MEREKA BILANG AKU BERUNTUNG MASIH BISA MELIHAT LAGI, TAPI TIDAK ADA YANG TAHU BAHWA PENGELIHATAN BARUKU MALAH MEMBUKA LUBANG KEGELAPAN YANG LEBIH DALAM DARIPADA KEGELAPAN YANG PERNAH AKU ALAMI

Namun, saat menatap jari-jariku sendiri, ada sesuatu yang terasa salah.

Ujung jari telunjuk kananku memiliki bekas luka tipis berbentuk setengah lingkaran.

Aku tidak pernah punya luka itu.

Setidaknya, tidak dalam ingatanku.

Aku mengangkat tangan lebih dekat ke wajah. Bekas luka itu sudah lama sembuh. Bukan luka akibat operasi tiga hari lalu.

“Rina.”

Dia tidak menjawab.

“Kenapa sidik jariku harus diperiksa ulang?”

Rina menatap monitor, lalu buru-buru menarik selimut hingga menutupi tanganku.

“Kesalahan administrasi.”

“Dan luka ini?”

Wajahnya memucat.

Sebelum dia sempat menjawab, pintu terbuka.

Seorang dokter berusia sekitar lima puluh tahun masuk bersama seorang perawat. Namanya tertulis di jas putihnya.

Dr. Bima Hartono.

Dia tersenyum ketika melihatku terjaga.

“Pak Andi. Bagaimana penglihatannya?”

“Cukup jelas.”

“Bagus. Itu perkembangan yang sangat baik.”

Aku menatapnya lama.

“Dok, kenapa identitas saya belum terverifikasi?”

Senyumnya menghilang.

Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya.

Dua tahun hidup dalam kegelapan membuatku belajar mendengar perubahan kecil dalam suara orang. Sekarang setelah bisa melihat lagi, aku menyadari wajah manusia jauh lebih buruk dalam menyembunyikan kebohongan.

Dr. Bima melirik Rina.

“Masalah sistem rumah sakit.”

“Semua orang mengatakan itu.”

“Karena memang begitu.”

Aku menunjuk foto di dinding.

“Lalu itu juga masalah sistem?”

Dr. Bima tidak menoleh.

Dia memeriksa infusku.

“Pak Andi baru sadar setelah prosedur besar. Kebingungan, kehilangan sebagian ingatan, bahkan perasaan asing terhadap lingkungan sendiri bisa terjadi.”

“Aku tidak kehilangan ingatan.”

“Tidak ada yang mengatakan Bapak kehilangan ingatan.”

“Tapi Anda sedang mencoba membuatku percaya bahwa aku lupa.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dr. Bima akhirnya menatapku.

“Pulanglah dulu. Istirahat. Jangan memaksakan diri mencari jawaban ketika tubuh Bapak belum siap menerimanya.”

Kalimat terakhir itu membuat tengkukku dingin.

Bukan belum siap mencari jawaban.

Belum siap menerimanya.

Dua hari kemudian aku diperbolehkan pulang.

Sepanjang perjalanan dari rumah sakit di Jakarta Selatan menuju rumah kami di Depok, aku hampir tidak berbicara.

Aku duduk di kursi penumpang sementara Rina mengemudi.

Dunia di luar jendela terasa seperti tempat asing yang pernah kukenal.

Motor berdesakan di lampu merah. Warung kopi di pinggir jalan. Baliho apartemen. Anak sekolah menyeberang sambil tertawa.

Aku seharusnya bahagia.

Selama dua tahun, aku bermimpi melihat langit lagi.

Melihat hujan.

Melihat wajah istriku.

Tapi semakin banyak yang kulihat, semakin besar ketakutan yang tumbuh dalam diriku.

Ketika kami tiba, aku langsung tahu ada yang berubah.

Rumah itu memang rumah kami. Pagar hitam yang sama. Pohon mangga yang kutanam setelah menikah.

Tapi dindingnya sekarang berwarna putih.

“Dulu hijau,” kataku.

“Dua tahun itu lama, Mas.”

Aku mengangguk.

Di ruang tamu, lebih banyak kejutan menunggu.

Sofa berbeda.

Televisi berbeda.

Foto-foto berbeda.

Yang paling menggangguku adalah hampir tidak ada foto diriku sebelum kecelakaan.

“Album pernikahan kita di mana?”

Rina yang sedang meletakkan tas berhenti.

“Kenapa tiba-tiba bertanya itu?”

“Aku ingin melihatnya.”

“Nanti.”

“Sekarang.”

Nada suaraku membuatnya menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak aku sadar, senyumnya benar-benar hilang.

“Mas Andi, kau baru pulang.”

“Dan aku ingin melihat wajahku sendiri sebelum kecelakaan.”

Rina terdiam beberapa detik.

“Albumnya rusak waktu rumah kebanjiran.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena jawabannya terlalu cepat.

“Rumah ini tidak pernah kebanjiran.”

“Dua tahun terakhir banyak yang terjadi.”

“Foto digital?”

“Laptop lama rusak.”

“Google Drive?”

“Lupa kata sandi.”

“Facebook?”

“Akunmu hilang.”

Setiap jawaban terdengar seperti pintu yang sengaja dikunci.

Malam itu aku berpura-pura tidur.

Sekitar pukul dua pagi, aku mendengar pintu kamar terbuka.

Rina berdiri di sana beberapa detik, memastikan aku tidur, lalu pergi.

Aku menunggu.

Sepuluh menit.

Kemudian bangkit.

Cahaya bulan masuk melalui jendela. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku berjalan di rumahku sendiri tanpa tongkat.

Aku mengikuti suara langkah Rina sampai ke dapur.

Dia sedang menelepon seseorang.

“Dia mulai curiga.”

Aku berhenti di balik dinding.

Suara dari telepon tidak terdengar.

Rina berbisik lagi.

“Tidak. Ingatannya masih sama.”

Jantungku berdegup keras.

“Justru itu masalahnya. Dia ingat semuanya sebagai Andi.”

Aku menutup mulut agar napasku tidak terdengar.

Kemudian Rina mengucapkan kalimat yang membuat kakiku hampir kehilangan tenaga.

“Kalau dia tahu siapa dirinya sebenarnya, semuanya selesai.”

Pagi berikutnya aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku menunggu Rina pergi membeli obat.

Begitu mobilnya keluar, aku mulai mencari.

Lemari.

Laci.

Gudang.

Tidak ada album.

Tidak ada dokumen lama.

Seolah seseorang sengaja menghapus masa lalu dari rumah itu.

Sampai aku menemukan sebuah kotak logam di bagian belakang lemari kamar.

Terkunci.

Aku mengambil obeng dari dapur dan membukanya.

Di dalamnya ada beberapa amplop rumah sakit, sebuah ponsel lama, dan dompet kulit cokelat.

Dompet itu bukan milikku.

Di dalamnya ada SIM.

Aku menariknya.

Nama di kartu itu membuat dadaku sesak.

Dimas Pradana.

Foto seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun.

Aku menatap wajahnya.

Lalu berlari ke cermin.

Hidung.

Rahang.

Alis.

Aku melihat kartu lagi.

Tanganku gemetar hebat.

Pria di kartu itu adalah aku.

Bukan mirip.

Aku.

Tanggal lahirnya 8 September 1991.

Alamatnya Bogor.

Aku membalik kartu itu, berharap menemukan sesuatu yang membuktikan bahwa aku sedang salah memahami semuanya.

Tidak ada.

Aku menyalakan ponsel lama.

Ajaibnya, masih hidup.

Tidak ada kartu SIM, tetapi galeri fotonya penuh.

Aku membuka foto pertama.

Seorang pria tersenyum di sebuah bengkel mobil.

Aku.

Foto berikutnya, aku bersama seorang perempuan yang tidak kukenal.

Foto berikutnya lagi, aku memegang kue ulang tahun.

Dan kemudian sebuah video.

Tanggalnya empat hari sebelum kecelakaanku.

Aku menekan putar.

Wajahku muncul di layar.

“Halo, kalau ada yang menemukan ponsel ini, nama saya Dimas Pradana.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Suara itu.

Suaraku sendiri.

“Tanggal delapan belas Oktober saya akan menemui seseorang bernama Andi Saputra. Dia menghubungi saya karena katanya kami mungkin memiliki hubungan keluarga.”

Video berakhir.

Aku terduduk di lantai.

Andi Saputra.

Nama yang selama dua tahun terakhir kuanggap milikku.

Suara mobil terdengar di halaman.

Rina pulang.

Aku tidak menyembunyikan apa pun.

Ketika dia masuk kamar dan melihat SIM di tanganku, kantong obat yang dibawanya jatuh.

“Siapa aku?”

Dia tidak menjawab.

“SIAPA AKU?”

Rina mulai menangis.

“Namamu Dimas.”

Dunia terasa berputar.

“Lalu Andi?”

Rina duduk perlahan di ujung tempat tidur.

“Andi adalah suamiku.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

“Dua tahun lalu,” lanjutnya, “Andi menghubungi seseorang yang sangat mirip dengannya. Namanya Dimas Pradana. Kalian bertemu karena ingin melakukan tes DNA.”

“Kenapa?”

Rina menatapku dengan mata merah.

“Karena kalian saudara kembar.”

Aku merasa udara menghilang dari kamar.

Dia menjelaskan bahwa Andi dan aku dipisahkan sejak bayi. Ada kekacauan administrasi di rumah sakit bersalin tempat ibu kami melahirkan. Aku dibesarkan keluarga Pradana, sementara Andi tumbuh bersama orang tua kandung kami.

Kami baru mengetahui keberadaan satu sama lain tiga puluh tahun kemudian.

Pada malam kami bertemu, mobil Andi mengalami kecelakaan di jalan tol.

Aku berada di dalam mobil itu.

Andi meninggal.

Aku selamat.

“Tapi kenapa aku mengingat hidupnya?”

Rina menutup wajah.

“Dokter bilang cedera otakmu menyebabkan gangguan memori. Saat sadar pertama kali, kau terus memanggil namaku. Kau tahu alamat rumah ini. Kau tahu ulang tahun Andi. Kau bahkan tahu kebiasaan-kebiasaan kecil kami.”

“Itu tidak mungkin.”

“Aku juga berpikir begitu.”

Rina kemudian membuka sesuatu di ponselnya.

Pesan-pesan lama antara Andi dan Dimas.

Andi ternyata sudah berbulan-bulan menceritakan hidupnya kepadaku sebelum kami bertemu. Masa kecilnya. Pernikahannya. Rumahnya. Rina.

Aku membaca semuanya.

Semua kenangan yang kuanggap milikku ternyata cerita yang pernah kubaca dan dengar berulang kali sebelum kecelakaan.

Otakku yang rusak menyusunnya menjadi identitas baru.

“Kenapa kau membiarkanku percaya?”

Rina menangis semakin keras.

“Karena aku egois.”

Aku menatapnya.

“Ketika dokter bilang kau terus percaya bahwa kau Andi, aku seharusnya mengatakan kebenaran. Tapi aku baru kehilangan suamiku.”

Suaranya pecah.

“Lalu aku melihat wajahmu.”

Aku mengerti sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.

“Kau melihat Andi.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu itu salah. Setiap hari aku berniat mengatakan yang sebenarnya. Tapi kau memanggilku Rin dengan cara yang sama. Kau tahu lagu kesukaan kami. Kau ingat pertama kali Andi melamarku.”

“Karena dia menceritakannya kepadaku.”

“Iya.”

Aku berdiri.

Marah, sedih, jijik, bingung.

Semua bercampur.

“Operasi mataku?”

Rina membeku.

“Apa?”

“Kenapa identitasku belum diverifikasi?”

Dia menunduk.

Aku tahu masih ada kebohongan terakhir.

“Rina.”

“Biaya operasi itu ditanggung asuransi Andi.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Karena secara resmi…” katanya terbata, “Dimas Pradana tercatat meninggal dalam kecelakaan.”

Aku mundur.

“Jadi kalian menukar identitas kami?”

“Waktu kecelakaan, kondisi kalian sangat parah. Dompet dan barang-barang tertukar. Polisi mengidentifikasi jenazah sebagai Dimas. Saat kau sadar dan mengatakan dirimu Andi, semuanya menjadi semakin rumit.”

“Dan kau diam.”

“Aku takut kehilanganmu juga.”

“KAU TIDAK PERNAH MEMILIKIKU!”

Rina terdiam.

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di wajahnya.

Aku pergi malam itu.

Tiga bulan berikutnya kuhabiskan untuk mengembalikan namaku sendiri.

Tes DNA membuktikan semuanya.

Jenazah yang dikuburkan sebagai Dimas akhirnya diidentifikasi sebagai Andi.

Dokumen kependudukanku diperbaiki.

Kasus penggunaan identitas palsu diselidiki.

Dr. Bima ternyata sudah lama mendesak Rina dan keluarga Andi untuk memberitahuku, tetapi mereka terus menunda karena kondisi psikologisku dianggap belum stabil.

Aku marah kepada mereka.

Namun kemarahan terbesar justru kutujukan pada diriku sendiri.

Setiap pagi aku berdiri di depan cermin dan bertanya:

Kalau semua kenanganku milik orang lain, apa yang tersisa dariku?

Jawabannya datang enam bulan kemudian.

Aku kembali ke bengkel di Bogor yang ada dalam foto ponsel.

Seorang lelaki tua bernama Pak Surya langsung menangis ketika melihatku.

“Dimas?”

Aku mengangguk.

Dia memelukku.

Di sana, sedikit demi sedikit, aku menemukan hidup yang pernah hilang.

Aku ternyata suka memperbaiki motor tua.

Aku tidak suka kopi manis.

Aku pernah memelihara anjing bernama Bruno.

Aku punya kebiasaan bersiul saat gugup.

Hal-hal kecil.

Tidak dramatis.

Tapi milikku.

Suatu sore, Rina datang ke bengkel.

Dia berdiri di pintu cukup lama.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Bukan karena wajahnya berubah.

Karena akhirnya aku melihatnya sebagai Rina, bukan sebagai istriku.

“Aku mau minta maaf,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku tidak berharap kau memaafkanku.”

Aku menatap perempuan yang pernah menjadi pusat dari kehidupan yang sebenarnya bukan milikku.

“Aku sudah memaafkanmu.”

Dia menangis.

“Tapi aku tidak akan kembali.”

Rina mengangguk.

“Aku mengerti.”

Sebelum pergi, dia memberikan sebuah amplop.

Di dalamnya ada foto dua bayi.

Kembar.

Di belakang foto itu tertulis dua nama dengan tinta biru yang hampir pudar.

Andi.

Dimas.

Aku menatapnya lama.

Selama dua tahun aku percaya kegelapan adalah hal paling menakutkan yang bisa dialami manusia.

Aku salah.

Kegelapan sebenarnya sederhana.

Ketika kau tidak bisa melihat, kau tahu bahwa dunia sedang tersembunyi darimu.

Yang jauh lebih menakutkan adalah ketika matamu terbuka lebar, tetapi semua yang kau lihat dibangun dari kebohongan.

Aku menyimpan foto itu di meja kerjaku.

Bukan untuk mengingat siapa Andi.

Melainkan untuk mengingat siapa aku.

Namaku Dimas Pradana.

Aku pernah hidup menggunakan nama orang lain, mencintai perempuan yang bukan istriku, dan merindukan masa lalu yang tidak pernah menjadi milikku.

Aku kehilangan dua tahun dalam kegelapan.

Lalu kehilangan beberapa bulan lagi untuk menemukan kebenaran.

Namun pada akhirnya aku memahami sesuatu.

Penglihatan bukan sekadar kemampuan melihat wajah, warna, atau cahaya.

Kadang-kadang, melihat berarti memiliki keberanian menerima kenyataan ketika kenyataan itu menghancurkan semua yang selama ini kita yakini.

Dan untuk pertama kalinya sejak mataku kembali terbuka, ketika menatap bayanganku di cermin, aku tidak lagi melihat seorang lelaki asing.

Aku melihat diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang