AKU PULANG UNTUK MEMBERI KEJUTAN, TETAPI MENEMUKAN IBUKU BERLUTUT MENGGOSOK LANTAI SAAT ISTRI DAN MERTUAKU BERSANTAI SEPERTI RATU

Namun tanda tangan itu bukan sekadar mirip.

Bentuk huruf A pada namaku, tekanan tinta di bagian akhir, bahkan goresan kecil yang selalu muncul ketika aku menulis huruf d, semuanya tampak persis seperti tanda tanganku.

Untuk beberapa detik aku benar-benar meragukan diriku sendiri.

Aku menatap Pak Hendra.

“Ini dari mana?”

“Berkasnya dikirim tiga hari lalu,” jawabnya. “Ada salinan kartu identitas Bapak, kartu keluarga, dan surat kuasa yang katanya sudah ditandatangani sebelum Bapak berangkat ke Surabaya.”

“Aku tidak pernah membuat surat kuasa.”

Sinta berdiri membeku di dekat sofa.

Bu Ratna justru mencoba terdengar tenang.

“Mungkin kamu lupa. Kamu kan sering tanda tangan dokumen kerja.”

Aku menatapnya.

“Aku mungkin lelah bekerja, Bu. Tapi aku belum kehilangan ingatan.”

Nisa masih memegang tablet di dadanya. Wajahnya tegang, tetapi matanya tidak berpaling dari Sinta.

Pak Hendra membuka beberapa lembar lain.

“Sebenarnya, justru karena tanda tangan ini saya datang langsung. Ada perbedaan pada bentuk legalisasi dan tanggalnya. Saya tidak berani memproses tanpa bertemu Ibu Aminah secara langsung.”

Aku membaca surat itu.

Isinya menyatakan bahwa aku menyetujui pemindahan satu rumah kontrakan milik Ibu di daerah Bekasi kepada Bu Ratna sebagai bentuk pembayaran utang.

“Utang apa?” tanyaku.

Tidak ada yang menjawab.

Aku berbalik kepada Ibu.

“Bu, Ibu punya utang pada mereka?”

Ibu menggeleng perlahan.

Bu Ratna langsung menyahut.

“Bukan utang uang. Kami selama ini keluar biaya untuk merawat beliau.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Biaya?”

Suaraku justru terdengar semakin pelan.

“Mama tinggal di rumah saya, makan dari uang yang saya kirim, bahkan uang perawat palsu masuk ke rekening Mama. Sekarang Mama bilang Ibu punya utang?”

“Jaga bicaramu, Ardi.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya selama lima tahun pernikahanku dengan Sinta, aku menatap ibu mertuaku tanpa berusaha menjaga perasaannya.

“Aku sudah terlalu lama menjaga perasaan orang lain sampai tidak melihat perasaan ibuku sendiri.”

Sinta mulai menangis.

“Mas, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku memandangnya.

“Kalau begitu jelaskan.”

Sinta terdiam.

“Jelaskan ponsel Ibu yang baterainya dilepas.”

Ia menggigit bibir.

“Jelaskan rekening perawat yang ternyata rekening Mama.”

Matanya jatuh ke lantai.

“Jelaskan gudang.”

Tidak ada jawaban.

“Jelaskan tanda tanganku.”

Sinta akhirnya berteriak.

“Aku terpaksa!”

Ruangan mendadak senyap.

Ibuku menutup mulutnya.

Bu Ratna menoleh tajam kepada anaknya.

“Sinta!”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Aku menatap istriku.

“Terpaksa melakukan apa?”

Sinta menangis semakin keras.

“Aku cuma mau menyelesaikan masalah.”

“Masalah siapa?”

Sinta memegang kepalanya.

“Mama punya utang.”

Bu Ratna langsung pucat.

“Diam!”

Sinta justru menatap ibunya dengan wajah putus asa.

“Aku capek menutupinya, Ma!”

Aku merasa seolah lantai di bawah kakiku bergeser.

“Utang apa?”

Sinta duduk lemas di sofa.

Dari pengakuannya, semuanya bermula enam bulan sebelumnya.

Bu Ratna ternyata kehilangan banyak uang setelah ikut investasi bodong yang ditawarkan seorang teman. Bukan hanya tabungannya yang habis, ia juga meminjam uang dari beberapa orang dengan bunga tinggi.

Totalnya hampir empat ratus juta rupiah.

Rumah Bu Ratna yang katanya sedang direnovasi ternyata sudah dijadikan jaminan.

Karena penagih mulai datang, Sinta membawa ibunya tinggal bersama kami.

“Aku takut bilang sama Mas,” katanya sambil sesenggukan. “Aku tahu Mas pasti marah.”

“Aku akan marah karena utang, tapi bukan berarti aku akan membiarkan Mama kehilangan rumah.”

Sinta menggeleng.

“Mas tidak mengerti. Mama sudah berutang ke orang yang salah.”

Aku diam.

“Mereka minta dibayar cepat. Mama melihat sertifikat rumah kontrakan Ibu Aminah waktu dulu kita membereskan lemari.”

Jantungku terasa semakin berat.

Rumah kontrakan itu peninggalan Ayah.

Tidak besar, tetapi terdiri dari tiga pintu dan menghasilkan uang sewa setiap bulan. Ibu selalu mengatakan rumah itu akan diwariskan kepadaku kelak, tetapi selama ia hidup, hasil sewanya digunakan untuk kebutuhan dan sedekah.

“Aku tidak pernah ingin mengambil semuanya,” kata Sinta buru-buru. “Aku cuma ingin menjual satu aset dulu. Nanti kalau keadaan sudah baik, aku kembalikan.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu mau mengembalikan rumah yang sudah dijual?”

Sinta tak mampu menjawab.

Nisa tiba-tiba berkata pelan.

“Bukan cuma itu, Pak.”

Kami semua menoleh kepadanya.

Nisa membuka folder lain di tabletnya.

“Saya sebenarnya tidak ingin ikut urusan keluarga. Tapi dua minggu lalu, Ibu Aminah datang ke rumah saya ketika Bu Sinta dan Bu Ratna sedang pergi.”

Ibu menunduk.

“Beliau minta tolong menelepon Bapak.”

Aku langsung memandang Ibu.

“Kenapa Ibu tidak menelepon?”

“Beliau mencoba,” kata Nisa. “Tapi tidak hafal nomor Bapak. Ponselnya sudah diambil. Nomor Bapak tersimpan di sana.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Selama ini aku mengira Ibu bisa menghubungiku kapan saja.

Ternyata ketika ia membutuhkan aku, bahkan nomor anaknya sendiri tidak bisa ia jangkau.

Nisa melanjutkan.

“Saya menawarkan mencari nomor Bapak lewat media sosial. Tapi Ibu Aminah melarang. Katanya Bapak sedang bekerja dan beliau tidak ingin membuat Bapak kehilangan pekerjaan karena masalah rumah.”

Aku menutup mata sebentar.

Itulah Ibu.

Bahkan ketika diperlakukan seperti itu, yang ia pikirkan tetap pekerjaanku.

“Lalu kenapa ada rekaman?” tanyaku.

“Karena beberapa hari kemudian saya mendengar Bu Ratna membentak beliau dari teras belakang. Saya mulai curiga. Saya bilang kepada Ibu Aminah, kalau suatu hari ada sesuatu terjadi, paling tidak harus ada bukti.”

Nisa memutar rekaman berikutnya.

Suara Bu Ratna terdengar jelas.

“Kamu jangan merasa rumah ini rumah anakmu. Sekarang Sinta yang jadi istri Ardi. Kalau kamu bikin rumah tangga mereka berantakan, kamu mau tinggal di mana?”

Lalu suara Sinta.

“Yang kami minta cuma tanda tangan. Rumah kontrakan itu juga akhirnya akan jadi milik Mas Ardi. Sama saja.”

Suara Ibuku terdengar gemetar.

“Itu peninggalan bapaknya Ardi.”

“Makanya jangan keras kepala.”

Aku mematikan rekaman.

Aku tidak sanggup mendengarkan lebih jauh.

Sinta menatapku.

“Mas…”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

Untuk pertama kali, aku tidak ingin mendengar alasan apa pun.

Aku berjongkok di depan Ibu.

“Kenapa Ibu tidak bilang waktu aku telepon?”

Matanya merah.

“Ibu pernah mencoba.”

“Kapan?”

“Waktu kamu menelepon tiga minggu lalu.”

Aku mengingat malam itu.

Sinta sempat memberikan ponsel kepada Ibu hanya beberapa menit.

Kami bicara tentang cuaca dan pekerjaanku.

Aku bahkan bertanya, “Ibu sehat?”

Ia menjawab, “Sehat.”

“Apa yang terjadi?”

Ibu menarik napas.

“Waktu Ibu mau bilang, Sinta berdiri di depan Ibu.”

Aku menoleh.

Sinta langsung menutup wajahnya.

“Ia menulis sesuatu di kertas,” lanjut Ibu.

“Apa?”

Ibu tidak menjawab.

Nisa yang menjawab.

“Kalau Ibu Aminah membuat Bapak pulang, beliau akan dimasukkan ke panti jompo.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangku bergeser.

Sinta menangis.

“Aku cuma menakut-nakuti. Aku tidak benar-benar akan melakukannya.”

“Kamu tahu bagian paling buruk dari semua ini?” kataku.

Sinta menatapku.

“Bukan uang.”

Aku menunjuk gudang.

“Bukan kamar itu.”

Aku menunjuk ponsel Ibu.

“Bukan bahkan tanda tangan palsu ini.”

Aku menahan napas.

“Yang paling buruk adalah kamu membuat ibuku takut kehilangan anaknya sendiri.”

Tidak seorang pun bicara.

Pak Hendra kemudian menjelaskan bahwa proses pemindahan hak belum terjadi. Berkas itu akan ia tahan dan ia menyarankan agar kami melaporkan pemalsuan dokumen.

Aku langsung mengangguk.

Sinta mendekat.

“Mas, jangan polisi.”

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

“Aku istrimu.”

“Dan dia ibuku.”

“Tapi kita bisa selesaikan sebagai keluarga.”

Aku tertawa pendek, getir.

“Keluarga?”

Aku menatap kasur tipis di gudang.

“Kamu baru ingat kata keluarga setelah ketahuan?”

Bu Ratna mendadak maju.

“Kalau kamu lapor, kamu menghancurkan hidup anak saya!”

Ibuku yang sejak tadi diam tiba-tiba berdiri.

“Cukup.”

Semua menoleh.

Suara Ibu memang tidak keras, tetapi untuk pertama kali hari itu tidak ada rasa takut di dalamnya.

Ia berjalan pelan ke arah Bu Ratna.

“Saya tidak ingin menghancurkan hidup siapa pun.”

Bu Ratna terlihat sedikit lega.

Namun Ibu melanjutkan.

“Tapi saya juga tidak mau anak saya terus hidup dengan orang yang menganggap kasih sayang bisa dipakai untuk menutupi keserakahan.”

Sinta terisak.

“Bu, maafkan saya.”

Ibu menatapnya.

“Saya sudah memaafkanmu sejak pertama kali kamu menyuruh saya tidur di belakang.”

Aku tertegun.

“Bu…”

Ibu tersenyum sedih.

“Memaafkan bukan berarti membiarkan.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.

Hari itu juga aku membawa Ibu ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya.

Dokter mengatakan lututnya mengalami peradangan cukup berat karena terlalu sering berjongkok dan bekerja. Kulit tangannya mengalami iritasi akibat cairan pembersih. Tekanan darahnya juga tidak stabil karena obat beberapa kali tidak diminum teratur.

Aku duduk di samping ranjang pemeriksaan dengan rasa bersalah yang sulit dijelaskan.

“Ibu seharusnya marah sama Ardi.”

Ibu tersenyum.

“Untuk apa?”

“Aku tidak ada ketika Ibu membutuhkan aku.”

“Kamu bekerja.”

“Aku seharusnya tahu.”

Ibu memegang tanganku.

“Anak tidak akan bisa melihat sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.”

Aku menunduk.

“Tapi setelah melihat, kamu harus memilih mau pura-pura buta atau tidak.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku tidak akan pura-pura buta lagi.”

Malam itu aku tidak kembali ke rumah bersama Sinta.

Aku membawa Ibu ke hotel kecil dekat rumah sakit agar ia bisa beristirahat dengan nyaman.

Keesokan paginya, aku pergi ke kantor polisi bersama Pak Hendra dan Nisa.

Aku kira kejutan terbesar sudah terjadi.

Ternyata belum.

Ketika polisi memeriksa salinan surat kuasa, mereka menemukan fakta bahwa tanda tanganku bukan digambar manual.

Tanda tangan itu diambil dari dokumen lain.

Dokumen pembelian mobil yang kutandatangani dua tahun sebelumnya telah dipindai, dipotong secara digital, lalu ditempelkan pada surat kuasa.

Dan orang yang melakukan pemindaian itu adalah Sinta.

Ia akhirnya mengaku.

Namun ada satu hal lain yang bahkan tidak diketahui Bu Ratna.

Ketika penyidik memeriksa transaksi rekening, ditemukan bahwa uang tiga juta rupiah yang kukirim setiap bulan untuk perawat tidak seluruhnya diberikan kepada Bu Ratna.

Sebagian dipindahkan Sinta ke rekening pribadinya.

Selama hampir satu tahun.

Jumlahnya mencapai lebih dari dua puluh juta rupiah.

Bu Ratna sendiri terkejut.

“Kamu bilang semua uang itu untuk membayar utang Mama!”

Sinta hanya menangis.

Untuk pertama kalinya, ibu dan anak itu saling menyalahkan.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Keserakahan jarang berhenti pada satu kebohongan.

Satu kebohongan membutuhkan kebohongan lain agar tetap hidup.

Seminggu kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.

Sinta memohon berkali-kali.

Ia mengirim pesan panjang, datang ke kantorku, bahkan meminta beberapa kerabat membujukku.

Aku tidak membencinya.

Anehnya, setelah kemarahan mereda, yang tersisa justru rasa hampa.

Aku pernah mencintai perempuan itu.

Mungkin sebagian dari diriku masih mencintai kenangan tentang siapa dirinya sebelum semua ini terjadi.

Tetapi cinta tidak bisa hidup tanpa kepercayaan.

Dan kepercayaan yang dihancurkan dengan sengaja tidak selalu bisa dibangun kembali.

Tiga bulan kemudian, perkara pemalsuan dokumen masih berjalan.

Ibu memilih tidak menuntut soal perlakuan yang ia alami di rumah, tetapi ia bersedia memberikan keterangan mengenai pemaksaan tanda tangan.

Rumah kontrakan tetap atas namanya.

Aku juga mengembalikan seluruh pengelolaan uang Ibu langsung kepadanya.

Aku membeli ponsel baru dan menuliskan nomorku dengan huruf besar di belakang casing.

“Kalau hilang lagi?” tanyaku.

Ibu tertawa.

“Nomormu sekarang Ibu hafal.”

Suatu sore, kami duduk di teras rumah kontrakan sambil minum teh.

Lutut Ibu sudah jauh membaik.

Aku sedang menghitung biaya perbaikan salah satu pintu kontrakan ketika Ibu masuk ke kamar dan kembali membawa kotak kecil.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya ada gelang yang dulu kubeli di Surabaya untuk Sinta.

Aku terdiam.

“Ini bagaimana bisa ada di Ibu?”

“Waktu kamu pulang hari itu, tas hadiahmu terbuka sedikit. Ibu lihat gelang ini jatuh setelah kalian ribut. Ibu simpan.”

Aku memegang gelang itu.

Ada rasa sakit lama yang kembali muncul.

“Buang saja, Bu.”

Ibu menggeleng.

“Jangan.”

“Untuk apa disimpan?”

Ia mengambil gelang itu dari tanganku.

“Karena tidak semua benda yang berasal dari rencana yang gagal harus dibuang.”

Aku menatapnya.

Ibu lalu memasukkan gelang itu kembali ke kotak.

“Jual. Uangnya pakai untuk beli kipas angin baru.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya ketika mengingat gudang itu.

Namun Ibu belum selesai.

“Bukan untuk rumah kita.”

“Lalu?”

Ia menunjuk rumah kecil di ujung jalan.

“Itu rumah Nisa. Kipas anginnya rusak sejak bulan lalu.”

Aku menatap Ibu tidak percaya.

Setelah semua yang dialaminya, ia masih memikirkan orang lain.

Beberapa hari kemudian, aku membeli kipas angin untuk Nisa.

Bukan dari hasil menjual gelang.

Gelang itu tetap kusimpan.

Bukan karena aku masih berharap pada Sinta.

Aku menyimpannya sebagai pengingat.

Bahwa kadang-kadang kita begitu sibuk mencari uang untuk orang yang kita cintai sampai lupa memastikan apakah mereka benar-benar baik-baik saja.

Aku dulu berpikir menjadi anak yang bertanggung jawab berarti mengirim uang tepat waktu, membayar kebutuhan rumah, dan bekerja sekeras mungkin.

Ternyata aku salah.

Ada hal yang tidak bisa digantikan transfer bank.

Kehadiran.

Perhatian.

Dan keberanian untuk melihat kenyataan meskipun kenyataan itu menyakitkan.

Enam bulan setelah hari kepulanganku, aku sedang menyapu halaman ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Sinta turun.

Tubuhnya lebih kurus.

Ia tidak memakai pakaian mahal seperti dulu. Ia membawa sebuah amplop.

Ibu keluar dari rumah.

Sinta mendekatinya dengan mata merah.

“Bu Aminah.”

Ibu diam.

Sinta menyerahkan amplop.

“Apa ini?”

“Uang yang dulu saya ambil dari Mas Ardi. Belum semuanya. Saya akan cicil.”

Aku berdiri beberapa meter dari mereka.

Sinta menatap Ibu.

“Saya tidak datang untuk minta diterima kembali.”

Air matanya jatuh.

“Saya cuma ingin mulai mengembalikan apa yang bukan milik saya.”

Ibu menerima amplop itu.

Kemudian ia berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Uang bisa dikembalikan.”

Sinta mengangguk.

“Tapi waktu tidak.”

Sinta menunduk.

“Karena itu, kalau suatu hari kamu punya kesempatan memperbaiki hidupmu, jangan tunggu sampai kehilangan lebih banyak waktu.”

Sinta menangis.

Ia mencium tangan Ibu, lalu pergi tanpa meminta apa pun dariku.

Aku memperhatikan mobilnya menjauh.

“Bu masih sayang sama Sinta?” tanyaku.

Ibu menatap jalan.

“Sayang itu tidak selalu berarti harus tinggal bersama.”

Ia kemudian menoleh kepadaku.

“Kadang sayang berarti berhenti membiarkan seseorang menjadi lebih buruk.”

Aku tidak pernah lupa kalimat itu.

Dan setiap kali sekarang aku harus pergi bekerja ke luar kota, aku tidak hanya mengirim uang.

Aku menelepon Ibu sendiri.

Aku memastikan ia menjawab.

Aku mendengarkan suaranya.

Kadang hanya lima menit.

Kadang setengah jam karena ia bercerita tentang tetangga, harga cabai, atau kucing yang tidur di teras.

Hal-hal kecil yang dulu mungkin kuanggap tidak penting.

Sekarang aku tahu justru hal-hal kecil itulah yang membuat kita mengetahui apakah seseorang yang kita cintai benar-benar baik-baik saja.

Hari ketika aku pulang membawa kejutan untuk istriku, aku kehilangan rumah tangga yang kukira bahagia.

Tetapi pada hari yang sama, aku mendapatkan kembali sesuatu yang hampir hilang tanpa kusadari.

Ibuku.

Dan kesempatan kedua untuk benar-benar menjadi anaknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang