Dalam rapat desa, pemilik peternakan babi terbesar menghantam meja di hadapan seorang dukun tua sambil berteriak, “Pembohong! Jangan menakut-nakuti kami!” Keesokan paginya, 300 ekor babi di peternakannya ditemukan mati secara bersamaan, terbaring dengan tenang. Ketika pasangan suami istri itu membuka rekaman CCTV, mereka melihat…

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga ketukan itu terdengar sangat pelan dari rekaman CCTV, tetapi cukup membuat tangan Pak Tono yang memegang mouse membeku.

Bu Tono berdiri di belakang kursinya. Wajah perempuan itu pucat. Matanya tidak berkedip menatap layar komputer.

Lelaki yang muncul di ujung kandang berdiri tepat di depan kamera.

Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian gelap yang tampak basah. Rambutnya menutupi sebagian wajah. Yang membuat Pak Tono semakin merinding, tempat lelaki itu berdiri adalah tembok beton setinggi tiga meter.

Tidak ada pintu.

Tidak ada jendela.

Tidak mungkin seseorang masuk dari sana.

Pak Tono menarik rekaman mundur.

Diputar lagi.

Tok.

Tok.

Tok.

Setelah ketukan ketiga, lelaki itu perlahan mengangkat wajahnya.

Namun gambar mendadak dipenuhi gangguan.

Layar berubah menjadi garis-garis hitam dan putih selama tujuh detik.

Ketika gambar kembali normal, lelaki itu sudah menghilang.

Dan ketiga ratus babi di kandang telah terbaring diam.

Semuanya menghadap ke timur.

Pak Tono menelan ludah.

“Putar lagi.”

“Sudah tiga kali, Pak,” bisik istrinya.

“Putar lagi!”

Bu Tono tersentak mendengar bentakannya.

Pak Tono segera menyadari dirinya mulai kehilangan kendali. Ia mengusap wajah, kemudian memperbesar gambar beberapa detik sebelum kamera mengalami gangguan.

Ada sesuatu di tangan lelaki tersebut.

Seperti selembar kain.

Kain putih panjang yang kotor oleh lumpur.

Pak Tono semakin mendekat ke monitor.

Tiba-tiba Bu Tono mencengkeram bahunya.

“Pak…”

“Apa?”

“Lihat kakinya.”

Pak Tono memperbesar gambar sekali lagi.

Jantungnya serasa berhenti.

Lelaki itu tidak berdiri di lantai.

Kakinya menggantung beberapa sentimeter di atas tanah.

Pak Tono langsung berdiri sampai kursinya jatuh.

“Panggil dokter hewan. Sekarang.”

“Tapi rekaman ini…”

“Jangan bicara soal rekaman ini kepada siapa pun!”

Pagi itu berita kematian tiga ratus babi milik Pak Tono menyebar ke seluruh desa.

Orang-orang berdatangan, tetapi Pak Tono melarang siapa pun memasuki peternakan.

Ia masih berusaha berpikir rasional.

Penyakit.

Racun.

Gas berbahaya.

Kesalahan pakan.

Apa saja lebih masuk akal daripada menerima bahwa peringatan dukun tua semalam mungkin benar.

Dokter hewan bernama drh. Arif datang sekitar pukul delapan pagi bersama dua petugas.

Setelah memeriksa beberapa bangkai, ia mengernyit.

“Pak Tono, saya belum bisa memastikan penyebabnya tanpa pemeriksaan laboratorium.”

“Keracunan?”

“Belum tentu.”

“Virus?”

“Kalau penyakit menular akut, biasanya ada gejala sebelumnya. Demam, kehilangan nafsu makan, perubahan perilaku. Bapak bilang tadi malam semuanya normal?”

“Normal.”

Arif berjalan mengelilingi kandang.

Ia berhenti di sisi timur.

“Ini apa?”

Pak Tono menghampirinya.

Di bawah tembok terdapat gundukan tanah kecil.

Tanahnya terlihat lebih gelap dibandingkan area sekitarnya.

Arif jongkok.

“Sepertinya baru digali.”

Pak Tono langsung teringat perkataan dukun tua.

Sesuatu yang berada di sisi timur peternakanmu.

“Jangan disentuh,” katanya cepat.

Arif menatapnya heran.

“Kenapa?”

Pak Tono tidak menjawab.

Siang harinya, Pak Tono mendatangi rumah dukun tua yang telah memperingatkannya.

Namanya Mbah Wiryo.

Rumahnya sederhana di pinggir desa, jauh dari permukiman padat. Ketika Pak Tono datang, lelaki tua itu sedang menyiram tanaman.

“Mbah.”

Mbah Wiryo tidak menoleh.

“Akhirnya kamu datang.”

Pak Tono mengepalkan tangan.

“Mbah tahu apa yang terjadi?”

“Aku sudah memberitahumu.”

“Tiga ratus babiku mati!”

Mbah Wiryo meletakkan penyiram tanaman.

“Aku tahu.”

Pak Tono mendekat.

“Siapa lelaki di CCTV?”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Mbah Wiryo berubah.

“Kamu melihat seseorang?”

Pak Tono menceritakan rekaman itu.

Semakin lama ia berbicara, wajah Mbah Wiryo semakin serius.

“Apakah dia mengetuk kamera tiga kali?”

Pak Tono terdiam.

“Bagaimana Mbah tahu?”

Mbah Wiryo masuk ke rumah tanpa menjawab.

Beberapa menit kemudian ia keluar membawa kotak kayu kecil.

Dari dalam kotak itu, ia mengambil sebuah foto lama.

Foto tersebut sudah menguning.

Terlihat tiga lelaki berdiri di depan kandang sederhana.

Salah satunya adalah Mbah Wiryo ketika masih muda.

Pak Tono memperhatikan lelaki di tengah.

Tubuhnya kurus.

Rambutnya panjang.

“Siapa dia?”

“Namanya Jatmiko.”

Mbah Wiryo menarik napas panjang.

“Tanah peternakanmu dulu milik keluarganya.”

Pak Tono menggeleng.

“Aku membelinya secara sah dua puluh tahun lalu.”

“Bukan tentang dua puluh tahun lalu.”

Mbah Wiryo menatapnya.

“Ini tentang apa yang terjadi hampir empat puluh tahun lalu.”

Menurut cerita Mbah Wiryo, Jatmiko dahulu bekerja sebagai penjaga peternakan kecil milik ayah Pak Tono.

Saat itu usaha keluarga Tono belum sebesar sekarang.

Suatu malam, puluhan ternak mati akibat penyakit.

Ayah Pak Tono panik karena takut kehilangan kepercayaan pembeli.

Jatmiko dituduh meracuni ternak.

Penduduk marah.

Jatmiko bersumpah dirinya tidak bersalah.

Namun tidak ada yang mempercayainya.

“Lalu?”

“Dia menghilang.”

“Menghilang bagaimana?”

“Tidak ada yang tahu.”

Pak Tono menatap foto itu.

“Tapi apa hubungannya dengan peternakanku sekarang?”

Mbah Wiryo tidak langsung menjawab.

“Ayahmu tidak pernah menceritakannya?”

“Menceritakan apa?”

Mbah Wiryo menatap Pak Tono lama.

“Pergilah ke sisi timur peternakanmu. Gali tanah di bawah tembok.”

Sore itu Pak Tono kembali ke peternakan.

Ia membawa dua pekerja untuk menggali gundukan tanah tersebut.

Baru sekitar setengah meter, sekop salah seorang pekerja menghantam benda keras.

Bukan batu.

Sebuah kotak besi tua.

Pak Tono meminta semua orang menjauh.

Ia membuka kotak tersebut sendiri.

Di dalamnya terdapat buku catatan yang hampir hancur, beberapa lembar dokumen, dan kain putih panjang.

Kain yang sama seperti yang terlihat di CCTV.

Tangan Pak Tono gemetar.

Di antara dokumen itu terdapat surat lama yang ditulis tangan.

Tulisan di bagian bawah membuat dadanya sesak.

Nama ayahnya.

Pak Tono membaca perlahan.

Surat itu ternyata sebuah pengakuan.

Empat puluh tahun lalu, kematian ternak bukan disebabkan Jatmiko.

Ayah Pak Tono mengetahui bahwa wabah penyakit berasal dari ternak yang dibelinya secara ilegal dari luar daerah.

Jika hal itu diketahui, usahanya akan ditutup.

Maka Jatmiko dijadikan kambing hitam.

Namun ada kalimat terakhir yang membuat Pak Tono kehilangan tenaga.

Jatmiko datang malam itu untuk meminta namanya dibersihkan.

Terjadi pertengkaran.

Ia terjatuh dan meninggal.

Karena panik, ayah Pak Tono dan dua orang lainnya menyembunyikan jasadnya.

Pak Tono menutup mulut.

Ia menatap tanah di bawah kakinya.

Tidak.

Ia mulai menggali sendiri.

Lebih dalam.

Satu meter.

Satu setengah meter.

Kemudian sekopnya berhenti.

Semua orang yang berdiri di belakangnya mendadak diam.

Di dalam tanah ditemukan sisa kerangka manusia.

Di pergelangan tangannya masih terdapat gelang logam kecil bertuliskan satu nama.

Jatmiko.

Pak Tono jatuh terduduk.

Malam itu polisi datang.

Area peternakan dipasangi garis pembatas.

Kabar penemuan kerangka manusia membuat desa semakin gempar.

Namun misteri kematian tiga ratus babi belum terjawab.

Hasil pemeriksaan laboratorium keluar dua hari kemudian.

Tidak ditemukan penyakit menular yang dapat menjelaskan kematian serentak tersebut.

Tidak ditemukan racun dalam jumlah yang dapat menyebabkan kematian massal.

Pak Tono tidak tidur selama dua malam.

Pada malam ketiga, sekitar pukul sebelas, ia duduk sendirian di ruang CCTV.

Peternakan kosong.

Bangkai ternak telah dipindahkan.

Ia membuka rekaman malam kejadian sekali lagi.

Kali ini bukan karena takut.

Ia mencari jawaban.

Pukul 23.41.

Bayangan muncul.

Pukul 23.43.

Lampu berkedip.

Pukul 23.45.

Lelaki itu mengetuk kamera.

Pak Tono menghentikan rekaman tepat sebelum gambar rusak.

Ia memperbesar wajah lelaki itu semaksimal mungkin.

Gambar pecah.

Namun untuk sesaat, bagian wajahnya terlihat.

Pak Tono mengambil foto lama yang diberikan Mbah Wiryo.

Ia membandingkannya.

Mirip.

Sangat mirip.

“Jatmiko…” bisiknya.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

Tok.

Tok.

Tok.

Pak Tono membeku.

Bukan dari komputer.

Suara itu berasal dari pintu ruangan CCTV.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Pak Tono berdiri perlahan.

Ia membuka pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya lorong gelap.

Namun di lantai terdapat selembar kertas.

Pak Tono mengambilnya.

Tulisan tangan memenuhi bagian tengah kertas.

Aku tidak mengambil ternakmu.

Aku hanya ingin namaku kembali.

Pak Tono mundur beberapa langkah.

Ia hampir menjatuhkan kertas itu.

Keesokan harinya ia membawa surat tersebut kepada Mbah Wiryo.

Tetapi lelaki tua itu justru tertawa kecil setelah membacanya.

“Kenapa Mbah tertawa?”

“Karena akhirnya kamu memahami sesuatu.”

“Apa?”

“Jatmiko bukan datang untuk membunuh ternakmu.”

“Lalu siapa?”

Mbah Wiryo menatapnya tajam.

“Tidak ada siapa-siapa.”

Pak Tono mengernyit.

“Bagaimana mungkin?”

“Cari penyebabnya sekali lagi. Jangan mencari hantu. Cari kesalahan manusia.”

Kalimat itu membuat Pak Tono berpikir.

Ia kembali memeriksa seluruh data peternakan.

Catatan listrik.

Pakan.

Obat.

Sistem ventilasi.

Laporan pekerja.

Akhirnya ia menemukan sesuatu.

Pada malam kejadian, generator otomatis mengalami kerusakan selama hampir dua jam.

Sistem ventilasi utama berhenti bekerja.

Sensor udara seharusnya mengirim peringatan ke ponselnya, tetapi sistem alarm telah dinonaktifkan tiga minggu sebelumnya.

Oleh siapa?

Pak Tono memanggil kepala teknisi.

Lelaki itu menunjukkan laporan lama.

“Bapak sendiri yang meminta alarm dimatikan sementara.”

Pak Tono terdiam.

Ia mulai ingat.

Beberapa minggu sebelumnya alarm terlalu sering berbunyi akibat sensor bermasalah. Karena merasa terganggu, ia menyuruh teknisi mematikannya sampai sensor baru datang.

Namun ia lupa.

Arif kemudian melakukan pemeriksaan tambahan.

Kali ini jawabannya muncul.

Gangguan ventilasi menyebabkan kondisi udara kandang memburuk drastis pada malam tersebut. Kombinasi gas dari limbah, ruang yang tertutup, dan sistem sirkulasi yang mati menyebabkan ternak kehilangan kesadaran dalam waktu hampir bersamaan.

Kematian itu bukan kutukan.

Bukan Jatmiko.

Itu kelalaian Pak Tono sendiri.

“Tapi CCTV?” tanya Bu Tono.

Pertanyaan itu tetap tidak memiliki jawaban.

Pak Tono meminta seorang teknisi keamanan memeriksa rekaman.

Teknisi itu menemukan sesuatu yang lebih aneh.

Bayangan tersebut memang terekam.

Namun suara tiga ketukan tidak berasal dari mikrofon kamera kandang.

Suara itu masuk langsung ke berkas rekaman.

Tidak ada penjelasan teknis yang masuk akal.

Beberapa minggu kemudian, kerangka Jatmiko dimakamkan dengan layak.

Pak Tono mengundang keluarga Jatmiko yang masih tersisa dan meminta maaf atas nama keluarganya.

Ia juga menyerahkan sebagian tanah di sisi timur peternakan kepada mereka.

Di depan warga desa, Pak Tono berdiri tanpa kesombongan yang pernah ia tunjukkan.

“Ayah saya melakukan kesalahan besar,” katanya. “Dan saya melakukan kesalahan yang berbeda. Saya terlalu yakin bahwa uang, teknologi, dan pengalaman membuat saya tidak mungkin salah.”

Ia berhenti sebentar.

“Saya menertawakan peringatan karena saya merasa paling tahu. Ternyata yang menghancurkan peternakan saya bukan makhluk gaib. Kelalaian saya sendiri.”

Mbah Wiryo yang berdiri di belakang kerumunan tersenyum.

Sejak hari itu Pak Tono membangun kembali peternakannya dengan sistem keselamatan baru.

Namun ia tidak pernah lagi menggunakan sisi timur sebagai kandang.

Di sana ia menanam pohon dan membangun sebuah tempat kecil untuk mengenang Jatmiko.

Enam bulan kemudian, peternakan kembali berjalan.

Tidak pernah ada kejadian aneh lagi.

Sampai suatu malam.

Pak Tono sedang memeriksa CCTV dari rumah ketika kamera sisi timur mendeteksi gerakan.

Ia membuka notifikasi.

Di bawah pohon yang ditanam di dekat makam lama, terlihat seorang lelaki kurus berdiri membelakangi kamera.

Pak Tono tidak merasa takut.

Ia hanya menatap layar.

Lelaki itu perlahan berbalik.

Kali ini wajahnya terlihat jelas.

Jatmiko tersenyum.

Kemudian ia mengangkat tangan seolah mengucapkan selamat tinggal.

Gambar berkedip sekali.

Ketika kembali normal, tempat itu kosong.

Pak Tono mengembuskan napas panjang.

Namun sebelum menutup aplikasi CCTV, ia melihat sesuatu di pojok layar.

Timestamp rekaman menunjukkan pukul 23.45.

Tiga detik kemudian, terdengar suara pelan dari speaker.

Tok.

Tok.

Tok.

Pak Tono tersenyum tipis.

“Namamu sudah kembali, Pak Jatmiko.”

Dan sejak malam itu, kamera di sisi timur tidak pernah menangkap sosok tersebut lagi.

Pak Tono akhirnya memahami bahwa tidak semua peringatan harus dipercaya karena rasa takut, tetapi tidak seharusnya pula ditertawakan karena kesombongan. Terkadang sesuatu yang dianggap sebagai kutukan sebenarnya adalah akibat dari kesalahan manusia. Dan terkadang, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan bukan datang untuk mencelakai.

Ia hanya datang karena sebuah kebenaran telah terlalu lama dikubur.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang