Nadia masih berdiri di depan pagar rumah itu ketika mobil Mercedes hitam yang membawa Handoko menghilang di ujung jalan. Tangannya menggenggam erat tangan kecil Rizky, sementara pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
Dua tahun.
Selama dua tahun dia hidup dalam rumah kontrakan sempit, menghitung uang belanja setiap hari, menjahit pakaian tetangga untuk tambahan penghasilan, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua kesulitan itu adalah bagian dari perjuangan rumah tangga.
Namun hari itu dia baru mengetahui bahwa semua penderitaan itu bukan karena keadaan.
Melainkan karena seseorang sengaja menciptakan kebohongan untuknya.
“Oma…” suara Rizky kecil terdengar pelan.
Nadia menunduk.
“Iya, Nak?”
“Ini rumah kita?”

Pertanyaan sederhana itu membuat dada Nadia terasa sesak.
Dia menatap rumah besar di depannya.
Rumah dengan taman luas, kolam kecil di samping halaman, dan pintu utama kayu mahal yang selama ini hanya bisa dia lihat melalui majalah.
“Iya, Rizky,” bisiknya.
“Ini rumah kita.”
Tetapi sebelum Nadia sempat melangkah masuk, seorang pria keluar dari dalam rumah.
Usianya sekitar lima puluh tahun, mengenakan kemeja rapi dengan wajah penuh kewaspadaan.
“Nona Nadia?”
Nadia terkejut.
“Iya. Anda siapa?”
Pria itu segera membungkuk sopan.
“Saya Arman. Saya pengelola rumah ini.”
Nadia mengerutkan dahi.
“Pengelola?”
Arman mengangguk.
“Saya sudah menunggu kedatangan Anda sejak kemarin. Pak Suryo meminta saya menyerahkan semua dokumen rumah ini langsung kepada Anda.”
Mata Nadia mulai berkaca-kaca.
“Pak Suryo… benar-benar membeli rumah ini untuk saya?”
Arman menarik napas.
“Bukan hanya rumah, Nona. Beliau juga menyiapkan dana pendidikan untuk Rizky, tabungan kesehatan, dan surat perlindungan aset atas nama Anda.”
Nadia terdiam.
Selama ini Handoko mengatakan keluarganya sudah tidak memiliki apa-apa.
Dia mengatakan Opa Suryo hanya orang tua sakit yang tidak mampu membantu mereka.
Ternyata semua itu hanyalah kebohongan.
Arman menyerahkan sebuah map tebal.
“Ini semua bukti kepemilikan dan catatan transaksi.”
Tangan Nadia gemetar ketika membuka halaman pertama.
Nama dirinya tercetak jelas.
Nadia Prameswari.
Bukan nama Handoko.
Bukan nama keluarga Handoko.
Rumah itu memang miliknya.
Tiba-tiba suara mobil berhenti di depan pagar.
Nadia dan Arman menoleh bersamaan.
Sebuah mobil putih masuk perlahan.
Dari dalamnya keluar Ibu Ratna, ibu Handoko.
Wajah wanita itu langsung berubah ketika melihat Nadia berdiri di halaman.
“Kamu?”
Nadia menatapnya tanpa berkata apa pun.
Ibu Ratna berjalan mendekat dengan wajah marah.
“Kamu tidak punya hak datang ke sini.”
Nadia mengangkat map di tangannya.
“Lucu sekali, Bu. Karena menurut dokumen ini, justru saya yang punya hak atas rumah ini.”
Wajah Ibu Ratna berubah.
“Kamu jangan sok tahu.”
“Saya tidak perlu sok tahu. Saya hanya membaca dokumen.”
Untuk pertama kalinya Nadia melihat wanita yang selama ini selalu membuatnya merasa kecil kehilangan kata-kata.
Ibu Ratna mencoba merebut map itu.
Namun Arman langsung berdiri di antara mereka.
“Maaf, Bu. Dokumen ini resmi dan tidak boleh disentuh oleh pihak yang tidak berkepentingan.”
Ibu Ratna menatap Arman dengan marah.
“Kamu tahu saya siapa?”
Arman tersenyum tipis.
“Saya tahu. Anda ibu dari Pak Handoko.”
“Lalu?”
“Tapi rumah ini bukan milik Pak Handoko.”
Kalimat itu membuat suasana menjadi hening.
Malamnya, Nadia duduk sendirian di ruang keluarga rumah besar itu.
Rizky tertidur di sofa sambil memeluk mobil-mobilan lamanya.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Nadia membiarkan dirinya menangis.
Bukan karena kehilangan.
Tetapi karena menyadari betapa jauh seseorang bisa menipunya.
Dia membuka ponsel.
Ada puluhan pesan dari Handoko.
“Kamu sengaja mempermalukan aku?”
“Kenapa kamu datang ke rumah itu?”
“Kita harus bicara.”
Nadia menatap layar cukup lama.
Dulu dia akan langsung meminta maaf.
Dulu dia takut kehilangan Handoko.
Tetapi perempuan yang sekarang duduk di ruang mewah itu bukan lagi Nadia yang sama.
Dia sudah melihat kebenaran.
Dan kebenaran membuat seseorang menjadi lebih kuat.
Keesokan paginya, Nadia menemui Opa Suryo di rumah sakit miliknya.
Pria tua itu sedang duduk di ruang kerjanya ketika Nadia masuk bersama Rizky.
Melihat cucu dan cicitnya, mata Opa Suryo langsung berkaca-kaca.
“Nadia…”
Nadia berjalan mendekat.
“Opa, kenapa Opa tidak pernah memberi tahu saya?”
Opa Suryo menunduk.
“Karena Opa percaya pada suamimu.”
Kalimat itu terdengar berat.
“Opa pikir Handoko adalah laki-laki yang akan menjaga kalian.”
Nadia diam.
“Tapi setelah Opa melihat bagaimana dia menghindari semua panggilan, bagaimana dia terus menyembunyikan keadaanmu… Opa mulai curiga.”
Opa Suryo menggenggam tangan Nadia.
“Kesalahan terbesar Opa adalah terlalu percaya pada orang yang salah.”
Nadia menarik napas.
“Opa, saya ingin menceraikan Handoko.”
Pria tua itu menatapnya.
“Kamu yakin?”
Nadia mengangguk.
“Saya tidak bisa membesarkan Rizky dalam rumah yang dibangun dari kebohongan.”
Opa Suryo tersenyum kecil.
“Itu alasan kenapa Opa selalu bangga padamu.”
Namun ternyata masalah belum selesai.
Tiga hari kemudian, Handoko datang ke rumah itu.
Tidak lagi memakai jas mahal.
Tidak lagi membawa wanita lain.
Dia datang dengan wajah penuh penyesalan.
“Nadia, aku salah.”
Nadia berdiri di ruang tamu.
“Kamu salah karena berbohong atau karena ketahuan?”
Handoko terdiam.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa? Bahwa dua tahun terakhir kamu tinggal di rumah yang seharusnya menjadi milikku?”
“Nadia…”
“Bahwa kamu menggunakan uang dan aset yang diberikan Opa untuk hidup mewah sementara aku dan anakmu makan seadanya?”
Wajah Handoko mulai pucat.
“Aku hanya sedang tertekan.”
Nadia tersenyum pahit.
“Orang yang tertekan meminta bantuan. Bukan menciptakan kebohongan.”
Handoko menunduk.
“Aku masih mencintaimu.”
Nadia menatap pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.
“Aku percaya kamu pernah mencintaiku.”
Handoko mengangkat kepala, berharap.
“Tapi cinta tanpa kejujuran hanya akan menghancurkan orang yang mempercayainya.”
Hari itu Nadia menyerahkan surat gugatan cerai.
Namun sebelum Handoko pergi, Nadia memberikan satu amplop kecil.
“Apa ini?”
“Buka nanti.”
Handoko membukanya setelah keluar dari rumah.
Di dalamnya terdapat foto lama.
Foto dirinya bersama Nadia saat pertama kali menikah.
Di belakang foto itu ada tulisan tangan Nadia.
“Terima kasih pernah membuatku percaya bahwa aku layak dicintai. Tapi terima kasih juga karena telah mengajarkanku bahwa aku harus menghargai diriku sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, perceraian mereka selesai.
Handoko kehilangan banyak hal.
Bukan hanya rumah mewah yang selama ini dia nikmati.
Tetapi juga kepercayaan dari keluarga dan orang-orang yang dulu menghormatinya.
Sementara Nadia memulai hidup baru.
Dia kembali menyelesaikan kuliah hukum yang pernah tertunda.
Dengan dukungan Opa Suryo, dia mendirikan program bantuan hukum untuk perempuan yang mengalami penipuan dan kehilangan hak dalam keluarga.
Suatu sore, Nadia duduk di taman rumah bersama Rizky.
Anaknya kini bermain dengan mobil-mobilan baru.
Namun Nadia tetap menyimpan mobil kecil lama yang rodanya pernah hilang.
Karena benda itu mengingatkannya pada masa ketika dia tidak memiliki banyak hal.
Tetapi dia masih memiliki sesuatu yang paling penting.
Kejujuran.
Opa Suryo pernah berkata kepadanya,
“Rumah sebesar apa pun tidak akan berarti jika orang di dalamnya tidak memiliki hati yang benar.”
Dan Nadia akhirnya memahami satu hal.
Kadang seseorang tidak kehilangan segalanya ketika sebuah kebohongan terbongkar.
Kadang justru saat itulah seseorang menemukan kembali dirinya yang selama ini hilang.
