Setiap malam, suamiku menyiapkan segelas susu untukku “agar tidurku lebih nyenyak.” Suatu malam, diam-diam aku membuang susu itu…

Denise meletakkan garpunya perlahan.

“Bagaimana bisa?”

Aku tertawa kecil.

“Suamiku selalu membuatkan susu hangat sebelum tidur. Entah kenapa setelah minum itu, aku langsung mengantuk.”

Ekspresi Denise berubah.

Bukan terkejut.

Lebih seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

“Seberapa cepat?”

“Lima sampai sepuluh menit.”

“Dan itu terjadi setiap malam?”

“Hampir selalu.”

Dia menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Mira, pernah tidak kamu mencoba tidur tanpa minum susu itu?”

Pertanyaannya terdengar sederhana, tetapi anehnya aku tidak langsung bisa menjawab.

Selama sebelas tahun menikah, susu itu sudah menjadi bagian dari rutinitas kami. Aku mandi, memeriksa pekerjaan terakhir di ponsel, lalu tepat pukul sepuluh Gabriel datang membawa gelas.

Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku menolaknya.

“Mungkin pernah,” jawabku. “Tapi sudah lama sekali.”

Denise tidak langsung mengatakan apa pun.

Dia hanya mengambil tisu dan mengusap ujung bibirnya.

“Coba satu malam saja jangan diminum.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

“Aku tidak mau membuatmu paranoid. Bisa saja memang hanya efek kebiasaan dan kondisi tubuhmu yang sudah lelah. Tapi tidur sangat lelap sampai tidak ingat proses tertidurnya setiap malam bukan sesuatu yang seharusnya dianggap biasa.”

Aku mencoba menertawakannya.

“Aku memang kerja seperti orang gila.”

“Justru karena itu aku bilang jangan langsung menuduh siapa-siapa. Cukup lakukan satu hal sederhana.”

“Apa?”

“Jangan minum susunya. Lihat apa yang terjadi.”

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah kami di Jakarta Selatan, kata-katanya terus berputar di kepalaku.

Aku bahkan sempat merasa bersalah.

Gabriel bukan orang asing.

Dia suamiku.

Pria yang menemaniku ketika ayahku meninggal.

Pria yang menjual motor kesayangannya sebelas tahun lalu agar aku bisa menyewa kantor kecil pertamaku.

Pria yang tidak pernah lupa menjemput ibuku untuk pemeriksaan kesehatan.

Mencurigainya hanya karena segelas susu terdengar konyol.

Malam itu pukul sepuluh kurang dua menit, Gabriel muncul di pintu kamar.

Di tangannya ada gelas putih yang sama.

“Belum tidur?”

“Masih ada revisi.”

Dia meletakkan gelas di meja.

“Jangan lama-lama.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Gabriel mencium keningku sebelum keluar.

Saat pintu tertutup, aku menatap gelas itu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Aku tidak menyentuhnya.

Akhirnya aku membawa gelas itu ke kamar mandi dan menuangkan seluruh isinya ke wastafel.

Aku membilas gelas, lalu mengisinya sedikit dengan air agar terlihat seperti bekas diminum.

Setelah itu aku mematikan lampu.

Aku berbaring.

Dan menunggu.

Pukul sepuluh lewat dua puluh, aku masih terjaga.

Pukul sebelas, mataku masih terbuka.

Aku mulai merasa bodoh.

Mungkin Denise memang hanya membuatku berpikir berlebihan.

Kemudian, pukul sebelas lewat sembilan menit, pintu kamar terbuka.

Pelan sekali.

Aku langsung memejamkan mata.

Langkah kaki Gabriel mendekat.

Kasur tidak bergerak.

Dia tidak berbaring.

Dia berdiri di samping tempat tidur.

Aku bisa merasakan keberadaannya.

Jantungku berdegup begitu keras sampai aku takut dia bisa mendengarnya.

Lima menit berlalu.

Lalu sepuluh menit.

Gabriel tetap di sana.

Aku mendengar suara kecil.

Seperti laci dibuka.

Kemudian suara resleting tas.

Aku ingin membuka mata, tetapi menahannya.

Setelah sekitar dua puluh menit, sesuatu menyentuh sisi bantal di dekat kepalaku.

Tangannya.

Gabriel mengambil ponselku.

Aku tahu karena beberapa detik kemudian ada cahaya tipis menembus kelopak mataku.

Dia sedang membuka ponselku.

Aku hampir bangun saat itu juga.

Tapi kemudian teringat pesan Denise.

Jangan langsung bereaksi.

Perhatikan.

Cari tahu.

Aku tetap diam.

Gabriel berdiri di dekatku hampir dua jam.

Sesekali dia berjalan ke meja kerjaku.

Membuka laptop.

Membuka laci.

Memeriksa tas.

Lalu kembali berdiri di samping ranjang seolah memastikan aku benar-benar tidak bangun.

Baru sekitar pukul satu dini hari dia keluar.

Begitu pintu tertutup, aku membuka mata.

Seluruh tubuhku gemetar.

Aku tidak tidur sampai pagi.

Keesokan harinya aku tidak mengatakan apa pun.

Saat sarapan, Gabriel terlihat seperti biasa.

“Kamu tidur nyenyak?”

Aku menatap wajahnya.

Tenang.

Santai.

Seolah dua jam tadi malam tidak pernah terjadi.

“Nyenyak.”

Dia tersenyum.

“Bagus.”

Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, senyumnya membuatku takut.

Siang itu aku menelepon Denise.

Aku menceritakan semuanya.

Dia terdiam cukup lama.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan.”

“Apa?”

“Kalau kamu bisa, simpan sedikit susu itu dan bawa untuk diperiksa.”

Malam berikutnya aku menyiapkan botol kecil kosong di kamar mandi.

Seperti biasa, Gabriel datang pukul sepuluh.

“Capek?”

“Lumayan.”

Dia menyerahkan susu.

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Beberapa menit setelah dia keluar, aku memasukkan sebagian susu ke botol kecil lalu menyimpannya di dalam tas kosmetik.

Sisanya kubuang.

Malam itu Gabriel kembali masuk.

Kali ini aku menyalakan perekam suara di ponsel lama yang kusembunyikan di balik buku.

Aku tidak berani memasang kamera karena takut dia menemukannya.

Gabriel kembali membuka barang-barangku.

Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda.

Dia menelepon seseorang.

Suaranya sangat pelan.

“Belum ketemu.”

Aku menahan napas.

Beberapa detik kemudian dia berkata lagi.

“Aku yakin Mira menyimpannya.”

Diam.

“Tidak. Dia belum tahu.”

Aku merasa darahku membeku.

Apa yang dia cari?

Keesokan harinya aku pergi bersama Denise ke sebuah laboratorium swasta.

Aku tidak menjelaskan panjang lebar. Aku hanya meminta sampel susu itu diperiksa untuk mengetahui apakah ada kandungan yang tidak semestinya.

Hasilnya tidak langsung keluar.

Selama menunggu, aku mulai memeriksa semua hal yang selama ini kuabaikan.

Rekening bank.

Dokumen perusahaan.

Surel.

Kontrak.

Aku baru sadar bahwa beberapa bulan terakhir ada sejumlah transaksi aneh dari rekening operasional firmaku.

Jumlahnya tidak terlalu besar jika dilihat satu per satu.

Dua puluh juta.

Tiga puluh juta.

Empat puluh lima juta.

Namun ketika kukumpulkan, totalnya mencapai ratusan juta rupiah.

Semua transaksi dilakukan pada malam hari.

Dan beberapa otorisasi menggunakan ponselku.

Aku langsung memanggil kepala keuanganku, Rani.

“Kenapa transaksi ini tidak pernah kamu laporkan?”

Wajah Rani pucat.

“Bu Mira yang menyetujuinya.”

“Aku?”

Dia menunjukkan arsip persetujuan digital.

Akun milikku.

Kode verifikasi masuk ke ponselku.

Bahkan ada beberapa surel konfirmasi yang dikirim dari alamat surel pribadiku.

Aku duduk tanpa bisa berkata-kata.

Tanggal transaksi itu semuanya bertepatan dengan malam ketika aku minum susu dan tidur seperti orang pingsan.

Aku menelepon Denise.

“Aku tahu apa yang dia lakukan.”

“Jangan pulang dulu,” katanya cepat.

Namun aku sudah terlalu marah untuk berpikir jernih.

Sore itu aku masuk rumah dan menemukan Gabriel di ruang keluarga.

Dia sedang menonton televisi.

Aku meletakkan beberapa dokumen di atas meja.

“Apa ini?”

Gabriel melihatnya sekilas.

“Apa?”

“Jangan berpura-pura.”

Dia mematikan televisi.

Aku menatapnya.

“Setiap malam kamu mengambil ponselku?”

Wajahnya tidak langsung berubah.

Itulah yang paling mengerikan.

Dia terlalu tenang.

“Mira, kamu bicara apa?”

“Aku melihatmu.”

Untuk pertama kalinya, matanya berkedip cepat.

“Aku tidak tidur dua malam terakhir.”

Ruangan mendadak terasa sangat dingin.

Gabriel berdiri.

“Kamu jangan asal menuduh.”

“Lalu kenapa kamu membuka ponselku?”

“Aku suamimu.”

“Itu bukan jawaban.”

Dia terdiam.

Aku mengambil napas.

“Dan kenapa ada uang ratusan juta keluar dari rekening perusahaan menggunakan akun milikku?”

Gabriel mengusap wajahnya.

“Mira…”

“Apa yang kamu masukkan ke susuku?”

Dia menatapku tajam.

Saat itu aku tahu.

Bahkan sebelum hasil laboratorium datang.

Ada sesuatu.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu,” katanya.

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Sebelas tahun, Gabriel.”

Dia membeku.

“Apa?”

“Berapa lama kamu melakukan ini?”

Gabriel tidak menjawab.

Teleponku berdering.

Denise.

Aku mengangkatnya.

“Mira, hasil awalnya sudah keluar.”

Aku menyalakan pengeras suara.

Suara Denise terdengar jelas.

“Dalam sampel itu ditemukan zat yang dapat menyebabkan kantuk berat. Jumlahnya cukup untuk membuat seseorang kehilangan kewaspadaan selama beberapa jam. Kamu jangan minum lagi dan sebaiknya segera cari tempat aman.”

Gabriel menutup mata.

Aku merasa seperti seluruh rumah berputar.

“Sebelas tahun?” tanyaku lagi.

“Tidak.”

“Berapa lama?”

“Tiga tahun.”

Aku mundur satu langkah.

“Tiga tahun?”

Dia duduk.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Gabriel terlihat benar-benar hancur.

“Aku terjerat utang.”

Aku menatapnya.

“Utang apa?”

“Investasi.”

Ternyata tiga tahun lalu Gabriel memasukkan hampir seluruh tabungannya ke sebuah bisnis properti yang dikelola temannya.

Bisnis itu gagal.

Kemudian dia meminjam uang untuk menutup kerugian.

Utang pertama melahirkan utang kedua.

Utang kedua melahirkan kebohongan berikutnya.

Ketika penagih mulai datang, Gabriel menggunakan akses ponselku saat aku tidur untuk memindahkan dana sedikit demi sedikit.

“Aku cuma mau mengembalikannya setelah semuanya selesai.”

“Kamu membius istrimu setiap malam dan menyebutnya cuma?”

“Aku takut kamu meninggalkanku.”

“Jadi kamu memilih menghancurkanku?”

Gabriel menangis.

Namun aku tidak merasakan iba.

Belum.

Karena ada satu kalimat dari rekaman yang masih menggangguku.

“Apa yang kamu cari di kamarku?”

Gabriel terdiam.

“Jawab.”

Dia menggeleng.

“Tidak ada.”

“Aku dengar teleponmu. Kamu bilang, ‘Mira menyimpannya.’ Apa yang kamu cari?”

Wajahnya tiba-tiba pucat.

Saat itulah aku tahu masalah ini belum selesai.

Aku membuka laci meja.

Mengeluarkan sebuah amplop yang bahkan baru kuingat keberadaannya beberapa hari sebelumnya.

Surat dari notaris ayahku.

Gabriel langsung berdiri.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Aku menatap reaksinya.

“Jadi ini yang kamu cari?”

Tangannya gemetar.

Surat itu dikirim enam bulan lalu, tetapi aku tidak pernah sempat membacanya sampai selesai.

Ayahku meninggalkan sebidang tanah di kawasan bisnis Jakarta yang nilainya melonjak drastis.

Namun bukan nilai tanahnya yang membuat Gabriel panik.

Di dalam surat itu terdapat catatan tambahan.

Ayahku pernah meminjamkan sejumlah uang kepada kakak Gabriel bertahun-tahun lalu.

Pinjaman tersebut ternyata digunakan sebagai modal untuk perusahaan yang kini sedang bermasalah.

Nama Gabriel tercantum sebagai penjamin.

Jika perusahaan itu gagal membayar, aset pribadi Gabriel dapat disita.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Uang dari firmaku bukan hanya untuk menutup investasi buruk.

Gabriel mencoba menyelamatkan kakaknya.

“Dia yang meneleponmu malam itu?” tanyaku.

Gabriel diam.

“Dia yang menyuruhmu mencari surat ini?”

“Aku cuma ingin melindungi keluarga.”

Aku menatapnya lama.

“Dan aku bukan keluarga?”

Kalimat itu membuatnya tidak mampu menjawab.

Aku meninggalkan rumah malam itu.

Bukan sendirian.

Denise menjemputku.

Beberapa hari kemudian, aku melaporkan transaksi perusahaan dan menyerahkan bukti yang kumiliki kepada pengacara serta pihak berwenang.

Prosesnya panjang.

Memalukan.

Melelahkan.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kusangka.

Dalam pemeriksaan dokumen, ditemukan bahwa sebagian besar kerugian perusahaan masih bisa dilacak.

Kakak Gabriel ternyata telah menggunakan uang tersebut untuk membeli beberapa aset atas nama orang lain.

Aset-aset itu kemudian dibekukan.

Gabriel akhirnya mengakui seluruh perbuatannya.

Aku mengajukan perceraian.

Banyak orang bertanya apakah aku tidak merasa kasihan.

Tentu aku kasihan.

Sebelas tahun bukan waktu yang singkat.

Ada banyak kenangan baik yang tidak bisa tiba-tiba kuhapus hanya karena tiga tahun terakhir berubah menjadi mimpi buruk.

Namun aku akhirnya memahami sesuatu.

Mencintai seseorang tidak berarti kita harus menyerahkan hak untuk merasa aman.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali bertemu Denise di restoran yang sama.

Dia tersenyum ketika melihatku memesan kopi.

“Sekarang tidurmu bagaimana?”

Aku tertawa.

“Lebih susah.”

“Bagus.”

Aku mengangkat alis.

“Bagus?”

“Setidaknya sekarang tubuhmu tidur ketika memang ingin tidur.”

Aku terdiam, lalu ikut tersenyum.

Malam itu aku pulang ke apartemen baruku.

Pukul sepuluh tepat.

Aku sedang membaca ketika bel pintu berbunyi.

Jantungku langsung berdegup cepat.

Aku melihat layar interkom.

Seorang kurir.

Dia membawa sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.

Aku hampir tidak mau menerimanya.

Namun rasa penasaran mengalahkan ketakutanku.

Di dalam paket itu hanya ada satu benda.

Sebuah gelas putih.

Gelas yang sama seperti yang selama bertahun-tahun digunakan Gabriel untuk membawakan susu.

Tanganku langsung dingin.

Di dasar kotak ada secarik kertas.

Tulisan tangan.

Bukan tulisan Gabriel.

Aku mengenal tulisan itu.

Tulisan kakaknya.

Hanya ada satu kalimat.

“Gabriel bukan orang pertama yang melakukan ini.”

Aku berdiri membeku.

Lalu membalik kertas tersebut.

Di sisi belakang terdapat tiga nama perempuan.

Dua di antaranya tidak kukenal.

Namun nama ketiga membuat napasku berhenti.

Ibuku.

Saat itu aku baru memahami alasan sebenarnya ayahku menyimpan semua dokumen tentang keluarga Gabriel.

Dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa segelas susu yang diberikan suamiku setiap malam mungkin bukan awal dari cerita ini.

Melainkan hanya bagian terakhir dari rahasia keluarga yang sudah dimulai jauh sebelum aku menikah dengannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang