Suamiku mengejekku karena aku tidak memiliki apa-apa lagi setelah perceraian kami… tetapi hanya seminggu kemudian, dia berlutut di depan pintu rumahku dan memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi.

Aku tidak akan hancur hanya karena kau meninggalkanku.

Kalimat itu menjadi satu-satunya hal yang menahanku agar tidak menangis di tengah trotoar hari itu.

Aku terus berjalan sampai gedung pengadilan menghilang dari pandangan. Baru setelah masuk ke sebuah taksi, aku membiarkan tubuhku bersandar lemas.

“Ke mana, Bu?” tanya sopir.

Aku terdiam beberapa detik.

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tamparan.

Ke mana?

Selama dua puluh tahun, rumahku adalah tempat Adrian berada. Jadwalku mengikuti anak-anak, pekerjaannya, makan malam bisnisnya, acara keluarganya, dan kebutuhan siapa pun selain diriku sendiri.

Sekarang aku bahkan tidak tahu harus menyebut tempat mana sebagai rumah.

“Ke Cibubur, Pak,” jawabku akhirnya sambil menyebut alamat sebuah rumah kecil milik mendiang ibuku.

Rumah itu sudah kosong hampir lima tahun.

Cat dindingnya mungkin sudah kusam. Halamannya pasti dipenuhi rumput liar. Beberapa bagian atap bahkan pernah bocor sebelum Ibu meninggal.

Tetapi hanya itu yang tersisa atas namaku sendiri.

Setidaknya, begitulah yang kupikirkan.

Malam pertama di sana, aku tidur di atas kasur tipis yang kubeli dalam perjalanan. Tidak ada televisi. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada meja makan besar seperti di rumah lama kami.

Hanya suara kipas tua, aroma debu, dan kesunyian yang membuatku sadar bahwa untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, tidak ada seorang pun yang menungguku melakukan sesuatu.

Tidak ada Adrian yang bertanya kemeja putihnya di mana.

Tidak ada jadwal makan malam yang harus kuatur.

Tidak ada tamu bisnis yang harus kusambut.

Tidak ada permintaan mendadak yang harus kupenuhi.

Aneh sekali.

Aku seharusnya merasa kesepian.

Tetapi di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.

Ruang untuk bernapas.

Keesokan paginya, aku mulai membersihkan rumah.

Saat membuka lemari kayu lama di kamar Ibu, aku menemukan sebuah kotak plastik berisi dokumen. Sebagian besar hanya surat tanah, kuitansi lama, buku tabungan yang sudah tidak aktif, dan foto keluarga.

Namun di bagian paling bawah ada sebuah map biru dengan namaku tertulis di atasnya.

Ratih Prameswari.

Nama lengkapku.

Tulisan tangan Ibu.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen pendirian perusahaan.

Aku membaca halaman pertama berkali-kali karena mengira aku salah melihat.

PT Sinar Arunika Nusantara.

Namaku tercantum sebagai salah satu pemegang saham awal.

Tiga puluh lima persen.

Tanganku mulai gemetar.

Aku mengenal nama perusahaan itu.

Bukan perusahaan besar yang dikenal masyarakat. Tetapi nama itu pernah muncul beberapa kali dalam percakapan Adrian bertahun-tahun lalu.

Sinar Arunika adalah perusahaan distribusi bahan bangunan yang didirikan ayahku bersama seorang sahabatnya sebelum aku menikah.

Setelah Ayah meninggal, Ibu pernah berkata bisnis itu sudah diserahkan kepada partner lama Ayah karena beliau tidak sanggup mengurusnya.

Aku mengira semuanya telah dijual.

Ternyata tidak.

Aku langsung mencari nomor yang tertera dalam dokumen lama itu. Sebagian sudah tidak aktif. Sampai akhirnya aku menemukan kartu nama seorang pria bernama Bima Santoso.

Aku meneleponnya.

Seorang pria tua menjawab.

“Halo?”

“Pak Bima?”

“Iya.”

“Nama saya Ratih Prameswari. Putri almarhum Hendra Prameswara.”

Hening.

Begitu lama sampai aku mengira sambungan terputus.

Kemudian suaranya berubah.

“Ratih?”

“Iya, Pak.”

“Ya Tuhan. Kamu akhirnya menelepon.”

Kalimat itu membuatku membeku.

“Akhirnya?”

Dua jam kemudian, Pak Bima datang ke rumah.

Usianya hampir tujuh puluh tahun. Rambutnya memutih, tetapi langkahnya masih tegap.

Begitu melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.

“Kamu mirip sekali dengan ibumu.”

Kami duduk di ruang tamu sederhana sambil minum teh.

Pak Bima menjelaskan sesuatu yang membuat seluruh hidupku seakan bergeser.

Ayah memang meninggalkan tiga puluh lima persen saham perusahaan untukku.

Ketika aku menikah, perusahaan itu masih kecil. Nilainya tidak seberapa.

Namun dua puluh tahun kemudian, Sinar Arunika berkembang menjadi salah satu pemasok utama untuk beberapa proyek konstruksi besar di Jawa.

“Ayahmu sengaja membuat kepemilikanmu terpisah,” kata Pak Bima. “Saham itu tidak pernah dialihkan. Dividennya selama ini masuk ke rekening investasi yang dibuat atas namamu.”

Aku menatapnya.

“Berapa nilainya?”

Pak Bima tidak langsung menjawab.

Dia membuka tablet dan menunjukkan beberapa dokumen.

Aku hampir menjatuhkan cangkir.

Jumlahnya lebih besar daripada seluruh aset yang selama ini diperebutkan Adrian dalam perceraian kami.

Sangat jauh lebih besar.

“Kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku?”

Pak Bima menghela napas.

“Ibumu ingin kamu mengetahui ini ketika kamu benar-benar membutuhkan hidup yang berdiri di atas kakimu sendiri.”

Aku menahan napas.

“Beliau pernah bilang, selama kamu masih merasa hidupmu bergantung pada suamimu, uang ini justru bisa menjadi sumber masalah.”

Aku teringat betapa sering Ibu bertanya apakah aku bahagia.

Betapa sering aku menjawab iya tanpa berpikir.

Pak Bima lalu menyerahkan satu amplop kecil.

“Ini juga dari ibumu.”

Di dalamnya ada selembar surat.

Tulisan tangan yang begitu kukenal.

Ratih, jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin hidup sedang memaksamu berjalan sendirian. Jangan takut. Kamu adalah anak perempuan yang dahulu berani mengambil keputusan sendiri sebelum terlalu lama hidup untuk menyenangkan orang lain. Ibu hanya ingin kamu menemukan perempuan itu kembali.

Aku tidak sanggup melanjutkan.

Air mataku jatuh.

Namun untuk pertama kalinya sejak perceraian, aku menangis bukan karena kehilangan Adrian.

Aku menangis karena menyadari betapa lama aku kehilangan diriku sendiri.

Dalam tiga hari berikutnya, hidupku bergerak sangat cepat.

Aku bertemu notaris.

Bertemu konsultan keuangan.

Mengaktifkan kembali seluruh hak pemegang saham.

Aku juga mengetahui bahwa perusahaan sedang bersiap melakukan ekspansi besar.

Pak Bima bahkan menawarkan satu kursi komisaris kepadaku.

“Tidak perlu buru-buru menjawab,” katanya.

Aku tersenyum.

“Dua puluh tahun lalu aku berhenti bekerja di bidang administrasi keuangan.”

“Berarti kamu pernah bekerja.”

“Sudah terlalu lama.”

Pak Bima terkekeh.

“Ratih, mengurus rumah tangga dua puluh tahun sambil mendampingi orang membangun bisnis bukan berarti kamu tidak punya kemampuan. Hanya saja selama ini kemampuanmu tidak pernah diberi nama jabatan.”

Kalimat itu terus teringat olehku.

Aku mulai datang ke kantor Sinar Arunika setiap pagi.

Awalnya canggung.

Aku bahkan harus belajar kembali menggunakan beberapa perangkat lunak kantor. Banyak istilah bisnis yang terasa asing.

Tetapi sedikit demi sedikit, aku menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Aku masih bisa belajar.

Lebih dari itu, aku menikmatinya.

Satu minggu setelah perceraian, aku sedang berdiri di dapur rumah Cibubur ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar.

Aku mengenal mobil itu.

Adrian.

Aku sempat mengira dia datang untuk kembali mengejekku.

Namun ketika kubuka pintu, aku melihat wajah yang benar-benar berbeda dari lelaki yang berdiri di luar gedung pengadilan seminggu sebelumnya.

Kemejanya kusut.

Matanya merah.

Dia tidak tersenyum.

“Ratih.”

“Ada apa?”

Dia melihat ke belakangku, seolah ingin memastikan aku benar-benar tinggal di rumah kecil itu.

“Kita perlu bicara.”

“Bicaralah.”

“Boleh aku masuk?”

“Tidak.”

Wajahnya menegang.

Lalu sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Adrian berlutut.

Benar-benar berlutut di depan pintu rumahku.

“Ratih, tolong.”

Aku terpaku.

“Beri aku satu kesempatan lagi.”

Aku hampir tertawa karena sulit mempercayainya.

“Seminggu lalu kau bertanya apakah masih ada perusahaan yang mau menerima perempuan seperti aku.”

“Aku marah waktu itu.”

“Kau tidak terlihat marah. Kau terlihat bahagia.”

Dia menunduk.

“Aku salah.”

Aku memandangnya lama.

“Apa perempuan itu meninggalkanmu?”

Adrian terdiam.

Itulah jawabannya.

Aku menyilangkan tangan.

“Apa yang terjadi?”

Dia akhirnya mengaku.

Perempuan bernama Selina itu ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya seperti yang dia bayangkan.

Begitu perceraian selesai, Selina mulai menuntut banyak hal.

Apartemen.

Mobil.

Saham perusahaan.

Dan ketika Adrian menolak memberikan semuanya, hubungan mereka meledak.

Tetapi itu bukan alasan utama dia datang.

“Aku kehilangan kontrak terbesar perusahaan,” katanya.

Aku mengernyit.

“Lalu?”

“Klien kami memilih distributor lain.”

Aku masih belum memahami.

Sampai Adrian menyebut nama perusahaan tersebut.

PT Sinar Arunika Nusantara.

Aku membeku.

Adrian melanjutkan dengan suara putus asa.

“Mereka sekarang mengendalikan distribusi untuk proyek yang selama ini menjadi sumber pendapatan terbesar kami.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Jadi inilah alasannya.

Bukan cinta.

Bukan penyesalan.

Bisnis.

“Kau datang karena perusahaanmu bermasalah?”

“Bukan hanya itu.”

“Lalu apa?”

Adrian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah artikel bisnis.

Di sana ada foto rapat pemegang saham Sinar Arunika.

Dan aku terlihat duduk di sebelah Pak Bima.

Judul artikelnya menyebut pergantian struktur kepemimpinan perusahaan.

Nama Ratih Prameswari tercantum sebagai pemegang saham utama kedua.

Wajah Adrian seperti kehilangan warna.

“Kapan kau punya semua itu?”

“Jauh sebelum aku menikah denganmu.”

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

Aku tersenyum tipis.

“Aku sendiri baru mengetahuinya.”

Adrian menatap rumah kecil di belakangku.

Kemudian kembali menatapku.

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

“Apa yang mau kau perbaiki?”

“Pernikahan kita.”

“Kenapa?”

“Karena kita sudah dua puluh tahun bersama.”

Aku hampir percaya dia sedang bercanda.

“Kau membuang dua puluh tahun itu demi perempuan lain.”

“Aku membuat kesalahan.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kesalahan itu salah kirim pesan. Salah ambil jalan. Lupa ulang tahun.”

Aku menatap matanya.

“Kau memilih perempuan lain. Kau menyembunyikannya. Kau menceraikanku. Kau memastikan aku keluar tanpa apa-apa. Lalu kau berdiri di depan mobil barumu dan menertawakanku.”

Adrian tidak mampu menjawab.

Untuk sesaat aku melihat lelaki yang pernah kucintai.

Lelaki muda yang dulu datang menjemputku dengan motor tua.

Lelaki yang pernah berkata kami akan membangun kehidupan bersama dari nol.

Mungkin bagian dari diriku masih berduka untuk lelaki itu.

Tetapi orang yang sedang berlutut di hadapanku bukan lagi dia.

“Aku sungguh menyesal, Ratih.”

“Aku percaya.”

Dia menatapku penuh harap.

“Tapi penyesalanmu bukan alasan bagiku untuk kembali.”

Wajahnya runtuh.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku tersenyum sedih.

“Barangkali kau mencintai kenyamanan yang kuberikan. Barangkali kau mencintai perempuan yang selalu memaafkanmu.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi perempuan itu sudah tidak ada.”

Adrian berdiri perlahan.

“Jadi ini akhirnya?”

“Ini sudah berakhir di pengadilan.”

Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju mobil.

Namun sebelum dia membuka pintu, aku memanggilnya.

“Adrian.”

Dia menoleh.

“Ada satu hal yang ingin kukatakan.”

Dia menunggu.

“Terima kasih.”

Ekspresinya berubah bingung.

Aku tersenyum.

“Kau benar tentang satu hal minggu lalu.”

“Apa?”

“Kalau bukan karena kau, mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan memulai hidupku lagi.”

Aku menutup pintu.

Tiga bulan kemudian, aku menjual rumah kecil itu.

Bukan karena malu tinggal di sana.

Justru karena rumah itu telah melakukan tugasnya.

Tempat itu menampungku ketika seluruh hidupku runtuh.

Aku membeli sebuah rumah baru di pinggiran Jakarta. Tidak terlalu besar, tetapi dipenuhi cahaya dan memiliki ruang kerja yang menghadap taman.

Aku menerima posisi di dewan komisaris Sinar Arunika dan mengikuti program manajemen untuk memperbarui pengetahuanku.

Aku juga mendirikan program pelatihan kerja bagi perempuan yang ingin kembali bekerja setelah bertahun-tahun mengurus keluarga.

Aku tahu persis betapa menakutkannya memulai lagi ketika dunia terus mengatakan bahwa usiamu terlalu tua, pengalamanmu terlalu lama hilang, dan waktumu sudah lewat.

Enam bulan setelah perceraian, aku menerima kabar bahwa perusahaan Adrian mengalami restrukturisasi besar.

Dia harus menjual beberapa aset.

Aku tidak merasa senang.

Aku juga tidak merasa sedih.

Dan ternyata, ketidakpedulian adalah bentuk kebebasan yang jauh lebih indah daripada kebencian.

Pada suatu sore, aku kembali membuka surat dari Ibu.

Di balik halaman terakhir, ada satu kalimat yang sebelumnya luput kubaca.

Jangan gunakan apa yang Ayah dan Ibu tinggalkan untuk membuktikan bahwa kamu lebih berharga daripada seseorang. Gunakan itu untuk mengingat bahwa nilai dirimu tidak pernah berasal dari seseorang sejak awal.

Aku duduk lama di depan jendela.

Dua puluh tahun aku mengira keberhasilanku adalah melihat suamiku sukses.

Aku mengira menjadi istri yang baik berarti terus mengalah.

Aku mengira kehilangan pernikahan berarti kehilangan seluruh hidup.

Ternyata aku salah.

Kadang hidup tidak menghancurkan sesuatu untuk menghukummu.

Kadang sesuatu memang harus runtuh agar kau akhirnya bisa melihat pintu yang selama ini tertutup di belakangnya.

Dan ketika Adrian berlutut di depan pintuku meminta kesempatan kedua, aku akhirnya memahami sesuatu.

Kesempatan kedua memang ada.

Hanya saja, kesempatan itu bukan untuk pernikahan kami.

Kesempatan itu untukku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang