“Coba bawa Momo ke dokter hewan.”
Itu saran pertama yang diberikan Rani, sahabatku, ketika aku menceritakan kelakuan aneh Momo selama lima malam terakhir.
“Mungkin penglihatannya mulai bermasalah,” katanya melalui telepon. “Atau dia mencium tikus di bawah ranjang.”
“Aku sudah periksa berkali-kali. Tidak ada apa-apa.”
“Kalau begitu, justru harus diperiksa.”
Sabtu pagi, aku membawa Momo ke sebuah klinik hewan tidak jauh dari rumah kontrakanku di Depok.
Sepanjang perjalanan, Momo diam di dalam kandang kecilnya. Biasanya dia akan mengeong protes setiap kali naik mobil, tetapi hari itu dia hanya duduk sambil menatapku.
Tatapan itu membuatku tidak nyaman.
Seolah-olah dia sedang berusaha memberitahuku sesuatu.
Dokter memeriksa mata, telinga, jantung, persendian, hingga refleks tubuhnya.
“Untuk kucing seusianya, kondisinya cukup baik,” kata dokter.
“Tidak ada tanda demensia?”
“Belum terlihat.”
“Kalau dia terus menatap satu tempat dan menggeram?”
Dokter tersenyum.
“Kucing punya pendengaran dan penciuman jauh lebih sensitif daripada manusia. Bisa saja ada suara kecil dari bawah lantai, serangga, tikus, atau sesuatu di dalam dinding.”
Aku sedikit lega.
Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Sebelum pulang, dokter mengatakan sesuatu yang kemudian terus terngiang di kepalaku.
“Kalau perilakunya hanya muncul di satu tempat tertentu, mungkin yang perlu diperiksa bukan kucingnya.”
“Tapi tempatnya.”
Aku pulang sekitar pukul lima sore.
Rumah kontrakanku sebenarnya tidak tua. Bangunan dua lantai itu baru direnovasi beberapa tahun sebelumnya. Aku tinggal sendirian di kamar belakang lantai satu sejak pindah kerja ke Jakarta.
Pemilik rumah, Pak Hadi, tinggal di Bandung dan hampir tidak pernah datang.
Malam itu aku memutuskan memindahkan tempat tidur.
Aku menggesernya hampir satu meter.
Mengepel lantai.
Memeriksa setiap sudut.
Tidak ada lubang.
Tidak ada tikus.
Tidak ada apa pun.
Hanya saja aku menemukan satu hal aneh.
Di salah satu ubin yang sebelumnya tepat berada di bawah ranjang, terdapat garis tipis berbentuk persegi.
Seperti bekas potongan.
Aku mengetuknya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ubin lainnya padat.
Ketika mengetuk bagian itu…
Tok.
Suaranya sedikit berbeda.
Kosong.
Aku mengambil foto dan mengirimkannya kepada Rani.
“Besok panggil tukang,” balasnya.
Aku mengetik cepat.
“Besok ulang tahunku. Jangan bikin aku bongkar rumah.”
Rani mengirim emoji tertawa.
Aku ikut tersenyum.
Malam semakin larut.
Sekitar pukul sebelas, aku masuk kamar.
Momo sudah berada di ujung tempat tidur seperti biasa.
Aku mematikan lampu.
Untuk pertama kalinya selama hampir seminggu, aku merasa sedikit tenang.
Sampai pukul satu lewat tujuh belas menit.
Aku terbangun.
Bukan karena selimut ditarik.
Melainkan karena Momo menggeram keras.
Aku langsung duduk.
“Momo?”
Dia berdiri di lantai.
Tubuh tuanya membungkuk.
Ekornya mengembang.
Tatapannya tertuju ke ubin berbentuk persegi itu.
Kemudian aku mendengarnya.
Krek.

Sangat pelan.
Aku membeku.
Krek.
Seperti sesuatu sedang bergesekan dari bawah lantai.
Aku meraih ponsel.
Tanganku mulai gemetar.
Lalu suara itu berhenti.
Aku menyalakan senter ponsel dan mendekati ubin.
Momo tiba-tiba melompat ke depan kakiku.
“Momo, minggir.”
Dia tidak mau.
Aku mencoba melangkah.
Momo mencakar ujung celanaku.
Kemudian…
Bau aneh muncul.
Tipis.
Seperti plastik terbakar.
Aku langsung teringat ucapan dokter.
Mungkin yang perlu diperiksa bukan kucingnya.
Tapi tempatnya.
Aku mundur.
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi kecil dari bawah lantai.
Ctak.
Lampu kamar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian padam.
Jantungku seperti jatuh.
“Momo!”
Aku mengangkat tubuhnya dan berlari keluar kamar.
Belum sampai ke ruang tamu, terdengar suara letupan dari belakang.
Aku menoleh.
Asap tipis mulai keluar dari celah lantai.
Aku langsung membuka pintu depan dan berteriak memanggil tetangga.
“Pak Arif!”
Tetanggaku keluar.
“Ada apa?”
“Asap! Dari kamar!”
Pak Arif langsung mengambil alat pemadam kecil dari mobilnya sementara istrinya menelepon petugas pemadam.
Kami tidak berani masuk terlalu jauh.
Dalam beberapa menit, asap semakin pekat.
Untungnya api belum membesar.
Petugas datang dan memutus aliran listrik rumah.
Setelah hampir satu jam pemeriksaan, mereka menemukan sumber masalahnya.
Di bawah ubin kamarku terdapat ruang sempit berisi sambungan kabel listrik lama.
Beberapa kabel sudah rusak.
Lapisan pelindungnya mengelupas.
Ada bekas panas dan percikan.
“Ini berbahaya,” kata salah seorang petugas.
“Kalau dibiarkan lebih lama, bisa terjadi kebakaran besar.”
Aku memeluk Momo.
Tubuhnya masih gemetar.
Jadi selama ini dia bukan melihat sesuatu.
Dia mendengarnya.
Mungkin juga mencium lapisan kabel yang mulai terbakar sebelum hidungku mampu mendeteksinya.
Aku tertawa lega sambil menangis.
“Kamu bikin aku hampir percaya ada hantu, Mo.”
Momo hanya menempelkan kepalanya ke dadaku.
Kupikir semuanya sudah selesai.
Ternyata belum.
Keesokan paginya, tepat pada hari ulang tahunku, Pak Hadi datang dari Bandung.
Dia meminta maaf berkali-kali.
“Waktu renovasi, saya pakai kontraktor lama,” katanya. “Saya tidak tahu masih ada sambungan seperti itu.”
Seorang teknisi kemudian membongkar ubin tersebut untuk mengganti seluruh kabel.
Aku berdiri di pintu kamar sambil menggendong Momo.
Setelah beberapa ubin dilepas, teknisi itu berhenti.
“Pak.”
Pak Hadi mendekat.
“Apa?”
“Ada sesuatu.”
Di bawah jalur kabel ditemukan sebuah rongga kecil.
Di dalamnya terdapat kotak plastik tua yang tertutup debu.
Pak Hadi tampak bingung.
“Itu bukan punya saya.”
Kotak tersebut dikeluarkan.
Tidak dikunci.
Ketika dibuka, isinya bukan uang.
Bukan barang berharga.
Melainkan beberapa foto lama.
Sebuah kalung kecil.
Dan sebuah amplop cokelat.
Aku tidak terlalu memperhatikannya sampai melihat salah satu foto.
Tanganku langsung dingin.
Di foto itu ada seorang perempuan muda sedang duduk di halaman rumah.
Di pangkuannya…
Seekor anak kucing berwarna abu-abu putih.
Aku menatap Momo.
Lalu foto.
Lalu Momo lagi.
Corak di wajahnya sama.
Ada bercak putih kecil berbentuk segitiga tepat di atas hidung.
“Tidak mungkin.”
Pak Hadi mengambil foto tersebut.
Wajahnya berubah.
“Kamu kenal perempuan ini?”
Aku menggeleng.
Pak Hadi duduk perlahan.
“Itu adik saya.”
Namanya Maya.
Dua belas tahun lalu, sebelum rumah itu direnovasi dan sebelum aku tinggal di sana, Maya pernah menempati kamar yang sekarang menjadi kamarku.
Dia pecinta kucing.
Suatu sore, dia menemukan anak kucing terluka di pinggir jalan.
Dia merawatnya selama beberapa bulan.
Anak kucing itu diberi nama…
Momo.
Aku tidak bisa bicara.
“Lalu bagaimana Momo bisa bersamaku?”
Pak Hadi menarik napas panjang.
Maya meninggal karena sakit tidak lama setelah foto tersebut diambil.
Ketika keluarga sibuk mengurus rumah sakit dan pemakaman, Momo menghilang.
Mereka mencarinya berminggu-minggu.
Tidak pernah ditemukan.
Aku menatap kucing tua dalam pelukanku.
Dua belas tahun lalu, ketika masih kuliah, aku menemukan Momo di dekat halte di daerah Lenteng Agung.
Dia kurus dan kelaparan.
Aku membawanya pulang.
Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa Momo sudah memiliki nama.
Aku menamainya Momo karena waktu itu aku sedang makan buah persik yang dibelikan temanku dari supermarket Jepang.
Kebetulan yang nyaris mustahil.
Pak Hadi membuka amplop cokelat tersebut.
Di dalamnya ada selembar kertas yang sudah menguning.
Tulisan tangan Maya.
Pak Hadi membacanya dalam diam.
Matanya berkaca-kaca.
Ternyata kotak itu sengaja disimpan Maya di rongga lantai ketika rumah sedang mengalami perbaikan kecil.
Di dalam surat tersebut, dia menulis tentang ketakutannya meninggalkan Momo sendirian apabila suatu hari dirinya tidak pulang dari rumah sakit.
Dia meminta siapa pun dari keluarganya yang menemukan surat itu untuk menjaga Momo.
Pak Hadi menutup wajah.
“Selama ini saya pikir dia pergi begitu saja.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Momo turun dari pelukanku.
Dia berjalan perlahan menuju lantai yang sedang dibongkar.
Lalu duduk di depan kotak itu.
Tidak menggeram.
Tidak mencakar.
Hanya diam.
Pak Hadi mengambil kalung kecil dari dalam kotak.
Di ujungnya tergantung sebuah bandul berbentuk ikan.
Tulisan kecil masih terlihat di bagian belakang.
Momo.
Aku merasakan tenggorokanku tercekat.
Jadi nama yang kupilih secara kebetulan dua belas tahun lalu…
Adalah nama yang sama yang diberikan pemilik pertamanya.
Hari itu, ulang tahunku berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Pak Hadi memberiku foto Momo bersama Maya.
“Sepertinya ini lebih pantas kamu simpan.”
Aku meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Kabel rumah diperbaiki seluruhnya.
Lantai dipasang kembali.
Tempat tidurku kupindahkan sedikit menjauh dari titik lama.
Malam berikutnya aku menunggu.
Pukul satu lewat.
Tidak ada tarikan pada selimut.
Tidak ada geraman.
Tidak ada tatapan ke bawah tempat tidur.
Momo hanya tidur di samping bantalku seperti dahulu.
Beberapa bulan kemudian, tubuhnya semakin lemah.
Dia lebih banyak tidur.
Nafsu makannya menurun.
Dokter mengatakan usianya memang sudah sangat tua.
Suatu sore, aku duduk bersamanya di dekat jendela.
Cahaya matahari masuk perlahan.
Aku menunjukkan foto Maya kepadanya.
“Mo.”
Telinganya bergerak sedikit.
“Kamu ingat dia?”
Momo membuka mata.
Entah kebetulan atau bukan, dia menatap foto itu cukup lama.
Kemudian kepalanya bersandar di lenganku.
Malam itu dia tidur di samping bantalku.
Tenang.
Dan keesokan paginya, dia tidak bangun lagi.
Aku menangis berjam-jam.
Dua belas tahun terasa sangat panjang ketika dijalani.
Namun terasa sangat singkat ketika semuanya sudah menjadi kenangan.
Pak Hadi mengizinkanku menguburkan Momo di halaman belakang rumah, tepat di bawah pohon mangga yang terlihat dari jendela tempat favoritnya tidur.
Di sampingnya kutanam bunga kecil.
Aku juga memasang bandul ikan miliknya pada bingkai foto Maya dan Momo.
Barulah aku memahami sesuatu.
Mungkin Momo tidak pernah menarik selimutku karena ketakutan.
Mungkin selama beberapa malam itu, seekor kucing tua dengan pendengaran yang semakin lemah sedang mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa untuk memperingatkan manusia yang telah menjaganya selama dua belas tahun.
Dan tanpa sengaja, dia juga membawa kami kembali kepada bagian hidupnya yang hilang.
Aku pernah mengira bahwa aku menyelamatkan Momo ketika menemukannya kelaparan di pinggir jalan.
Ternyata aku salah.
Pada malam Sabtu itu, Momo menyelamatkanku.
Dan sebelum pergi, dia meninggalkan satu pelajaran yang tidak pernah bisa kulupakan.
Kadang-kadang, makhluk yang tidak mampu berbicara justru menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengatakan satu hal melalui caranya sendiri.
Aku masih menjagamu.
