Hujan masih turun deras ketika Harun Anjani berdiri sendirian di depan bengkel kecil miliknya di pinggiran Semarang.
Atap seng yang sudah berkarat kembali bocor di beberapa bagian. Bau oli, besi tua, dan tanah basah bercampur menjadi satu. Tempat itu dulu adalah kebanggaannya. Bengkel yang dibangun bersama istrinya dari nol, sebelum kesalahan demi kesalahan menghancurkan semuanya.
Ponsel lamanya masih berada di tangannya.
Satu panggilan dari Surya Mahendra mengubah malam yang seharusnya biasa menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Enam ratus delapan puluh juta rupiah.
Jumlah utang yang selama ini menghantuinya.
Satu miliar rupiah.
Jumlah uang yang bisa mengubah hidupnya.
Namun harga yang harus ia bayar adalah menemukan putrinya sendiri.
Nadira.
Anak yang sudah hampir tiga bulan tidak pernah menjawab satu pun pesannya.
Anak yang pergi setelah kecewa melihat ayahnya menjual sertifikat tanah peninggalan ibunya hanya untuk membayar utang judi.
Harun menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa malu.
Bukan karena uang.
Bukan karena tawaran Surya.
Tetapi karena seorang asing mengetahui semua kelemahannya lebih baik daripada dirinya sendiri.
“Pak Harun?”
Suara istrinya, Sari, membuatnya tersentak.
Perempuan itu berdiri di pintu rumah kecil mereka sambil membawa secangkir teh.
“Kamu bicara dengan siapa malam-malam begini?”
Harun memasukkan ponsel ke dalam saku.
“Tidak siapa-siapa.”
Sari menatap suaminya lama.
Ia tahu Harun sedang berbohong.
Tetapi ia juga tahu, selama tiga puluh tahun menikah, suaminya selalu menyembunyikan masalah sampai semuanya terlambat.
“Kamu mencari Nadira, kan?”
Harun terdiam.
Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak.
“Dia anak kita, Sari.”
“Anak kita yang kamu sakiti.”
Kalimat itu membuat Harun menunduk.
Sari bukan orang yang suka menyalahkan. Tetapi kali ini luka yang ada terlalu dalam.
“Aku tahu.”
Suara Harun bergetar.
“Aku tahu aku salah.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Harun mengakui sesuatu yang selama ini ia hindari.
Ia kehilangan putrinya bukan karena keadaan.
Ia kehilangan Nadira karena pilihannya sendiri.
Keesokan paginya, Harun mulai mencari.
Ia tidak menggunakan cara seperti detektif profesional. Ia hanya seorang ayah yang mencoba memperbaiki kesalahan yang terlambat disadari.
Ia mendatangi rumah lama Nadira.
Kos tempat Nadira pernah tinggal.
Teman-teman lama putrinya.
Tetapi semuanya tidak memberikan banyak jawaban.
Sampai akhirnya seorang tetangga lama mengatakan sesuatu.
“Nadira pernah datang ke sini sekitar dua bulan lalu.”
Harun langsung menatap perempuan itu.
“Dia datang dengan anaknya?”
Tetangga itu mengangguk.
“Iya. Tapi dia tidak lama. Dia bilang sedang mencari tempat yang aman.”
“Aman dari siapa?”
Perempuan itu ragu.
“Lelaki bernama Aditya.”
Harun membeku.

Aditya.
Nama yang sudah ia dengar dari Surya.
Suami Nadira.
Anak keluarga Mahendra.
Harun mulai memahami bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar pertengkaran keluarga.
Sementara itu, di Jakarta, Aditya Mahendra duduk sendirian di apartemen kecil yang ia sewa setelah meninggalkan rumah keluarganya.
Berbeda dengan ayahnya, Aditya tidak hidup dalam kemewahan.
Ia sengaja menjauh dari semua fasilitas keluarga Mahendra.
Baginya, uang yang berasal dari perusahaan yang dibangun dengan kebohongan tidak pernah terasa seperti miliknya.
Di atas meja ada sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya tersimpan beberapa dokumen lama.
Dokumen milik Raka Prasetyo.
Akuntan perusahaan yang meninggal sembilan tahun lalu.
Orang yang menjadi alasan mengapa Aditya berani melawan ayahnya sendiri.
Raka bukan sekadar pegawai.
Dia adalah satu-satunya orang yang mencoba memperingatkan semua orang tentang permainan kotor dalam Grup Mahendra.
Namun sebelum dia sempat menyerahkan bukti, dia meninggal dalam kecelakaan mobil.
Dan bertahun-tahun kemudian, Aditya menemukan salinan dokumen yang disembunyikan Raka.
Dokumen yang menunjukkan aliran dana ilegal perusahaan.
Dokumen yang membuktikan bahwa ayahnya mengetahui semuanya.
Aditya menatap foto kecil di tangannya.
Foto Nadira dan putri mereka, Alina.
“Aku akan membawa kalian pulang,” bisiknya.
Namun ia tahu, sebelum itu terjadi, ia harus menghadapi orang yang paling berbahaya dalam hidupnya.
Ayahnya sendiri.
Di tempat lain, Surya Mahendra menerima laporan dari seseorang.
“Pak, kami menemukan jejak Nadira.”
Surya mengangkat wajah.
“Di mana?”
“Semarang.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Surya berubah.
Bukan lega.
Tetapi khawatir.
“Dia bersama siapa?”
Orang di telepon terdiam sebentar.
“Laporan sementara menunjukkan… Aditya juga ada di sana.”
Surya mengepalkan tangan.
Jadi anak itu sudah bergerak.
Selama ini ia berpikir Aditya hanya seorang anak keras kepala yang mengikuti emosi.
Ternyata ia salah.
Aditya sedang menyusun langkah.
Dan jika dokumen Raka benar-benar dibuka di pengadilan, seluruh kerajaan Mahendra bisa runtuh.
Dua hari sebelum sidang.
Waktu terus berjalan.
Harun akhirnya menemukan lokasi Nadira.
Sebuah rumah kecil di daerah pinggiran kota.
Tangannya gemetar saat mengetuk pintu.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Dan di sana berdiri seseorang yang sudah tiga bulan tidak pernah ia lihat.
“Nadira…”
Mata perempuan itu langsung membesar.
“Ayah?”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan.
Hanya keheningan panjang antara seorang anak dan ayah yang sama-sama terluka.
“Apa Ayah datang untuk uang lagi?”
Pertanyaan itu membuat Harun merasa seperti ditampar.
“Tidak.”
“Lalu untuk apa?”
Harun menarik napas.
“Ayah datang karena seseorang meminta Ayah menemukanmu.”
Wajah Nadira langsung berubah.
“Siapa?”
Harun tidak menjawab.
Namun Nadira sudah mengetahui jawabannya.
“Surya Mahendra.”
Harun terkejut.
“Kamu tahu?”
Nadira tersenyum pahit.
“Aku tahu sejak awal.”
Ia berjalan mundur.
“Dia tidak mencari aku karena peduli.”
“Dia mencari aku karena takut.”
Harun menatap putrinya.
“Apa maksudmu?”
Nadira mengambil sebuah map dari dalam kamar.
Di dalamnya ada dokumen.
Banyak dokumen.
“Aku bukan hanya membawa diri sendiri pergi, Yah.”
“Aku membawa bukti.”
Harun perlahan membuka mata.
“Bukti tentang apa?”
Nadira menatap ayahnya.
“Tentang kematian Raka Prasetyo.”
Ruangan itu mendadak terasa dingin.
“Aditya tidak menghancurkan keluarganya sendiri tanpa alasan.”
“Dia mencoba menghentikan ayahnya.”
Harun terdiam.
Selama ini ia hanya melihat Surya sebagai korban.
Orang kaya yang sedang dihancurkan anaknya sendiri.
Tetapi kenyataan mungkin berbeda.
Nadira melanjutkan.
“Aku tahu Surya akan mencari aku. Karena dia tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aditya menyimpan salinan terakhir dokumen Raka.”
Harun menatap putrinya.
“Lalu kenapa kamu menyimpan bukti ini?”
Nadira tersenyum kecil.
“Karena Aditya bukan satu-satunya yang ingin kebenaran keluar.”
Saat itu, suara langkah terdengar dari belakang rumah.
Nadira langsung menegang.
Harun berbalik.
Seorang pria berdiri di ambang pintu.
Aditya Mahendra.
Wajahnya terlihat lelah, tetapi tatapannya tetap kuat.
“Ayah akhirnya menemukan kami.”
Harun menatap menantunya.
“Aditya…”
Aditya berjalan masuk perlahan.
“Aku tahu Ayah pasti akan datang.”
Harun bingung.
“Kamu tahu?”
Aditya tersenyum tipis.
“Karena hanya ada satu orang yang cukup putus asa untuk menerima tawaran ayahku.”
Harun merasa malu.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Aditya mengatakan sesuatu yang membuatnya terdiam.
“Tapi ada satu hal yang Ayah tidak tahu.”
“Apa?”
Aditya melihat ke arah Nadira.
“Surya Mahendra bukan sedang mencoba menyelamatkan dirinya.”
“Dia sedang mencoba menghentikan kami membuka kebenaran.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, tiga orang yang selama ini terpisah oleh kesalahan dan luka berdiri di sisi yang sama.
Seorang ayah yang ingin menebus dosa.
Seorang anak perempuan yang menyimpan bukti.
Dan seorang pria yang berani melawan darah dagingnya sendiri demi kebenaran.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Surya Mahendra sudah mempersiapkan langkah terakhirnya.
Di ruang kerja yang sama tempat semuanya dimulai, Surya menerima pesan masuk.
“Saya menemukan mereka.”
Surya membaca pesan itu dengan tenang.
Lalu tersenyum.
Tetapi bukan senyum kemenangan.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja mengetahui sesuatu yang lebih besar dari yang ia bayangkan.
Karena pesan berikutnya membuat wajahnya berubah.
“Nadira tidak hanya membawa dokumen Raka.”
“Ada satu nama lain di dalamnya.”
Nama yang selama sembilan tahun ia coba hapus.
Nama seseorang yang seharusnya sudah tidak mungkin kembali.
Surya perlahan meletakkan ponselnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu merasa mengendalikan segalanya itu merasakan ketakutan.
Karena ternyata rahasia terbesar keluarga Mahendra bukan tentang uang.
Bukan tentang perusahaan.
Melainkan tentang seseorang yang selama ini ia kira sudah berhasil ia hilangkan dari hidup mereka.
Dan orang itu…
masih hidup.
