“Saya yakin.”
Jawaban saya terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruang tamu seolah kehilangan udara.
Letnan Teguh Pratama tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap menempel pada wajah saya, seakan sedang mencari keraguan di balik keberanian yang baru saja saya tunjukkan.
Namun saya tidak menunduk.
Di belakangnya, Tari tampak kaku.
Beberapa detik sebelumnya, dia masih berdiri dengan dagu terangkat seperti seseorang yang yakin seluruh keadaan berada dalam kendalinya. Sekarang jemarinya perlahan mencengkeram ujung kemeja putih yang dikenakannya.
Teguh akhirnya membuka suara.
“Kalau begitu, saya juga setuju.”
Tari tersentak.
“Apa?”
Teguh menoleh kepadanya.
“Saya menghargai keputusan Mbak Tari yang tidak ingin menjalani perjodohan ini. Saya juga tidak punya kebiasaan memaksa seseorang yang sudah mengatakan tidak.”
Wajah Tari berubah.
“Tapi saya…”
“Dan karena isi perjanjian hanya menyebut keturunan keluarga Rahardjo dan Pratama, secara prinsip Nisa memenuhi syarat.”
Laksamana Broto mengangguk.
“Benar.”
Bu Wiwik langsung berdiri.
“Tidak bisa begitu!”
Suaranya nyaris melengking.
“Nisa tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seorang istri perwira. Dia bahkan tidak pernah tinggal di kota. Masak saja masih pakai tungku kayu!”
Saya menatap tangan saya yang masih berbau asap.
Anehnya, saya tidak merasa malu.
Teguh justru melihat telapak tangan saya beberapa detik.
“Lalu kenapa?”
Bu Wiwik terdiam.
“Orang bisa belajar,” lanjut Teguh. “Tapi keteguhan hati tidak selalu bisa diajarkan.”
Tari semakin pucat.
Tulisan-tulisan aneh kembali muncul di depan mata saya.
Tari mulai panik.
Dia tidak pernah benar-benar ingin menolak.
Dia hanya mengira Teguh akan mengejarnya.
Kalau Nisa benar-benar mengambil tempatnya, semua rencana Tari akan hancur.
Saya menahan napas.
Jadi tulisan itu masih muncul.
Tari tiba-tiba maju.
“Tunggu!”
Semua mata beralih kepadanya.
Dia tersenyum, tetapi senyum itu terasa dipaksakan.
“Sepertinya semua orang terlalu serius menanggapi ucapan saya tadi.”
Ayah mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
Tari menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Saya hanya ingin memastikan keluarga Pratama tidak melihat saya sebagai perempuan yang gampang menerima perjodohan begitu saja.”
Dia melirik Teguh.
“Saya ingin tahu seperti apa sikap calon suami saya ketika menghadapi perempuan yang punya pendirian.”
Ruang tamu kembali sunyi.
Saya hampir tidak percaya.
Dia bahkan mengakui sebagian rencananya sendiri.
Namun Tari masih berusaha tersenyum.
“Kalau Letnan Teguh sudah datang sendiri, tentu kita bisa bicara baik-baik dulu.”
Teguh memandangnya tanpa ekspresi.
“Tadi Mbak Tari mengatakan tidak mau menikah.”
“Itu karena saya belum bertemu langsung dengan Anda.”
“Anda juga mengatakan siapa pun yang mau boleh mengambil kesempatan ini.”
Tari tercekat.
“Saya sedang emosi.”
Teguh mengangguk pelan.

“Kalau begitu, justru saya harus berterima kasih karena emosi itu membuat semuanya menjadi lebih jelas.”
Wajah Tari benar-benar kehilangan warna.
Bu Wiwik segera menarik Ayah ke samping.
“Pak, lakukan sesuatu!”
Ayah menatap saya dengan tajam.
“Nisa, tarik ucapanmu.”
Saya tidak bergerak.
“Nenek perlu berobat.”
Kalimat itu membuat Ayah membeku.
Saya melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Kalau saya menikah dan ikut keluarga Pratama, saya ingin membawa Nenek ke rumah sakit.”
Bu Wiwik langsung mencibir.
“Jadi kamu mau menikah hanya demi fasilitas?”
Saya menatapnya.
“Saya tidak bilang begitu.”
“Lalu apa?”
“Saya memang belum mengenal Mas Teguh. Dia juga belum mengenal saya. Tapi kalau pernikahan ini memang harus dijalankan karena janji dua keluarga, setidaknya saya tidak sedang bermain-main dengan perasaan siapa pun.”
Saya melirik Tari.
“Saya tidak berpura-pura menolak hanya supaya dikejar.”
Tari membanting telapak tangan ke meja.
“Nisa!”
Dompet kecil di atas meja ikut terguncang.
Lembaran kertas yang sejak tadi terlihat dari celah dompet jatuh ke lantai.
Teguh lebih cepat membungkuk untuk mengambilnya.
Saya melihat pupil mata Tari membesar.
“Jangan!”
Terlambat.
Teguh membuka kertas tersebut.
Di bagian atas tertulis jelas biodata dirinya.
Nama lengkap.
Tempat tugas.
Riwayat pendidikan.
Bahkan terdapat catatan mengenai kenaikan pangkat terakhirnya.
Laksamana Broto mengernyitkan dahi.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
Tari membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Saya diam.
Kali ini saya tidak perlu membongkar apa pun.
Bukti itu sudah jatuh sendiri di depan semua orang.
Teguh membaca bagian belakang kertas.
Ada beberapa tulisan tangan.
Rumah dinas.
Tunjangan keluarga.
Akses rumah sakit militer.
Peluang penempatan Jakarta.
Teguh berhenti membaca.
Tatapannya berubah dingin.
“Ini tulisan Mbak Tari?”
Tari segera merebut kertas tersebut.
“Saya hanya mencari informasi!”
“Tentu.”
“Salah kalau saya ingin tahu calon suami saya?”
“Tidak.”
Teguh berdiri tegak.
“Yang aneh adalah Anda mengaku tidak pernah peduli pada perjodohan ini, tetapi ternyata sudah mencatat fasilitas yang mungkin Anda dapatkan.”
Tari mulai kehilangan kendali.
“Jangan memutarbalikkan keadaan!”
“Justru saya sedang mencoba memahaminya.”
Tari menatap saya dengan penuh kemarahan.
“Ini semua gara-gara kamu!”
Saya menggeleng.
“Saya tidak memasukkan kertas itu ke dompet Kakak.”
Tari mengangkat tangan.
Untuk sesaat saya yakin dia hendak menampar saya.
Namun sebuah tangan lain menahan pergelangan tangannya.
Teguh.
“Jangan.”
Suaranya rendah, tetapi tegas.
Tari menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mas Teguh, saya bisa menjelaskan.”
“Silakan.”
Tari menarik tangannya.
“Saya…”
Dia menoleh kepada Ayah dan Bu Wiwik, lalu kepada Laksamana Broto.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Akhirnya bahunya turun.
“Saya hanya tidak mau terlihat murahan.”
Laksamana Broto mengerutkan alis.
“Murahan?”
“Teman-teman saya bilang laki-laki seperti Mas Teguh pasti dikelilingi banyak perempuan. Kalau saya langsung menerima, saya akan terlihat terlalu mudah.”
Teguh tertawa kecil.
Bukan tawa mengejek.
Lebih seperti seseorang yang baru memahami betapa sia-sianya sebuah permainan.
“Saya datang ke sini untuk memenuhi janji keluarga, bukan mencari perempuan yang paling sulit ditaklukkan.”
Tari mulai menangis.
“Tapi saya sebenarnya mau.”
Kalimat itu membuat semuanya selesai.
Laksamana Broto berdiri.
“Nak Tari, kesempatan tidak selalu mengetuk dua kali.”
Lalu beliau menatap saya.
“Nisa, saya perlu memastikan satu hal. Kamu tidak perlu menikah hanya karena ingin menolong nenekmu.”
Saya terdiam.
“Saya tetap akan membantu membawa nenekmu ke rumah sakit.”
Saya terpaku.
“Walaupun saya tidak menikah dengan Mas Teguh?”
“Walaupun tidak.”
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang tamu itu, dada saya terasa sesak.
Saya tidak tahu harus berkata apa.
Selama ini saya selalu berpikir segala sesuatu harus dibayar.
Makanan harus dibayar dengan kerja.
Sekolah harus dibayar dengan keberuntungan.
Kasih sayang harus dibayar dengan kepatuhan.
Ternyata ada orang yang bersedia membantu tanpa meminta saya menyerahkan hidup sebagai gantinya.
Teguh kemudian menatap saya.
“Jadi sekarang saya bertanya lagi.”
Dia melepas topi dinasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Kalau urusan pengobatan nenekmu tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini, apakah kamu masih ingin mempertimbangkan menikah denganku?”
Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Sekarang tidak ada jatah beras.
Tidak ada rumah sakit.
Tidak ada alasan praktis.
Hanya saya dan seorang laki-laki yang nyaris tidak saya kenal.
Saya menatapnya cukup lama.
“Saya tidak bisa langsung bilang mau menikah.”
Ayah mendesis.
“Nisa!”
Namun Teguh justru tersenyum tipis.
“Lanjutkan.”
“Saya mau mengenal Mas Teguh dulu.”
“Berapa lama?”
“Tidak tahu.”
Senyumnya melebar sedikit.
“Baik.”
Tari menatap kami dengan tidak percaya.
“Jadi perjodohan ini bagaimana?”
Laksamana Broto menggulung kembali dokumen lama itu.
“Kita hentikan.”
Ayah langsung berdiri.
“Pak Broto!”
“Janji orang tua kita dibuat agar dua keluarga saling menjaga, bukan agar cucu-cucunya terjebak dalam permainan harga diri.”
Beliau memasukkan dokumen itu ke tas.
“Kalau Teguh dan Nisa nantinya menikah, biarlah karena mereka memilih satu sama lain.”
Hari itu juga, mobil militer membawa Nenek ke rumah sakit di kota.
Dokter mengatakan infeksi paru-parunya sudah cukup berat, tetapi masih bisa ditangani.
Saya menginap di samping ranjangnya selama beberapa hari.
Teguh datang hampir setiap sore.
Kadang membawa buah.
Kadang membawa koran.
Kadang tidak membawa apa-apa dan hanya duduk mengobrol dengan Nenek.
Yang mengejutkan, dia hampir tidak pernah membicarakan pernikahan.
Dia justru bertanya tentang kehidupan saya.
Tentang mengapa saya berhenti sekolah.
Tentang apa yang ingin saya lakukan kalau diberi kesempatan.
Suatu sore saya menjawab pelan.
“Saya ingin jadi perawat.”
Teguh menoleh.
“Kenapa?”
“Karena rasanya menyakitkan ketika ada orang sakit di depan mata kita, tetapi kita tidak tahu harus berbuat apa.”
Dia terdiam beberapa detik.
“Lanjutkan sekolah.”
Saya tertawa kecil.
“Semudah itu?”
“Memang tidak mudah.”
“Biayanya?”
“Kamu bisa mencari beasiswa.”
Saya mengangkat alis.
“Bukan Mas Teguh yang bayar?”
“Kalau semuanya saya bayar, nanti kamu akan merasa berutang kepada saya.”
Jawaban itu membuat saya terdiam.
Teguh tersenyum.
“Saya lebih suka punya istri yang memilih tinggal karena dia mau, bukan karena merasa punya utang.”
Entah sejak kapan kata istri yang keluar dari mulutnya tidak lagi membuat saya ingin mundur.
Enam bulan kemudian, Nenek membaik.
Saya juga berhasil mengikuti program pendidikan keperawatan dengan bantuan beasiswa dari yayasan militer.
Hubungan saya dan Teguh terus berjalan.
Tidak dramatis.
Tidak penuh rayuan.
Tetapi tenang.
Dia datang ketika berjanji akan datang.
Dia mendengar ketika saya bicara.
Dan yang paling penting, dia tidak pernah membuat saya merasa kecil karena saya berasal dari desa.
Sementara itu Tari pindah ke kota.
Dia tidak pernah meminta maaf.
Menurut Bu Wiwik, dia bekerja di sebuah perusahaan perdagangan dan bertekad menemukan laki-laki yang jauh lebih sukses daripada Teguh.
Saya tidak peduli.
Sampai setahun kemudian, ketika keluarga besar berkumpul lagi untuk merayakan ulang tahun Nenek.
Teguh datang bersama Laksamana Broto.
Kali ini bukan membawa dokumen perjodohan.
Dia membawa sebuah kotak kecil.
Di depan semua orang, Teguh berdiri di hadapan saya.
“Nisa Rahardjo, sekarang kamu sudah punya pilihan.”
Jantung saya berdetak cepat.
“Kamu punya pendidikan. Kamu punya jalan hidup sendiri. Nenekmu sehat. Tidak ada lagi alasan untuk menikah demi menyelamatkan siapa pun.”
Dia membuka kotak tersebut.
Sebuah cincin sederhana terlihat di dalamnya.
“Sekarang saya ingin bertanya sekali lagi. Kamu masih mau berjalan bersama saya?”
Saya belum sempat menjawab ketika suara Tari terdengar dari pintu.
“Tunggu!”
Semua orang menoleh.
Tari berdiri di sana dengan wajah pucat.
Di sampingnya ada seorang pria berjas yang terlihat jauh lebih tua.
Namun pria itu segera melepaskan tangannya dari Tari begitu melihat Laksamana Broto.
“Pak Broto?”
Laksamana Broto mengernyitkan dahi.
“Kamu?”
Pria itu tersenyum kaku.
Ternyata dia adalah kontraktor yang beberapa bulan terakhir sedang diperiksa karena dugaan penyalahgunaan dana pembangunan perumahan dinas.
Dan Tari datang bersamanya bukan sebagai calon istri.
Melainkan sebagai sekretaris pribadi.
Tari menatap Teguh, lalu cincin di tangannya.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan di wajah kakak saya.
Hanya penyesalan.
“Nisa…”
Saya menatapnya.
“Aku cuma ingin bilang…”
Suara Tari pecah.
“Dulu aku kira kamu mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”
Dia menelan ludah.
“Ternyata aku sendiri yang membuangnya.”
Saya menggeleng pelan.
“Bukan, Kak.”
Tari menatap saya.
“Mas Teguh tidak pernah menjadi milik siapa-siapa.”
Saya kemudian memandang Teguh.
“Termasuk milik saya.”
Teguh tersenyum.
Saya mengulurkan tangan.
“Tapi kalau dia masih mau berjalan bersama saya, saya juga mau.”
Ruangan langsung riuh.
Nenek tertawa paling keras sambil mengusap air mata.
Teguh memasangkan cincin itu ke jari saya.
Namun saat semua orang sibuk memberi selamat, tulisan aneh yang sudah hampir setahun tidak pernah muncul tiba-tiba terlihat lagi di depan mata saya.
Dulu semua orang mengira Nisa mengambil sisa yang dibuang Tari.
Padahal sebenarnya, Nisa tidak mengambil milik siapa pun.
Dia hanya berani menerima sebuah pintu yang dibuka kehidupan, lalu memastikan dirinya cukup kuat untuk tetap berdiri bahkan jika pintu itu suatu hari tertutup kembali.
Saya tersenyum.
Kali ini saya tidak terkejut melihat tulisan tersebut.
Karena akhirnya saya memahami sesuatu.
Kesempatan bukan soal siapa yang mendapatkannya lebih dulu.
Kesempatan adalah soal siapa yang cukup dewasa untuk menghargainya ketika kesempatan itu datang.
