“Ada apa?”
Bu Villanueva tidak langsung menjawab.
Ia menoleh kepadaku yang masih berdiri pucat di dekat pintu, lalu berkata dengan nada yang sama sekali berbeda dari beberapa menit sebelumnya.
“Ambil kunci mobil. Kita ke rumah sakit sekarang.”
Aku membeku.
Pak Roberto mengernyit. “Rumah sakit?”
“Dia muntah di mobil.”
Aku buru-buru menggeleng.
“Saya tidak apa-apa, Bu. Mungkin cuma masuk angin.”
Bu Villanueva menatapku tajam.
Namun kali ini tatapan itu tidak terasa menghina.
Lebih seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu.
“Kamu sudah berapa hari mual?”
Aku terdiam.
“Sekitar tiga hari.”
“Pusing?”
Aku mengangguk pelan.
“Tidak nafsu makan?”
Aku kembali mengangguk.
Marco, yang baru keluar dari ruang tamu setelah mendengar suara ibunya, langsung mendekat.
“Kamu sakit?”
“Aku cuma capek.”
Bu Villanueva menarik napas pendek.
“Terakhir kali kamu datang bulan kapan?”
Aku merasa wajahku langsung panas.
Semua orang mendadak diam.
Marco bahkan tidak berkedip.
“Mom.”
“Aku bertanya kepadanya, bukan kepadamu.”
Aku mencoba mengingat.
Pekerjaan di kantor beberapa minggu terakhir memang kacau. Aku sering pulang malam, makan tidak teratur, dan hampir tidak pernah memperhatikan tanggal.
Kemudian dadaku terasa sesak.
Aku terlambat.
Lebih dari dua minggu.
Bu Villanueva rupanya membaca perubahan wajahku.
“Roberto, ambil mobil.”
Marco langsung menggenggam tanganku.
“Aku ikut.”
Ibunya tidak melarang.
Empat puluh menit kemudian, aku duduk di ruang pemeriksaan sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan dengan tangan dingin dan kepala penuh pikiran.
Aku bahkan tidak sempat memikirkan gelas kristal yang pecah.
Tidak memikirkan karpet putih.
Tidak memikirkan penghinaan yang baru saja kuterima.
Aku hanya menatap pintu ruang laboratorium sambil menunggu hasil pemeriksaan.
Marco duduk di sampingku.
Bu Villanueva berdiri beberapa meter dari kami, memandang keluar jendela.
Pak Roberto duduk diam.
Tidak ada yang bicara.
Ketika dokter masuk membawa hasil tes, jantungku rasanya berhenti.
Dokter itu tersenyum tipis.
“Selamat.”
Aku menatapnya.
“Hasil tes menunjukkan Anda hamil.”
Marco langsung berdiri.
“Apa?”
Aku masih tidak bergerak.
Seolah otakku menolak memproses kalimat itu.
“Usianya masih sangat dini, sekitar enam minggu. Kami menyarankan pemeriksaan lanjutan dan vitamin kehamilan. Untuk keluhan mual dan pusing, itu masih cukup umum.”
Marco menoleh kepadaku.
Wajahnya berubah total.
Matanya berkaca-kaca.
“Alya…”
Tangannya menggenggam tanganku lebih erat.
Aku seharusnya bahagia.
Namun ketika menoleh ke arah Bu Villanueva, perutku justru terasa semakin tidak nyaman.
Ia berdiri kaku.
Tidak tersenyum.
Tidak berkata apa-apa.
Aku tahu persis apa yang ada di kepalanya.
Jika beberapa jam lalu ia menganggapku tidak pantas menjadi bagian dari keluarganya, sekarang keadaan menjadi jauh lebih rumit.
Dalam perjalanan pulang, tidak ada satu pun yang berbicara.
Begitu kami kembali ke rumah keluarga Villanueva, kerabat yang tadi makan siang ternyata belum semuanya pulang.
Mereka menatap kami dengan penasaran.
Aku ingin langsung pergi.
Namun Bu Villanueva menghentikanku.
“Tunggu.”

Ia berjalan ke tengah ruang tamu.
Gelas kristal yang pecah sudah dibersihkan.
Karpet masih sedikit basah.
Semua mata tertuju kepadanya.
Lalu perempuan yang dua jam sebelumnya mengusirku itu berkata sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
“Roberto, ambil kotak biru dari lemari kamar kita.”
Pak Roberto tampak terkejut.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Beberapa menit kemudian, suaminya kembali membawa sebuah kotak beludru tua berwarna biru gelap.
Bu Villanueva mengambilnya.
Lalu ia berjalan ke arahku.
Aku refleks mundur satu langkah.
Ia membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas tipis dengan liontin kecil berbentuk bunga.
“Ini milik ibu saya.”
Tidak ada seorang pun berani bersuara.
“Beliau memberikannya kepada saya pada hari saya mengetahui bahwa saya hamil Marco.”
Marco menatap ibunya.
“Mom…”
Bu Villanueva mengangkat tangan, menyuruhnya diam.
Kemudian ia menatapku.
“Aku salah.”
Aku benar-benar tidak menyangka mendengar kalimat itu dari mulutnya.
Ia melanjutkan.
“Aku salah karena mempermalukanmu di depan semua orang hanya karena sebuah gelas.”
Seorang tante yang duduk di sofa terlihat tidak nyaman.
Bu Villanueva melirik ke arahnya.
“Dan aku lebih salah lagi karena mengukur seseorang dari harga barang yang bisa dia ganti.”
Aku menelan ludah.
“Tapi, Bu…”
“Biarkan aku selesai.”
Suaranya masih tegas.
Namun untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang diserang.
Ia menggenggam gelang itu.
“Aku tumbuh dalam keluarga yang tidak punya banyak uang.”
Kalimat itu membuat beberapa kerabat saling pandang.
Aku pun terkejut.
Selama mengenal keluarga Marco, aku selalu mengira Bu Villanueva berasal dari keluarga berada.
Rumah besar.
Mobil mewah.
Barang-barang mahal.
Cara bicaranya selalu membuat orang merasa ia telah hidup dalam kemewahan sejak lahir.
Ternyata tidak.
“Ayahku montir. Ibuku menjahit baju tetangga.”
Ia tersenyum hambar.
“Ketika aku menikah dengan Roberto, banyak orang berkata aku cuma perempuan miskin yang beruntung mendapatkan anak keluarga kaya.”
Pak Roberto menunduk.
“Aku menghabiskan bertahun-tahun membuktikan bahwa mereka salah. Sampai akhirnya aku sendiri berubah menjadi orang yang dulu paling kubenci.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Aku mulai memahami sesuatu.
Bukan berarti kata-katanya tadi menjadi benar.
Tapi luka yang diwariskan kadang memang tumbuh menjadi bentuk yang sama sekali berbeda.
“Aku terlalu sibuk menjaga nama keluarga ini,” katanya, “sampai lupa bahwa dulu aku juga pernah berdiri di tempatmu.”
Ia menutup kotak biru itu.
Kemudian menyodorkannya kepadaku.
Aku tidak mengambilnya.
“Saya tidak bisa menerima ini, Bu.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak ingin diterima hanya karena saya hamil.”
Marco langsung menoleh kepadaku.
Bu Villanueva juga terdiam.
Aku menarik napas.
“Saya mencintai Marco. Tapi kalau beberapa jam lalu saya tidak pantas menjadi bagian keluarga ini karena sebuah gelas, kehamilan saya seharusnya tidak otomatis membuat saya pantas.”
Wajah beberapa kerabat berubah.
Mungkin mereka tidak menyangka aku berani berkata seperti itu.
“Alya,” bisik Marco.
Aku menggenggam tangannya.
“Aku tidak mau anak ini menjadi alasan siapa pun terpaksa menghormatiku.”
Bu Villanueva menatapku lama.
Kemudian, untuk pertama kalinya, ada sesuatu di wajahnya yang menyerupai rasa hormat.
Ia menarik kembali kotak itu.
“Baik.”
Aku mengangguk.
“Saya pulang dulu.”
Marco berdiri.
“Aku antar.”
Namun sekali lagi ibunya berkata, “Tunggu.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak memberikan gelang ini karena kamu hamil.”
Ia membuka kotak itu lagi.
“Aku memberikannya karena kamu berani mengatakan tidak kepada keluarga ini.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bu Villanueva melanjutkan.
“Banyak orang datang ke rumah ini dan mengatakan apa pun yang ingin kudengar. Mereka memuji rumahku, mobilku, makananku. Tapi kamu baru saja menolak barang yang nilainya jauh lebih mahal daripada gelas yang kamu pecahkan.”
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Jadi sepertinya aku memang salah menilaimu.”
Pak Roberto akhirnya tertawa kecil.
“Baru sekarang kamu sadar?”
Istrinya menatap tajam.
“Jangan ikut campur.”
Suasana yang sejak tadi tegang sedikit mencair.
Aku akhirnya tersenyum.
Tapi ternyata kejutan hari itu belum selesai.
Marco tiba-tiba berdiri di depanku.
“Alya.”
Aku menatapnya.
Wajahnya terlihat serius.
“Aku sebenarnya sudah berencana melakukan ini bulan depan.”
Ia memasukkan tangan ke saku jaketnya.
Aku langsung merasa panik.
“Marco.”
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Kerabat di ruang tamu langsung ribut.
Bu Villanueva bahkan menutup mata sejenak.
“Jangan bilang…”
Marco berlutut.
“Marco, jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena semuanya baru saja kacau.”
“Justru karena semuanya sudah kacau.”
Beberapa orang tertawa pelan.
Namun aku tidak.
Aku merasa dadaku dipenuhi terlalu banyak emosi sekaligus.
Marco membuka kotak itu.
Sebuah cincin sederhana terlihat di dalamnya.
Tidak besar.
Tidak mencolok.
Dan entah kenapa, aku menyukainya.
“Alya Pratama,” katanya, “aku sudah ingin menikahimu jauh sebelum tahu kamu hamil.”
Aku menggigit bibir menahan air mata.
“Aku tahu keluargaku tidak selalu mudah.”
Bu Villanueva langsung menyela.
“Marco.”
Semua orang tertawa.
Marco tersenyum.
“Tapi aku tidak meminta kamu menikah dengan keluargaku. Aku meminta kamu menikah denganku.”
Mataku panas.
“Dan kalau kamu belum siap, aku akan menunggu.”
Aku memandang cincin itu.
Kemudian memandang Marco.
Namun sebelum menjawab, aku menoleh kepada ibunya.
Ia tidak tersenyum lebar.
Tidak mengangguk penuh antusias.
Ia hanya berkata pelan,
“Jawab berdasarkan apa yang kamu mau. Bukan karena bayi. Bukan karena kami.”
Itulah pertama kalinya aku benar-benar percaya bahwa sesuatu dalam dirinya sudah berubah.
Aku kembali menatap Marco.
“Ya.”
Ruangan langsung dipenuhi suara tepuk tangan.
Marco berdiri dan memelukku.
Aku menangis.
Bukan karena semuanya tiba-tiba sempurna.
Tidak.
Hubunganku dengan Bu Villanueva setelah hari itu juga tidak langsung menjadi hubungan menantu dan mertua yang manis seperti di sinetron.
Kami masih sering berbeda pendapat.
Ia masih terlalu keras.
Aku juga terlalu keras kepala.
Bahkan dua minggu setelah pertunangan, kami bertengkar soal lokasi pernikahan.
Sebulan setelahnya, kami kembali berdebat soal jumlah tamu.
Namun ada satu hal yang berubah.
Kami mulai berbicara sebagai dua orang dewasa.
Bukan sebagai perempuan kaya dan perempuan yang dianggap tidak pantas untuk anaknya.
Tiga bulan kemudian, saat aku datang untuk makan malam, aku menemukan sebuah kardus besar di ruang keluarga.
Aku membukanya.
Isinya beberapa kotak gelas.
Aku tertawa.
“Bu, ini apa?”
Bu Villanueva sedang membaca majalah.
Tanpa menoleh, ia menjawab, “Gelas biasa.”
“Kenapa banyak sekali?”
“Supaya kalau kamu menjatuhkan satu, aku tidak perlu membawa siapa pun ke rumah sakit.”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Kemudian mataku tertuju pada sebuah kotak kecil di meja.
Kotak biru.
Gelang milik ibunya.
“Aku bilang saya tidak bisa menerima itu.”
“Dan aku bilang itu bukan hadiah karena kamu hamil.”
Ia akhirnya menutup majalahnya.
“Anggap saja pinjaman.”
“Pinjaman?”
“Nanti berikan kepada anakmu kalau dia sudah besar.”
Aku terdiam.
Bu Villanueva menatap perutku yang mulai membesar.
“Kalau perempuan, berikan kepadanya.”
“Kalau laki-laki?”
Ia mengangkat bahu.
“Berikan kepada istrinya. Tapi pastikan dia tidak menikah dengan perempuan ceroboh yang suka memecahkan gelas.”
Aku langsung tertawa.
Enam bulan kemudian, putri kami lahir.
Kami menamainya Elena, mengambil nama ibu Bu Villanueva.
Dan pada hari pertama ia menggendong cucunya, perempuan yang dulu mengusirku karena segelas air itu menangis begitu keras sampai Marco tidak berhenti mengejeknya.
“Mom, katanya keluarga Villanueva tidak boleh memperlihatkan kelemahan.”
Ibunya menyeka air mata.
“Diam.”
Aku tertawa dari ranjang rumah sakit.
Saat itu aku baru memahami sesuatu.
Gelas kristal itu sebenarnya tidak pernah menjadi masalah utama.
Yang pecah pada hari itu bukan hanya sebuah gelas.
Ada kesombongan yang retak.
Ada luka lama yang akhirnya terbuka.
Ada prasangka yang runtuh.
Dan dari semua kekacauan itu, sebuah keluarga baru justru mulai terbentuk.
Beberapa tahun kemudian, gelas-gelas mahal di rumah Bu Villanueva hampir semuanya sudah diganti dengan gelas biasa.
Ketika kutanya alasannya, ia hanya menjawab santai.
“Barang mahal membuat orang terlalu takut melakukan kesalahan.”
Kemudian ia menyerahkan segelas air kepadaku.
Aku menerimanya dengan dua tangan.
Ia langsung tertawa.
“Santai saja. Kalau pecah, beli lagi.”
Aku ikut tertawa.
Karena akhirnya kami sama-sama tahu bahwa ada hal-hal dalam keluarga yang jauh lebih berharga daripada benda apa pun yang bisa dibeli dengan uang.
