Pria tua itu melangkah perlahan mendekati tempat tidur Salsa.
Direktur rumah sakit yang biasanya tegas kini berdiri dengan wajah penuh hormat.
Dan sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa…
pria tua itu membungkuk dalam-dalam.
“Selamat atas kelahiran cucu Anda, Nona Salsa…”
Ruangan langsung membeku.
Ny. Ratna mengernyit.

“Apa maksudnya ini?” tanyanya.
Bahkan Dimas pun terlihat kebingungan.
Pria tua itu tersenyum hangat.
“Perkenalkan. Nama saya Hendra Wijaya. Saya adalah pemilik rumah sakit ini.”
Claudia terkekeh pelan.
“Pemilik rumah sakit membungkuk kepada perempuan yatim piatu? Lucu sekali.”
Namun senyum itu segera menghilang ketika Direktur rumah sakit ikut berbicara.
“Pak Hendra tidak pernah bercanda.”
Pria tua itu memandang Salsa dengan mata berkaca-kaca.
“Dua puluh tujuh tahun lalu… putri saya dan menantu saya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Namun cucu perempuan saya yang masih bayi hilang secara misterius.”
Salsa membelalakkan mata.
“Pak… saya tidak mengerti…”
Dengan tangan bergetar, Pak Hendra mengeluarkan sebuah liontin berbentuk bunga melati.
“Apakah kamu masih menyimpan yang sebelahnya?”
Tubuh Salsa langsung membeku.
Liontin itu…
Ia mengenalnya.
Seumur hidup, ia selalu menyimpan separuh liontin yang diberikan pengasuh panti asuhan saat dirinya masih kecil.
Dengan tangan gemetar, Salsa mengambil liontin itu dari dalam tasnya.
Saat kedua bagian liontin disatukan…
pas.
Air mata Pak Hendra langsung jatuh.
“Ya Tuhan…”
“Kamu…”
“Kamu cucuku…”
Tangis Salsa pecah.
Selama dua puluh tujuh tahun…
ia hidup tanpa tahu siapa keluarganya.
Dan hari itu…
di saat ia sedang dihina, diceraikan, dan dianggap tidak memiliki siapa pun…
takdir justru mempertemukannya dengan keluarga yang selama ini ia cari.
Ny. Ratna pucat.
Claudia membeku.
Dimas bahkan mundur satu langkah.
“Ini… ini tidak mungkin…” gumamnya.
Namun Pak Hendra menatap mereka dengan wajah dingin.
“Jadi kalian datang ke sini untuk memaksa cucu saya yang baru melahirkan menandatangani surat cerai?”
Tak seorang pun berani menjawab.
Pak Hendra mengambil amplop cokelat dari tangan Claudia.
Lalu…
robek!
Surat itu terkoyak menjadi beberapa bagian.
“Selama saya hidup, tidak ada seorang pun yang berhak memperlakukan cucu saya seperti sampah.”
Direktur rumah sakit langsung memerintahkan seluruh staf.
“Mulai hari ini, keamanan rumah sakit melarang ketiga orang ini membuat keributan di area pasien.”
Claudia panik.
“Tunggu! Ada kesalahpahaman!”
Namun Pak Hendra mengangkat tangan.
“Keluar.”
Suara itu pelan.
Tetapi membuat seluruh ruangan gemetar.
Di luar rumah sakit…
Dimas akhirnya berlutut di depan Salsa.
“Sayang… maafkan aku…”
“Aku hanya tertekan oleh Ibu…”
“Aku masih mencintaimu…”
Namun untuk pertama kalinya…
Salsa memandangnya tanpa air mata.
Tanpa harapan.
Tanpa cinta.
“Ketika aku kesakitan melahirkan anakmu…”
“Yang kau bawa bukan bunga.”
“Bukan pelukan.”
“Tapi surat perceraian.”
“Dimas…”
“Aku sudah mati rasa sejak saat itu.”
Kalimat itu membuat Dimas menangis.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Beberapa minggu kemudian.
Media sosial Jakarta dihebohkan oleh berita bahwa Pak Hendra Wijaya, salah satu konglomerat paling tertutup di Indonesia, akhirnya menemukan cucu kandungnya yang hilang selama puluhan tahun.
Nama Salsa Rahma mendadak menjadi sorotan.
Namun wanita itu tidak pernah memamerkan kekayaan.
Ia justru memilih tetap sederhana.
Dan seluruh kasih sayangnya kini hanya tertuju pada putra kecilnya.
Yang ia beri nama…
Arka Pratama Wijaya.
Sementara itu…
bisnis keluarga Pratama mulai mengalami masalah.
Beberapa investor tiba-tiba menarik kerja sama.
Bank memperketat pinjaman.
Proyek-proyek besar mereka satu per satu dibatalkan.
Ny. Ratna mulai panik.
“Kenapa semua jadi begini?”
Barulah ia mengetahui bahwa sebagian besar mitra bisnis mereka ternyata memiliki hubungan erat dengan grup perusahaan milik Hendra Wijaya.
Dan tanpa mengucapkan ancaman sedikit pun…
seluruh dunia bisnis sudah mengerti satu hal:
jangan pernah menyakiti keluarga Hendra Wijaya.
Keadaan semakin buruk ketika Claudia mulai menuntut Dimas.
“Bukankah kamu bilang perusahaan keluargamu kaya?”
“Aku tidak mau hidup susah!”
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi.
Sampai akhirnya Claudia meninggalkan Dimas demi pria lain yang lebih kaya.
Dimas yang dulu mengorbankan istri dan anaknya…
kini ditinggalkan oleh wanita yang ia pilih sendiri.
Enam bulan kemudian.
Salsa mendirikan Yayasan Cahaya Harapan.
Sebuah yayasan yang membantu anak-anak panti asuhan dan ibu tunggal yang mengalami kekerasan atau penelantaran.
“Karena aku tahu…”
“Betapa menyakitkannya merasa sendirian.”
Program itu berkembang sangat cepat.
Dan banyak orang mulai mengenal Salsa bukan karena ia cucu konglomerat.
Tetapi karena hatinya yang tulus.
Suatu sore…
saat menghadiri acara amal bersama Pak Hendra, seorang pria kurus dengan pakaian sederhana berdiri dari kejauhan.
Dimas.
Matanya merah.
Wajahnya penuh penyesalan.
Namun sebelum ia sempat mendekat…
Arka kecil yang baru berusia satu tahun berlari tertatih-tatih dan memeluk kaki Pak Hendra.
“Kakek…”
Pak Hendra tertawa bahagia sambil menggendong cicit kesayangannya.
Dan pemandangan itu…
membuat hati Dimas hancur.
Karena ia sadar…
tempat yang seharusnya menjadi miliknya sebagai seorang ayah…
telah kosong terlalu lama.
Dan kesalahan yang paling mahal dalam hidupnya…
bukan kehilangan harta.
Bukan kehilangan perusahaan.
Melainkan kehilangan wanita yang benar-benar mencintainya…
dan kesempatan melihat putranya tumbuh sambil memanggilnya…
“Ayah.”
Namun Dimas tidak tahu…
bahwa beberapa detik kemudian—
Pak Hendra yang sedang menggendong Arka tiba-tiba berhenti tersenyum.
Wajahnya berubah serius.
Karena dari kejauhan…
ia melihat seorang pria berjas hitam yang selama bertahun-tahun ia cari.
Pria yang diduga mengetahui siapa orang yang sebenarnya menculik Salsa saat masih bayi.
Dan rahasia yang terkubur selama 27 tahun…
akhirnya akan terungkap.
