Mark masih berlutut.
Air mata mulai mengalir di wajahnya.
“Claire… tolong. Demi bayi kita…”
Aku memalingkan wajah.
Karena untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihatnya dengan jelas.
Bukan sebagai suamiku.
Tapi sebagai pria yang membiarkan ibunya mencuri dariku selama bertahun-tahun.
Pria yang melihat istrinya hamil, kekurangan uang, bahkan beberapa kali menangis diam-diam karena takut biaya persalinan tidak cukup…
Dan ia tidak pernah merasa bersalah.

Vivian maju dengan tergesa-gesa.
“Claire! Jangan dengarkan kakekmu! Semua ini hanya salah paham!”
“Salah paham?” tanyaku pelan.
Mataku jatuh pada gelang berlian di pergelangan tangannya.
Kalung emas di lehernya.
Tas bermerek yang baru saja mereka bawa.
Aku teringat saat hamil tujuh bulan.
Aku pernah meminta Mark membelikanku vitamin tambahan karena dokter mengatakan tubuhku kekurangan zat besi.
Jawabannya masih teringat jelas.
“Kita harus hemat, Claire. Kondisi keuangan sedang sulit.”
Dan malam itu…
Aku menangis sendirian di kamar mandi.
Karena merasa menjadi beban.
Sekarang aku tahu.
Bukan kami yang miskin.
Mereka yang rakus.
Kakek Edward mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tasnya.
“Aku sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres enam bulan lalu,” katanya tenang.
“Karena setiap kali aku bertanya pada Claire, dia selalu terlihat kelelahan dan hidup terlalu sederhana.”
“Aku tidak mungkin membiarkan cucuku menderita.”
Ia meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja.
“Jadi aku menyewa penyelidik pribadi.”
Wajah Mark langsung kehilangan warna.
Vivian hampir jatuh.
“Apa… apa maksud Anda?”
Kakek menatap mereka dingin.
“Maksudku, aku tahu semuanya.”
“Mobil mewah yang kalian beli tahun lalu.”
“Liburan ke Singapura.”
“Perhiasan yang dibeli tunai.”
“Dan apartemen atas nama Vivian.”
“Aku tahu semuanya.”
Tubuh Vivian gemetar.
Mark mulai menangis.
“Kakek… saya salah…”
“Salah?” suara kakek meninggi.
“Kalian mencuri hampir tiga miliar rupiah dari cucuku!”
“Kalian membuatnya hidup dalam kesusahan dengan uangnya sendiri!”
“Dan kalian menyebut itu salah?”
Saat itu, dua orang pria berbaju jas masuk ke kamar.
Mark terkejut.
“Siapa mereka?”
Kakek menjawab tanpa ekspresi.
“Pengacara saya.”
Jantungku berdegup kencang.
“Pengacara?”
Pria berkacamata itu membuka map.
“Semua bukti transfer sudah lengkap.”
“Dan berdasarkan data yang kami miliki, kami siap mengajukan tuntutan pidana atas penggelapan dan penipuan.”
Vivian menjerit.
“Tidak!”
Ia langsung berlutut.
“Pak Edward! Tolong! Saya mohon!”
“Saya hanya takut Claire menghabiskan uang itu!”
“Makanya saya simpan!”
“Bohong!” bentakku untuk pertama kalinya.
Seluruh ruangan terdiam.
Aku sendiri terkejut mendengar suaraku.
“Kalau Ibu menyimpannya untukku…”
“Kenapa aku bahkan tidak punya uang untuk membeli baju bayi?”
“Kenapa aku harus menjual cincin pemberian ibuku untuk membayar pemeriksaan kandungan?”
“Kenapa?”
Tangisku pecah.
Dan untuk pertama kalinya…
Bukan karena sedih.
Tapi karena kemarahan yang selama ini kupendam.
Mark menangis semakin keras.
“Claire… aku bersumpah, awalnya aku tidak tahu!”
“Tapi setelah ibu bilang uang itu untuk keluarga kita…”
“Aku…”
“Aku terbiasa…”
“Dan aku takut kehilangan semuanya…”
Aku menatap pria yang pernah sangat kucintai.
Pria yang dulu berjanji akan menjagaku.
Dan aku sadar…
Kadang seseorang tidak berubah menjadi jahat.
Mereka hanya menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.
Keesokan paginya, saat aku sedang menyusui putriku, seorang perawat datang membawa sebuah amplop.
“Ini titipan dari kakek Anda.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada buku tabungan baru.
Dan sebuah surat tulisan tangan.
Cucuku tersayang,
Maaf karena Kakek terlalu percaya pada orang lain dan terlambat menyadari penderitaanmu.
Mulai hari ini, semua yang menjadi hakmu akan langsung berada di tanganmu.
Dan satu hal yang harus kau ingat.
Jangan pernah bertahan pada orang yang membuatmu merasa miskin, padahal Tuhan telah mencukupkan hidupmu.
Dengan cinta,
Kakek Edward.
Air mataku jatuh ke atas surat itu.
Namun sebelum aku sempat mengusapnya—
teleponku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
Dan suara di seberang sana membuat darahku membeku.
“Apakah ini Claire?”
“Saya dari kantor notaris keluarga Edward.”
“Ada sesuatu yang sangat penting yang harus Anda ketahui…”
“Ini mengenai warisan yang selama ini disembunyikan dari Anda.”
Dan saat itulah aku menyadari…
bahwa pengkhianatan yang baru saja terungkap—
ternyata hanyalah permulaan.
