PADA MALAM PERTAMA PERNIKAHAN KAMI, AKU BERSEMBUNYI DI BAWAH TEMPAT TIDUR UNTUK MENGERJAI SUAMIKU…

Malam itu, aku hampir tidak bisa bernapas.

Aku tetap diam di bawah tempat tidur, menggigit bibirku sampai terasa sakit agar tidak menjerit. Seluruh tubuhku gemetar.

Suara di telepon kembali terdengar.

“Pastikan kalian menemukan map biru itu. Di dalamnya ada surat kuasa dan salinan sertifikat rumah. Kalau dia sadar lebih dulu, semuanya selesai.”

Dimas tertawa kecil.

“Tenang, Bu. Dia percaya padaku seratus persen.”

Bu.

Aku mengenali suara itu.

Ibunya Dimas.

Wanita yang beberapa jam lalu memelukku sambil menangis haru di pelaminan dan berkata bahwa akhirnya ia mendapatkan seorang anak perempuan.

Air mataku hampir jatuh.

Jadi selama ini…

Aku hanyalah alat.

Clara ikut tertawa.

“Jujur saja, aku masih tidak percaya dia begitu mudah menandatangani semua pinjaman itu.”

“Namanya juga perempuan yang sedang jatuh cinta,” jawab ibu Dimas dari telepon. “Begitu rumah itu sudah kita kuasai, Dimas tinggal menceraikannya. Utang tetap atas namanya. Kita bersih.”

Aku merasa mual.

Mereka membahas hidupku seolah sedang membicarakan barang bekas.

Dimas mulai membuka laci-laci kamar.

Clara memeriksa koperku.

Dan saat itulah sesuatu yang bahkan lebih mengerikan terjadi.

“Ayah sudah menghubungi orang-orang itu?” tanya Dimas.

“Sudah,” jawab ibunya. “Kalau dia membuat masalah, mereka akan menagih utangnya dengan cara mereka sendiri.”

Aku langsung teringat beberapa pria bertubuh besar yang pernah datang ke kantor notaris minggu lalu. Saat itu Dimas mengatakan mereka hanya rekan bisnis.

Ternyata bukan.

Tanganku semakin dingin.

Aku harus keluar.

Sekarang.

Perlahan aku meraih ponselku yang masih berada di saku gaun pengantin.

Untungnya, mereka terlalu sibuk mengobrak-abrik barang-barangku.

Aku membuka pesan lama.

Orang pertama yang muncul di pikiranku adalah seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak kuhubungi.

Kakakku, Adrian.

Kami sempat bertengkar besar setelah aku memutuskan menikah dengan Dimas. Adrian selalu bilang bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu.

Bahkan tiga hari sebelum pernikahan, dia memohon agar aku memeriksa kembali semua dokumen pinjaman yang kutandatangani.

Tapi aku terlalu keras kepala.

Dengan tangan gemetar, aku mengirim satu kalimat.

“Tolong aku. Aku di Hotel Grand Mahkota, kamar 1807.”

Tak sampai sepuluh detik, tanda centang biru muncul.

Dan balasannya hanya dua kata.

“Jangan bergerak.”

Aku hampir menangis.

Sementara itu, Clara tiba-tiba berseru.

“Dimas! Aku menemukannya!”

Jantungku hampir berhenti.

Map biru itu.

“Bagus!” kata Dimas dengan gembira.

Namun saat dia membukanya, wajahnya langsung berubah.

“Ini kosong!”

“Apa?”

“Tidak mungkin!”

Mereka mulai panik.

Ibunya yang masih berada di speaker ikut meninggikan suara.

“Cari lagi! Kalian pasti salah!”

Mereka tidak tahu satu hal.

Seminggu sebelumnya, karena firasat aneh yang tak bisa kujelaskan, aku diam-diam memotret seluruh dokumen dan menyimpan aslinya di brankas bank atas saran Adrian.

Map itu memang sengaja kubiarkan kosong.

“Tidak mungkin!” Clara mulai panik.

Dimas membanting map itu ke lantai.

“Dia tidak mungkin tahu!”

Dan tepat saat itu…

DING!

Suara lift terdengar dari lorong.

Disusul ketukan keras di pintu.

TOK! TOK! TOK!

Dimas membeku.

“Siapa malam-malam begini?”

Ketukan itu datang lagi.

Lebih keras.

“Pak, buka pintunya.”

Suara seorang pria.

Bukan satu orang.

Ada beberapa.

Wajah Dimas mulai pucat.

Dia melirik Clara.

Clara melirik ke arah pintu.

Dan dari bawah tempat tidur, aku melihat kaki mereka mulai gemetar.

Karena suara berikutnya membuat darah mereka seakan berhenti mengalir.

“Polisi. Buka pintunya sekarang.”

Dan di saat yang sama…

Ponselku bergetar pelan.

Pesan dari Adrian masuk.

“Aku sudah sampai.”

Aku menutup mulutku agar tidak menangis.

Karena untuk pertama kalinya malam itu…

Aku sadar.

Mungkin aku belum kehilangan segalanya.

Dan orang-orang yang mengira telah menjebakku…

Sebentar lagi akan menyadari bahwa mangsa yang mereka incar ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang