DI MALAM ULANG TAHUN PERNIKAHAN, SUAMIKU MEMBAWA MANTAN KE VILA PEGUNUNGAN, LALU MENINGGALKANKU TERKUNCI SAAT KEBAKARAN—NAMUN SEORANG SOPIR MENEMUKAN BUKTI BAHWA API ITU BUKAN KECELAKAAN, MELAINKAN BAGIAN DARI RENCANA YANG SUDAH DISIAPKAN SEJAK LAMA UNTUK MENGHAPUS NAMAKU SELAMANYA

Malam itu seharusnya menjadi perayaan paling indah dalam hidupku. Dua belas tahun pernikahan, dua belas tahun melewati hujan dan panas bersama Dimas Pradana. Aku pikir vila tua di lereng Tawangmangu akan menjadi tempat kami mengingat kembali masa-masa ketika kami belum memiliki apa-apa selain mimpi.

Aku salah.

Karena malam itu bukan tentang merayakan pernikahan kami.

Malam itu adalah malam ketika suamiku mencoba menghapus keberadaanku untuk selamanya.

Setelah berhasil keluar dari vila yang terbakar, aku dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi kaki yang terluka parah akibat tertimpa rak besi. Raka, sopir katering yang menyelamatkan nyawaku, terus berada di sampingku sampai dokter memastikan aku dalam keadaan stabil.

Sementara itu, Dimas tidak pernah datang.

Tidak sekali pun.

Polisi datang beberapa jam kemudian untuk meminta keterangan. Mereka mengatakan kebakaran vila diduga berasal dari korsleting listrik, tetapi ada beberapa hal yang membuat mereka merasa curiga.

“Bu Laras, pintu ruang arsip ditemukan terkunci dari luar,” kata seorang petugas bernama Ardi.

Aku menatapnya dengan tangan gemetar.

“Tidak mungkin. Kuncinya ada pada suami saya.”

Petugas itu saling bertukar pandang dengan rekannya.

“Justru itu yang membuat kami ingin bertanya lebih lanjut.”

Aku menutup mata.

Selama dua belas tahun menikah, aku selalu percaya bahwa Dimas adalah satu-satunya orang yang akan melindungiku. Kami membangun pabrik batik kecil dari nol. Aku mengurus produksi, pemasaran, dan hubungan dengan para pengrajin. Dimas mengurus keuangan.

Kami bukan pasangan sempurna.

Kami sering bertengkar.

Tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang tidur di sampingku setiap malam bisa merencanakan kematianku.

Keesokan harinya, Raka datang membawa sebuah kantong plastik berisi barang-barang yang berhasil dia temukan di sekitar vila sebelum polisi memasang garis pembatas.

“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat,” katanya.

Dia mengeluarkan sebuah kartu memori kecil.

“Ini saya temukan dekat kotak kamera pengawas.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Bukankah Dimas mengambil semua rekaman kamera?”

Raka mengangguk.

“Itu sebabnya saya curiga. Kalau dia memang ingin menghapus bukti, kenapa ada satu kartu yang tertinggal?”

Polisi membantu membuka isi kartu tersebut.

Di dalamnya terdapat rekaman dari kamera kecil yang mengarah ke ruang belakang vila.

Gambar memang tidak terlalu jelas, tetapi aku masih bisa mengenali orang-orang di dalamnya.

Dimas.

Keisha.

Dan seseorang yang tidak pernah kuduga.

Maya.

Kepala akuntansi pabrik yang selama ini kupercayai.

Rekaman itu menunjukkan mereka bertiga berbicara dua hari sebelum perjalanan kami.

“Aku sudah pastikan Laras tidak akan tanda tangan laporan audit,” kata Dimas.

Keisha duduk sambil menyilangkan tangan.

“Kalau begitu kita pakai rencana terakhir?”

Dimas mengangguk.

“Setelah vila terbakar, semua bukti keuangan akan hilang. Laras akan dianggap korban kecelakaan.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

Maya terlihat ragu.

“Dimas, apa kamu yakin? Kalau polisi menemukan hubungan kita dengan perusahaan Sagara Kemasan, semuanya selesai.”

Dimas tersenyum kecil.

“Tidak akan ada yang menemukan apa pun. Semua dokumen utama sudah dipindahkan.”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Empat miliar rupiah.

Surat kuasa.

Kontrak palsu.

Semuanya mulai masuk akal.

Mereka tidak hanya ingin membunuhku.

Mereka ingin mengambil kendali penuh atas perusahaan yang selama ini kubangun.

Selama ini aku berpikir Keisha adalah ancaman karena hubungan masa lalunya dengan Dimas.

Ternyata perempuan itu bukan sekadar mantan kekasih.

Dia adalah partner dalam rencana penghancuranku.

Polisi kemudian menyelidiki lebih dalam. Mereka menemukan bahwa PT Sagara Kemasan memang menerima pembayaran besar dari perusahaan kami, tetapi sebagian besar uang tersebut dialihkan ke rekening pribadi yang terhubung dengan orang-orang terdekat Dimas.

Yang paling menyakitkan bukan jumlah uangnya.

Melainkan kenyataan bahwa pengkhianatan itu dilakukan oleh orang-orang yang setiap hari berada di dekatku.

Dua minggu setelah kebakaran, Dimas akhirnya muncul.

Dia datang ke rumah sakit dengan membawa bunga.

Wajahnya terlihat sedih.

Seolah-olah dia adalah korban.

“Aku dengar kondisimu sudah lebih baik,” katanya.

Aku menatapnya datar.

“Kamu datang untuk apa?”

“Aku ingin menjelaskan semuanya.”

Aku tertawa kecil.

“Menjelaskan kenapa kamu meninggalkanku terkunci di ruangan yang terbakar?”

Wajahnya berubah.

“Kamu salah paham.”

“Benarkah?”

Aku mengeluarkan tablet dan memutar rekaman kamera.

Dalam hitungan detik, wajah Dimas kehilangan warna.

“Dari mana kamu mendapatkan itu?”

“Jadi kamu mengaku?”

Dia terdiam.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku melihat ketakutan di mata suamiku.

“Laras, dengarkan aku. Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Kalimat itu selalu dipakai orang yang ketahuan berbohong.”

Dia duduk di kursi.

“Aku hanya ingin mengambil kembali sesuatu yang menurutku sudah menjadi hakku.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Hakmu?”

“Selama ini aku yang mengembangkan hubungan bisnis. Aku yang membuat perusahaan kita besar.”

Aku menggeleng pelan.

“Dan siapa yang bekerja setiap malam saat kamu pergi bertemu Keisha?”

Dia diam.

“Siapa yang mencari pemasok ketika kita hampir bangkrut?”

Diam.

“Siapa yang menjual mobilnya untuk membayar gaji karyawan?”

Dimas menunduk.

Aku tidak menangis.

Aku sudah terlalu lelah untuk menangis.

“Aku bukan masalah dalam hidupmu, Dimas. Aku adalah orang yang membantumu membangun hidup yang sekarang ingin kamu rebut.”

Polisi akhirnya menangkap Dimas, Keisha, dan Maya setelah bukti penggelapan serta percobaan pembunuhan terkumpul.

Namun sebelum dibawa pergi, Dimas meminta bertemu denganku sekali lagi.

Aku hampir menolak.

Tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan.

“Kenapa?” tanyaku.

Dia menatap lantai.

“Aku bertemu Keisha lagi ketika perusahaan kita mulai berkembang. Dia membuatku merasa dihargai. Dia bilang aku pantas mendapatkan lebih.”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi kamu membakar rumah tanggamu karena seseorang membuatmu merasa hebat?”

Dimas tidak menjawab.

“Aku tidak pernah kehilangan kamu karena Keisha, Dimas.”

Aku berdiri.

“Aku kehilangan kamu ketika kamu mulai percaya bahwa orang yang mencintaimu adalah penghalang.”

Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke pabrik.

Banyak hal berubah.

Aku mengganti sistem keuangan, membangun tim audit internal, dan memastikan tidak ada lagi keputusan besar yang bisa dilakukan hanya oleh satu orang.

Raka masih bekerja sebagai sopir katering.

Suatu hari dia datang membawa undangan kecil.

“Apa ini?” tanyaku.

“Pernikahan saya, Bu.”

Aku tersenyum.

“Selamat.”

Raka tertawa malu.

“Saya sebenarnya tidak pernah menyangka malam itu akan membawa saya bertemu orang yang mengubah hidup saya.”

Aku menatapnya bingung.

“Maksudnya?”

“Sebelum malam itu, saya hanya sopir biasa. Tapi setelah membantu Ibu, banyak orang melihat saya berbeda. Saya mendapat tawaran kerja baru.”

Aku tersenyum.

“Terkadang Tuhan mengirim pertolongan melalui orang yang tidak kita kenal.”

Raka mengangguk.

Setahun setelah kebakaran, vila Tawangmangu itu kembali direnovasi.

Aku datang ke sana bukan untuk mengenang luka.

Aku datang untuk menutup masa lalu.

Aku berdiri di depan ruang arsip yang dulu hampir menjadi tempat terakhirku bernapas.

Kini ruangan itu menjadi perpustakaan kecil untuk para tamu vila.

Tidak ada lagi bau asap.

Tidak ada lagi rasa takut.

Hanya cahaya matahari yang masuk melalui jendela baru.

Aku akhirnya mengerti satu hal.

Ada orang yang bisa menghancurkan rumahmu, mengambil hartamu, bahkan mencoba menghapus namamu.

Tetapi mereka tidak pernah bisa mengambil satu hal yang paling penting.

Kemampuanmu untuk bangkit.

Karena malam ketika Dimas meninggalkanku dalam api bukanlah akhir hidupku.

Itu adalah malam ketika aku menemukan siapa diriku sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang