DOKTER MENOLAK MELAKUKAN OPERASI DARURAT PADA SEORANG ANAK KARENA MENGIRA IBUNYA TIDAK MAMPU MEMBAYAR UANG MUKA RUMAH SAKIT. NAMUN, KETIKA AYAH ANAK ITU DATANG DENGAN SERAGAM KERJA YANG DIPENUHI DEBU DAN LUMPUR, SELURUH UNIT GAWAT DARURAT MENDADAK TERDIAM—KARENA PRIA YANG MEREKA KIRA HANYA SEORANG BURUH BIASA ITULAH ORANG YANG MEMBANGUN RUMAH SAKIT TERSEBUT…

“Seratus lima puluh juta rupiah.”

Aku menatap Dr. Adrian Santoso tanpa berkedip.

Untuk sesaat, suara di lorong IGD seolah menghilang.

Yang terdengar hanya dengung pendingin ruangan dan bunyi roda ranjang yang berderit di kejauhan.

“Berapa, Dok?”

“Deposit awal seratus lima puluh juta,” ulangnya datar. “Karena tindakan ini masuk operasi darurat dengan kemungkinan perawatan intensif setelahnya.”

Tanganku gemetar.

“Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang.”

Dr. Adrian menutup map di tangannya.

“Kalau begitu Ibu bisa menyelesaikan administrasinya dulu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Anak saya sedang mengalami perdarahan.”

“Saya tahu.”

“Kalau dokter tahu, kenapa dokter menyuruh saya mengurus pembayaran?”

Wajahnya tetap tenang.

“Rumah sakit punya prosedur.”

Aku mendekat satu langkah.

“Kalau saya tidak bisa membayar sekarang, anak saya dibiarkan?”

“Ibu jangan memelintir ucapan saya.”

“Lalu apa bedanya?”

Seorang perawat di dekat kami menundukkan wajah.

Aku bisa melihat kegelisahan di matanya.

“Dok,” katanya pelan, “tekanan darah pasien turun lagi.”

Dr. Adrian menoleh.

“Siapkan transfusi.”

“Operasinya?”

Dokter itu tidak langsung menjawab.

Dadaku terasa seperti diremas.

Aku meraih lengannya.

“Tolong. Saya mohon.”

Dia menarik tangannya.

“Ibu sebaiknya bicara dengan bagian keuangan.”

Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri ketika berkata, “Kalau sesuatu terjadi pada anak saya karena kalian menunggu uang, saya tidak akan diam.”

Dr. Adrian menghela napas.

Tatapannya turun pada pakaian sederhanaku.

Hari itu aku hanya mengenakan kaus lengan panjang, celana kain, dan sandal. Aku bahkan tidak sempat membawa tas.

“Bu,” katanya lebih pelan, “kami sering menerima keluarga pasien yang berjanji akan membayar setelah tindakan. Pada akhirnya tagihan tidak diselesaikan.”

Aku menatapnya.

Jadi itu alasannya.

Dia melihatku dan langsung memutuskan siapa aku.

Perempuan yang tidak mampu membayar.

Perempuan yang mungkin akan kabur setelah anaknya ditolong.

Aku mengambil ponsel dengan tangan gemetar dan menelepon suamiku.

Sekali.

Tidak diangkat.

Dua kali.

Tidak diangkat.

Aku mencoba lagi.

Kali ini tersambung.

“Mas.”

Suara mesin berat terdengar dari seberang.

“Marlina?”

“Mas, Rafi kecelakaan.”

Suara mesin itu berhenti.

“Apa?”

“Dia di Rumah Sakit Mahendra. Dokter bilang perdarahan internal. Harus operasi sekarang.”

Terdengar napas suamiku memburu.

“Aku ke sana.”

“Mas…”

Aku menelan ludah.

“Mereka minta deposit seratus lima puluh juta sebelum operasi.”

Hening.

Lalu suamiku berkata, “Jangan tanda tangan apa pun selain persetujuan medis. Aku datang.”

Telepon terputus.

Aku tahu suamiku sedang bekerja di proyek konstruksi di pinggir kota.

Namanya Darma Wijaya.

Pagi itu dia berangkat pukul enam mengenakan seragam proyek berwarna abu-abu, sepatu bot, dan helm keselamatan.

Banyak orang mengenalnya sebagai orang lapangan.

Bahkan sebagian tetangga kami mengira Darma hanyalah mandor konstruksi.

Darma tidak pernah merasa perlu menjelaskan pekerjaan sebenarnya kepada siapa pun.

Dia tidak suka bicara soal uang.

Tidak suka memakai pakaian mahal.

Tidak punya mobil mewah.

Setiap hari dia mengendarai pikap tua yang catnya mulai kusam.

Ketika kami menikah, dia pernah berkata kepadaku, “Kalau seseorang menghormatiku hanya karena tahu berapa isi rekeningku, berarti sejak awal dia tidak benar-benar menghormatiku.”

Aku dulu menganggap itu hanya kalimat sederhana.

Hari itu aku baru memahami seberapa dalam maknanya.

Dua puluh menit berlalu.

Seorang perawat keluar lagi.

Wajahnya tegang.

“Bu Marlina.”

Aku berdiri cepat.

“Bagaimana anak saya?”

“Tekanan darahnya terus turun.”

“Operasi sekarang.”

Perawat itu menatap Dr. Adrian.

Dokter tersebut sedang berbicara dengan petugas administrasi.

Aku berteriak, “Dokter!”

Semua orang menoleh.

“Anak saya semakin parah!”

Dr. Adrian berjalan mendekat.

“Saya sudah menjelaskan prosedurnya.”

“Suami saya sedang menuju ke sini.”

“Kapan sampai?”

“Saya tidak tahu.”

“Lima menit? Satu jam?”

“Apa itu penting?”

“Ini rumah sakit, Bu. Semua harus jelas.”

Sesuatu dalam diriku akhirnya pecah.

“Yang harus jelas adalah anak saya sedang sekarat sementara kalian sibuk menghitung uang.”

Lorong IGD terdiam.

Dr. Adrian mengencangkan rahang.

“Jaga ucapan Ibu.”

Aku hendak membalas ketika pintu masuk IGD terbuka keras.

Seorang pria masuk tergesa-gesa.

Seragam kerjanya abu-abu penuh debu.

Celananya terkena lumpur sampai ke lutut.

Sepatu botnya meninggalkan jejak tanah di lantai putih mengilap.

Rambutnya basah oleh keringat.

Darma.

Aku berlari menghampirinya.

“Mas.”

Dia memegang kedua bahuku.

“Rafi di mana?”

“Di dalam.”

“Sudah operasi?”

Aku menggeleng.

Tatapannya berubah.

“Kenapa?”

Aku menunjuk Dr. Adrian.

“Belum ada deposit.”

Darma melepaskanku dan berjalan mendekati dokter itu.

“Saya ayah Rafi.”

Dr. Adrian mengangguk singkat.

“Bagus. Bapak bisa ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran.”

Darma menatapnya beberapa detik.

“Anak saya membutuhkan operasi sekarang?”

“Ya.”

“Berapa lama sudah ditunda?”

Dr. Adrian mulai terlihat tidak nyaman.

“Kami tidak menunda. Kami menunggu penyelesaian administrasi.”

“Berapa lama?”

Seorang perawat menjawab lirih, “Hampir empat puluh menit, Pak.”

Wajah Darma berubah.

Namun suaranya tetap rendah.

“Siapa kepala IGD hari ini?”

Dr. Adrian mengernyit.

“Bapak bisa menyampaikan keluhan nanti. Sekarang silakan selesaikan deposit.”

Darma mengeluarkan ponselnya.

Bukan dompet.

Bukan kartu bank.

Dia menelepon seseorang.

“Pak Surya, saya di IGD Mahendra.”

Dia diam beberapa detik.

“Datang ke sini sekarang.”

Telepon ditutup.

Dr. Adrian menatap seragamnya.

“Pak, semakin cepat Bapak ke kasir, semakin cepat kami bisa memproses semuanya.”

Darma memandangnya.

“Saya tidak akan ke kasir.”

Dr. Adrian mengangkat alis.

“Kalau begitu kami tidak bisa menjamin—”

“Dokter Adrian.”

Suara pria lain memotong dari ujung lorong.

Seorang laki-laki berjas hitam berjalan cepat menuju kami.

Aku mengenalnya dari sebuah foto.

Surya Pranoto.

Direktur Utama Rumah Sakit Mahendra.

Di belakangnya ada dua manajer dan seorang perempuan dari bagian legal.

Begitu sampai di depan Darma, Surya berhenti.

Wajahnya pucat.

“Pak Darma.”

Dr. Adrian menoleh cepat.

Mungkin baru saat itulah dia mulai menyadari sesuatu.

Darma menunjuk pintu ruang tindakan.

“Anak saya ada di sana.”

Surya tampak terkejut.

“Putra Bapak?”

“Perdarahan internal.”

“Kenapa belum masuk ruang operasi?”

Tidak ada yang menjawab.

Tatapan Surya beralih kepada Dr. Adrian.

“Dok?”

Dr. Adrian membuka mulut.

“Administrasi belum—”

“Operasikan sekarang.”

Suara Surya keras.

“Tapi prosedur deposit—”

“Sekarang!”

Beberapa perawat langsung bergerak.

Ranjang Rafi didorong keluar menuju lift operasi.

Aku berlari mendekatinya.

Wajah anakku nyaris tidak berwarna.

“Rafi…”

Tanganku menyentuh ujung rambutnya sebelum pintu lift tertutup.

Aku menangis di dada Darma.

Namun Darma tidak menangis.

Belum.

Dia berdiri memandang Dr. Adrian.

“Dokter tahu siapa saya?”

Dr. Adrian menelan ludah.

“Maaf, Pak, saya belum pernah bertemu langsung.”

Darma mengangguk.

“Itu bagus.”

Semua orang terdiam.

“Karena kalau dokter bersedia menolong anak saya hanya setelah tahu siapa saya, itu berarti masalahnya lebih buruk daripada yang saya pikir.”

Dr. Adrian memucat.

Surya berkata, “Pak Darma, kami akan melakukan investigasi.”

Darma menatap direktur itu.

“Bukan cuma investigasi.”

Dia menunjuk logo besar Rumah Sakit Mahendra di dinding.

“Dua belas tahun lalu, ketika gedung ini belum ada, saya berdiri di tanah kosong bersama almarhum Pak Mahendra.”

Aku mengetahui kisah itu.

Darma adalah pendiri Wijaya Infrastruktur, perusahaan konstruksi yang membangun kompleks rumah sakit tersebut.

Tetapi hanya sedikit orang tahu bahwa ia juga salah satu investor awal yang menyelamatkan proyek pembangunan saat pendanaan nyaris gagal.

Ia menolak namanya dicantumkan di bangunan.

Baginya rumah sakit bukan monumen.

Rumah sakit adalah tempat orang datang ketika hidup mereka sedang berada di ujung.

Darma melanjutkan, “Pak Mahendra mengatakan kepada saya satu hal. Jangan pernah biarkan rumah sakit ini berubah menjadi tempat yang menanyakan isi dompet sebelum menyelamatkan nyawa.”

Wajah Surya menegang.

“Pak, saya benar-benar minta maaf.”

Darma tidak menjawab.

Ia menatap ruang operasi.

“Kita bicara setelah anak saya selamat.”

Operasi berlangsung hampir tiga jam.

Tiga jam terpanjang dalam hidupku.

Aku duduk di kursi lorong sambil terus memegang tas sekolah Rafi yang dibawa polisi ke rumah sakit.

Ada noda darah di salah satu talinya.

Aku tidak sanggup melihatnya terlalu lama.

Darma duduk di sampingku.

Lumpur di seragamnya sudah mengering.

Untuk pertama kalinya sejak datang, tangannya gemetar.

“Mas.”

Dia menatapku.

“Aku hampir terlambat.”

“Bukan salahmu.”

“Aku hampir kehilangan dia karena sistem di gedung yang kubangun sendiri.”

Matanya merah.

Aku menggenggam tangannya.

Pintu ruang operasi akhirnya terbuka.

Seorang dokter bedah keluar.

Kami berdiri serentak.

“Orang tua Rafi?”

“Iya.”

Dokter melepas maskernya.

“Operasinya berhasil.”

Lututku hampir roboh.

Darma menangkap lenganku.

“Perdarahannya sudah dikendalikan. Dua puluh empat jam pertama masih kritis, tetapi kondisinya saat ini stabil.”

Aku menutup wajah dan menangis.

Darma menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya hari itu, air matanya jatuh.

Rafi dipindahkan ke ICU.

Malam itu aku menolak meninggalkan rumah sakit.

Sekitar pukul sebelas, Surya kembali datang membawa beberapa dokumen.

Darma duduk bersamaku di ruang tunggu.

“Pak,” kata Surya, “kami sudah memeriksa rekaman, dokumen medis, serta komunikasi staf.”

Darma menatapnya.

“Hasilnya?”

“Dokter Adrian memang meminta penundaan tindakan sampai ada kepastian deposit.”

Aku merasakan amarah kembali naik.

Surya melanjutkan, “Dan ini ternyata bukan kasus pertama.”

Darma mengangkat wajah.

“Apa maksudmu?”

“Dalam enam bulan terakhir ada empat keluhan serupa.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

Surya menunduk.

“Keluhan berhenti di tingkat manajemen pelayanan.”

“Siapa yang menahannya?”

Surya tidak langsung menjawab.

Kemudian ia menyerahkan sebuah map.

“Direktur operasional.”

Darma membuka map.

Aku melihat ekspresinya berubah.

Nama di halaman pertama adalah Hendra Gunawan.

Aku mengenal nama itu.

Hendra sudah bekerja bersama Darma sejak awal pembangunan rumah sakit.

Orang yang selama bertahun-tahun dianggap seperti keluarga.

Orang yang bahkan datang ke ulang tahun Rafi setiap tahun.

“Ada apa lagi?” tanyaku.

Surya menarik napas.

“Deposit darurat ternyata dijadikan salah satu indikator pendapatan unit sejak delapan bulan lalu. Kebijakan internal itu tidak pernah mendapat persetujuan dewan yayasan.”

Darma menutup map perlahan.

Jadi masalahnya jauh lebih besar daripada kesombongan satu dokter.

Ada sistem yang sengaja dibentuk untuk menekan keluarga pasien.

Malam itu juga Darma meminta rapat darurat.

Dr. Adrian dinonaktifkan sementara untuk pemeriksaan etik.

Hendra diberhentikan dari jabatannya sambil menunggu audit.

Namun sesuatu yang paling mengejutkan terjadi dua hari kemudian.

Rafi sudah sadar.

Dia masih lemah, tetapi bisa berbicara.

Aku duduk di sisinya ketika Dr. Adrian datang.

Bukan dengan jas putih.

Ia memakai kemeja biasa.

Seorang petugas rumah sakit menunggu di luar.

Aku ingin mengusirnya.

Namun Darma berkata, “Biarkan dia bicara.”

Dr. Adrian berdiri di ujung tempat tidur.

Wajahnya berbeda.

Tidak ada lagi ketegasan dingin yang kulihat di IGD.

“Saya minta maaf.”

Darma diam.

Dokter itu menatapku.

“Saya membuat keputusan yang salah. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan itu.”

Aku menahan emosi.

“Kalau suami saya bukan Darma Wijaya, apa anak saya tetap akan hidup sekarang?”

Pertanyaan itu membuat ruangan sunyi.

Dr. Adrian menunduk.

“Saya tidak tahu.”

Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan.

Darma kemudian berkata, “Saya tidak ingin Anda meminta maaf kepada saya.”

Dr. Adrian mengangkat wajah.

“Minta maaf kepada semua pasien yang pernah Anda lihat sebagai tagihan sebelum melihat mereka sebagai manusia.”

Dokter itu terdiam lama.

Lalu mengangguk.

Sebulan setelah Rafi pulang, Rumah Sakit Mahendra mengumumkan perubahan besar.

Tidak ada lagi deposit sebagai syarat tindakan penyelamatan darurat.

Semua kasus gawat ditangani terlebih dahulu, administrasi menyusul.

Seluruh sistem pengaduan pasien dibuat langsung terhubung dengan dewan pengawas independen.

Tetapi Darma melakukan satu hal lagi.

Ia memasang sebuah tulisan di dinding utama IGD.

Bukan namanya.

Bukan nama perusahaannya.

Hanya satu kalimat.

“Di ruangan ini, nyawa manusia tidak memiliki kelas ekonomi.”

Beberapa minggu kemudian aku bertanya kepadanya kenapa ia tidak memecat semua orang yang terlibat.

Darma memandang Rafi yang sedang belajar berjalan kembali di halaman rumah.

“Karena kadang yang rusak bukan hanya orangnya.”

“Lalu?”

“Kadang sistem membuat orang lupa kenapa mereka memilih profesinya sejak awal. Orang yang masih bisa berubah harus diberi kesempatan. Tapi sistem yang membiarkan nyawa ditukar dengan uang harus dihancurkan.”

Aku terdiam.

Rafi menoleh ke arah kami.

“Ayah!”

Darma tersenyum dan berjalan menghampirinya.

Seragam proyeknya masih sama.

Sepatu botnya masih sering penuh lumpur.

Pikap tuanya masih terparkir di depan rumah.

Dan orang-orang yang tidak mengenalnya mungkin masih akan mengira dia hanya seorang pekerja bangunan biasa.

Namun sejak hari itu aku semakin mengerti kenapa Darma tidak pernah merasa perlu menjelaskan siapa dirinya.

Karena harga diri seseorang tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakannya.

Dan nilai nyawa manusia tidak boleh ditentukan oleh jumlah uang yang mampu ia bayarkan.

Rafi akhirnya kembali ke sekolah tiga bulan kemudian.

Pada pagi pertamanya, dia kembali bertanya kepadaku dengan wajah penuh harap.

“Bu, sekarang boleh bawa bola?”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa sambil menangis.

“Boleh.”

Dia berlari keluar rumah.

Darma sudah menunggunya di depan pikap tua.

Sebelum naik, Rafi tiba-tiba berhenti dan menoleh.

“Bu.”

“Apa?”

“Nanti kalau aku besar, aku mau jadi dokter.”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

Dia menjawab tanpa ragu.

“Supaya kalau ada anak sakit, aku obati dulu. Soal uang bisa dipikirkan nanti.”

Aku tidak mampu menjawab.

Darma juga terdiam.

Kami hanya saling berpandangan.

Dan saat itulah aku sadar, mungkin kejadian paling buruk dalam hidup kami telah meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebesar apa pun.

Sebuah pelajaran yang akan dibawa anak kami sepanjang hidupnya.

Bahwa sebelum jabatan, kekayaan, aturan, atau seragam apa pun, manusia harus tetap melihat manusia lain sebagai manusia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang