernah menangis keras. Tidak pernah merengek. Tidak pernah meminta bantuan. Ia hanya duduk di kursi tengah sisi kanan, menundukkan kepala, lalu membiarkan air matanya jatuh diam-diam ke sweter abu-abu lusuh yang selalu dikenakannya.
Dan sore itu, Pak Damar akhirnya menemukan alasan mengapa tangisan itu terasa begitu menakutkan.
Di bawah kursi Alya terdapat sebuah ponsel kecil berwarna hitam.
Bukan ponsel anak-anak.
Layarnya retak. Bagian belakangnya dililit selotip hitam, seolah sengaja dibuat terlihat seperti barang rusak. Namun saat Pak Damar mengangkatnya, layar tiba-tiba menyala.
Ada satu aplikasi perekam suara yang masih aktif.
Pak Damar belum sempat menyentuh apa pun ketika ponselnya sendiri bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal muncul.
Jangan ikut campur. Lupakan apa yang kamu temukan.
Pak Damar membeku.
Ia menoleh ke jendela bus.
Jalan kecil di belakang sekolah sudah sepi. Hanya ada deretan ruko, beberapa motor yang melintas, dan sebuah mobil hitam terparkir sekitar lima puluh meter di belakang bus.
Mesinnya menyala.
Lampunya mati.
Pak Damar merasa tengkuknya dingin.
Ia memasukkan ponsel hitam itu ke dalam tas selempangnya, mengambil buku spiral milik Alya, lalu menyalakan mesin bus.
Mobil hitam di belakang ikut bergerak.
Pak Damar tidak langsung pulang ke rumah.
Ia berputar melewati Jalan Pramuka, masuk ke kawasan ramai, kemudian berhenti di depan sebuah minimarket. Mobil hitam tadi sempat terlihat dua kali di kaca spion, tetapi kemudian menghilang di persimpangan.
Baru setelah yakin tidak diikuti, Pak Damar membuka buku spiral Alya.
Halaman pertama berisi gambar rumah.
Ada seorang anak perempuan, seorang wanita, dan seorang pria tinggi.
Wajah wanita digambar dengan senyum besar.
Wajah anak kecil juga tersenyum.
Namun wajah pria itu dicoret berulang kali menggunakan pensil hitam sampai kertasnya hampir robek.
Di bawah gambar itu, Alya menulis dengan tulisan anak kelas satu.
Ayah baru bilang Mama pergi kerja jauh.
Halaman berikutnya membuat dada Pak Damar sesak.
Aku dengar Mama menangis di gudang.
Pak Damar menelan ludah.
Ia membalik halaman lain.
Ayah baru bilang jangan cerita ke siapa-siapa.
Lalu halaman berikutnya.
Kalau aku cerita, Mama tidak akan pulang.
Tangan Pak Damar mulai gemetar.
Di halaman terakhir terdapat gambar bus sekolah nomor 27B.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Aku simpan suara Mama di bus Om Damar karena Ayah baru tidak naik bus.
Pak Damar langsung menatap tasnya.
Ponsel hitam itu bukan benda milik seseorang yang sengaja menakuti Alya.
Alya sendiri yang menyembunyikannya.
Malam itu, di rumah kontrakannya di Rawamangun, Pak Damar duduk sendirian di meja makan.
Istrinya sudah meninggal tiga tahun sebelumnya. Anak tunggalnya bekerja di Surabaya. Biasanya malam-malamnya sederhana, hanya ditemani televisi dan kopi tanpa gula.
Namun sekarang tangannya bahkan tidak sanggup mengangkat gelas.
Ia mengambil ponsel hitam itu.
Tidak ada kartu SIM.
Tidak ada aplikasi pesan.
Hanya terdapat enam rekaman suara.
Rekaman pertama berdurasi sebelas menit.
Pak Damar menekan tombol putar.
Suara anak kecil terdengar terlebih dahulu.
“Mama?”
Lalu suara seorang perempuan.
“Alya, kamu dari mana?”
“Aku takut.”
“Jangan ke sini. Pergi ke kamar.”
Kemudian terdengar suara pintu dibuka keras.
Suara seorang laki-laki menyusul.
“Kamu masih bicara sama anak itu?”
Perempuan tadi menjawab dengan suara lemah.
“Dia anak saya.”
“Sekarang dia juga tanggung jawab saya.”
Pak Damar mengepalkan tangan.
Terdengar suara benda jatuh.
Tidak ada suara kekerasan yang jelas, tetapi cukup untuk membuat suasana rekaman berubah menegangkan.
Perempuan itu terdengar berkata, “Reno, saya sudah bilang saya mau pergi.”
Laki-laki bernama Reno tertawa pendek.
“Kamu mau pergi ke mana? Rumah ini atas nama saya. Uangmu juga sudah habis.”
“Uang itu milik Alya.”
“Tidak ada lagi uang milik siapa pun di rumah ini.”
Rekaman berhenti.
Pak Damar segera memutar rekaman kedua.
Kali ini suara Alya terdengar sangat pelan.
“Mama, aku rekam seperti kata Mama.”
Perempuan itu berbisik, “Simpan ponselnya di tempat yang dia tidak tahu. Jangan di rumah.”
“Di mana?”
Beberapa detik sunyi.
“Di tempat yang aman.”
Pak Damar menutup mulutnya.
Sekarang ia mengerti.
Alya memilih bus sekolah.
Tempat yang setiap hari membawanya keluar dari rumah.
Tempat di mana Reno tidak pernah masuk.
Pada rekaman kelima, suara ibu Alya terdengar jauh lebih lemah.
“Kalau suatu hari Mama tidak ada di rumah, cari Tante Rini.”
“Alya takut.”
“Jangan takut. Dengarkan Mama. Nomornya ada di belakang foto yang Mama taruh di buku kamu.”
Pak Damar langsung membuka buku spiral itu sekali lagi.
Di bagian sampul belakang terdapat sebuah foto kecil seorang perempuan memeluk Alya.
Di belakangnya tertulis nomor telepon.
Pak Damar hendak menelepon ketika ponselnya sendiri kembali bergetar.
Nomor tak dikenal.
Kali ini bukan pesan.
Telepon masuk.
Pak Damar membiarkannya berdering sampai berhenti.
Kemudian masuk pesan baru.
Besok jangan jemput Alya.
Pak Damar menatap layar lama.
Sekitar lima detik kemudian muncul pesan berikutnya.
Ini terakhir kali saya peringatkan.
Malam itu Pak Damar tidak tidur.
Pukul enam pagi, ia sudah berada di kantor sekolah.
Ia meminta bertemu kepala sekolah dan guru kelas Alya, Bu Ratih.
Ketika mendengar cerita Pak Damar, wajah Bu Ratih langsung pucat.
“Sudah hampir tiga minggu Alya berubah,” katanya. “Dia tidak mau ikut kegiatan kelompok. Kalau ada guru laki-laki mendekat, dia langsung tegang.”
“Kok tidak ada yang menghubungi ibunya?”
“Kami sudah mencoba.”
Bu Ratih membuka data siswa.
“Nomor ibunya tidak aktif. Yang selalu menjawab sekarang ayah tirinya.”
“Namanya Reno?”
Bu Ratih mengangguk.
Pak Damar mengeluarkan ponsel hitam.
Kepala sekolah segera menghubungi pihak berwenang dan unit perlindungan anak.
Mereka sepakat satu hal.
Pak Damar tetap menjalankan rute seperti biasa.
Tidak boleh ada perubahan yang membuat Reno curiga.
Pagi itu, Alya naik bus dengan wajah lebih pucat dari biasanya.
Begitu melihat Pak Damar, matanya langsung turun ke lantai.
“Alya.”
Gadis kecil itu berhenti.
Pak Damar tersenyum seperti biasa.
“Duduk saja, Nak.”
Alya berjalan ke kursinya.
Namun kali ini, sebelum duduk, ia diam-diam melihat ke bawah kursi.
Ketika menyadari ponsel itu sudah tidak ada, wajahnya langsung berubah.
Sepanjang perjalanan ia tidak menangis.
Ia justru tampak ketakutan.
Saat bus berhenti di sekolah, Alya tidak ikut turun bersama anak-anak lain.
Pak Damar menunggu sampai bus sepi.
Kemudian Alya berjalan perlahan ke depan.
“Om Damar.”
“Iya?”
“Om lihat HP hitam?”
Pak Damar berjongkok agar tinggi mereka sejajar.
“Iya.”
Wajah Alya langsung pucat.
“Om dengar?”
Pak Damar tidak berbohong.
“Iya.”
Air mata Alya jatuh.
“Jangan bilang Ayah Reno.”
Pak Damar merasakan dadanya seperti diremas.
“Alya, Om tidak akan bikin kamu tambah takut.”
“Kalau dia tahu, Mama bisa hilang.”
Pak Damar menahan napas.
“Alya, Mama sekarang di mana?”
Gadis itu menggigit bibir.
“Di rumah.”
“Terakhir kamu lihat kapan?”
Alya terdiam lama.
“Tiga hari lalu.”
Pak Damar dan Bu Ratih saling berpandangan dari kejauhan.
“Kenapa kamu bilang Mama ada di rumah?”
“Karena setiap malam aku dengar Mama.”
“Dengar bagaimana?”
“Dari bawah.”
Pak Damar mengernyit.
“Bawah apa?”
Alya menunjuk lantai bus.
“Seperti di bawah lantai.”
Beberapa jam kemudian, petugas mendatangi rumah Alya di kawasan Cempaka Indah.
Rumah dua lantai itu tampak normal dari luar.
Reno membuka pintu dengan pakaian kerja rapi dan wajah bingung.
“Istri saya sedang ke Bandung,” katanya.
Namun saat ditanya alamat tempat istrinya tinggal, jawabannya berubah-ubah.
Pemeriksaan rumah awalnya tidak menemukan apa pun.
Sampai salah satu petugas memperhatikan sebuah gudang kecil di belakang dapur.
Gudang itu kosong.
Tetapi lantainya terasa berbeda ketika diinjak.
Di bawah karpet karet terdapat sebuah pintu kayu sempit.
Reno langsung berubah panik.
“Itu cuma ruang penyimpanan lama.”
Petugas membukanya.
Ada tangga menuju ruang bawah tanah kecil.
Dan di sanalah mereka menemukan ibu Alya, Maya.
Masih hidup.
Lemah, dehidrasi, dan ketakutan, tetapi sadar.
Alya langsung dibawa bertemu ibunya setelah tim medis memastikan keadaan aman.
Ketika melihat Maya di ruang perawatan rumah sakit, Alya berlari.
“Mama!”
Maya menangis sambil memeluk putrinya.
“Maafkan Mama.”
Pak Damar berdiri di depan pintu bersama Bu Ratih.
Ia menunduk, berusaha menyembunyikan matanya yang basah.
Reno ditahan pada hari yang sama.
Penyelidikan kemudian mengungkap sesuatu yang jauh lebih besar.
Maya memiliki rumah dan sejumlah tabungan dari mendiang suaminya, ayah kandung Alya.
Setelah menikahi Reno dua tahun sebelumnya, ia mulai menyadari bahwa Reno diam-diam memindahkan sejumlah uang dan mencoba menjual rumah menggunakan dokumen palsu.
Ketika Maya berniat melaporkannya, Reno mengurungnya.
Namun satu hal tidak pernah diketahui Reno.
Beberapa minggu sebelumnya, Maya sudah curiga bahwa keadaan akan memburuk.
Ia membeli ponsel murah khusus untuk merekam percakapan.
Suatu malam, Alya menemukan ibunya menangis.
Maya kemudian mengajarkan satu hal sederhana kepada putrinya.
Jika Mama tidak bisa keluar rumah, simpan ponsel itu di tempat yang aman.
Alya memilih bus nomor 27B.
Ternyata Reno mulai mencurigainya ketika melihat Alya beberapa kali membawa sesuatu di balik sweternya. Ia bahkan mengikuti bus pada suatu sore.
Itulah sebabnya Pak Damar menerima pesan ancaman.
Namun ada satu hal yang masih membingungkan polisi.
Bagaimana Reno mendapatkan nomor pribadi Pak Damar?
Jawabannya ditemukan dua hari kemudian.
Nomor Pak Damar tercantum dalam daftar kontak darurat bus sekolah yang disimpan orang tua murid.
Reno sudah merencanakan segalanya jauh sebelum ponsel itu ditemukan.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Alya kembali naik bus nomor 27B.
Sweter lusuhnya sudah diganti dengan jaket kuning muda.
Wajahnya masih terlihat lebih pendiam dibandingkan teman-temannya, tetapi matanya tidak lagi bengkak.
Hari pertama kembali sekolah, Alya berdiri lama di dekat kursi yang dulu selalu ditempatinya.
Pak Damar melihat dari kaca spion.
“Kamu mau duduk di depan saja hari ini?” tanyanya.
Alya berpikir sebentar.
Lalu ia menggeleng.
Ia kembali duduk di kursi tengah sisi kanan.
Tempat yang sama.
Namun kali ini ia tersenyum.
Beberapa hari kemudian, ketika Pak Damar membersihkan bus setelah mengantar anak-anak pulang, ia menemukan selembar kertas di bawah kursi Alya.
Jantungnya sempat berdebar.
Ia membungkuk dan mengambilnya.
Ternyata hanya sebuah gambar.
Gambar bus berwarna biru.
Di depan bus berdiri seorang pria berkumis dengan seragam sopir.
Di sampingnya terdapat Alya dan ibunya.
Di atas mereka ada matahari besar.
Pak Damar tertawa kecil.
Di bagian bawah, tertulis dengan huruf yang belum sepenuhnya rapi.
Untuk Om Damar.
Mama bilang orang berani bukan orang yang tidak takut.
Orang berani adalah orang yang tetap menolong walaupun takut.
Pak Damar menatap tulisan itu cukup lama.
Ia lalu menempelkan gambar tersebut di dekat dashboard bus.
Sejak hari itu, setiap kali mengemudikan 27B melewati jalan-jalan sempit Cempaka Indah, ia selalu melihat gambar itu.
Dan setiap kali ada anak yang terlihat terlalu diam, terlalu takut, atau terlalu sering menangis tanpa alasan yang jelas, Pak Damar tidak pernah lagi menganggapnya sekadar masalah kecil.
Karena sekarang ia tahu sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam buku panduan sopir sekolah mana pun.
Kadang-kadang, anak-anak tidak tahu bagaimana cara meminta pertolongan.
Mereka hanya meninggalkan tanda.
Sebuah gambar.
Sebuah benda kecil.
Sebuah tangisan yang berulang.
Atau sebuah ponsel rusak di bawah kursi bus.
Dan terkadang, hidup seseorang bisa berubah hanya karena ada satu orang dewasa yang memilih untuk memperhatikan.
