Budi berlari tanpa memedulikan sandal karetnya yang beberapa kali hampir terlepas.
Karung goni yang tadi dipikulnya ia tinggalkan begitu saja di dekat Blok 3. Besi pengait masih berada di tangannya, sementara perangkat radio hitam itu terselip di saku celana.
Semakin dekat ke gudang rongsokan, suara mesin berat terdengar semakin jelas.
Dung.
Dung.
Dung.
Suara logam dipukul berulang kali bergema di antara tumpukan besi tua.
Budi berhenti di balik bangkai sebuah truk yang sudah berkarat. Napasnya terengah-engah. Dari tempat itu, ia bisa melihat gudang tua berpagar seng yang selama ini jarang didatangi para pemulung.
Di belakang gudang berjajar enam peti kemas bekas.
Sebagian pintunya sudah berkarat dan tertutup rapat.
Budi mengeluarkan radio.
“Maya, kamu masih dengar suara Paman?”
Beberapa detik hanya terdengar desisan.
Kemudian suara kecil itu muncul.
“Saya dengar, Paman.”
“Jangan bicara terlalu keras. Ada suara apa lagi?”
Maya terdiam.
Lalu ia berbisik.
“Ada orang berjalan di luar.”
Tubuh Budi menegang.
“Sepatunya keras… seperti sepatu pekerja.”
Tiba-tiba terdengar bunyi pintu logam dari radio.
Maya langsung berhenti bicara.
Budi refleks mematikan volume perangkat itu dan merunduk di balik truk.
Dua pria keluar dari pintu samping gudang.
Salah satunya bertubuh besar dengan kaus hitam, sedangkan yang lain memakai topi dan jaket pekerja berwarna abu-abu.
Budi mengenal pria bertopi itu.
Namanya Darman.
Ia sesekali datang ke TPA membeli besi bekas dalam jumlah besar. Orang-orang mengenalnya sebagai pengepul dari luar Bekasi.
Namun beberapa bulan terakhir, Darman sering terlihat berada di gudang rongsokan tersebut pada malam hari.
“Truknya datang jam empat,” kata pria berbaju hitam.
“Anaknya jangan sampai terlihat orang.”
Darman mengangguk.
“Setelah barang dipindahkan, kita pergi.”
Darah Budi seperti berhenti mengalir.
Anaknya.
Berarti Maya benar-benar berada di sana.
Budi merogoh ponsel murahnya.
Layar ponselnya retak, baterainya hanya tersisa sebelas persen.
Ia mencoba menelepon polisi.
Tidak ada sinyal.
Budi mengumpat pelan.
Area ujung TPA memang sering kehilangan jaringan.
Ia harus menjauh beberapa ratus meter jika ingin mendapatkan sinyal.
Namun meninggalkan Maya terasa terlalu berisiko.
Radio di tangannya kembali berdesis.
“Paman…”
Budi segera menempelkan perangkat itu ke telinga.
“Saya susah bernapas.”
Suara Maya semakin lemah.
Budi menatap deretan peti kemas.
“Adik, dengarkan Paman. Coba ketuk dinding tempat kamu berada tiga kali.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara samar.
Tok.
Tok.
Tok.
Budi mendengarkan dari luar.
Tidak terdengar apa-apa.
Ia bergerak perlahan menyusuri pagar gudang.
“Ketuk lagi.”
Tok.
Tok.
Tok.
Kali ini, dari arah peti kemas keempat, Budi mendengar suara tipis dari dalam.
Ia langsung tahu lokasinya.
Namun ada satu masalah.
Peti kemas itu berada hanya sekitar dua puluh meter dari dua penculik tadi.
Budi menahan napas.
Ia harus membuat mereka pergi.
Matanya menyapu sekitar gudang.
Di sisi kiri terdapat tumpukan drum kosong dan mesin penghancur logam tua.
Tiba-tiba Budi mendapatkan ide.
Ia mengambil batu besar, kemudian melemparkannya sekuat tenaga ke tumpukan drum di belakang gudang.
BRAK!
Suara keras menggema.

“Apa itu?” teriak pria berbaju hitam.
Keduanya berlari menuju sumber suara.
Budi langsung bergerak.
Ia berlari membungkuk menuju peti kemas keempat.
Pintu peti kemas dikunci dengan rantai besar dan gembok.
“Maya!”
“Paman?”
Suara dari dalam terdengar sangat pelan.
Budi mencoba menarik rantai.
Mustahil.
Ia mengangkat besi pengaitnya dan menghantam bagian pengunci.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Gembok tidak terbuka.
“Siapa di sana?!”
Suara teriakan terdengar dari arah gudang.
Budi menoleh.
Darman telah melihatnya.
“Budi!”
Darman berlari mendekat.
Budi panik.
Ia mengayunkan besi pengait sekali lagi.
KRAK!
Pengait gembok akhirnya patah.
Budi menarik rantai dan membuka pintu peti kemas.
Udara panas langsung menyembur keluar.
Di sudut peti kemas, seorang anak perempuan mengenakan seragam sekolah putih-merah duduk meringkuk.
Tangannya memeluk lutut.
Wajahnya pucat dan penuh keringat.
“Maya?”
Anak itu mengangguk.
Budi segera mengangkatnya.
Namun ketika ia berbalik, Darman sudah berdiri di depan pintu.
“Taruh anak itu.”
Budi memeluk Maya lebih erat.
“Darman, apa yang kamu lakukan?”
“Jangan ikut campur.”
Darman melangkah maju.
“Ini bukan urusanmu.”
“Anak kecil diculik, bagaimana bisa bukan urusan saya?”
Darman terlihat semakin gelisah.
Pria berbaju hitam muncul dari belakangnya.
Budi tahu ia tidak mungkin melawan dua orang sekaligus sambil membawa Maya.
Ia mundur perlahan.
Tiba-tiba Maya menarik bajunya.
“Paman…”
Anak itu menunjuk ke arah lantai.
Di belakang beberapa lembar seng tipis terdapat celah pada dinding peti kemas.
Sebagian logamnya telah berkarat dan berlubang.
Budi langsung memahami maksudnya.
Ia meletakkan Maya turun.
“Pegang tangan Paman.”
Budi menendang bagian logam yang rapuh.
Sekali.
Dua kali.
Lembaran besi itu terlepas.
Lubangnya cukup besar untuk dilewati seorang anak.
“Maya, keluar dulu!”
Maya merangkak melewati celah.
Budi menyusul.
Ketika Darman masuk dari pintu depan, keduanya sudah berlari menuju tumpukan sampah di belakang gudang.
“Kejar!”
Budi menggenggam tangan Maya dan berlari.
Kakinya beberapa kali terpeleset di tanah berlumpur.
Maya terlihat kelelahan.
“Paman… saya tidak kuat.”
Budi langsung menggendongnya.
“Pegang leher Paman.”
Ia berlari menuju Blok 2.
Di kejauhan terlihat beberapa pemulung bekerja.
“Tolong!”
Budi berteriak sekeras mungkin.
“Tolong panggil polisi!”
Darman dan temannya berhenti mengejar ketika melihat para pemulung mulai mendekat.
Mereka langsung berbalik menuju gudang.
Budi menurunkan Maya di dekat warung kecil milik Mak Sari, seorang perempuan tua yang sudah puluhan tahun berjualan minuman di TPA.
“Mak, jagain anak ini.”
Mak Sari terkejut.
“Anak siapa?”
“Korban penculikan.”
Wajah Mak Sari langsung berubah.
Budi mengambil ponselnya.
Kali ini jaringan muncul.
Ia menelepon polisi.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, suara sirene terdengar dari jalan utama.
Beberapa mobil polisi memasuki kawasan TPA.
Budi menunjukkan lokasi gudang.
Namun ketika polisi tiba di sana, Darman dan pria berbaju hitam sudah menghilang.
Sebuah mobil pikap tua yang sebelumnya terparkir di belakang gudang juga sudah tidak ada.
Petugas memeriksa peti kemas.
Di dalamnya ditemukan tas sekolah milik Maya, botol air kosong, beberapa tali plastik, dan beberapa kardus berisi perangkat elektronik ilegal.
Namun temuan terbesar justru berada di ruangan belakang gudang.
Di sana polisi menemukan puluhan radio komunikasi serupa dengan perangkat yang ditemukan Budi.
Seorang petugas memandang Budi.
“Di mana kamu menemukan radio yang dipakai anak ini?”
“Di tumpukan sampah Blok 3.”
Petugas itu mengerutkan kening.
“Kalau begitu, ada sesuatu yang aneh.”
Budi bingung.
“Apa?”
Polisi mengambil radio tersebut.
“Perangkat ini tidak mungkin jatuh dari peti kemas tempat Maya dikurung.”
“Kenapa?”
“Karena perangkat pasangannya harus berada di sekitar gudang agar bisa berkomunikasi.”
Budi menatap radio.
“Tapi saya menemukannya di sampah.”
Petugas itu mengangguk.
“Itu berarti seseorang sengaja membuang radio pasangannya ke Blok 3.”
Budi merasakan bulu kuduknya berdiri.
Jadi seseorang memang ingin radio itu ditemukan.
Malam itu, orang tua Maya datang ke kantor polisi.
Ibunya langsung memeluk Maya sambil menangis.
Ayahnya, Pak Arief, berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Budi.
“Kalau Mas Budi tidak menemukan radio itu…”
Pak Arief tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Budi hanya menggeleng.
“Saya kebetulan ada di sana, Pak.”
Namun polisi tidak menganggap kejadian itu sebagai kebetulan.
Dari penyelidikan awal, diketahui bahwa Pak Arief adalah manajer keuangan di sebuah perusahaan pengelolaan limbah industri.
Beberapa minggu sebelumnya, ia menemukan transaksi mencurigakan yang melibatkan pengiriman limbah elektronik ilegal.
Nama salah satu perusahaan pemasoknya terhubung dengan Darman.
Polisi menduga penculikan Maya dilakukan untuk menekan Pak Arief agar menghentikan laporan internal mengenai jaringan tersebut.
Dua hari kemudian Darman ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Karawang.
Rekannya ditangkap beberapa jam setelahnya.
Kasus itu kemudian berkembang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Budi.
Namun sebuah pertanyaan masih belum terjawab.
Siapa yang membuang radio ke tempat Budi bekerja?
Polisi akhirnya memeriksa rekaman kamera dari truk sampah yang datang ke Blok 3 siang itu.
Salah satu truk ternyata berasal dari kawasan industri dekat gudang.
Rekaman dari kamera jalan memperlihatkan sesuatu yang mengejutkan.
Sekitar pukul sebelas siang, sebelum truk memasuki TPA, seorang pria tua dengan seragam penjaga gudang terlihat memasukkan kantong hitam kecil ke dalam bak sampah yang kemudian diangkut oleh truk tersebut.
Polisi berhasil menemukan pria itu.
Namanya Pak Hasan.
Ia bekerja sebagai penjaga malam gudang rongsokan.
Ketika dipanggil ke kantor polisi, Pak Hasan mengakui semuanya.
Malam sebelum Maya ditemukan, ia melihat Darman membawa seorang anak masuk ke peti kemas.
Pak Hasan ingin melapor.
Namun Darman mengambil ponselnya dan mengancam akan mencelakai keluarganya jika ia berbicara.
Pak Hasan tidak berani melawan secara langsung.
Saat Darman lengah, ia mengambil salah satu radio dari gudang.
Ia mengetahui bahwa radio itu terhubung dengan perangkat yang ada di peti kemas.
Pak Hasan kemudian memasukkan radio tersebut ke dalam sampah yang ia tahu akan dikirim ke TPA pada siang hari.
Budi menatap pria tua itu.
“Kenapa Bapak yakin seseorang akan menemukannya?”
Pak Hasan tersenyum getir.
“Saya tidak yakin.”
Ia menunduk.
“Saya cuma berharap.”
Budi terdiam.
Pak Hasan melanjutkan.
“Saya pernah bekerja sebagai pemulung di Bantar Gebang hampir dua puluh tahun lalu. Saya tahu orang-orang di sana memperhatikan benda elektronik yang masih punya logam. Saya berpikir, kalau ada satu saja orang yang penasaran dan menekan tombolnya, mungkin anak itu masih punya kesempatan.”
Budi menatap radio hitam di atas meja.
Benda yang awalnya hampir ia masukkan ke dalam karung untuk dijual sebagai tembaga kiloan ternyata memang sengaja dikirim sebagai satu-satunya jalan meminta pertolongan.
Beberapa minggu kemudian, kehidupan Budi berubah.
Pak Arief menawarkan pekerjaan tetap kepadanya di perusahaan pengelolaan limbah sebagai petugas pemilahan perangkat elektronik.
Namun Budi sempat menolak.
“Saya tidak sekolah tinggi, Pak.”
Pak Arief tersenyum.
“Saya tidak mencari ijazahmu.”
“Lalu?”
“Saya mencari orang yang ketika mendengar seseorang meminta pertolongan, tidak memilih berpaling.”
Budi akhirnya menerima pekerjaan itu.
Dengan gaji tetap, ia tidak lagi harus mengais sampah dari pagi sampai sore.
Ani bisa melanjutkan sekolah tanpa takut menunggak biaya.
Sementara Maya kembali menjalani kehidupan normal bersama keluarganya.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Maya datang menemui Budi bersama orang tuanya.
Ia membawa sebuah kotak kecil.
“Ini buat Paman.”
Budi membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah radio komunikasi baru.
Di bagian belakang perangkat itu terdapat tulisan kecil yang sengaja diukir.
Untuk Paman Budi, orang pertama yang menjawab ketika saya berpikir tidak ada siapa pun yang mendengar.
Budi terdiam cukup lama.
Matanya memerah.
Maya tersenyum.
“Paman masih ingat suara saya waktu itu?”
Budi tertawa kecil.
“Masih.”
Maya menunjuk radio lama yang kini disimpan Budi di dalam lemari.
“Saya kira benda itu rusak.”
Budi mengangguk.
“Saya juga.”
Ia memandang perangkat hitam yang dulu ditemukan di antara plastik busuk dan besi berkarat.
Hari itu Budi akhirnya memahami sesuatu.
Kadang pertolongan tidak datang melalui benda yang terlihat berharga.
Kadang ia datang lewat sesuatu yang dianggap sampah.
Dan terkadang, perbedaan antara seseorang yang selamat dan seseorang yang tidak pernah ditemukan hanyalah satu orang asing yang memilih berhenti sejenak, mendengarkan sebuah suara kecil, lalu berkata,
“Halo. Saya dengar kamu.”
