Saat hamil 4 bulan, aku baru tahu kalau suamiku ternyata sudah punya anak dari wanita lain.

Pintu lift tertutup rapat, memisahkan An Di dari dunia penuh kepalsuan itu. Di dalam kotak besi yang dingin, An Di jatuh terduduk. Napasnya tersengal, namun di balik rasa sakit yang merobek dadanya, muncul sebuah ketenangan yang menakutkan.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari detektif yang ia sewa—orang yang selama berbulan-bulan membantunya mencari kebenaran—terus bermunculan.

“Ada bukti transaksi keuangan yang mencurigakan antara rekening Gia Huy dan seseorang di luar negeri beberapa hari sebelum kecelakaan laut itu terjadi.”

“Dan yang lebih parah, An Di… wanita itu tidak hanya menjanda karena ‘kecelakaan’. Ada asuransi jiwa dalam jumlah fantastis yang cair tepat seminggu setelah suaminya meninggal. Dan ahli warisnya… bukan wanita itu, tapi seseorang yang memiliki akses ke rekening Gia Huy.”

An Di menatap layar dengan mata sembab. Ternyata, Gia Huy bukan sekadar pria yang berselingkuh karena iba. Dia adalah bagian dari sebuah konspirasi yang gelap.

An Di tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke apartemen ibunya, di mana koper-koper sudah siap. Namun, alih-alih menangis, ia justru duduk di depan laptop. Ia mengirimkan semua dokumen—rekam medis, bukti transfer, dan foto-foto kemesraan Gia Huy dengan wanita itu—ke alamat email kepolisian dan beberapa akun media massa besar.

“Kamu ingin melindungi dia, Huy?” gumam An Di dengan suara serak. “Maka, biarkan kalian berdua hancur bersama.”

Tiga jam kemudian, ketika An Di sedang berada di bandara untuk terbang ke luar negeri, ponselnya meledak dengan panggilan dari Gia Huy. Puluhan kali. An Di memblokirnya tanpa ragu.

Namun, satu nomor baru masuk melalui pesan teks.

“An Di, tolong angkat! Dia gila! Dia bukan wanita yang kamu kira! Dia sudah mengancamku kalau aku tidak mau bertanggung jawab atas anak ini, dia akan mengungkap keterlibatanku dalam kematian suaminya ke polisi! Aku terjebak, An Di! Tolong aku!”

An Di menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Gia Huy akhirnya sadar bahwa wanita yang ia lindungi adalah seorang pemeras yang berbahaya. Wanita itu tidak mencintai Gia Huy; ia hanya membutuhkan kambing hitam untuk menutupi jejak kejahatannya di masa lalu.

An Di membalas satu kalimat singkat sebelum menonaktifkan ponselnya selamanya:

“Kamu yang memilih membangun istana di atas bangkai, Huy. Sekarang, nikmatilah keruntuhannya.”

Lima bulan kemudian.

Di sebuah kota kecil yang jauh, An Di menatap bayinya yang baru lahir di dalam inkubator. Wajah mungil itu sangat mirip dengannya, tanpa ada jejak pria yang dulu ia panggil suami.

Ia membaca berita dari tabletnya. Headline besar itu terpampang jelas:

“Skandal Kematian Misterius: Pengusaha Muda Gia Huy Ditangkap Atas Tuduhan Pemufakatan Jahat dan Penipuan Asuransi.”

Dalam foto yang dimuat, Gia Huy tampak sepuluh tahun lebih tua. Wajahnya kusut, mengenakan baju tahanan, sementara wanita itu—di sel yang berbeda—hanya tertawa sinis saat kamera wartawan menyorotnya. Wanita itu ternyata adalah seorang profesional yang sudah melakukan hal yang sama pada tiga pria berbeda sebelum Gia Huy.

An Di mematikan tabletnya. Ia meletakkan tangan di atas perutnya yang kini sudah kembali rata, lalu mengusap kepala bayinya dengan lembut.

“Anakku,” bisiknya pelan. “Mulai hari ini, kita punya nama baru, kehidupan baru, dan kebenaran baru. Ayahmu tidak pernah ada, yang ada hanyalah pelajaran berharga tentang bagaimana mencintai diri sendiri lebih dari siapa pun.”

Di luar jendela, matahari mulai terbit, menyinari hari pertama dari sisa hidupnya yang benar-benar bebas. Ia tidak lagi menjadi istri dari pengkhianat, melainkan ibu dari seorang anak yang hanya akan mengenal kasih sayang yang tulus.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang