AKU MEMASANG KAMERA DI KAMAR TIDURKU… TAPI SATU-SATUNYA REKAMAN YANG TERSISA JUSTRU MENUNJUKKAN DIRIKU SENDIRI BERDIRI DI DALAM KAMAR

“Tidak,” jawabku.

Bu Tess akhirnya mengangkat wajah.

“Kalau begitu, mungkin kamu cuma lupa. Kamu kerja sampai malam, kan? Orang capek memang suka begitu.”

Aku ingin membantah, tetapi kata-katanya terdengar terlalu masuk akal.

Aku memang sering pulang hampir pukul sebelas malam. Kadang-kadang setelah sampai kamar, aku bahkan tidak ingat apakah sudah mengunci pintu dua kali atau baru sekali.

Namun sebelum kembali ke lantai tiga, aku bertanya satu hal lagi.

“Bu Tess punya kunci cadangan kamar saya?”

Dia mengangguk santai.

“Semua kamar ada duplikatnya. Buat keadaan darurat.”

“Selain Ibu?”

“Tidak ada.”

Jawaban itu seharusnya membuatku tenang.

Anehnya, justru sejak malam itu aku mulai sulit tidur.

Setiap bunyi dari lorong terdengar lebih jelas.

Langkah kaki penghuni kamar sebelah.

Suara keran bocor dari kamar mandi bersama.

Derit pintu tangga.

Bahkan suara tikus di plafon membuatku terbangun dengan jantung berdebar.

Dua hari kemudian, setelah menerima gaji, aku membeli kamera kecil melalui toko elektronik di mal dekat tempat kerja.

Bukan kamera mahal. Hanya kamera pengawas ukuran telapak tangan yang bisa merekam otomatis ketika mendeteksi gerakan.

Aku memasangnya di rak buku, menghadap ke seluruh kamar.

Sengaja tidak terlalu tersembunyi.

Kalau memang ada seseorang yang masuk, aku ingin melihat wajahnya.

Aku juga membeli gembok kecil tambahan dan memasangnya dari dalam pintu lemari.

Malam pertama kamera terpasang, tidak terjadi apa-apa.

Malam kedua juga sama.

Aku mulai merasa bodoh.

Mungkin Bu Tess benar.

Mungkin semua itu hanya akibat kelelahan.

Lalu pada malam ketiga aku pulang dan menemukan pintu kamar dalam keadaan terkunci seperti biasa.

Aku membuka kunci, masuk, lalu berhenti tepat di ambang pintu.

Kipas angin menyala.

Padahal sebelum berangkat aku yakin sudah mencabut kabelnya.

Di atas tempat tidur, rosario ibuku kembali tergeletak.

Kali ini tidak di tengah.

Rosario itu diletakkan membentuk lingkaran.

Dan di tengah lingkaran itu ada sebuah kunci kecil berwarna perak.

Aku mengenalinya.

Kunci gembok lemari.

Aku menoleh.

Gembok itu masih terpasang.

Tetapi sudah terbuka.

Tanganku langsung dingin.

Aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi kamera.

Ada notifikasi gerakan pada pukul 14.13.

Aku menekan rekaman.

Layar menjadi hitam beberapa detik.

Kemudian kamarku muncul.

Kosong.

Pintu tertutup.

Kipas tidak bergerak.

Detik ke dua belas, pintu kamar terbuka.

Aku menahan napas.

Seseorang masuk.

Seorang perempuan.

Tubuhnya kurus.

Rambutnya sebahu.

Mengenakan kaus abu-abu dan celana hitam.

Aku memperbesar gambar.

Ponsel hampir terlepas dari tanganku.

Perempuan itu adalah aku.

Bukan mirip.

Bukan seseorang dengan bentuk tubuh yang sama.

Aku.

Dia berjalan masuk dengan kepala sedikit menunduk, persis kebiasaanku saat kelelahan.

Dia berhenti di depan tempat tidur.

Mengambil rosario dari bawah bantal.

Meletakkannya di atas seprai.

Kemudian dia menatap langsung ke arah kamera.

Wajahku sendiri memenuhi layar.

Mata itu kosong.

Tidak marah.

Tidak tersenyum.

Hanya menatap.

Lalu perempuan itu berjalan mendekati kamera dan mengangkat tangan.

Rekaman berhenti.

Aku berdiri membeku di tengah kamar.

Pada pukul 14.13 hari itu aku sedang bekerja.

Aku ingat jelas karena sekitar pukul dua siang ada pelanggan yang menjatuhkan tiga botol saus di lorong enam. Aku bahkan membantu membersihkan lantai bersama salah satu rekan kerjaku.

Aku tidak mungkin berada di kamar.

Aku menelepon rekan kerja itu.

“Jo, tadi siang jam dua aku ada di toko, kan?”

Dia tertawa.

“Kenapa tanya begitu?”

“Jawab saja.”

“Ya ada. Kamu malah dimarahin supervisor gara-gara pelanggan mecahin botol. Kenapa?”

Aku langsung menutup telepon.

Malam itu aku tidak tidur di kamar.

Aku membawa tas kecil dan pergi ke rumah sepupuku, Rina, di Mandaluyong.

Setelah melihat rekamannya, Rina terdiam cukup lama.

“Ini editan?”

“Rekaman langsung dari kamera.”

“Password-nya siapa yang tahu?”

“Cuma aku.”

Rina memutar video sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Pada pemutaran ketiga, dia mendekatkan ponsel ke wajahnya.

“Mara.”

“Apa?”

“Lihat bajunya.”

Aku melihat.

Kaus abu-abu.

Celana hitam.

“Kenapa?”

“Itu bajumu?”

Aku mengangguk.

Kemudian aku teringat sesuatu.

Kaus abu-abu itu memang milikku.

Tetapi sudah hampir dua minggu tidak kupakai.

Kaus itu ada di lemari.

Atau setidaknya seharusnya ada.

Aku dan Rina kembali ke apartemen malam itu juga.

Kami tidak masuk sendirian.

Kami meminta Bu Tess menemani.

“Ada apa sih?” tanyanya, kesal karena sudah hampir tengah malam.

Aku menunjukkan rekaman.

Wajahnya berubah.

Hanya sebentar.

Namun aku melihatnya.

Bukan takut.

Lebih seperti seseorang yang baru saja menyadari sebuah rahasia mulai terbuka.

“Ibu kenal perempuan ini?” tanyaku.

Dia langsung menggeleng.

“Itu kan kamu.”

“Jam segini saya sedang kerja.”

“Mungkin rekamannya salah waktu.”

Rina menyela.

“Kamera ini tersambung ke internet. Waktunya otomatis.”

Bu Tess diam.

Aku membuka lemari.

Kaus abu-abu itu tidak ada.

Celana hitam juga tidak ada.

Untuk pertama kalinya, Bu Tess terlihat benar-benar gugup.

Aku menatapnya.

“Ibu menyembunyikan apa dari saya?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu saya telepon polisi.”

Dia langsung berkata, “Jangan.”

Ruangan menjadi senyap.

Rina menatapku.

Aku menatap Bu Tess.

Perempuan tua itu perlahan duduk di ujung tempat tidur.

Wajahnya tiba-tiba terlihat jauh lebih tua.

“Ada sesuatu yang seharusnya saya bilang dari awal,” katanya.

“Apa?”

Dia memandang ke arah lemari.

“Kamarmu dulu bukan kamar sewaan.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Dulu itu kamar anak saya.”

Nama anaknya, kata Bu Tess, adalah Lila.

Umurnya hampir sama denganku ketika masih tinggal di sana.

Dua puluh lima tahun.

Lila bekerja di sebuah pusat perbelanjaan.

Tinggal bersama Bu Tess.

Menggunakan lemari yang sama.

Tidur di tempat yang sama.

Kemudian suatu malam, setelah pertengkaran besar dengan ibunya, Lila pergi.

Tidak kembali.

Bu Tess melaporkannya sebagai orang hilang.

Polisi mencari beberapa minggu.

Tidak ada hasil.

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”

Bu Tess tidak menjawab.

Rina justru melihat ke sekeliling kamar.

“Kalau cuma itu, kenapa Ibu takut polisi dipanggil?”

Wajah Bu Tess menegang.

Aku merasakan sesuatu yang buruk mulai terbentuk di dalam kepalaku.

Aku berdiri.

“Buka semua yang Ibu tahu sekarang.”

Bu Tess mulai menangis.

Dia mengatakan dua bulan setelah Lila hilang, polisi menemukan jasad seorang perempuan di luar Manila.

Kondisinya sulit dikenali.

Barang-barang di tubuhnya cocok dengan milik Lila.

Bu Tess menerima kenyataan bahwa anaknya meninggal.

Namun satu hal tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun.

Seminggu sebelum aku menyewa kamar itu, dia menemukan sesuatu di belakang panel kayu lemari.

Sebuah amplop.

Di dalamnya ada fotokopi kartu identitas lama.

Bukan milik Lila.

Milik seseorang bernama Elena Soriano.

Nama ibuku.

Aku merasa seluruh ruangan seolah kehilangan udara.

“Ibu saya?”

Bu Tess mengangguk.

Aku langsung meraih rosario.

Rosario itu satu-satunya peninggalan ibuku sejak dia meninggal ketika aku masih SMP.

“Apa hubungan ibu saya dengan anak Ibu?”

“Saya tidak tahu.”

Bu Tess berdiri dan berjalan ke sisi lemari.

Dia menarik salah satu papan tipis di bagian belakang.

Ternyata papan itu bisa dilepas.

Di baliknya ada rongga sempit.

Rina menyalakan senter ponsel.

Di dalam rongga itu tersimpan beberapa pakaian.

Kaus abu-abu.

Celana hitam.

Dan sebuah tas plastik bening.

Aku menariknya keluar.

Di dalamnya ada beberapa foto lama.

Foto pertama membuat lututku lemas.

Ibuku berdiri bersama seorang perempuan muda.

Perempuan itu adalah Lila.

Keduanya tersenyum di depan sebuah rumah sakit.

Foto berikutnya memperlihatkan mereka duduk di sebuah kantin.

Lalu foto ketiga memperlihatkan ibuku menggendong seorang bayi.

Di belakang foto tertulis dengan tinta biru yang hampir pudar.

Mara, 3 bulan.

Tanganku mulai gemetar.

“Kenapa foto saya ada pada anak Ibu?”

Bu Tess terlihat sama bingungnya.

Kemudian Rina menemukan sebuah amplop lain di dasar rongga.

Surat itu ditulis tangan.

Untuk Tess.

Bu Tess membaca dengan napas terputus-putus.

Semakin lama, wajahnya semakin pucat.

“Apa isinya?” tanyaku.

Dia menyerahkan surat itu kepadaku.

Tulisan Lila menjelaskan semuanya.

Dua puluh enam tahun lalu, Lila bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah klinik bersalin kecil.

Di sanalah dia bertemu ibuku, Elena.

Saat itu Elena datang dalam keadaan hamil, sendirian, tanpa keluarga.

Mereka menjadi dekat.

Setelah aku lahir, ibuku mengalami masalah keuangan dan hampir kehilangan tempat tinggal.

Lila membantu kami beberapa bulan.

Namun ada satu hal lain.

Lila juga sedang dalam masalah.

Dia mengetahui bahwa klinik tempatnya bekerja memalsukan sejumlah dokumen kelahiran untuk jaringan adopsi ilegal.

Ibuku membantu Lila mengumpulkan bukti.

Sebelum bukti itu sempat diserahkan, mereka diancam.

Lila berencana pergi dari Manila.

Ibuku pun pindah membawaku.

Bu Tess menangis ketika membaca bagian terakhir.

Lila tidak pernah kabur karena bertengkar.

Pertengkaran itu sengaja dibuat agar orang lain percaya bahwa dia pergi karena masalah keluarga.

Dia takut orang-orang yang mengincarnya akan mendatangi ibunya.

Di halaman terakhir surat itu tertulis bahwa jika sesuatu terjadi pada Lila, beberapa bukti disembunyikan di kamar.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Bukti apa?”

Kami membongkar rongga itu lagi.

Tidak ada dokumen lain.

Hanya foto dan pakaian.

Rina tiba-tiba menatap ke arah kamera.

“Mara.”

Aku mengikutinya.

“Kamera kamu merekam seseorang membuka lemari, kan?”

Aku mengangguk.

“Berarti orang itu mungkin mencari sesuatu.”

Aku merasakan bulu kuduk berdiri.

Kami kembali memeriksa rekaman.

Kali ini kami tidak hanya melihat wajah.

Kami memperhatikan gerakannya.

Perempuan yang tampak sepertiku masuk.

Membuka lemari.

Mengambil pakaian.

Mengambil rosario.

Tetapi sebelum mendekati kamera, dia melakukan sesuatu.

Tangannya menekan sisi kiri lemari.

Tiga kali.

Aku menghentikan video.

“Kita belum periksa sisi kiri.”

Kami memindahkan lemari.

Di dinding belakangnya ada lubang kecil yang ditutup dempul.

Rina mengambil obeng.

Setelah beberapa menit, lapisan itu terbuka.

Di dalamnya ada kotak logam kecil.

Kami menemukan puluhan lembar fotokopi dokumen lama.

Nama pasien.

Nomor kelahiran.

Dokumen penyerahan bayi.

Nama perantara.

Sebagian besar berusia lebih dari dua puluh tahun.

Bu Tess langsung menelepon polisi.

Malam itu aku tidak tidur.

Namun misteri terbesar belum selesai.

Siapa perempuan dalam rekaman?

Polisi datang pagi hari.

Mereka mengambil dokumen, kamera, dan salinan video.

Salah satu penyidik juga meminta rekaman CCTV dari minimarket tempatku bekerja.

Aku terlihat jelas berada di sana pada pukul 14.13.

Berarti perempuan di kamar itu bukan aku.

Dua hari kemudian, seorang penyidik menghubungiku.

“Mbak Mara, kami menemukan sesuatu.”

Mereka memeriksa rekaman CCTV jalan di depan apartemen.

Perempuan yang memasuki gedung datang dengan masker dan topi.

Saat meninggalkan gedung, masker itu dilepas sebentar.

Aku menatap foto yang dikirim penyidik.

Wajahnya memang sangat mirip denganku.

Tetapi bukan aku.

Usianya lebih tua.

Mungkin sekitar empat puluh tahun.

Bu Tess menatap foto itu dan langsung menjatuhkan ponselnya.

“Lila.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Itu Lila.”

Anaknya ternyata tidak pernah meninggal.

Jasad yang ditemukan puluhan tahun lalu bukan dirinya.

Karena ketakutan dan keterbatasan pemeriksaan pada masa itu, keluarga menerima identifikasi yang ternyata salah.

Polisi kemudian menemukan bahwa Lila selama bertahun-tahun tinggal menggunakan identitas berbeda di Cavite.

Dia tidak kembali karena yakin jaringan lama itu masih mengawasinya.

Namun beberapa bulan sebelumnya, dia mengetahui Bu Tess mulai menyewakan kamar lamanya.

Lalu dia melihat namaku di daftar penyewa ketika diam-diam datang mencari dokumen.

Soriano.

Nama itu membuatnya kembali.

Dia mengenal wajahku karena kemiripanku dengan ibuku.

Pakaian yang dipakainya saat terekam adalah pakaian lama miliknya sendiri yang masih disembunyikan di rongga lemari.

Kebetulan bentuk tubuh dan wajah kami begitu mirip sehingga dalam kamera kecil dengan pencahayaan buruk, aku benar-benar seperti melihat diriku sendiri.

Rosario itu sengaja diletakkan di tempat terbuka karena Lila mengenalinya.

Dulu rosario itu milik ibuku.

Ibuku pernah memberikannya kepada Lila sebelum mereka berpisah, lalu Lila mengembalikannya bertahun-tahun kemudian melalui seorang teman keluarga tanpa pernah menemui kami.

Seminggu setelah polisi menemukan Lila, aku bertemu dengannya.

Pertemuan itu berlangsung di kantor kepolisian.

Dia duduk di seberang meja.

Wajahnya lebih kurus daripada perempuan dalam foto lama.

Ketika melihatku, dia menangis.

“Kamu mirip sekali dengan Elena.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Kenapa tidak bicara langsung dengan saya?”

“Saya takut,” katanya. “Saya tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.”

“Jadi Ibu masuk ke kamar saya?”

Dia mengangguk.

“Saya mencari bukti yang saya sembunyikan dulu. Tapi saat saya melihat rosario itu, saya tahu kamu anak Elena.”

“Lalu kenapa mematikan kamera?”

Lila menunduk.

“Karena saya belum siap ditemukan.”

Aku menatap perempuan itu cukup lama.

Selama beberapa minggu, aku mengira kamar itu dihantui sesuatu.

Ternyata yang menghantui kami bukan makhluk dari dunia lain.

Melainkan ketakutan yang dibiarkan hidup selama dua puluh enam tahun.

Dokumen yang ditemukan akhirnya membuka kembali penyelidikan lama.

Beberapa keluarga mengetahui bahwa catatan kelahiran mereka pernah dimanipulasi.

Sebagian kasus sudah terlalu tua untuk diselesaikan dengan sempurna, tetapi setidaknya nama-nama yang selama puluhan tahun hanya menjadi angka dalam dokumen mulai memiliki cerita.

Bu Tess berhenti menyewakan kamar itu.

Aku sendiri pindah beberapa bulan kemudian.

Sebelum pergi, aku berdiri untuk terakhir kalinya di depan tempat tidur.

Rosario ibuku ada di tanganku.

Lila berdiri di dekat pintu.

“Kamu takut sama kamar ini?” tanyanya.

Aku tersenyum tipis.

“Dulu.”

“Sekarang?”

Aku melihat lemari tua itu.

Tempat di mana rahasia dua keluarga bersembunyi selama puluhan tahun.

“Sekarang saya cuma takut pada hal-hal yang sengaja tidak kita tanyakan.”

Lila mengangguk.

Aku keluar.

Dia mematikan lampu.

Dan sebelum pintu tertutup, aku menoleh sekali lagi ke arah rak tempat kamera dulu terpasang.

Selama berhari-hari aku bertanya siapa perempuan dalam rekaman itu.

Aku mengira jawabannya akan menghancurkan pikiranku.

Ternyata jawabannya justru mengembalikan sebagian masa lalu yang bahkan tidak pernah kuketahui hilang.

Dan sejak hari itu aku memahami satu hal.

Kadang-kadang sesuatu yang terlihat seperti dirimu sendiri datang bukan untuk mengambil hidupmu.

Ia datang membawa wajah dari masa lalu, mengetuk tempat paling aman yang kau miliki, dan memaksamu membuka pintu menuju kebenaran yang terlalu lama dikunci.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang