“Kenapa kamu masih hidup?”
Suara Bu Ratna terdengar bergetar dari balik pintu kamarnya.
Aku membeku di tempat.
Tanganku yang tadi hendak mengetuk pintu perlahan turun.
Aku tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Tetapi nada suaranya bukan seperti seorang ibu yang sedang berbicara dengan seseorang yang dibencinya.
Ada kesedihan.

Ada penyesalan.
Dan ada luka yang seolah sudah disimpan puluhan tahun.
Aku berdiri diam di lorong gelap rumah kami, mencoba memahami apa yang baru saja kudengar.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara isakan Bu Ratna.
“Setelah semua yang terjadi… kenapa kamu masih muncul lagi?”
Jantungku berdetak semakin cepat.
Siapa yang ada di dalam kamar bersama ibu mertuaku?
Aku yakin tadi aku melihat Arga masih tertidur.
Aku tidak mendengar suara siapa pun masuk ke rumah.
Dengan ragu, aku mendekat sedikit.
Pintu kamar Bu Ratna tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang memperlihatkan cahaya lampu dari dalam.
Aku mengintip.
Dan pemandangan di dalam membuat napasku tercekat.
Bu Ratna duduk di lantai sambil memeluk tas kulit tua itu.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Dia hanya berbicara kepada tas tersebut.
Tangannya gemetar ketika membuka resleting kecil di bagian dalam tas.
Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto seorang pria muda.
Aku tidak mengenalnya.
Tetapi ada sesuatu dari wajah pria itu yang membuatku merasa tidak asing.
Aku hampir mundur ketika tiba-tiba Bu Ratna berkata pelan.
“Maafkan Mama, Raka.”
Aku menahan napas.
Raka?
Nama itu pernah kudengar.
Tapi aku tidak ingat di mana.
Aku segera kembali ke kamar sebelum Bu Ratna menyadari keberadaanku.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Pikiranku terus berputar.
Kenapa Bu Ratna menyimpan foto seorang pria bernama Raka di dalam tas yang sangat dijaganya?
Kenapa Arga melarangku menyentuh tas itu?
Dan kenapa suara Bu Ratna terdengar seperti seseorang yang sedang meminta maaf kepada orang yang sudah lama pergi?
Pagi harinya, aku mencoba bersikap normal.
Arga sedang membuat kopi di dapur ketika aku menghampirinya.
“Mas.”
Dia menoleh.
“Iya?”
Aku ragu sejenak.
“Tadi malam aku dengar Mama menangis.”
Gerakan tangan Arga berhenti.
Hanya sebentar.
Tetapi aku melihat perubahan di wajahnya.
“Apa?”
“Aku terbangun karena mendengar suara Mama.”
Arga meletakkan gelas kopi di meja.
“Mungkin Mama sedang tidak enak badan.”
Aku menatapnya.
“Mas, Mama menyebut nama Raka.”
Wajah Arga langsung berubah.
Seolah aku baru saja membuka pintu yang selama ini dia kunci rapat.
“Jangan bahas itu lagi.”
Suaranya lebih keras dari biasanya.
Aku terdiam.
“Kenapa?”
Arga menghela napas.
“Itu masa lalu Mama.”
“Tapi kenapa aku tidak boleh tahu?”
“Karena tidak semua hal harus kamu tahu.”
Jawaban itu membuat hatiku sakit.
Bukan karena dia tidak mau bercerita.
Tetapi karena untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku merasa Arga menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku dan Arga sudah menikah selama lima tahun.
Selama itu, aku mengenal dia sebagai pria yang sabar dan bertanggung jawab.
Dia selalu menghormati ibunya.
Bahkan ketika kami memutuskan tinggal bersama Bu Ratna setelah ayah Arga meninggal, aku tidak pernah merasa keberatan.
Bu Ratna memang wanita yang pendiam.
Kadang terlihat dingin.
Tetapi dia selalu memperlakukanku dengan baik.
Dia memasak makanan kesukaanku.
Dia mengingat tanggal ulang tahunku.
Dan ketika aku sakit, dialah orang pertama yang menjagaku.
Karena itu, aku tidak mengerti mengapa ada rahasia sebesar ini di antara kami.
Hari-hari berikutnya, aku mulai memperhatikan perubahan kecil pada Bu Ratna.
Setiap malam, dia selalu membuka tas tua itu.
Kadang dia hanya melihat isinya.
Kadang dia menangis.
Kadang dia tersenyum sambil menyentuh foto lama tersebut.
Aku tidak ingin mengintip.
Tetapi semakin Arga melarangku, semakin aku merasa ada sesuatu yang harus aku ketahui.
Sampai suatu sore, ketika Arga pergi bekerja, Bu Ratna tiba-tiba memanggilku.
“Alya.”
Aku menoleh.
“Iya, Bu?”
Dia menatapku lama.
“Kamu pernah merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupmu?”
Pertanyaan itu membuatku bingung.
“Maksud Ibu?”
Bu Ratna tersenyum sedih.
“Kadang seseorang bisa hidup bertahun-tahun dengan membawa rasa bersalah, padahal orang lain bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku duduk di sampingnya.
“Ibu sedang memikirkan sesuatu?”
Dia melihat ke arah tas kulit tua yang ada di meja.
“Arga pernah bilang jangan sentuh tas ini, kan?”
Aku terkejut.
“Ibu tahu?”
Bu Ratna tertawa kecil.
“Arga selalu seperti ayahnya. Terlalu ingin melindungi orang lain sampai lupa bahwa kebenaran juga perlu diketahui.”
Aku diam.
Lalu Bu Ratna mengambil tas itu.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Tanganku terasa dingin ketika menerima sebuah amplop cokelat dari dalam tas.
Di dalamnya ada beberapa surat lama.
Surat pertama membuatku langsung terpaku.
Karena nama penerimanya tertulis jelas.
Untuk Ratna dan Raka.
Aku membaca surat itu perlahan.
Isinya tentang dua orang yang pernah saling mencintai.
Tentang janji untuk menikah.
Tentang seorang anak yang akan lahir.
Tanganku gemetar.
“Bu… siapa Raka?”
Bu Ratna menunduk.
“Dia ayah kandung Arga.”
Aku membeku.
“Apa?”
Bu Ratna mengusap air matanya.
“Arga bukan anak dari suamiku yang meninggal itu.”
Dunia seakan berhenti.
Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar kalimat seperti itu.
“Lalu… kenapa Arga tidak tahu?”
Bu Ratna menutup wajahnya.
“Karena selama hampir tiga puluh tahun, aku menyimpan kebohongan terbesar dalam hidupku.”
Aku menunggu.
Dan akhirnya kisah yang selama ini tersembunyi mulai terbuka.
Ketika Bu Ratna masih muda, dia mencintai Raka.
Mereka berencana menikah.
Tetapi keluarga Bu Ratna menolak karena Raka dianggap tidak memiliki masa depan yang jelas.
Saat itu, Bu Ratna sedang mengandung Arga.
Namun sebelum mereka bisa menikah, Raka mengalami kecelakaan.
Dia selamat.
Tetapi keluarga Bu Ratna memaksa mengatakan bahwa Raka meninggal agar dia menikah dengan pria lain yang lebih mampu.
Bu Ratna tidak pernah mengetahui bahwa Raka sebenarnya masih hidup.
Bertahun-tahun kemudian, ketika dia mengetahui kebenarannya, semuanya sudah terlambat.
Raka sudah membangun hidup baru di kota lain.
Dia memiliki keluarga sendiri.
Dan Bu Ratna memilih diam.
“Aku pikir diam akan melindungi Arga,” katanya dengan suara bergetar.
“Tapi ternyata diam hanya membuat luka semakin besar.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bu, kenapa sekarang Ibu menangis dan mengatakan kenapa dia masih hidup?”
Bu Ratna menatapku.
“Karena Raka datang kembali.”
Aku terkejut.
“Datang kembali?”
Bu Ratna mengangguk.
“Dia sakit. Dia mencari Arga.”
Saat itulah aku memahami semuanya.
Tas itu bukan sekadar tas lama.
Itu adalah tempat Bu Ratna menyimpan seluruh hidup yang tidak pernah bisa dia ceritakan.
Malam itu ketika Arga pulang, aku melihat wajahnya yang lelah.
Aku tahu dia sudah tahu.
“Apa Mama sudah cerita?”
Arga bertanya tanpa melihatku.
Aku diam.
Dia duduk perlahan.
“Sejak kecil aku tahu ada sesuatu yang berbeda.”
Aku menatapnya.
“Mas…”
“Aku pernah menemukan akta kelahiranku yang lama. Nama ayahku berbeda.”
Suaranya terdengar hampa.
“Aku bertanya kepada Mama. Tapi dia hanya menangis.”
Aku mendekat.
“Kenapa Mas tidak mencari tahu?”
Arga tersenyum pahit.
“Karena aku takut menemukan jawaban yang akan menghancurkan keluargaku.”
Beberapa hari kemudian, Raka datang ke rumah.
Pria tua itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh penyesalan.
Ketika melihat Arga, matanya langsung berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu bagaimana harus memulai.”
Arga hanya diam.
“Aku sudah kehilangan banyak tahun dalam hidupmu.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Arga tidak mampu berkata apa-apa.
Dia bukan marah.
Dia hanya terluka.
Pertemuan itu berlangsung lama.
Tidak semua luka langsung sembuh.
Tidak semua pertanyaan langsung terjawab.
Tetapi ada satu hal yang berubah.
Bu Ratna akhirnya berhenti menyimpan semuanya sendirian.
Beberapa bulan kemudian, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Bu Ratna duduk bersama Raka dan Arga di ruang keluarga.
Mereka tidak seperti keluarga yang sempurna.
Mereka masih membawa masa lalu.
Masih ada kesedihan.
Masih ada penyesalan.
Tetapi untuk pertama kalinya, mereka berbicara tanpa rahasia.
Suatu malam, aku melihat tas kulit tua itu berada di atas meja.
Aku tersenyum.
Karena kali ini, Bu Ratna sendiri yang memberikannya kepadaku.
“Alya, simpan ini.”
Aku terkejut.
“Kenapa saya?”
Dia tersenyum.
“Karena selama bertahun-tahun tas ini berisi air mata. Aku ingin suatu hari nanti tas ini hanya berisi kenangan.”
Aku membuka tas itu perlahan.
Di dalamnya masih ada foto lama Raka.
Tetapi di sampingnya, ada foto baru.
Foto Bu Ratna, Arga, dan Raka yang tersenyum bersama.
Saat itu aku mengerti.
Kadang sebuah keluarga bukan tentang siapa yang selalu benar.
Bukan tentang siapa yang tidak pernah membuat kesalahan.
Tetapi tentang keberanian untuk membuka rahasia yang terlalu lama disimpan dan memilih untuk memperbaiki sesuatu yang masih bisa diselamatkan.
Karena luka yang disembunyikan mungkin terlihat hilang.
Tetapi hanya kebenaran yang benar-benar bisa menyembuhkannya.
