Hari ketiga perjalanan bisnisku

Gio tertawa kecil, nada suaranya terdengar sangat meyakinkan, seperti seorang suami yang penuh perhatian.

“Oke, sayang. Hati-hati ya. Kabari kalau sudah mau sampai. Aku akan menyiapkan makan malam spesial untuk menyambutmu.”

Aku menutup telepon. Tangan yang memegang ponsel gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena murka yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia masih berani berakting. Dia masih berani merencanakan “makan malam spesial” untukku, setelah tadi dia baru saja berjanji pada Hanna bahwa dia tidak akan pulang malam ini.

Aku tidak membuang waktu. Aku tahu apa yang harus kulakukan.

Malam itu, pukul delapan kurang lima menit. Aku berdiri di pintu keberangkatan bandara, menunggu Gio. Dari kejauhan, aku melihat mobilnya terparkir. Dia keluar dengan setelan kemeja rapi yang baru saja disetrika—mungkin disiapkan oleh Hanna.

Saat dia melihatku, dia tersenyum lebar dan merentangkan tangan untuk memelukku. Aku membalas pelukannya, membenamkan wajahku di dadanya, dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Tadi di perjalanan, aku mampir ke toko perhiasan. Aku melihat gelang yang sama persis dengan yang dipakai Hanna. Cantik sekali, ya?”

Tubuh Gio menegang seketika. Dia melepaskan pelukannya, menatapku dengan mata yang membelalak. “Apa? Gelang apa?”

Aku tersenyum manis, senyum yang sama yang selalu dia sukai. “Gelangmu yang itu. Yang kamu beli saat Valentine. Hanna memakainya malam ini. Apa kamu lupa kalau dia sahabat terbaikku?”

Darah Gio seolah tersedot habis dari wajahnya. Dia tergagap, “Vina, itu… itu cuma kebetulan. Maksudku, mungkin dia membelinya sendiri…”

“Oh, benarkah?” Aku memotong kalimatnya. “Lalu bagaimana dengan video yang baru saja dia unggah ke akun pribadinya sepuluh menit yang lalu tentang kalian berdua?”

Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan menuju mobil. Gio mengejarku dengan panik. Saat dia hendak masuk ke kursi pengemudi, aku menahannya.

“Jangan setir mobil ini, Gio. Ini mobil yang dibelikan Papa untuk kita, atas namaku. Dan mulai detik ini, kamu tidak punya hak lagi untuk menyentuh apa pun yang menjadi milikku.”

Aku mengambil kunci dari tangannya, lalu berbalik menatapnya dengan dingin. “Oh, satu lagi. Ayah sudah tahu semuanya. Dia sudah membatalkan semua kontrak kerjamu di perusahaan. Kamu bukan lagi karyawan di sana. Kamu hanya orang asing yang beruntung pernah menikahi putri pemilik perusahaan.”

“Vina! Dengar dulu penjelasanku!” teriaknya saat aku masuk ke mobil dan menyalakan mesin.

Aku tidak menoleh. Aku menancap gas, meninggalkan Gio yang berdiri mematung di parkiran bandara.

Tujuanku bukan rumah. Aku menuju condo Hanna.

Saat aku sampai di depan pintunya, aku tidak mengetuk dengan sopan seperti tadi siang. Aku menekan bel berkali-kali hingga dia membuka pintu dengan wajah kesal, mengira itu adalah Gio.

“Gio, kamu telat… bang—”

Kalimatnya terputus saat melihatku berdiri di sana, memegang ponsel yang memutar video-video mereka dengan volume maksimal.

“Vina?” suaranya bergetar.

Aku berjalan masuk, melewati tubuhnya yang mematung. Aku mengambil gelas anggur di atas meja, lalu menuangkan isinya ke karpet mahalnya.

“Dua puluh tahun, Hanna. Aku memberimu segalanya. Tapi sepertinya, yang kamu inginkan bukanlah persahabatan, melainkan hidupku.”

Dia menangis, mencoba memegang tanganku. “Vina, dengarkan aku! Gio yang mulai duluan! Dia yang mengejarku! Aku cuma… aku cuma kesepian!”

Aku menepis tangannya dengan kasar. “Kamu tidak kesepian. Kamu hanya serakah.”

Aku mengeluarkan amplop besar dari tasku—surat penggusuran untuk condo ini dan pemberitahuan pemutusan akses keuangan yang dulu diberikan Ayahku atas rekomendasiku.

“Besok pagi, mereka akan datang untuk mengosongkan tempat ini. Semua barang yang dibeli dengan uang perusahaan ayahku—termasuk gelang itu—harus ditinggalkan di sini.”

Hanna jatuh terduduk di lantai, meraung histeris. Aku berdiri di ambang pintu, menatap sahabat yang sudah kubunuh di dalam hatiku.

“Mulai hari ini,” ucapku pelan, “kamu bukan lagi siapa-siapa dalam hidupku. Jangan pernah mencariku, karena aku tidak akan pernah lagi menjadi pahlawan untuk seorang pengkhianat.”

Aku menutup pintu condo itu rapat-rapat, meninggalkan jeritan Hanna di dalam kegelapan. Malam itu, aku merasa lebih ringan. Aku tidak kehilangan seorang sahabat; aku hanya membuang sampah yang sudah terlalu lama membusuk di sampingku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang