Aku tidak pernah menyangka kepulangan kakak-kakakku ke rumah akan membuat Ibu menangis di meja makan yang bahkan belum sempat kami sentuh.
Padahal rumah sederhana ini dulu selalu menjadi tempat paling hangat bagi kami.
Di meja kayu yang sama, dulu kami berebut paha ayam goreng buatan Ibu. Mas Aron sering sengaja mengambil tempe dari piring Mbak Ayu lalu lari ke halaman sambil tertawa. Aku yang paling kecil biasanya mengadu kepada Bapak jika tidak kebagian sambal terasi.
Tapi entah sejak kapan semuanya berubah.

Mungkin sejak mereka merasa hidupnya lebih tinggi hanya karena menikah dengan orang berduit.
Atau sejak mereka mulai mengukur harga seseorang dari kendaraan, rumah, dan saldo rekening.
Mbak Delia mendengus setelah mendengar jawabanku.
“Kamu sekarang berani banget sama kakak sendiri, Rum.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku cuma nggak mau Ibu dan Bapak terus dimanfaatkan.”
Mas Aron yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung maju.
“Dimanfaatkan apanya? Kami ini anak mereka juga.”
“Kalau memang merasa anak, kenapa tiap datang malah bikin orang tua keluar uang?”
Wajah Mas Aron memerah.
“Mulutmu dijaga.”
“Kenapa? Karena yang aku bilang benar?”
Suasana mendadak sunyi.
Bapak yang duduk di sampingku bangkit perlahan. Tubuhnya sudah tidak sekuat dulu, tapi tatapannya membuat semua orang berhenti bicara.
“Sudah.”
Satu kata itu terdengar berat.
Bapak memandang Mas Aron, lalu Mbak Ayu.
“Kalian pulang ke rumah ini kalau rindu orang tua, Bapak senang. Tapi kalau pulang cuma mau makan enak, minta dilayani, lalu menghina adik kalian karena hidup sederhana, lebih baik jangan datang.”
“Bapak kok malah bela Arum?” protes Mbak Ayu.
“Bapak tidak bela siapa-siapa. Bapak bela yang benar.”
Mbak Ayu tertawa kecil.
“Ya sudah. Kalau Bapak merasa Arum paling baik, biar saja nanti dia yang urus Bapak dan Ibu.”
Aku terdiam.
Bukan karena takut.
Tapi karena kalimat itu terasa seperti membuka wajah asli seseorang.
Ibu buru-buru berdiri.
“Ayu, jangan ngomong begitu.”
Namun Mbak Ayu malah mengambil tasnya.
“Aku capek. Pulang jauh-jauh malah disindir terus.”
“Ya sudah, kalau mau pulang silakan,” kata Bapak.
Semua orang menoleh.
Aku bahkan hampir tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut Bapak.
Mbak Ayu terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju kamar sambil membanting pintu.
Mas Aron dan Mbak Delia menyusul ke kamar lain.
Malam itu kami makan hanya bertiga.
Ayam goreng yang biasanya terasa gurih seperti kehilangan rasa.
Ibu hanya mengaduk sayur bening tanpa benar-benar menyuapkannya ke mulut.
Aku ingin menceritakan bahwa toko tempatku bekerja bangkrut.
Aku ingin bilang bahwa mulai hari ini aku juga tidak punya penghasilan.
Tapi melihat wajah Ibu seperti itu, aku tidak sanggup.
Setelah makan aku masuk kamar.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Ratna.
Rum, jadi Senin kita ikut Refaldy, kan?
Aku cepat membalas.
Jadi. Semoga ada kerjaan.
Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.
Rum, kamu sebenarnya tahu nggak Refaldy kerja di mana?
Aku mengernyit.
Bukannya di perusahaan distribusi yang pernah dia ceritakan?
Ratna mengirim emotikon tertawa.
Katanya sih begitu. Tapi tadi aku cari nama lengkapnya di internet. Kok aneh.
Aneh bagaimana?
Belum sempat Ratna menjawab, terdengar suara gaduh dari ruang tengah.
Aku buru-buru keluar.
Mbak Ayu berdiri di depan Bapak sambil memegang secarik kertas.
“Ini apa, Pak?”
Wajah Bapak langsung berubah.
Ibu yang tadi sedang melipat pakaian ikut terdiam.
Aku mendekat.
Kertas yang dipegang Mbak Ayu ternyata surat pemberitahuan pajak tanah.
“Kenapa sertifikat tanah belakang masih atas nama Bapak?” tanya Mbak Ayu.
Bapak menghela napas.
“Memangnya kenapa?”
“Katanya dulu tanah itu mau diberikan ke aku.”
“Tidak pernah Bapak bilang begitu.”
“Bu, Ibu pernah bilang!”
Ibu terlihat panik.
“Ibu cuma bilang nanti kalau kami sudah tua, harta dibicarakan bersama. Bukan berarti tanah itu punya kamu.”
Mbak Ayu langsung menatapku.
“Jangan-jangan mau dikasih ke Arum.”
Aku tertawa hambar.
“Kenapa semua dikaitkan sama aku?”
“Karena kamu yang tinggal di sini terus.”
“Aku tinggal di sini karena memang belum menikah. Dan selama ini aku ikut bayar listrik, belanja dapur, obat Bapak. Apa itu salah?”
Mbak Delia ikut keluar kamar.
“Kalau memang semua anak sama, ya aset juga harus jelas dari sekarang.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Mereka pulang belum sehari, tapi sudah membicarakan warisan sementara kedua orang tua kami masih sehat.
Bapak tampak sangat kecewa.
“Jadi itu tujuan kalian?”
“Tidak begitu, Pak,” kata Mas Aron cepat.
“Kalau tidak begitu, kenapa malam-malam membicarakan tanah?”
Tidak ada yang menjawab.
Bapak kemudian mengambil kertas itu dari tangan Mbak Ayu.
“Selama Bapak dan Ibu masih hidup, tidak ada yang boleh mengatur harta kami.”
Malam itu menjadi malam terpanjang di rumah kami.
Pagi berikutnya, Mbak Ayu dan keluarganya pulang lebih dulu. Mas Aron dan Mbak Delia ikut pergi beberapa jam kemudian.
Anehnya, sebelum masuk mobil Mbak Ayu sempat mendekatiku.
“Jangan sok suci, Rum. Orang miskin paling gampang berubah kalau sudah lihat uang.”
Aku hanya menjawab pendek.
“Semoga Mbak nggak sedang bicara tentang diri sendiri.”
Ia mendelik lalu pergi.
Hari Minggu kuhabiskan membantu Ibu membersihkan rumah.
Aku juga akhirnya memberanikan diri menceritakan soal pekerjaanku.
“Ibu, toko tempat Arum kerja tutup.”
Tangan Ibu yang sedang mengupas bawang berhenti.
“Kamu diberhentikan?”
Aku mengangguk.
“Semua karyawan.”
“Kenapa baru bilang?”
“Aku takut Ibu kepikiran.”
Ibu justru tersenyum.
“Rezeki itu bukan cuma dari satu pintu, Nduk.”
Aku hampir menangis mendengarnya.
Bapak yang mendengar dari ruang depan ikut menyahut.
“Yang penting kamu jangan malu mulai lagi dari bawah.”
Aku mengangguk.
Besok aku akan ikut Refaldy.
Setidaknya masih ada harapan.
Senin pagi, Refaldy datang menjemputku dan Ratna dengan mobil abu-abu sederhana.
Aku sempat heran.
Biasanya dia naik motor tua.
“Kok pakai mobil?” tanyaku.
“Pinjam,” jawabnya singkat.
Ratna menatapku sambil menaikkan alis.
Kami dibawa menuju kota.
Semakin lama perjalanan, aku semakin bingung karena mobil masuk ke kawasan perkantoran baru yang dipenuhi gedung tinggi.
“Fal, memang kita mau ke mana?” tanya Ratna.
“Interview.”
“Di mana?”
Refaldy hanya tersenyum.
“Sebentar lagi tahu.”
Mobil berhenti di depan gedung besar dengan tulisan Pradana Retail Group.
Aku mengenal nama itu.
Perusahaan tersebut memiliki puluhan jaringan supermarket, gudang distribusi, dan pusat perbelanjaan di berbagai kota.
Aku langsung menatap Refaldy.
“Kamu serius?”
“Iya.”
Kami turun.
Seorang satpam yang melihat Refaldy langsung berdiri tegak.
“Pagi, Pak.”
Aku dan Ratna saling pandang.
Refaldy mengangguk santai.
“Pagi.”
Saat masuk lobi, resepsionis juga berdiri.
“Selamat pagi, Pak Refaldy.”
Jantungku mulai berdebar aneh.
Aku menarik lengannya.
“Fal.”
“Hm?”
“Sebenarnya kamu kerja sebagai apa di sini?”
Belum sempat ia menjawab, seorang pria berkemeja putih mendekat.
“Pak Refaldy, rapat direksi jam sepuluh sudah siap. Pak Komisaris juga sudah menunggu.”
Mulut Ratna terbuka.
Aku seperti kehilangan suara.
“Direksi?” bisikku.
Refaldy menggaruk belakang kepalanya.
“Maaf, Rum. Aku belum sempat cerita.”
“Tunggu. Kamu siapa sebenarnya?”
Ia menatapku lalu tersenyum tipis.
“Direktur operasional.”
Ratna langsung menepuk lenganku.
“Rum, aku mau pingsan.”
Aku tidak tertawa.
Aku justru teringat ucapan Mbak Ayu.
Kalau mau sama Arum harus kaya.
Dan jawaban Refaldy.
Nggak hanya kaya, tapi juga berattitude.
Ternyata selama ini laki-laki yang mereka hina karena memakai motor tua dan pakaian sederhana adalah salah satu pimpinan perusahaan besar.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” tanyaku.
“Karena biasanya orang akan berubah setelah tahu.”
Jawaban itu membuatku diam.
Refaldy kemudian menjelaskan bahwa motor tua yang sering digunakannya memang miliknya sendiri.
Ia sengaja lebih sering naik motor karena praktis.
Rumah tempat tinggalnya juga rumah sederhana milik almarhum neneknya.
“Jadi kamu sengaja hidup biasa saja?”
“Aku nggak merasa sedang berpura-pura jadi miskin. Aku cuma nggak suka menunjukkan apa yang nggak perlu ditunjukkan.”
Hari itu aku dan Ratna menjalani wawancara.
Aku diterima sebagai staf administrasi gudang dengan masa percobaan tiga bulan.
Ratna masuk bagian customer service.
Saat keluar ruangan, aku hampir menangis karena lega.
“Terima kasih, Fal.”
“Jangan terima kasih ke aku dulu. Kamu diterima karena hasil tesmu memang bagus.”
“Tapi kalau kamu nggak bawa aku ke sini…”
“Rum.”
Ia memotong dengan lembut.
“Orang yang sedang jatuh cuma butuh seseorang yang menunjukkan ada tangga di dekatnya. Yang naik tetap kamu sendiri.”
Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan pulang.
Tiga bulan berlalu.
Aku bekerja keras.
Aku mulai bisa menabung lagi.
Bahkan berhasil membeli motor bekas tanpa berutang.
Hubunganku dengan Refaldy juga semakin dekat.
Ia beberapa kali datang ke rumah, bukan untuk membawa hadiah mahal, tetapi membantu Bapak memperbaiki genteng atau membawakan obat Ibu.
Anehnya, semakin aku mengenalnya, semakin aku sadar satu hal.
Refaldy memang mampu membeli banyak hal.
Tapi yang membuatku menghargainya bukan hartanya.
Melainkan caranya memperlakukan orang lain.
Suatu sore, Mbak Ayu tiba-tiba pulang.
Kali ini ia datang sendirian.
Wajahnya pucat dan matanya sembap.
Aku yang sedang menyapu halaman langsung menghampiri.
“Mbak?”
Ia tidak menjawab.
Begitu melihat Ibu, Mbak Ayu langsung memeluknya dan menangis.
Ternyata usaha suaminya sedang bermasalah.
Utangnya besar.
Mobil sudah ditarik leasing.
Rumah mereka bahkan terancam disita.
Malamnya kami duduk di ruang tengah.
Mbak Ayu menunduk.
“Pak, aku mau pinjam sertifikat tanah belakang.”
Bapak memandangnya lama.
“Untuk apa?”
“Buat jaminan bank.”
Ibu langsung memucat.
Aku tidak berkata apa-apa.
“Bapak nggak bisa kasih.”
Mbak Ayu menangis.
“Aku anak Bapak.”
“Justru karena kamu anak Bapak, Bapak nggak mau menyelamatkanmu dengan cara membuat kami kehilangan tempat hidup.”
“Tapi aku bisa mengembalikan.”
“Bapak dulu juga pernah yakin begitu ketika membantu pamanmu. Sampai akhirnya sawah peninggalan kakekmu hilang.”
Mbak Ayu menutup wajah.
Untuk pertama kalinya aku melihat kakakku tanpa kesombongannya.
Tidak ada tas bermerek.
Tidak ada parfum mahal.
Tidak ada cerita tentang restoran atau liburan.
Hanya seorang anak yang takut kehilangan semuanya.
Aku masuk kamar mengambil buku tabungan.
Tabunganku memang belum banyak.
Tapi cukup untuk membantu kebutuhan mendesak beberapa bulan.
Aku meletakkannya di depan Mbak Ayu.
“Pakai ini dulu.”
Ia menatapku kaget.
“Rum…”
“Nggak cukup untuk nutup utang. Tapi setidaknya buat kebutuhan Mbak dan anak-anak.”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Bukannya kamu benci sama aku?”
“Aku marah sama sikap Mbak. Bukan berarti aku senang lihat Mbak susah.”
Tangisnya pecah.
Malam itu Mbak Ayu memelukku untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Beberapa minggu kemudian, Refaldy datang bersama kedua orang tuanya.
Ia mengenakan kemeja sederhana seperti biasa.
Tidak ada rombongan mewah.
Tidak ada mobil berjejer.
Di ruang tamu rumah kami, Refaldy menyampaikan niat melamarku.
Mbak Ayu yang masih tinggal sementara bersama Ibu menatapnya malu-malu.
Setelah acara selesai, ia menghampiri Refaldy.
“Fal, maaf ya dulu Mbak ngomong sembarangan.”
Refaldy tersenyum.
“Nggak apa-apa, Mbak.”
Mbak Ayu menunduk.
“Aku dulu pikir uang bisa menentukan nilai seseorang.”
Refaldy melirik ke arahku.
“Uang memang penting, Mbak. Kita semua perlu uang untuk hidup.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi kalau uang membuat kita kehilangan cara menghormati orang lain, berarti yang kita punya bukan kekayaan. Cuma angka.”
Aku melihat Bapak tersenyum.
Ibu menyeka sudut matanya.
Beberapa bulan kemudian aku dan Refaldy menikah dalam acara sederhana.
Tidak ada gedung mewah.
Tidak ada dekorasi berlebihan.
Kami memilih menggunakan sebagian biaya yang seharusnya untuk pesta besar untuk memperbaiki rumah Bapak dan Ibu.
Dan satu hal yang baru kuketahui setelah menikah membuatku benar-benar terkejut.
Tanah belakang yang dulu diperebutkan kakak-kakakku ternyata sudah dijual Bapak diam-diam.
Bukan untukku.
Bukan untuk Mas Aron.
Bukan pula untuk Mbak Ayu.
Uangnya dibagi menjadi tabungan kesehatan untuk Bapak dan Ibu serta modal usaha kecil atas nama seluruh cucu mereka.
Saat kutanya mengapa, Bapak hanya tertawa.
“Bapak sengaja tidak kasih tahu siapa-siapa.”
“Kenapa?”
“Supaya kelihatan siapa yang pulang karena kangen dan siapa yang pulang karena tanah.”
Aku terdiam lama.
Bapak menepuk bahuku.
“Rum, manusia itu sering merasa harta menunjukkan siapa yang paling berhasil.”
Ia memandang ke halaman, tempat Refaldy sedang membantu Ibu menjemur pakaian.
“Padahal saat harta hilang, baru terlihat siapa sebenarnya manusia itu.”
Aku mengikuti arah pandang Bapak.
Dulu keluargaku hampir pecah karena uang.
Ironisnya, justru ketika beberapa dari kami kehilangan uang, kami mulai belajar menemukan kembali satu sama lain.
Dan dari semua hal yang terjadi, aku akhirnya memahami satu hal.
Menikah dengan orang kaya memang bisa mengubah kehidupan.
Tapi menikah, bersaudara, atau hidup bersama orang yang tahu cara menghargai manusia, itulah yang membuat kehidupan memiliki nilai.
Karena kekayaan bisa hilang dalam semalam.
Rumah bisa disita.
Mobil bisa ditarik.
Usaha bisa bangkrut.
Namun sikap baik yang tertanam dalam diri seseorang tidak akan ikut hilang hanya karena isi rekeningnya berubah.
