DOKTER MENGATAKAN AKU TIDAK AKAN BISA HAMIL LAGI. AKU MENANGIS SEPANJANG MALAM—SAMPAI TANPA SENGAJA MENDENGAR SEBUAH PERCAKAPAN YANG MEMBUATKU SADAR BAHWA SESEORANG TELAH BERUSAHA MEMBUATKU TIDAK BISA MENJADI IBU SEJAK BERTAHUN-TAHUN LALU.

Aku masih berdiri di lorong rumah sambil menahan napas.

Suara ibu mertuaku, Bu Ratna, terdengar jelas dari dalam ruang kerja.

“Bagus.”

Satu kata itu membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

Bagus?

Bagaimana mungkin kabar bahwa aku tidak bisa menjadi ibu dianggap sebagai sesuatu yang bagus?

Aku menutup mulut dengan tangan agar tidak ada suara tangisan yang keluar.

Aku ingin masuk.

Aku ingin membuka pintu itu dan bertanya langsung kepada mereka apa maksud semua ini.

Namun kakiku tidak bergerak.

Ada sesuatu dalam nada suara mereka yang membuatku takut.

“Sekarang semuanya akan lebih mudah,” lanjut Bu Ratna.

Aku mendengar Arga menghela napas.

“Ibu, jangan bicara seperti itu.”

“Tapi kenyataannya memang begitu, Ga. Kamu sudah menikah dua tahun. Kamu masih muda. Kamu masih punya kesempatan untuk punya keluarga yang benar-benar lengkap.”

Dadaku terasa sesak.

Keluarga yang benar-benar lengkap?

Selama ini aku pikir aku adalah bagian dari keluarga Arga.

Aku pikir aku adalah rumah tempat dia pulang.

Aku pikir aku adalah perempuan yang dia pilih untuk menemani hidupnya.

Ternyata mungkin selama ini aku hanya seseorang yang menunggu digantikan.

“Aku mencintai Maya, Bu,” suara Arga terdengar pelan.

Untuk sesaat hatiku sedikit lega.

Namun kalimat berikutnya membuat harapan itu runtuh.

“Tapi aku juga harus memikirkan masa depanku.”

Aku memejamkan mata.

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

“Makanya ibu sudah menyiapkan semuanya,” kata Bu Ratna.

Aku langsung membuka mata.

Menyiapkan apa?

“Apa maksud Ibu?” tanya Arga.

“Perempuan itu.”

Jantungku berdegup keras.

Perempuan?

“Dia sudah tahu keadaanmu. Dia juga masih mau menerima kamu.”

“Bu…”

“Arga, jangan berpura-pura. Kamu sendiri yang bilang kamu takut tidak punya anak. Kamu sendiri yang menangis waktu melihat teman-temanmu sudah punya bayi.”

Aku mundur perlahan.

Tanganku menempel di dinding agar aku tidak jatuh.

Aku ingat malam itu.

Enam bulan lalu.

Arga duduk di balkon sambil melihat foto anak temannya.

Dia berkata bahwa dia ingin suatu hari nanti menggendong anak kami.

Aku memeluknya dan mengatakan bahwa apa pun yang terjadi, kami akan menghadapinya bersama.

Ternyata saat itu dia sudah berbicara dengan ibunya.

Ternyata saat itu dia sudah mencari jalan keluar tanpa aku.

“Tidak semudah itu, Bu,” kata Arga.

“Kenapa tidak? Maya sudah tidak bisa memberikan anak. Kamu tidak bisa mengorbankan hidupmu hanya karena kasihan.”

Kasihan.

Aku menggigit bibir.

Dua tahun pernikahan kami.

Dua tahun aku memasak makanan kesukaannya.

Dua tahun aku menunggunya pulang kerja.

Dua tahun aku menemani saat dia kehilangan pekerjaan dan merasa gagal.

Apakah semua itu hanya bernilai sebagai rasa kasihan?

Aku berjalan kembali ke kamar dengan langkah pelan.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku hanya berbaring sambil menatap langit-langit.

Pikiran tentang percakapan tadi berputar terus di kepalaku.

Tetapi ada satu hal yang paling menggangguku.

Kenapa Bu Ratna terdengar begitu yakin?

Kenapa dia mengatakan bahwa aku tidak bisa memberikan anak seolah-olah dia sudah mengetahuinya sejak lama?

Keesokan paginya, aku memutuskan untuk mencari jawaban.

Aku tidak langsung menuduh siapa pun.

Aku hanya ingin tahu kebenarannya.

Saat Arga pergi bekerja, aku membuka lemari dokumen kami.

Aku mencari hasil pemeriksaan kesehatan lama.

Aku ingat pernah melakukan pemeriksaan kandungan setahun setelah menikah.

Saat itu dokter mengatakan semuanya baik-baik saja.

Aku masih menyimpan hasilnya.

Tanganku gemetar ketika menemukan map biru itu.

Di dalamnya ada beberapa dokumen.

Namun ada satu surat yang bukan milikku.

Surat dari sebuah klinik.

Aku membukanya.

Dan dunia seakan berhenti.

Nama pasien di surat itu adalah namaku.

Tetapi tanggal pemeriksaannya bukan hari ketika aku datang ke klinik.

Enam bulan sebelum dokter mengatakan rahimku bermasalah, seseorang sudah melakukan konsultasi atas namaku.

Aku membaca isi surat itu perlahan.

Ada catatan tentang riwayat medis palsu.

Ada rekomendasi tindakan yang tidak pernah aku lakukan.

Aku tidak mengerti semuanya.

Tapi satu hal jelas.

Ada seseorang yang sengaja membuat catatan kesehatan palsu tentang diriku.

Aku langsung pergi ke klinik tersebut.

Dengan tangan gemetar, aku menunjukkan dokumen itu kepada petugas administrasi.

“Maaf, Mbak. Saya ingin tahu siapa yang datang membawa data ini.”

Petugas itu melihat komputer.

Wajahnya berubah.

“Sebentar, Bu. Saya harus cek dulu.”

Beberapa menit kemudian dia kembali.

“Data ini dimasukkan oleh seseorang yang mengaku sebagai keluarga dekat.”

“Siapa?”

Petugas itu ragu.

“Namanya Bu Ratna.”

Aku merasa seperti kehilangan udara.

Ibu mertua.

Orang yang setiap pagi menanyakan kabarku.

Orang yang selalu berkata ingin segera menggendong cucu.

Orang yang memberiku jamu dan vitamin ketika aku mulai menjalani program hamil.

Tanganku langsung dingin.

Jangan-jangan…

Aku teringat semua hal kecil yang dulu tidak pernah kupikirkan.

Jamu yang selalu dia buat sendiri.

Obat yang katanya hanya untuk memperbaiki hormon.

Makanan tertentu yang dia larang aku makan.

Aku selalu percaya.

Karena dia adalah ibu dari suamiku.

Aku pulang dengan perasaan hancur.

Tetapi kali ini aku tidak menangis.

Aku menunggu.

Malam itu, Arga pulang seperti biasa.

Dia meletakkan tas kerja.

“Maya, kamu sudah makan?”

Aku menatapnya.

“Aku pergi ke klinik hari ini.”

Wajahnya berubah.

“Klinik?”

“Tempat aku diperiksa.”

Dia diam.

“Aku menemukan sesuatu.”

Arga mulai terlihat gelisah.

“Apa?”

Aku meletakkan dokumen di meja.

“Kenapa ada seseorang yang membuat catatan medis palsu atas namaku enam bulan lalu?”

Arga tidak langsung menjawab.

Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

“Arga.”

Dia menunduk.

“Aku tidak tahu semuanya.”

Kalimat itu membuatku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena terlalu menyakitkan.

“Kamu tidak tahu semuanya?”

Aku berdiri.

“Jadi kamu tahu sebagian?”

Arga mengusap wajahnya.

“Maya, dengarkan aku.”

“Berapa lama?”

Dia terdiam.

“Berapa lama kamu tahu?”

“Aku baru tahu beberapa bulan lalu.”

“Dan kamu diam?”

“Aku bingung.”

“Bingung?”

Suaraku bergetar.

“Aku adalah istrimu, Arga. Bukan orang asing.”

Air mata akhirnya jatuh.

“Aku menangis setiap malam karena merasa tubuhku mengkhianatiku. Aku merasa gagal menjadi perempuan. Aku menyalahkan diriku sendiri.”

Aku menunjuk dokumen itu.

“Ternyata selama ini seseorang yang dekat denganku yang menghancurkan hidupku.”

Arga duduk.

Wajahnya penuh penyesalan.

“Aku pikir Ibu hanya ingin membantu.”

“Membantu?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Ibumu membuatku percaya bahwa aku tidak akan pernah menjadi ibu.”

Arga menutup wajahnya.

“Aku salah.”

Untuk pertama kalinya aku melihat suamiku terlihat benar-benar hancur.

Namun rasa sakitku terlalu dalam.

“Aku ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau aku benar-benar tidak bisa punya anak, apakah kamu masih akan memilihku?”

Arga tidak menjawab.

Dan kali ini aku tidak menunggu.

Karena aku sudah tahu jawabannya.

Beberapa hari kemudian, aku menemui Bu Ratna.

Aku datang ke rumahnya membawa semua bukti.

Dia terkejut melihatku.

“Maya?”

“Aku ingin bertanya sesuatu, Bu.”

Dia mencoba tersenyum.

“Tentu.”

“Kenapa Ibu membuat catatan medis palsu tentang saya?”

Wajahnya langsung berubah.

Untuk beberapa detik, dia tidak mengatakan apa pun.

Lalu dia duduk.

“Akhirnya kamu tahu.”

Aku membeku.

Tidak ada rasa bersalah dalam suaranya.

“Kenapa?”

Dia menghela napas.

“Karena aku tahu anakku. Arga ingin punya anak laki-laki. Sejak kecil dia selalu bilang ingin punya keluarga besar.”

“Dan karena itu Ibu menghancurkan hidup saya?”

“Aku hanya membantu kenyataan keluar lebih cepat.”

Aku menatapnya dengan kecewa.

“Tidak, Bu. Ibu menciptakan kenyataan palsu.”

Dia diam.

“Aku memberikan Arga kesempatan mencari kebahagiaan lain.”

Aku tersenyum pahit.

“Bukan kebahagiaan, Bu. Itu pengkhianatan.”

Saat aku hendak pergi, Bu Ratna tiba-tiba berkata,

“Kamu pikir Arga tidak pernah curiga?”

Aku berhenti.

“Apa maksud Ibu?”

“Dia tahu tentang beberapa obat yang kuberikan. Dia tahu aku sering menghubungi dokter itu.”

Aku menoleh perlahan.

“Arga tahu?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Tapi wajahnya cukup.

Hari itu aku kembali pulang sebagai perempuan yang berbeda.

Aku tidak lagi bertanya apakah aku cukup baik untuk dipilih.

Aku hanya bertanya apakah aku masih ingin tinggal bersama seseorang yang membiarkan aku dihancurkan.

Seminggu kemudian, Arga datang ke rumah orang tuaku.

Dia membawa hasil pemeriksaan baru.

“Aku melakukan pemeriksaan ulang untuk kamu.”

Aku menatapnya.

“Apa hasilnya?”

Dia menunduk.

“Dokter bilang kemungkinan besar diagnosis sebelumnya salah.”

Dadaku bergetar.

“Apa?”

“Rahimmu tidak mengalami kerusakan seperti yang dikatakan dokter itu. Ada masalah yang bisa ditangani.”

Aku terdiam.

Selama bertahun-tahun aku merasa kehilangan kesempatan menjadi ibu.

Padahal seseorang telah mengambil harapan itu dariku.

Arga menangis.

“Aku minta maaf, Maya.”

Aku melihat lelaki yang dulu sangat kucintai.

Tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk memperbaiki luka.

“Aku mungkin bisa memaafkan kesalahanmu, Arga.”

Dia menatapku penuh harap.

“Tapi aku tidak bisa melupakan bahwa saat aku paling membutuhkanmu, kamu memilih diam.”

Beberapa bulan kemudian, aku menjalani pengobatan.

Perjalanannya tidak mudah.

Ada banyak hari ketika aku merasa takut.

Namun kali ini aku tidak sendiri.

Aku memiliki diriku sendiri.

Aku belajar bahwa menjadi ibu bukan hanya tentang melahirkan seorang anak.

Menjadi perempuan bukan hanya tentang kemampuan tubuh untuk menciptakan kehidupan.

Aku tetap berharga bahkan ketika seseorang mencoba meyakinkanku bahwa aku tidak cukup.

Setahun kemudian, aku berdiri di depan sebuah taman kecil sambil memegang tangan seorang anak perempuan kecil.

Namanya Alena.

Nama yang dulu hanya kami tulis di ponsel sebagai mimpi.

Mimpi yang hampir direnggut seseorang.

Aku tidak pernah menyangka bahwa setelah semua luka itu, aku akhirnya mendapatkan hal yang paling kuinginkan.

Bukan hanya seorang anak.

Tetapi juga diriku yang kembali.

Karena terkadang, kehilangan terbesar dalam hidup bukanlah kehilangan sesuatu yang kita cintai.

Melainkan kehilangan kepercayaan bahwa kita pantas mendapatkannya.

Dan hari itu aku tahu.

Tidak ada siapa pun yang berhak menentukan akhir cerita hidupku selain diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang