Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan saat itu, mendengar perempuan asing memanggilku anaknya atau melihat wanita yang membesarkanku selama tiga puluh tahun tidak mampu membantahnya.
“Ibu, jawab aku.”
Suaraku terdengar lebih keras daripada yang kuinginkan.
Ratna, perempuan yang sejak kecil kupanggil Ibu, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar.
Nisa berdiri di sampingku tanpa berkata apa-apa.

Lestari masih terbaring lemah di ranjang. Tangannya menggenggam selimut sementara air mata terus mengalir di pipinya.
“Namamu bukan Reza ketika kau lahir,” akhirnya Ratna berkata.
Dunia seolah berhenti.
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Namamu Damar.”
Aku tertawa kecil karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Jangan bercanda, Bu.”
Ratna menangis.
“Ibu tidak bercanda.”
Aku mundur.
Selama tiga puluh tahun, semua dokumenku menyebut namaku Reza Pratama. Semua foto ulang tahunku, ijazah sekolah, kartu keluarga, bahkan nama yang kusebutkan saat menikahi Nisa adalah Reza.
Lalu dalam beberapa detik, seorang perempuan yang baru sadar setelah empat bulan dan satu kalimat dari ibuku mengubah semuanya.
Lestari mengangkat tangannya.
“Damar…”
“Jangan panggil saya begitu!”
Aku membentaknya.
Ruangan langsung sunyi.
Lestari menutup mulutnya. Tatapannya terluka.
Aku menyesal, tetapi kepalaku terlalu penuh.
Aku berbalik kepada Ratna.
“Ceritakan semuanya.”
Ratna duduk di kursi.
Tiga puluh tahun lalu, dia dan Lestari adalah sahabat dekat. Mereka bekerja di sebuah perusahaan konveksi kecil di Jakarta Timur.
Saat itu Lestari baru menikah dengan seorang pria bernama Hendra Wibowo.
Ratna sendiri telah menikah hampir delapan tahun, tetapi belum memiliki anak.
“Ayah yang kukenal?” tanyaku.
Ratna mengangguk.
“Budi memang suami Ibu.”
Ayah meninggal ketika aku berusia sebelas tahun. Sepanjang hidupnya, dia memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.
“Apakah Ayah tahu?”
Ratna menunduk.
“Tahu.”
Dadaku semakin sesak.
Ratna melanjutkan.
Ketika Lestari mengandung, rumah tangganya mulai bermasalah. Hendra terlilit utang setelah usahanya bangkrut. Dia sering menghilang selama berhari-hari.
Setelah aku lahir, keadaan menjadi lebih buruk.
Suatu malam, Lestari datang ke rumah Ratna sambil menggendong bayi berusia beberapa minggu.
Bayi itu adalah aku.
“Dia minta Ibu menjagamu selama beberapa hari,” kata Ratna.
“Kenapa?”
“Karena dia ingin mencari suaminya.”
Menurut Ratna, Lestari meninggalkanku bersamanya dengan beberapa pakaian bayi dan surat kelahiran.
Namun, Lestari tidak kembali setelah tiga hari.
Seminggu.
Sebulan.
Kemudian polisi datang membawa kabar bahwa Hendra ditemukan meninggal akibat kecelakaan di luar kota.
Sementara Lestari menghilang.
“Lalu Ibu mengambilku?”
Ratna menggeleng cepat.
“Tidak sesederhana itu.”
Beberapa bulan kemudian, Ratna menerima kabar dari seseorang yang mengaku mengenal Lestari. Perempuan itu mengatakan Lestari mengalami gangguan emosional berat setelah kematian suaminya dan pergi meninggalkan Jakarta.
“Aku mencarimu,” Lestari tiba-tiba berkata.
Ratna langsung menoleh.
“Aku kembali enam bulan kemudian.”
Wajah Ratna berubah.
Lestari menatapku.
“Aku kembali ke rumahnya untuk mengambilmu.”
Aku memandang Ratna.
“Ibu?”
Ratna mulai terisak.
“Waktu itu kau sudah hampir tujuh bulan. Kau memanggil Ibu dengan suara bayi setiap kali menangis. Budi juga sudah sangat menyayangimu.”
“Jadi apa yang Ibu lakukan?”
Ratna tidak menjawab.
Lestari menjawab untuknya.
“Dia bilang kau meninggal.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
“Apa?”
“Ratna mengatakan kau sakit panas dan meninggal beberapa bulan setelah aku pergi.”
“Tidak…”
“Aku percaya.”
Suara Lestari pecah.
“Aku bahkan meminta ditunjukkan makam anakku.”
Ratna menutup wajahnya.
“Aku salah.”
Aku berdiri kaku.
“Jadi makam itu?”
“Bukan makam siapa-siapa,” jawab Ratna lirih.
Aku tidak sanggup berbicara.
Ratna berlutut di depanku.
“Reza, dengarkan Ibu.”
Aku mundur.
“Jangan.”
“Ibu memang berbohong. Tapi Ibu tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Tidak menyakitiku?”
Aku menatapnya.
“Ibu mencuri hidup orang lain.”
Ratna menangis semakin keras.
“Aku takut kehilanganmu.”
“Dan karena itu Ibu membiarkan perempuan ini selama tiga puluh tahun percaya anaknya sudah mati?”
Ratna tidak memiliki jawaban.
Aku keluar dari kamar.
Nisa menyusulku sampai ke lorong.
Aku duduk di bangku rumah sakit dan menutupi wajah dengan kedua tangan.
Nisa duduk di sampingku.
Dia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dia hanya menggenggam tanganku.
Beberapa menit kemudian aku berkata, “Aku bahkan tidak tahu siapa aku.”
Nisa menjawab pelan, “Kamu tetap orang yang sama seperti pagi tadi.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana bisa?”
“Nama lahirmu mungkin Damar. Ibu kandungmu mungkin Bu Lestari. Tapi tiga puluh tahun kehidupanmu tidak hilang hanya karena satu rahasia terbuka.”
Kalimat itu tidak langsung membuatku tenang.
Namun, kalimat itu membuatku kembali masuk ke kamar.
Aku meminta Ratna pulang.
Untuk pertama kalinya, aku tidak memanggilnya Ibu.
“Bu Ratna, saya butuh waktu.”
Wajahnya hancur ketika mendengarnya.
Namun dia mengangguk.
Selama beberapa minggu berikutnya, hidupku berubah menjadi rangkaian pertanyaan.
Tes DNA dilakukan.
Hasilnya keluar tiga minggu kemudian.
Kemungkinan hubungan biologis antara aku dan Lestari sangat kuat.
Dia memang ibu kandungku.
Namun ada satu hal yang terus menggangguku.
Mengapa setelah tiga puluh tahun Lestari tiba-tiba berada di Jakarta?
Dan mengapa dia membawa alamat lama Ratna?
Ketika kondisinya membaik, Lestari menceritakan semuanya.
Selama puluhan tahun dia tinggal berpindah-pindah. Setelah percaya bahwa anaknya meninggal, dia tidak memiliki alasan untuk kembali ke kehidupan lamanya.
Beberapa tahun terakhir dia menetap di Semarang dan membuka usaha katering kecil.
Sampai suatu hari, seorang mantan tetangga lama menghubunginya melalui media sosial.
Orang itu tanpa sengaja menyebut bahwa Ratna mempunyai seorang putra berusia sekitar tiga puluh tahun.
Usianya tepat.
Lestari mulai curiga.
Dia mencari foto-fotoku dari media sosial.
“Aku melihat wajahmu,” katanya. “Dan aku melihat Hendra.”
Aku terdiam.
“Ayah kandungku?”
Lestari mengangguk.
Dia kemudian datang ke Jakarta membawa dokumen lama, termasuk salinan surat kelahiranku.
Map cokelat yang masih digenggamnya saat kecelakaan ternyata berisi semua bukti itu.
Hari ketika dia menyelamatkan Ratna adalah hari ketika dia berniat mendatangi rumah kami.
“Jadi Ibu sudah tahu perempuan yang Ibu selamatkan itu Ratna?”
Lestari menggeleng.
“Aku melihat mobil itu lebih dulu. Aku tidak melihat wajahnya.”
Dia tersenyum pahit.
“Baru ketika sadar aku tahu perempuan yang kuselamatkan adalah orang yang mengambil anakku.”
Aku tidak tahu apakah harus menyebutnya kebetulan atau ironi paling kejam yang pernah kusaksikan.
Namun kejutan terbesar belum selesai.
Beberapa hari kemudian, Ratna datang membawa sebuah kotak kayu milik almarhum Ayah.
“Ada sesuatu yang seharusnya kamu baca sejak lama.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Budi.
Surat itu dibuat beberapa bulan sebelum Ayah meninggal.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Budi mengakui bahwa dia mengetahui kebohongan Ratna.
Namun ternyata ada bagian yang bahkan Ratna tidak pernah ceritakan kepadaku.
Ketika Lestari kembali mencariku tiga puluh tahun lalu, Budi sebenarnya ingin menyerahkanku kembali.
Ratna menolak.
Mereka bertengkar hebat.
Budi kemudian diam-diam mencari Lestari.
Namun ketika berhasil menemukannya beberapa minggu kemudian, Lestari sudah meninggalkan tempat tinggalnya.
Budi menghabiskan bertahun-tahun mencoba mencari keberadaannya.
“Ayah mencarinya?”
Ratna mengangguk sambil menangis.
“Dia selalu bilang suatu hari kamu berhak mengetahui semuanya.”
“Kenapa dia tidak memberitahuku?”
“Dia ingin menunggu sampai kamu cukup dewasa.”
“Tapi Ayah meninggal.”
Ratna mengangguk.
“Dan setelah itu Ibu terlalu pengecut untuk melanjutkan apa yang ingin dia lakukan.”
Aku membaca bagian terakhir surat itu berulang kali.
Budi menulis bahwa darah menentukan dari mana seseorang berasal, tetapi kasih sayang menentukan siapa yang bersedia bertahan ketika hidup menjadi sulit.
Dia juga meminta agar suatu hari aku tidak membenci Ratna sepenuhnya.
Bukan karena perbuatannya benar.
Tetapi karena manusia kadang melakukan kesalahan terbesar justru ketika takut kehilangan sesuatu yang paling dicintainya.
Aku tidak langsung memaafkan Ratna.
Butuh waktu berbulan-bulan.
Aku marah.
Aku merasa dikhianati.
Aku bahkan sempat tidak datang ke rumahnya.
Namun selama masa itu, aku mulai mengenal Lestari.
Kami tidak langsung menjadi ibu dan anak seperti dalam film.
Semuanya terasa canggung.
Dia tidak tahu makanan kesukaanku.
Dia tidak tahu aku takut petir ketika kecil.
Dia tidak tahu bagaimana aku bertemu Nisa.
Sebaliknya, aku tidak tahu bagaimana dia menjalani tiga puluh tahun kehidupannya.
Kami harus memulai dari nol.
Suatu sore, Lestari datang ke rumah membawa semangkuk soto buatannya.
“Aku tidak tahu kamu suka apa,” katanya malu-malu. “Jadi aku membuat makanan yang dulu disukai ayahmu.”
Aku mencicipinya.
Rasanya terlalu asin.
Aku tertawa.
Lestari ikut tertawa.
Itulah pertama kalinya aku memanggilnya Ibu Lestari tanpa merasa terpaksa.
Beberapa minggu kemudian, aku mengajak Ratna datang.
Ketika kedua perempuan itu bertemu, suasana menjadi sangat sunyi.
Ratna menundukkan kepala.
“Aku tidak meminta kau memaafkanku.”
Lestari menatapnya lama.
“Aku kehilangan tiga puluh tahun.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak bisa mengembalikannya.”
Ratna menangis.
“Aku tahu.”
Lestari kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Tapi kalau hari itu aku tidak menitipkan Damar kepadamu, mungkin dia tidak akan tumbuh menjadi laki-laki yang sekarang berdiri di depan kita.”
Ratna mengangkat wajahnya.
“Aku masih marah,” lanjut Lestari. “Mungkin sebagian dari diriku akan selalu marah. Tapi aku juga tahu kau membesarkannya.”
Aku duduk di antara mereka.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hidup tidak selalu memberikan pilihan sederhana tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
Ratna melakukan kesalahan besar.
Lestari kehilangan sesuatu yang tidak seharusnya direnggut darinya.
Namun aku juga tidak bisa menghapus tiga puluh tahun kasih sayang hanya karena mengetahui kebenaran tentang kelahiranku.
Setahun setelah kecelakaan itu, kami kembali ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk pemeriksaan terakhir Lestari.
Ketika keluar dari rumah sakit, kami melewati tempat yang sama.
Tempat kecelakaan itu terjadi.
Ratna berjalan di sebelah kiriku.
Lestari di sebelah kanan.
Nisa berada beberapa langkah di belakang sambil tersenyum melihat kami.
Tiba-tiba Lestari berkata, “Damar.”
Aku menoleh.
Ratna juga menoleh.
Aku tersenyum.
“Kalau Ibu memanggil Damar, aku tahu itu aku.”
Kemudian aku memandang Ratna.
“Tapi kalau Ibu memanggil Reza, aku juga tetap menoleh.”
Ratna langsung menangis.
Lestari menggenggam tanganku.
Aku menggenggam tangan Ratna dengan tangan yang lain.
Tiga puluh tahun aku percaya bahwa manusia hanya bisa memiliki satu ibu.
Ternyata hidup memberiku pelajaran dengan cara yang sangat aneh.
Seorang ibu memberiku kehidupan.
Seorang ibu membesarkanku.
Keduanya pernah melakukan kesalahan.
Keduanya pernah kehilangan sesuatu.
Dan aku akhirnya mengerti bahwa mengetahui kebenaran tidak selalu berarti kita harus menghancurkan seluruh masa lalu.
Kadang kebenaran datang bukan untuk menentukan siapa yang harus kita buang dari kehidupan kita, melainkan untuk memberi kesempatan kepada semua orang memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Aku tetap menggunakan nama Reza.
Namun di rumah Lestari, sebuah foto kecilku kini terpajang di ruang tamunya.
Di bawahnya tertulis satu nama.
Damar.
Suatu hari aku bertanya mengapa dia masih menggunakan nama itu.
Lestari tersenyum.
“Karena itulah nama terakhir yang Ibu panggil sebelum kehilanganmu.”
Aku terdiam.
Kemudian dia melanjutkan.
“Dan sekarang, setiap kali Ibu memanggil nama itu, ada seseorang yang menjawab.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Aku hanya memeluknya.
Dari pintu ruang tamu, Ratna berdiri membawa teh hangat.
Matanya berkaca-kaca.
Aku mengulurkan tangan kepadanya.
“Ibu, jangan berdiri di sana. Sini.”
Ratna membeku.
Itulah pertama kalinya setelah hampir setahun aku kembali memanggilnya Ibu.
Dia menangis sambil berjalan mendekat.
Dan saat kedua perempuan itu duduk di sampingku, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh dokumen kelahiran mana pun.
Aku memang lahir sebagai Damar.
Aku dibesarkan sebagai Reza.
Tetapi aku tidak perlu membunuh salah satu dari keduanya untuk mengetahui siapa diriku.
Aku adalah keduanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak rahasia itu terbongkar, aku merasa benar-benar pulang.
