Namaku Alina.
Selama lima tahun menikah dengan Arga, aku selalu percaya bahwa ibu mertuaku mungkin keras, tetapi tidak pernah berniat mencelakaiku.
Beliau sering mengkritik cara memasakku. Sering membandingkanku dengan mantan pacar Arga. Bahkan berkali-kali berkata, “Kalau bukan karena Arga keras kepala, Ibu pasti memilih menantu lain.”
Aku hanya diam.
Aku berpikir waktu akan mengubah semuanya.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa orang yang hampir setiap malam menyodorkan segelas air hangat kepadaku justru menyimpan sesuatu yang membuat seluruh kepercayaanku runtuh.
Malam itu aku lembur di kantor.
Hampir pukul sebelas ketika aku membuka aplikasi rumah pintar untuk memastikan pintu depan sudah terkunci. Arga sedang dinas ke Surabaya selama tiga hari, sedangkan ibu mertuaku, Bu Ratna, tinggal bersama kami sejak dua bulan terakhir karena rumahnya sedang direnovasi.
Saat membuka aplikasi, mataku menangkap sesuatu yang aneh.
Camera 08.
Aku mengernyit.
Setahuku rumah kami hanya memiliki tujuh kamera. Dua di halaman, satu di garasi, dua di lantai bawah, satu di lorong lantai dua, dan satu menghadap halaman belakang.
Tidak pernah ada kamera di kamar tidur.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku menekan Camera 08.
Gambar muncul.
Kamar tidurku.
Sudut pengambilan gambarnya mengarah tepat ke meja kecil di samping ranjang.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku langsung memeriksa rekaman beberapa jam sebelumnya.
Pukul delapan malam, pintu kamar terbuka.
Bu Ratna masuk.
Beliau menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengambil sebuah botol kecil dari saku bajunya.
Tangannya gemetar.
Beliau membuka tutup botol itu, menuangkan beberapa tetes cairan bening ke dalam gelas air yang biasa kuminum sebelum tidur, kemudian mengaduknya perlahan.
Setelah itu beliau berbisik, “Maafkan Ibu.”
Aku menutup mulut agar tidak berteriak.
Selama hampir dua bulan terakhir aku memang sering merasa tidak enak badan. Kepalaku berat saat bangun tidur. Perutku terkadang mual. Konsentrasiku menurun. Dua kali aku bahkan tertidur di meja kerja.
Aku menganggapnya akibat terlalu lelah.
Ternyata mungkin bukan.
Aku segera menelepon Arga.
Tidak diangkat.
Kutelepon lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Aku mengirim tangkapan layar rekaman kamera itu kepadanya.
Beberapa detik kemudian status pesan berubah menjadi terbaca.
Namun Arga tidak membalas.
Justru teleponku berdering.
Bu Ratna.
Aku menatap nama itu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.
“Alina, kamu pulang jam berapa?”
Suaranya terdengar biasa.
Aku memaksa diriku tenang.
“Mungkin satu jam lagi, Bu.”
“Oh. Ibu sudah siapkan air hangat di kamar. Jangan lupa diminum.”
Bulu kudukku berdiri.
“Iya, Bu.”
Setelah telepon ditutup, aku tidak langsung pulang. Aku menyimpan rekaman kamera ke laptop, cloud pribadi, dan mengirim salinannya kepada sahabatku, Siska.
Aku juga menelepon satpam kompleks.
Aku meminta mereka menemaniku masuk rumah dengan alasan aku mendengar suara mencurigakan melalui kamera.
Ketika sampai, Bu Ratna sedang duduk di ruang keluarga.
Wajahnya berubah saat melihat dua petugas keamanan berjalan di belakangku.
“Ada apa ini?”
“Ada kemungkinan orang asing masuk rumah,” jawabku.
Aku berjalan ke kamar.
Gelas itu masih berada di meja.
Aku tidak menyentuhnya.
Salah satu petugas keamanan memotret posisi gelas sebelum aku memasukkannya ke wadah bersih menggunakan sarung tangan sekali pakai dari kotak P3K.
Bu Ratna berdiri di pintu.
Wajahnya pucat.
“Kenapa airnya dibawa?”
Aku menatapnya.
“Karena saya ingin tahu apa yang ada di dalamnya.”
Gelas di tangan Bu Ratna terlepas.
Pecahannya berhamburan di lantai.
Beliau tidak berkata apa-apa lagi.
Malam itu aku menginap di rumah Siska.
Pagi berikutnya aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan dan menjelaskan bahwa aku khawatir telah mengonsumsi zat yang tidak kukenal. Dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut berdasarkan keluhan yang kualami.
Saat sedang menunggu, Arga akhirnya datang.
Ia berjalan cepat menghampiriku.
“Kamu bikin apa semalam?”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Bikin apa?”
“Kamu bawa satpam masuk rumah. Mama sampai syok.”
Aku menunjukkan rekaman di ponsel.
“Mamamu memasukkan sesuatu ke minumanku.”
Arga tidak menonton sampai selesai.
Ia menurunkan ponselku.
“Itu pasti vitamin.”
“Vitamin apa yang harus dimasukkan diam-diam?”
Arga terdiam.
“Dan kenapa ada kamera tersembunyi di kamar kita?”
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya.
Ketakutan.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
“Arga,” bisikku, “kamu tahu soal kamera itu?”
Ia tidak menjawab.
Aku mundur satu langkah.
“Jadi kamu tahu.”
“Alina, dengarkan dulu.”
“Siapa yang memasangnya?”
Arga mengusap wajah.
“Aku.”
Dadaku sesak.
“Kenapa?”
“Beberapa bulan lalu Mama bilang ada barang-barangnya yang hilang. Dia curiga asisten rumah tangga. Aku pasang kamera untuk memastikan.”
“Di kamar tidur kita?”
Arga menunduk.
Alasannya terdengar buruk, tetapi ada sesuatu yang lebih buruk dari itu.
“Kalau kamu memasangnya, kenapa Camera 08 baru muncul di aplikasiku tadi malam?”
Arga membeku.
Ia tidak menjawab.
Pemeriksaan laboratorium atas sampel cairan belum selesai hari itu. Namun dokter meminta aku berhenti mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak kuketahui sumbernya sampai situasi jelas.
Aku kemudian membuat laporan resmi dan menyerahkan salinan rekaman sebagai bukti.
Saat keluar dari rumah sakit, Bu Ratna sudah menunggu di parkiran.
“Alina.”
Aku berhenti.
Beliau mendekat dengan mata merah.
“Tolong jangan lanjutkan laporan itu.”
Aku tidak pernah melihatnya serapuh itu.
“Kenapa, Bu?”
“Karena semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Bu Ratna memandang Arga yang berdiri beberapa meter di belakangku.
Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Tanyakan kepada suamimu kenapa kamu selalu tertidur pulas setiap malam.”
Aku menoleh kepada Arga.
Wajahnya kehilangan warna.
“Ma, cukup.”
“Sudah lima tahun Ibu diam.”
“Ma!”
“Sudah cukup, Arga!”
Suara Bu Ratna pecah.
Orang-orang di sekitar kami mulai memperhatikan.
Bu Ratna menangis.
“Yang Ibu masukkan tadi malam bukan untuk mencelakakanmu.”
“Lalu apa?”
Beliau menarik napas panjang.
“Itu obat tidur yang Ibu temukan di lemari Arga.”
Aku merasa tanah di bawah kakiku bergeser.
“Apa?”
“Ibu curiga Arga selama ini memasukkan sesuatu ke minumanmu. Makanya Ibu memasang kamera kedua.”
Aku menatapnya.
“Camera 08?”
Beliau mengangguk.
Ternyata kamera tersembunyi itu bukan milik Arga.
Bu Ratna memasangnya tiga minggu sebelumnya setelah menemukan beberapa botol tanpa label di tas kerja putranya.
“Tapi saya melihat Ibu menuangkannya.”
Bu Ratna menangis semakin keras.
“Ibu salah. Ibu akui Ibu salah. Ibu mengambil sedikit cairan dari botol Arga dan memasukkannya ke gelasmu karena Ibu ingin tahu apakah itu yang membuatmu selalu tertidur. Ibu berniat membawa gelas itu untuk diperiksa setelah kamu pulang. Ibu tidak tahu kamu akan lembur.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kenapa tidak langsung bilang kepada saya?”
“Karena dia anak Ibu.”
Jawaban itu sederhana, tetapi menyakitkan.
Bu Ratna menunduk.
“Ibu takut tuduhan Ibu salah. Ibu takut menghancurkan rumah tangga kalian. Dan Ibu terlalu pengecut untuk mengakui bahwa anak yang Ibu besarkan mungkin melakukan sesuatu yang buruk.”
Arga tiba-tiba menarik tangan ibunya.
“Kita pulang.”
Bu Ratna menepisnya.
“Jangan sentuh Ibu.”
Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan nyata di wajah Arga.
Hasil pemeriksaan sampel keluar dua hari kemudian. Cairan itu memang mengandung zat sedatif yang tidak seharusnya diberikan sembarangan.
Aku menyerahkan hasilnya kepada penyidik.
Tetapi pertanyaan terbesar belum terjawab.
Mengapa Arga melakukannya?
Jawabannya muncul dari sesuatu yang awalnya tampak tidak berhubungan.
Siska membantuku memeriksa rekaman Camera 08 selama tiga minggu terakhir.
Kami melihat Bu Ratna berkali-kali masuk kamar untuk memeriksa meja dan lemari.
Lalu kami menemukan rekaman pukul dua dini hari, sembilan hari sebelum aku menemukan kamera itu.
Arga masuk kamar ketika aku sudah tertidur.
Ia memastikan aku tidak bergerak.
Kemudian mengambil ponselku.
Ia membuka layar menggunakan jariku.
Setelah itu ia duduk hampir dua puluh menit sambil memindahkan sesuatu dari ponselku ke laptopnya.
Aku langsung memeriksa rekening investasi dan dokumen perusahaan kecil yang kurintis bersama Siska.
Beberapa dokumen digital telah diakses tanpa sepengetahuanku.
Ada surat kuasa elektronik yang nyaris selesai diproses.
Ada pula perubahan informasi kontak pada akun investasi yang nilainya tidak sedikit.
Arga ternyata terlilit utang karena investasi berisiko yang selama ini disembunyikannya dariku.
Ia membutuhkan akses ke asetku.
Karena aku sangat berhati-hati soal kata sandi, cara termudah baginya adalah menungguku tertidur cukup dalam.
Semua potongan akhirnya tersambung.
Rasa pusing.
Tidur yang terlalu nyenyak.
Ponsel yang kadang berpindah tempat.
Notifikasi keamanan yang pernah muncul lalu menghilang.
Bukan Bu Ratna yang selama ini memasukkan sesuatu ke minumanku.
Arga.
Ketika polisi memanggilnya untuk pemeriksaan lebih lanjut, Arga menyangkal semuanya.
Sampai Bu Ratna menyerahkan satu benda terakhir.
Sebuah kotak kecil berisi tiga botol yang ditemukan di tas Arga.
“Ma, aku anak Mama,” katanya saat itu.
Bu Ratna menangis.
“Justru karena kamu anak Mama, Mama tidak boleh membiarkanmu menghancurkan hidup orang lain.”
Arga menatapku.
“Alina, aku cuma pinjam uangmu. Aku akan mengembalikannya.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena lima tahun pernikahan kami ternyata bisa diringkas menjadi satu kalimat yang begitu mengerikan.
“Cuma pinjam?”
Aku menatap laki-laki yang pernah kupilih menjadi rumah.
“Kamu membuatku tidak sadar supaya bisa membuka ponselku.”
Arga tidak mampu menjawab.
Beberapa minggu kemudian proses hukum berjalan.
Aku pindah dari rumah itu dan mengajukan perceraian.
Namun kejutan terakhir terjadi ketika aku datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
Di depan pintu utama, Bu Ratna sudah menungguku.
Begitu melihatku, beliau berjalan mendekat lalu tiba-tiba berlutut.
Aku terkejut.
“Bu, berdiri.”
Beliau menggenggam tanganku.
“Tolong cabut laporan terhadap Ibu.”
Aku terdiam.
Ternyata penyelidikan tetap mencatat tindakannya menuangkan cairan tersebut sebagai bagian yang harus diperiksa secara hukum.
Bu Ratna menangis.
“Ibu tahu Ibu bersalah karena bertindak sendiri. Ibu seharusnya langsung memberi tahu kamu atau polisi. Tapi Ibu tidak pernah berniat membuatmu meminumnya.”
Aku menatap perempuan di depanku.
Perempuan yang selama lima tahun membuatku merasa tidak pernah cukup baik untuk menjadi bagian keluarganya.
Anehnya, justru dialah yang akhirnya membuka kebenaran tentang anaknya sendiri.
Aku membantunya berdiri.
“Saya akan mengatakan yang sebenarnya kepada penyidik, Bu. Semua yang saya tahu. Tapi saya tidak akan berbohong untuk melindungi siapa pun.”
Bu Ratna mengangguk sambil menangis.
“Sekarang Ibu mengerti.”
“Mengerti apa?”
Beliau menatapku lama.
“Kenapa Arga memilihmu.”
Aku hampir tersenyum, tetapi kemudian beliau melanjutkan.
“Dan sekarang Ibu juga mengerti kenapa dia tidak pantas mempertahankanmu.”
Beberapa bulan kemudian, aku resmi berpisah dari Arga.
Aku menjual bagian rumah yang menjadi hakku dan memulai hidup baru di sebuah apartemen kecil dekat kantor.
Bu Ratna tidak pernah memintaku kembali menjadi bagian keluarganya.
Namun sesekali beliau mengirim pesan.
Bukan untuk membicarakan Arga.
Hanya menanyakan apakah aku sudah makan.
Suatu malam, hampir setahun setelah semuanya terjadi, sebuah pesan darinya masuk.
“Alina, maaf karena Ibu membutuhkan lima tahun untuk memperlakukanmu seperti anak sendiri.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu membalas.
“Tidak apa-apa, Bu. Kadang keluarga bukan orang yang selalu membela kita. Keluarga adalah orang yang akhirnya berani mengatakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menghancurkan orang yang paling mereka cintai.”
Aku meletakkan ponsel.
Di meja samping tempat tidur ada segelas air hangat.
Aku menatapnya beberapa saat.
Kemudian mengangkat gelas itu dan meminumnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa takut.
Karena malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Kamera tersembunyi yang paling kutakuti ternyata bukan benda yang menghancurkan rumah tanggaku.
Kamera itu hanya menyalakan lampu di sebuah ruangan yang selama bertahun-tahun penuh kebohongan.
Dan terkadang, yang kita perlukan untuk menyelamatkan hidup bukanlah mempertahankan rumah agar tetap berdiri.
Melainkan keberanian untuk melihat siapa yang diam-diam sedang merobohkannya dari dalam.
