Nadia tidak menangis di depan gerbang itu.
Bukan karena hatinya tidak hancur.
Justru karena rasa sakit yang datang terlalu besar sampai air matanya seolah lupa bagaimana caranya jatuh.
Rizky menengadah kepadanya.
“Bunda, itu Ayah?”
Nadia menunduk dan mengusap rambut anaknya.
“Iya.”
“Kenapa Ayah tidak turun?”
Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras daripada apa pun.
Nadia belum sempat menjawab ketika satpam mendekat dengan wajah tidak enak.
“Maaf, Bu. Saya diminta meminta Ibu pergi.”
Nadia memandang gerbang rumah yang seharusnya menjadi miliknya.
“Rumah ini milik siapa?”
Satpam ragu.
“Pak Handoko.”
“Sejak kapan?”
“Saya kerja di sini hampir dua tahun, Bu. Sejak awal Pak Handoko memang tinggal di sini.”
Nadia merasa ujung jarinya dingin.
“Dengan perempuan tadi?”
Satpam kembali terdiam.
Jawabannya sudah cukup jelas.
Nadia mengeluarkan ponsel.
Ia memotret nomor rumah, gerbang, kamera keamanan, lalu papan kecil di dekat pos satpam yang bertuliskan nama penghuni.
Handoko Wijaya.
Di bawahnya tertulis nama lain.
Clarissa Wijaya.
Nadia membaca nama itu dua kali.
Wijaya.
Perempuan tadi bahkan menggunakan nama keluarga suaminya.
Bukan sekadar selingkuhan.
Handoko telah membangun kehidupan lain.
Ponsel Nadia bergetar.
Pesan dari Opa Suryo.
Jangan lakukan apa pun sendirian. Opa sedang menuju ke sana.
Dua puluh menit kemudian SUV hitam milik Opa Suryo berhenti tepat di depan rumah.
Pria tua itu turun bersama seorang pengacara bernama Farhan dan dua staf keamanan.
Wajahnya jauh lebih dingin daripada malam sebelumnya.
“Mana Handoko?”
“Pergi.”
“Ke mana?”
“Katanya pesta pertunangan.”
Opa Suryo memejamkan mata beberapa detik.
“Pertunangan?”
Nadia mengangguk.
“Dengan perempuan bernama Clarissa.”
Opa menoleh kepada Farhan.
“Periksa semua dokumen perwalian sekarang.”
Farhan membuka laptop di dalam mobil.
Tidak sampai lima menit, wajahnya berubah serius.
“Pak Suryo, ada masalah besar.”
“Apa?”
“Rumah ini benar memang tercatat dalam struktur perwalian untuk Nadia dan Rizky.”
Nadia menahan napas.
“Tapi?”
“Dua tahun lalu ada surat kuasa pengelolaan yang memberi Handoko kewenangan terbatas untuk renovasi dan administrasi.”
Farhan memutar layar laptop.
“Namun setelah itu muncul dokumen tambahan. Isinya seolah-olah Nadia memberikan hak tinggal penuh dan izin menjaminkan aset.”
“Saya tidak pernah menandatangani apa pun,” kata Nadia cepat.
Farhan mengangguk.
“Saya juga curiga tanda tangannya palsu.”
Opa Suryo memukul ujung tongkatnya ke tanah.
“Handoko menjaminkan rumah?”
“Belum sampai terjadi pengalihan kepemilikan. Tapi dia menggunakannya untuk mendapatkan fasilitas kredit dan membangun kesan bahwa rumah ini adalah aset pribadinya.”
Nadia tiba-tiba teringat sesuatu.
Selama dua tahun terakhir Handoko sering mengeluh bahwa gajinya dipotong untuk membayar utang proyek.
Nadia bahkan pernah mengirimkan hampir seluruh uang hasil penjualan perhiasannya.
“Jadi uang yang selama ini dia minta…”
Farhan menatapnya.
“Kemungkinan besar bukan untuk kebutuhan yang dia katakan.”
Opa Suryo menarik napas panjang.
“Di mana pesta mereka?”
Nadia teringat percakapan satpam.
“Hotel Arunika.”
Opa langsung masuk kembali ke mobil.
Nadia menahannya.
“Opa mau melakukan apa?”
“Menjemput kembali milikmu.”
“Opa.”
Pria tua itu menatap cucunya.
“Selama dua tahun dia membuatmu hidup seperti orang yang tidak punya siapa-siapa. Sekarang Opa hanya ingin memastikan dia tidak lagi punya kesempatan berbohong.”
Hotel Arunika berada di kawasan pusat Jakarta.
Ketika Nadia tiba bersama Opa, lobi hotel penuh dekorasi bunga putih dan emas.
Sebuah papan besar berdiri di dekat ballroom.
Celebrating the Engagement of Handoko and Clarissa.
Nadia merasa dadanya seperti diremas.
Di bawah nama mereka terpampang foto Handoko dan Clarissa.
Handoko mengenakan jas hitam.
Clarissa mengenakan gaun mewah dan gelang zamrud milik ibu Nadia.
Bu Ratna berdiri di sebelah mereka dalam foto keluarga.
Farhan membaca papan itu lalu menatap Nadia.
“Masih ingin masuk?”
Nadia mengangguk.
“Kali ini saya ingin melihat semuanya sampai selesai.”
Ballroom dipenuhi hampir dua ratus tamu.
Handoko sedang berdiri di panggung sambil memegang mikrofon.
“Rumah kami di Pondok Indah nanti akan menjadi tempat kami memulai keluarga baru.”
Tepuk tangan terdengar.
Clarissa tersenyum lebar.
Bu Ratna bahkan terlihat menyeka air mata haru.
Kemudian pintu ballroom terbuka.
Suara tepuk tangan perlahan berhenti.
Nadia masuk sambil menggandeng Rizky.
Opa Suryo berjalan di sampingnya.
Farhan mengikuti beberapa langkah di belakang.
Wajah Handoko langsung berubah.
“Nadia?”
Clarissa berbisik kepada Handoko.
“Kenapa perempuan itu ada di sini?”
Bu Ratna berdiri.
“Kamu keterlaluan! Datang ke acara orang hanya untuk membuat keributan!”
Nadia berhenti di tengah ballroom.
“Acara orang?”
Bu Ratna menunjuk pintu.
“Keluar.”
Nadia tidak bergerak.
“Bu Ratna, gelang yang dipakai Clarissa itu milik ibu saya.”
Clarissa spontan menutupi pergelangan tangannya.
“Handoko yang memberikannya.”
Nadia menatap suaminya.
“Katamu gelang itu dicuri.”
Handoko turun dari panggung.
“Nadia, kita bisa bicara di luar.”

“Kenapa harus di luar?”
“Jangan bikin malu keluarga.”
Untuk pertama kalinya Nadia tertawa kecil.
“Keluarga yang mana?”
Ruangan menjadi sunyi.
Nadia melanjutkan.
“Keluarga yang tinggal bersamamu di rumah Rp28 miliar milik saya dan anak kita?”
Beberapa tamu mulai berbisik.
Wajah Clarissa berubah.
“Apa maksudnya?”
Handoko langsung memotong.
“Jangan dengarkan dia. Nadia sedang tidak stabil.”
Kalimat itu membuat Nadia membeku.
Dua tahun.
Setiap kali Nadia mempertanyakan sesuatu, Handoko selalu mengatakan hal yang sama.
Kamu terlalu lelah.
Kamu terlalu banyak berpikir.
Kamu sedang tidak stabil.
Sekarang Nadia akhirnya melihat pola itu dengan jelas.
Opa Suryo maju.
“Kalau cucuku tidak stabil, mungkin saya juga tidak stabil.”
Handoko memucat.
“Opa…”
“Jangan panggil saya Opa.”
Semua orang diam.
Suryo Pratama memang jarang muncul di media, tetapi banyak tamu mengenal wajahnya.
Salah satu pengusaha di barisan depan langsung berdiri.
“Pak Suryo Pratama?”
Bisikan semakin ramai.
Clarissa menatap Handoko.
“Kamu bilang keluarga Nadia sudah bangkrut.”
Handoko tidak menjawab.
Opa Suryo mengangkat satu map.
“Rumah Pondok Indah yang kau banggakan kepada semua orang bukan milikmu.”
Ia menyerahkan dokumen kepada Farhan.
Farhan berjalan menuju layar presentasi.
Beberapa detik kemudian sertifikat dan dokumen perwalian muncul di layar besar ballroom.
Nama penerima manfaat terlihat jelas.
Nadia Sastro.
Rizky Wijaya.
Tidak ada nama Handoko.
Clarissa berdiri perlahan.
“Handoko?”
“Ini salah paham.”
Farhan membuka dokumen berikutnya.
“Dan tanda tangan yang digunakan untuk memperoleh fasilitas kredit sedang kami ajukan untuk pemeriksaan forensik karena diduga dipalsukan.”
Handoko mulai berkeringat.
Bu Ratna berteriak.
“Itu tuduhan!”
Farhan menatapnya tenang.
“Kita biarkan penyidik yang menentukan.”
Clarissa menarik gelang zamrud dari pergelangan tangannya.
“Kamu bilang ini milik nenekmu.”
Handoko mendekatinya.
“Clarissa, dengarkan aku.”
“Dan rumah itu?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Mobil?”
Handoko diam.
Clarissa menoleh kepada ibunya yang duduk di meja depan.
Wajah wanita itu sudah merah karena malu.
Ternyata keluarga Clarissa bukan keluarga biasa.
Ayah Clarissa adalah pemilik perusahaan properti yang selama beberapa bulan terakhir merencanakan kerja sama bisnis dengan Handoko.
Handoko mengaku memiliki beberapa aset dan akses modal melalui keluarga Pratama.
Pertunangan itu bukan hanya soal hubungan pribadi.
Handoko sedang berusaha mendapatkan investasi.
Ayah Clarissa berdiri.
“Berapa banyak yang kau bohongi?”
Handoko mulai kehilangan kendali.
“Semuanya masih bisa dibereskan.”
Nadia menatapnya.
“Ada satu hal lagi.”
Handoko menoleh.
Nadia mengeluarkan beberapa lembar rekening bank.
Farhan telah menemukannya pagi itu.
Selama dua tahun terakhir, Handoko menerima transfer rutin dari rekening trust untuk biaya pemeliharaan rumah.
Jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
Tidak satu rupiah pun pernah sampai kepada Nadia.
Selain itu, uang hasil penjualan perhiasan Nadia juga masuk ke rekening pribadi Handoko.
Beberapa hari kemudian uang itu digunakan untuk membeli jam tangan, membayar perjalanan ke Bali dan menyewa mobil mewah.
Nadia mengangkat ponselnya.
“Waktu Rizky demam dan saya tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit swasta, kamu bilang gajimu belum cair.”
Handoko memandang lantai.
“Pada hari yang sama, kamu membeli jam tangan seharga seratus delapan puluh juta.”
Tidak ada suara.
Bahkan musik ballroom telah dimatikan.
Bu Ratna tiba-tiba menangis.
“Nadia, kita keluarga. Jangan hancurkan semuanya.”
Nadia menatap ibu mertuanya.
Dulu kalimat semacam itu akan membuatnya merasa bersalah.
Sekarang tidak lagi.
“Ibu juga tahu?”
Bu Ratna diam.
“Dua tahun Ibu datang ke kontrakan saya membawa beras dua kilo sambil bilang Handoko sedang berjuang keras.”
Air mata Bu Ratna jatuh.
Nadia melanjutkan.
“Padahal Ibu tinggal bergantian di rumah saya.”
Clarissa melepas cincin pertunangan.
Ia meletakkannya di meja.
“Kita selesai.”
Handoko panik.
“Clarissa!”
“Jangan sentuh aku.”
Ayah Clarissa langsung meminta stafnya menghentikan semua pembicaraan investasi.
Dalam waktu kurang dari lima menit, pesta yang dirancang Handoko untuk memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha sukses berubah menjadi kehancuran total.
Para tamu mulai meninggalkan ballroom.
Beberapa mitra bisnis Handoko memutuskan pergi tanpa berjabat tangan.
Namun Handoko masih belum menyerah.
Ia mendekati Nadia.
“Pulanglah denganku. Kita bicara sebagai suami istri.”
Nadia memandangnya lama.
“Pulang ke mana?”
“Ke rumah kita.”
“Rumah kita?”
Handoko terdiam.
Nadia menatap Rizky.
Anak itu sedang bersembunyi di balik kaki Opa Suryo.
“Selama dua tahun, rumahmu adalah tempat saya menghitung apakah uang cukup untuk membeli susu anakmu.”
Suara Nadia tetap pelan.
“Sedangkan rumah saya kamu gunakan untuk berpesta dengan perempuan lain.”
Handoko menurunkan suara.
“Aku melakukan semua ini karena aku tertekan hidup di bawah bayang-bayang keluargamu.”
Nadia hampir tidak percaya.
“Jadi karena merasa minder, kamu harus menghancurkan hidup kami?”
“Aku hanya ingin dianggap berhasil.”
Nadia mengangguk perlahan.
“Sekarang semua orang sudah melihat siapa dirimu.”
Tiga hari kemudian Nadia resmi melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan.
Pemeriksaan rekening membuka kebohongan yang lebih besar.
Handoko ternyata memiliki utang pribadi hampir Rp4 miliar.
Sebagian digunakan untuk gaya hidup, sebagian untuk spekulasi bisnis gagal.
Ia bahkan pernah mencoba menjadikan rumah Pondok Indah sebagai jaminan lebih besar, tetapi proses itu tertahan karena struktur perwalian mewajibkan persetujuan tambahan.
Justru aturan yang dahulu dianggap Opa Suryo terlalu rumit itulah yang akhirnya menyelamatkan rumah tersebut.
Proses perceraian dimulai tidak lama kemudian.
Handoko sempat meminta Nadia mencabut laporan.
Bu Ratna beberapa kali datang sambil menangis.
Namun Nadia tidak berubah pikiran.
Bukan karena ingin balas dendam.
Ia hanya tidak ingin Rizky tumbuh dengan pelajaran bahwa cinta berarti menerima kebohongan tanpa batas.
Enam bulan kemudian Nadia kembali ke kampus.
Ia menyelesaikan kuliah hukum yang pernah ditinggalkannya.
Rumah Pondok Indah tidak langsung ditempati.
Nadia justru meminta rumah itu direnovasi sebagian untuk menghilangkan semua jejak kehidupan Handoko di sana.
Kamar terbesar di lantai dua diubah menjadi ruang belajar.
Satu ruangan lain dijadikan perpustakaan kecil.
Pada hari pertama pindah, Rizky berlari ke halaman belakang.
“Bunda, rumah ini benar-benar punya kita?”
Nadia berjongkok.
“Punya kamu juga.”
Rizky berpikir sebentar.
“Berarti Ayah tidak boleh ambil lagi?”
Nadia memeluknya.
“Tidak.”
Opa Suryo berdiri beberapa meter dari mereka.
Wajah pria tua itu terlihat menahan emosi.
Nadia mendekat.
“Apa?”
Opa menggeleng.
“Opa cuma menyesal.”
“Karena apa?”
“Karena merasa uang dan rumah cukup untuk menjaga kalian.”
Nadia tersenyum tipis.
“Opa tidak tahu.”
“Opa seharusnya tahu.”
Nadia menggenggam tangan kakeknya.
“Sekarang Opa tahu.”
Setahun kemudian Nadia lulus.
Di hari wisuda, Rizky berlari membawa bunga kecil.
Opa Suryo berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca.
Nadia menerima ijazah bukan sebagai pewaris keluarga Pratama.
Bukan sebagai mantan istri Handoko.
Melainkan sebagai dirinya sendiri.
Di luar gedung, seorang staf menyerahkan amplop.
Pengirimnya adalah Handoko.
Nadia hampir membuangnya, tetapi akhirnya membuka.
Isinya hanya satu lembar surat.
Handoko menulis bahwa seluruh hidupnya hancur dan ia kehilangan rumah, bisnis, Clarissa serta hampir semua teman yang dahulu mengelilinginya.
Di bagian terakhir tertulis satu kalimat.
Aku baru sadar orang paling kaya di rumah itu sebenarnya bukan aku.
Nadia membaca kalimat tersebut dua kali.
Lalu ia melipat surat itu.
Opa bertanya, “Apa katanya?”
Nadia memasukkan surat ke dalam tas.
“Tidak penting.”
Ia menggandeng Rizky dan berjalan menuju mobil.
Rumah Rp28 miliar itu memang akhirnya kembali kepadanya.
Tetapi Nadia memahami sesuatu yang jauh lebih berharga.
Selama dua tahun Handoko berhasil mencuri rumah, uang, perhiasan dan kepercayaannya.
Namun ada satu hal yang gagal ia rampas.
Kemampuan Nadia untuk bangkit.
Dan ketika seseorang masih memiliki keberanian untuk memulai kembali, kehilangan sebesar apa pun tidak pernah benar-benar menjadi akhir.
