Namun baru tiga langkah aku meninggalkan halaman rumah Aldo, ponselku kembali bergetar.
Kali ini bukan Mbak Rina.
Nomor tak dikenal.
Aku hampir mengabaikannya, tetapi sebuah pesan muncul.
Jangan pulang dulu, Ben. Apa pun yang terjadi, jangan pulang.
Langkahku berhenti.
Jantungku seperti dihantam dari dalam.

Aku membaca pesan itu dua kali, lalu tiga kali. Belum sempat aku membalas, suara pintu rumah Aldo terbuka keras di belakangku.
Aku menoleh.
Rini berdiri di ambang pintu sambil berpegangan pada kusen. Wajahnya pucat, tubuhnya sempoyongan.
“Ben…”
Aku membeku.
Seharusnya dia sudah tidak mampu berdiri.
Rini terhuyung keluar.
“Apa yang lo kasih ke minuman kita?”
Dari dalam rumah terdengar Aldo mengumpat. Dika batuk keras. Rani menangis panik.
Aku mundur satu langkah.
Tidak mungkin.
Aku sudah menghitung semuanya.
Setidaknya, itulah yang selama seminggu terakhir kuyakini.
Rini jatuh berlutut di teras.
“Telepon ambulans…”
Aku menatapnya tanpa bergerak.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyumku hilang.
Ponselku berdering lagi.
Mbak Rina.
Aku mengangkatnya.
“Ben, pulang sekarang.”
Suara kakakku berbeda. Tidak cemas seperti sebelumnya. Dingin.
“Mbak?”
“Botol yang lo ambil dari lemari kamar Mama itu bukan yang lo kira.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Maksud Mbak apa?”
“Aku menemukan riwayat pencarian di laptopmu tiga hari lalu.”
Tanganku gemetar.
Dari rumah Aldo terdengar suara Rani memanggil namaku.
“Ben…”
Aku menutup mata.
Mbak Rina melanjutkan.
“Aku tukar isi botol itu.”
Aku membuka mata cepat.
“Apa?”
“Itu cuma obat tidur yang diresepkan dokter buat Mama. Dalam dosis yang lo tuang, mereka mungkin akan sangat mengantuk dan mual, tapi kemungkinan besar tidak akan mati.”
Aku menatap rumah Aldo.
Dika muncul di ruang tamu dengan tubuh lemas. Aldo mencoba mengambil ponselnya.
Semuanya berantakan.
Rencana yang selama berminggu-minggu kubangun di dalam kepala runtuh dalam beberapa detik.
“Kenapa?” tanyaku.
Suaraku pecah.
“Kenapa Mbak ikut campur?”
“Karena gue kakak lo.”
“Mereka pantas mendapatkannya.”
“Enggak.”
“Mbak enggak tahu apa yang mereka lakukan.”
“Makanya pulang dan ceritain semuanya.”
Aku tertawa pendek.
Air mataku justru keluar.
“Cerita? Setelah semua yang terjadi, Mbak pikir cerita bisa mengubah sesuatu?”
Aku mematikan telepon.
Saat itulah Aldo berhasil keluar.
Dia berjalan sempoyongan sambil memegangi dinding.
“Lo…” katanya.
Tatapannya berubah ketika melihat botol kecil masih berada di tanganku.
“Apa yang lo lakukan?”
Aku tidak menjawab.
Aldo menatap botol itu, lalu wajahku.
“Lo racunin kita?”
Rini menangis.
Dika sudah menelepon ambulans.
Aku seharusnya lari.
Sebaliknya, aku berdiri di bawah lampu jalan seperti orang bodoh yang akhirnya menyadari bahwa balas dendam terlihat jauh lebih sederhana ketika hanya hidup di dalam kepala.
“Kenapa, Ben?” tanya Rani dari balik pintu.
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam dadaku pecah.
“Kenapa?”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Lo benar-benar nanya kenapa?”
Tidak ada yang menjawab.
“Masih ingat dua tahun lalu?”
Aldo mengernyit.
“Kecelakaan gue.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Motor gue ditabrak mobil di Jalan Ahmad Yani. Tulang kaki gue retak. Gue dirawat sebelas hari.”
Aku menunjuk bekas luka di betisku.
“Gue kirim pesan ke grup kita.”
Dika menunduk.
“Kalian baca.”
Rani membuka mulut, tetapi tidak mengatakan apa pun.
“Kalian semua baca.”
Aku tertawa getir.
“Dan kalian malah bikin lelucon.”
Aku masih mengingat pesan itu.
Foto motor yang hancur.
Foto kakiku dibalut.
Lalu balasan Aldo.
Beben akhirnya punya alasan resmi buat jalan kayak bebek.
Disusul emoji tertawa.
Aku melanjutkan.
“Waktu gue kehilangan pekerjaan setelah kecelakaan, kalian bilang gue malas. Waktu ayah meninggal dan gue harus tinggal sama Mama karena beliau mulai sakit-sakitan, kalian bilang gue anak mama.”
Suaraku semakin keras.
“Lo tahu kenapa gue enggak punya pacar, Aldo?”
Dia diam.
“Karena Nisa meninggalkan gue seminggu sebelum kami tunangan.”
Rani menatapku.
“Dan tahu dari siapa dia dengar kalau keluarga gue punya utang?”
Aku menunjuk Aldo.
“Lo.”
Wajah Aldo berubah.
“Ben, gue cuma…”
“Cuma bercanda?”
Kalimat itu keluar seperti pisau.
“Itu selalu jawaban kalian.”
Aku menatap Dika.
“Lo masih ingat presentasi gue waktu kelas tiga SMA?”
Dika menelan ludah.
Aku ingat semuanya.
Hari ketika aku berdiri di depan kelas untuk mempresentasikan proyek yang sudah kukerjakan hampir dua bulan.
Dika mengganti salah satu slide sebelum aku maju.
Di layar muncul foto editan wajahku ditempel pada tubuh seekor monyet.
Seluruh kelas tertawa.
Termasuk guru.
Aku ikut tertawa karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Sejak hari itu, setiap kali orang tertawa ketika aku berbicara di depan banyak orang, tanganku gemetar.
Bahkan sampai sekarang.
“Kalian pikir karena gue ikut ketawa berarti gue enggak sakit.”
Aku mengusap wajah.
“Kalian pikir karena gue diam berarti semuanya boleh.”
Suara sirene mulai terdengar dari kejauhan.
Aldo duduk di teras.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak punya lelucon.
“Ben,” katanya pelan, “gue enggak tahu lo nyimpen semuanya sampai segininya.”
Aku tertawa.
“Itu masalahnya. Kalian enggak pernah mau tahu.”
Lampu ambulans muncul di ujung jalan.
Aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Rumah sakit.
Polisi.
Pemeriksaan.
Mungkin penjara.
Dan anehnya, saat melihat lampu merah itu mendekat, aku justru merasa lega.
Setidaknya semuanya selesai.
Namun sebuah mobil berhenti lebih dulu di belakang ambulans.
Mbak Rina turun.
Dia bahkan masih memakai sandal rumah.
Begitu melihatku, dia berlari dan menampar wajahku.
Keras.
Aku tidak melawan.
Kemudian dia memelukku.
Aku menangis di bahunya seperti anak kecil.
“Kenapa lo enggak cerita?” bisiknya.
“Gue capek, Mbak.”
“Cerita.”
“Gue capek jadi bahan tertawaan.”
Aku tidak ingat berapa lama kami berdiri seperti itu.
Petugas medis membawa Aldo dan yang lain ke ambulans. Polisi datang tak lama kemudian.
Aku menyerahkan botol kecil itu tanpa perlawanan.
Malam itu aku dibawa ke kantor polisi.
Pemeriksaan berlangsung berjam-jam.
Untungnya, hasil pemeriksaan rumah sakit menunjukkan tidak ada satu pun dari mereka yang berada dalam kondisi kritis. Mereka mengalami efek sedatif dan harus menjalani observasi.
Aku tetap harus mempertanggungjawabkan tindakanku.
Aku tahu itu.
Niatku nyata.
Dan tidak ada masa lalu yang dapat mengubah fakta tersebut.
Tiga hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Rini datang menemuiku.
Dia duduk di seberang meja ruang kunjungan dengan wajah tanpa riasan. Tidak ada ponsel di tangannya.
“Aldo marah banget sama lo,” katanya.
“Gue tahu.”
“Dika juga.”
Aku mengangguk.
“Rani enggak mau ketemu lo.”
“Gue ngerti.”
Rini menatap meja cukup lama.
Lalu dia berkata, “Gue mau minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Buat apa?”
“Buat semuanya.”
Aku hampir tertawa.
Terlambat.
Kata itu sudah berada di ujung lidahku.
Namun Rini lebih dulu menangis.
“Gue nemuin sesuatu di laptop Aldo.”
Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas.
Tangkapan layar.
Grup percakapan lama.
Foto-fotoku.
Video-video yang direkam tanpa sepengetahuanku.
Ada video ketika aku terpeleset di sekolah.
Video saat aku gugup berbicara di depan kelas.
Bahkan foto dari rumah sakit setelah kecelakaan.
Semuanya pernah dibagikan dalam grup yang tidak pernah kumasuki.
Dengan komentar.
Dengan lelucon.
Dengan tawa.
Tanganku mengepal.
“Lihat halaman terakhir,” kata Rini.
Aku membalik kertas.
Ada percakapan dari dua tahun lalu.
Dika menulis bahwa mereka sebaiknya menjengukku di rumah sakit.
Rani setuju.
Namun Aldo menjawab.
Ngapain? Biar Beben belajar kalau dunia enggak bakal berhenti cuma gara-gara dia jatuh.
Di bawahnya ada pesan lain.
Dari Rini.
Kasihan juga sebenarnya.
Lalu Aldo membalas.
Jangan sok baik. Nanti dia makin nempel sama kita.
Aku menatap Rini.
“Kenapa kasih ini ke gue?”
“Karena polisi mungkin butuh konteks.”
“Konteks enggak bikin gue benar.”
“Gue tahu.”
Itu justru membuatku terdiam.
Rini mengusap air matanya.
“Yang lo lakukan salah, Ben. Sangat salah.”
Aku mengangguk.
“Tapi yang kami lakukan ke lo bertahun-tahun juga salah.”
Untuk pertama kalinya, seseorang dari mereka mengatakannya tanpa kata cuma bercanda.
Aku menunduk.
Dan anehnya, permintaan maaf itu tidak membuatku merasa menang.
Aku justru merasa kosong.
Beberapa bulan berikutnya menjadi bagian hidup yang paling panjang.
Kasusku berjalan.
Karena zat yang digunakan ternyata bukan racun mematikan dan tidak menyebabkan cedera berat, proses hukumnya tidak berakhir seperti yang kubayangkan malam itu. Namun aku tetap menjalani konsekuensi hukum, pemeriksaan psikologis, dan pengawasan ketat.
Aku kehilangan pekerjaan.
Beberapa tetangga membicarakanku.
Teman-teman lama menjauh.
Aldo memutus semua hubungan denganku.
Dika berangkat melanjutkan studinya.
Rani pindah ke Bandung.
Rini sesekali mengirim kabar melalui Mbak Rina.
Hidup berjalan terus.
Ternyata itulah hal yang tidak pernah kupahami ketika merencanakan malam terakhir mereka.
Tidak ada malam terakhir.
Selama seseorang masih hidup, selalu ada pagi setelahnya.
Dan pagi memaksa kita melihat akibat dari apa yang kita lakukan ketika gelap.
Setahun kemudian, aku bekerja di sebuah percetakan kecil milik teman Mbak Rina.
Gajinya tidak besar.
Aku masih tinggal bersama Mama.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak malu mengatakan itu.
Setiap pagi aku membantu menyiapkan obatnya sebelum berangkat bekerja.
Suatu sore, sebuah paket datang.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat sebuah buku kecil dan secarik kertas.
Aku mengenali tulisan tangan itu.
Aldo.
Ben, gue enggak minta lo maafin gue. Gue juga belum bisa maafin lo. Tapi sekarang gue ngerti satu hal. Orang yang terus ditertawakan bisa belajar tersenyum bukan karena dia baik-baik saja, tapi karena dia sudah tidak tahu cara meminta pertolongan. Seandainya dulu gue berhenti tertawa satu menit saja dan bertanya apakah lo baik-baik saja, mungkin malam itu tidak pernah terjadi.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Mama menghampiriku.
“Dari siapa?”
“Teman lama.”
Mama tersenyum.
“Teman baik?”
Aku memandang surat itu.
“Dulu bukan.”
“Lalu sekarang?”
Aku terdiam cukup lama.
“Mungkin kami cuma dua orang yang sama-sama terlambat belajar.”
Mama menepuk bahuku.
Aku menyimpan surat itu di laci.
Bukan sebagai tanda bahwa aku sudah memaafkan semuanya.
Bukan pula sebagai pembenaran atas apa yang hampir kulakukan.
Aku menyimpannya sebagai pengingat.
Bahwa luka yang dipendam dapat berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak kita kenali.
Bahwa penghinaan yang dianggap kecil oleh seseorang bisa tinggal bertahun-tahun di kepala orang lain.
Dan bahwa rasa sakit tidak memberi siapa pun hak untuk menghancurkan kehidupan orang lain.
Malam itu aku pernah percaya bahwa satu-satunya cara membuat mereka berhenti tertawa adalah memastikan mereka tidak pernah bangun lagi.
Aku salah.
Yang seharusnya kulakukan sejak awal jauh lebih sederhana.
Berdiri.
Pergi.
Menceritakan semuanya kepada orang yang masih menyayangiku.
Dan berhenti duduk di meja yang sama dengan orang-orang yang hanya merasa besar ketika berhasil membuatku merasa kecil.
