“Berapa yang kamu butuhkan?”
Aku langsung menghapus air mata dan berdiri tegak.
“Maaf, Pak. Ini urusan pribadi.”
Mateo melirik surat di tanganku.
“Aku tidak bertanya apa urusannya. Aku bertanya berapa.”
Aku masih ingat betapa kesalnya aku saat itu.
Aku mengira dia sedang memamerkan uangnya.
“Delapan belas juta rupiah.”
Dia mengangguk.
Keesokan paginya, pihak sekolah menelepon. Semua tunggakan Nico sudah lunas.
Aku mencari Mateo dan memaksanya menerima cicilan dariku.
Dia hanya berkata, “Kalau begitu, bekerja untukku.”
Begitulah semuanya dimulai.
Aku menjadi penata bunga untuk beberapa hotel miliknya. Lalu membantu mengurus dekorasi acara di resornya. Penghasilanku meningkat. Anak-anakku kembali hidup tenang.
Mateo tidak pernah mencoba mendekatiku secara romantis.
Namun dia selalu ingat alergi Bea terhadap udang.
Dia tahu Nico menyukai astronomi.
Dan anehnya, Lucas yang biasanya takut kepada orang asing tidak pernah takut kepadanya.
Setahun kemudian, Mateo melamarku.
Bukan dengan cincin di restoran mewah.
Dia datang ke rumah kontrakanku di Jakarta Selatan, duduk di kursi plastik dekat dapur, lalu berkata, “Menikahlah denganku.”
Aku hampir tertawa.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin kalian tinggal bersamaku.”
“Kasihan bukan alasan untuk menikah.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Dia terdiam cukup lama.
“Ada sesuatu yang belum bisa kuceritakan.”
Seharusnya saat itu aku menolak.
Namun ada ketenangan aneh di matanya.
Dan setelah bertahun-tahun hidup seperti sedang berlari dari satu tagihan ke tagihan berikutnya, aku lelah.
Malam pernikahan kami, aku berdiri di depan cermin kamar utama rumah Mateo di kawasan Pondok Indah.
Aku baru saja melepaskan anting ketika pintu diketuk.
“Ma?”
Itu suara Lucas.
Aku membukanya.
Anakku berdiri sambil memeluk boneka dinosaurusnya.
“Belum tidur?”
Lucas menggeleng.
“Om Mateo mana?”
“Di bawah.”
Lucas menggenggam tanganku.
“Aku mau sama Papa.”
Dadaku langsung sesak.
Sejak Daniel meninggal, Lucas hampir tidak pernah menyebut kata itu.
Aku membawanya turun.
Rumah besar itu sudah sepi. Sebagian keluarga Mateo pulang ke hotel. Hanya beberapa kerabat dekat yang masih menginap.
Kami menemukan Mateo di ruang kerja.
Dia sedang berdiri membelakangi pintu.
Begitu melihatnya, Lucas melepaskan tanganku dan berlari.
Lalu dia mengucapkan sebuah nama.
“Papa Miko!”
Mateo membeku.
Gelas di tangannya jatuh.
Pecahannya berserakan di lantai.
Aku juga membeku.
Karena nama Mateo adalah Mateo Rafael Villareal.
Tidak ada seorang pun yang pernah memanggilnya Miko.
Namun wajah Mateo berubah pucat.
Dia berlutut di depan Lucas.
“Kamu memanggilku apa?”
“Miko.”
“Siapa yang mengajarimu nama itu?”
Lucas menunjuk ke arah lorong.
“Papa Daniel.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
“Lucas.”
Aku berlutut dan memegang bahunya.
“Papa Daniel sudah tidak ada.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu bilang begitu?”
Lucas mengerutkan kening seperti anak kecil yang bingung karena orang dewasa tidak memahami sesuatu yang sederhana.
“Di foto.”
“Foto apa?”
“Foto Papa sama Papa Miko.”
Mateo menutup mata.
Dan saat itulah aku tahu.

Dia mengetahui sesuatu.
“Mateo?”
Dia tidak menjawab.
“Siapa Miko?”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Aku sudah bilang pernikahan ini kesalahan.”
Patricia berdiri di lorong.
Namun kali ini wajahnya bukan menunjukkan kebencian.
Melainkan ketakutan.
Mateo bangkit.
“Patricia, masuk kamar.”
“Dia berhak tahu.”
“Sekarang.”
“Apa Kakak benar-benar akan menyembunyikannya selamanya?”
Aku menatap keduanya.
“Cukup.”
Suaraku bergetar.
“Siapa Miko?”
Mateo berjalan menuju lemari di sudut ruang kerja.
Dari laci paling bawah, dia mengambil sebuah kotak kayu.
Tangannya gemetar saat membukanya.
Di dalamnya ada beberapa foto lama.
Dia menyerahkan satu kepadaku.
Aku hampir menjatuhkannya.
Daniel.
Suamiku.
Masih muda, mungkin berusia dua puluhan.
Dia berdiri di sebuah pantai bersama seorang pria kurus berambut panjang.
Pria itu adalah Mateo.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan Daniel.
Untuk Miko. Kalau suatu hari aku tidak bisa pulang, jangan biarkan keluargaku sendirian.
Aku tidak bisa bernapas.
“Kalian saling kenal?”
Mateo mengangguk.
“Daniel sahabatku.”
“Tidak mungkin.”
“Kami kuliah bersama di Bandung.”
“Daniel tidak pernah menyebut namamu.”
“Dia menyebutku Miko.”
Aku menatap foto itu lagi.
Mateo melanjutkan.
“Waktu itu aku belum menggunakan nama keluarga Villareal secara terbuka. Ayahku ingin aku belajar hidup tanpa fasilitas keluarga. Daniel satu-satunya orang yang tahu siapa aku sebenarnya.”
Aku merasa marah sebelum sempat merasa sedih.
“Jadi semua ini sudah direncanakan?”
“Elena.”
“Kamu sengaja menemukanku?”
Mateo tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku mundur.
“Ya Tuhan.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jadi hari ketika kamu melihatku menangis di hotel itu bukan kebetulan?”
“Bukan.”
Aku menamparnya.
Patricia tersentak.
Mateo tidak bergerak.
“Selama ini aku pikir seseorang akhirnya melihatku sebagai manusia.”
“Kamu memang manusia yang kulihat.”
“Jangan.”
Air mataku jatuh.
“Kamu menikahiku karena janji kepada orang mati?”
Mateo menatapku.
“Awalnya, ya.”
Dua kata itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan keluarganya.
Aku berlari ke kamar.
Malam itu aku mengunci pintu.
Namun sekitar pukul dua dini hari, seseorang mengetuk.
Bukan Mateo.
Nico.
“Ma, boleh masuk?”
Aku membukakan pintu.
Nico membawa sebuah amplop lusuh.
“Aku seharusnya kasih ini dari dulu.”
“Apa itu?”
“Punya Papa.”
Ternyata beberapa bulan sebelumnya, ketika kami pindah dari rumah kontrakan lama, Nico menemukan amplop itu di dalam kotak perkakas Daniel.
Di bagian depan tertulis namaku.
Elena.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Tulisan Daniel memenuhi dua lembar kertas.
Dia menulis surat itu sebelum perjalanan terakhirnya.
Daniel menjelaskan bahwa perusahaan tempatnya bekerja sedang menghadapi masalah serius. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan proyek yang sedang dia tangani.
Kemudian muncul nama Miko.
Jika sesuatu terjadi padaku, hubungi Miko. Aku tahu kamu mungkin akan membenciku karena tidak pernah bercerita tentang dia. Aku hanya ingin memisahkan kehidupan kita dari masalah keluarganya. Tapi dia orang yang paling kupercaya.
Aku membaca bagian terakhir berkali-kali.
Jangan biarkan anak-anak tumbuh dengan merasa bahwa dunia meninggalkan mereka. Dan Elena, kalau suatu hari kamu menemukan seseorang yang membuatmu bisa bernapas lagi, jangan merasa bersalah karena masih hidup.
Aku menangis sampai tidak mampu membaca.
Pagi berikutnya, aku menemui Mateo.
Dia masih berada di ruang kerja.
“Kapan Daniel memberikan foto itu?”
“Dua minggu sebelum dia meninggal.”
“Kenapa kamu baru mencariku setahun kemudian?”
Mateo menatap meja.
“Karena kematian Daniel bukan kecelakaan biasa.”
Aku terdiam.
Menurut laporan resmi, Daniel meninggal dalam kecelakaan mobil di jalan tol.
Mateo kemudian mengeluarkan sebuah map.
Daniel ternyata bekerja sebagai auditor proyek untuk salah satu perusahaan konstruksi yang memiliki hubungan dengan Villareal Group.
Sebelum meninggal, dia menemukan penggelembungan anggaran dan aliran dana ilegal.
Salah satu nama yang muncul dalam dokumen itu adalah Arturo Villareal.
Paman Mateo.
“Aku tidak bisa mendekatimu,” kata Mateo, “sebelum memastikan kalian aman.”
“Arturo masih keluarga kalian?”
“Dan masih memiliki pengaruh besar.”
Aku langsung teringat seseorang.
Patricia.
“Apakah Patricia tahu?”
Mateo tidak menjawab.
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.
Patricia berdiri di sana.
“Aku tahu semuanya.”
Dia menangis.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu memandangku dengan jijik itu terlihat rapuh.
“Aku yang meminta Kak Mateo menjauh dari kalian.”
“Kenapa?”
“Karena Arturo tahu Daniel punya salinan dokumen.”
Darahku terasa dingin.
“Dia pikir salinannya ada padaku?”
Patricia mengangguk.
“Itulah sebabnya aku selalu bersikap kasar kepadamu di depan keluarga. Arturo harus percaya bahwa kami tidak menginginkanmu di sini.”
Semua hinaan itu tiba-tiba memiliki makna lain.
Namun sebelum aku sempat bertanya lagi, terdengar suara Bea dari lantai atas.
“Mama!”
Kami berlari.
Kamar anak-anak kosong.
Jendela terbuka.
Nico dan Bea berdiri di lorong.
Lucas tidak ada.
Di atas tempat tidurnya tergeletak boneka dinosaurus.
Dan sebuah ponsel.
Ponsel itu berdering.
Mateo mengangkatnya.
Suara laki-laki terdengar.
“Bawa dokumen Daniel ke gudang lama di Bekasi. Sendirian.”
Mateo mengepalkan tangan.
“Aku akan datang.”
“Bukan kamu. Jandanya.”
Telepon terputus.
Aku hampir roboh.
Namun Nico tiba-tiba berkata, “Mama, tunggu.”
Dia mengambil boneka dinosaurus Lucas.
“Jam tangan Lucas.”
Mateo langsung memahami.
Beberapa minggu sebelumnya, Mateo memberi ketiga anakku jam tangan pintar yang terhubung dengan ponselnya.
Lokasi Lucas masih aktif.
Mateo segera menghubungi polisi dan tim keamanan pribadinya.
Kami tidak pergi ke gudang itu sendirian.
Lokasi Lucas ternyata bergerak menuju sebuah rumah kosong di pinggiran Bekasi.
Polisi mengepung kawasan tersebut.
Aku tidak diizinkan mendekat.
Dua puluh menit terasa seperti dua puluh tahun.
Lalu seorang polisi keluar sambil menggendong Lucas.
Aku berlari.
Anakku menangis dan memeluk leherku.
“Aku takut, Ma.”
Aku memeluknya sekuat tenaga.
Arturo ditangkap malam itu bersama dua orang suruhannya.
Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Dokumen yang selama ini mereka cari ternyata tidak pernah berada padaku.
Dokumen itu disimpan Daniel di tempat yang bahkan Mateo tidak tahu.
Di rekening penyimpanan digital yang aksesnya tersembunyi dalam foto lama Daniel dan Mateo.
Nama pengguna adalah Miko.
Kata sandinya adalah tanggal kelahiran Lucas.
Bukti tersebut cukup untuk membuka kembali penyelidikan kematian Daniel dan membongkar jaringan korupsi yang melibatkan beberapa perusahaan.
Sebulan kemudian, aku berdiri di balkon rumah Mateo.
Aku belum memutuskan apakah pernikahan kami bisa bertahan.
Mateo tidak memaksaku.
“Aku akan mengerti kalau kamu ingin pergi,” katanya.
“Kalau aku pergi, apakah kamu akan tetap membiayai sekolah anak-anak?”
Dia tersenyum tipis.
“Mereka bukan tagihan, Elena.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa?”
“Keluargaku.”
Aku terdiam.
“Bukan karena Daniel?”
Mateo menggeleng.
“Aku menepati janji Daniel ketika membantumu pertama kali. Tapi aku menikahimu bukan karena janji itu.”
“Lalu kenapa?”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Mateo terlihat gugup.
“Karena aku jatuh cinta kepadamu.”
Aku hampir tertawa.
“Setelah menikah baru bilang?”
“Aku buruk dalam hal ini.”
“Itu sudah jelas.”
Dari dalam rumah terdengar langkah kecil.
Lucas berlari keluar.
“Papa Miko!”
Mateo mengangkatnya.
Aku memandang mereka dan akhirnya memahami sesuatu.
Selama ini aku mengira hidupku terbagi menjadi dua bagian.
Sebelum Daniel meninggal dan setelah Daniel meninggal.
Ternyata tidak.
Daniel tidak mengirimkan seorang pria kaya untuk menyelamatkanku.
Dia meninggalkan sebuah pintu.
Mateolah yang memilih membukanya.
Dan aku tetap menjadi orang yang berhak menentukan apakah akan berjalan melewatinya.
Aku mendekati mereka.
Lucas mengulurkan tangan kecilnya kepadaku.
Aku menggenggamnya.
“Ma,” katanya, “Papa Daniel pasti senang.”
Aku menahan napas.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
Lucas menunjuk foto lama yang kini berada di meja ruang keluarga.
“Karena dulu Papa pernah bilang, kalau dia pergi jauh, Om Miko orang paling keras kepala yang akan menjaga kita.”
Aku menatap Mateo.
Ternyata Lucas pernah melihat foto itu bersama Daniel sebelum ayahnya meninggal.
Itulah sebabnya dia mengenali wajah Mateo.
Itulah sebabnya nama itu tersimpan di ingatannya.
Bukan sebuah kebetulan.
Bukan pula sesuatu yang gaib.
Hanya kenangan kecil seorang anak yang tidak pernah kami sadari masih ada.
Aku menggenggam tangan Mateo.
Tidak erat.
Namun kali ini aku tidak melepaskannya.
Karena akhirnya aku mengerti bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh darah, uang, atau nama besar.
Kadang-kadang keluarga dimulai dari sebuah janji.
Tetapi agar bisa bertahan, janji saja tidak cukup.
Harus ada pilihan.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, aku memilih Mateo bukan karena anak-anakku membutuhkan rumah.
Bukan karena aku takut kembali miskin.
Bukan karena Daniel pernah mempercayainya.
Aku memilihnya karena setelah semua rahasia terbuka, dia masih berdiri di sana.
Bukan sebagai Don Mateo Villareal, pria terkaya yang pernah kukenal.
Melainkan sebagai Miko.
Sahabat suamiku.
Ayah yang dipilih anak-anakku.
Dan pria yang akhirnya kupilih sendiri.
